ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 22 November 2010

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL 2

Setiap agama mewajibkan umatnya untuk selalu menjalankan semua aturan main yang jelas, baku , dan bahkan cukup kaku yang tersusun pasti dalam apa yang disebut dengan “Kitab Suci” atau ayat-ayat qauliyah dari Tuhan. Pengakuan keimanan terhadap suatu agama menuntut sang pemilik iman untuk selalu menjadikan aturan main itu sebagai praktik hidupnya menuju Kehadirat-Nya.

Namun agama juga memberikan ruang yang lebih longgar ketika ia mengharap dari setiap umatnya untuk terus menggali dan mengeksplorasi alam semesta (makrokosmos) dan diri (mikrokosmos) yang merupakan ayat-ayat kauniyah dari Tuhan. Yang kedua ini tentunya bersifat lebih universal, karena semesta ini bukanlah monopoli satu keyakinan agama.

Para ilmuwan, terutama para fisikawan, percaya bahwa alam memiliki satuan fundamentalnya sebagai building block bagi struktur keseluruhan alam semesta. Mereka selalu menyebut satuan fundamental alam ini sebagai atom yang diyakini sebagai satuan terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Dengan demikian, mereka menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom. Mereka sama sekali tak memberikan ruang bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya, karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Namun penelitian-penelitian di bidang fisika quantum telah menggugat pandangan materialistik tersebut. Dikatakan bahwa dalam setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong nonmateri yang terbentang antara inti atom dan orbitnya.

Jadi, ketika kita berbicara tentang keilmiahan metode N-AQS, maka itu berarti kita sedang berbicara dengan sudut pandang yang menyatakan bahwa ternyata semesta tidak hanya berdimensi tunggal, namun di balik dunia materi ini terbentang dunia nonmateri yang lebih luas. Dan, N-AQS akan lebih banyak bermain di ranah tersebut.

Kembali kepada pembahasan ayat-ayat Tuhan yang qauliyah dan yang kauniyah. Dengan pemetaan yang jelas terhadap kapling keduanya, maka dapat saya katakan bahwa secara subtansi (begitu pun dengan detail praktiknya) metode N-AQS tidak dapat dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Sebagai metode pengembangan diri berbasis semesta, N-AQS tidak menyalahi aturan main agama mana pun. N-AQS juga bukan agama dan tidak terkait secara eksklusif dengan agama tertentu. Meskipun jika kita mau mencari basis teologisnya, maka kita dapat menemukan akarnya pada setiap agama, yang mana telah memberikan kita kesempatan untuk terus menggali dan mengungkap lebih jauh rahasia semesta dan diri kita sendiri dan mengembangkannya ke arah yang lebih positif agar kita dapat mengenal (makrifat) Tuhan dengan lebih baik. Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhanya.

Jelas sekali bahwa pengenalan diri secara sempurna dapat menjadi sarana untuk mengenal-Nya. Ini tentu terkait dengan hakikat manusia sempurna yang akan saya coba paparkan secara detail dari sudut pandang teologis mulai dari pembahasan struktur manusia, Insan Ilahi, dan Iblis sebagai musuh nyata. Selanjutnya, konsep-konsep yang saya sebut teologis tersebut akan saya bandingkan dengan konsep N-AQS sebagai wujud dari penggalian dan pengembangan diri dan ayat semesta.

Komposisi dan Struktur Manusia

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut citra-Nya” (H.R. Bukhari dan Ahmad)

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, interrelasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya di mana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik indrawi tapi juga alam-alam atas (dimensi halus).

Dalam garis besarnya, struktur manusia terdiri dari tiga aspek: Ruh, Jiwa/Nafsu, dan Jasmani.

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan jiwanya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa beraktivitas. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin (tanah liat kering) dan shalshal (lumpur hitam) di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. (Q.S. Al-Hijr [15]: 28) Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani mereka terbentuk dalam rahim ibu melalui tahapan-tahapan nuthfah (sperma), ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging). (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 12-14) Meski begitu secara hakiki jasmani anak-cucu Adam tetap berasal dari empat unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh, mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, akan ditemukan persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan. Dengan begitu kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian manusia juga memiliki Ruh yang merupakan jauhar atau subtansi, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat mana pun dan juga tidak bertempat pada apa pun. Ruh adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah kematian tubuh di mana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan ruh tidak akan hilang dan tetap eksis.

Jadi, hakikat (jauhar) seorang manusia adalah ruhnya. Sesuatu itu disebut jauhar bila ia merupakan substansi dari bentuk-bentuk material. Tapi meski begitu, jauhar bukanlah bagian dari alam material, artinya jauhar itu tidak terdiri dari unsur-unsur materi.

Ruh sebagai jauhar/subtansi dan jasad sebagai jism/materi. Ruh yang memiliki kehendak dan pengetahuan, sedangkan jasad bisa menjadi alat bagi ruh untuk mewujudkan suatu kehendak di alam ciptaan/materi.

Tapi ketika ruh dilekatkan pada jasad, maka muncullah kekuatan-kekuatan diri seperti penglihatan, pendengaran, gerakan, pikiran dan sebagainya sejalan dengan proses pertumbuhan manusia. Kekuatan-kekuatan yang muncul kemudian inilah yang disebut dengan Jiwa, yang sering didefinisikan sebagai sifat dan aksiden yang mewujud seiring dengan bertemunya jauhar dan jism.

Pertemuan antara ruh dengan jasad ini sebenarnya adalah proses yang membutuhkan waktu di mana ruh yang melakukan eksplorasi terhadap jasad sehingga dari struktur alamiah jasad atau materi tersebut, ruh akan berusaha mencari suatu bakat ketika ia sanggup menguasainya. Proses alamiah yang bersifat material inilah yang menjadikan jiwa mamiliki dua sisi; positif dan negatif; yin dan yang. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat bahkan bisa lebih tinggi dalam berbagai keutamaan dan kedekatan dengan Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam fisik). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

“Dan demi jiwa dan penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (negatif) dan ketakqwaan (positif)-nya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy Syams [91]:7-10)


INSAN KAMIL, ABDULLAH, & KHALIFATULLAH

Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan pada level Dzat adalah Absolut (mutlak) dan tidak mungkin kita pahami. Karena Dia beyond dimensi ruang dan waktu serta alam semesta (inilah yang dalam hadis qudsi Tuhan berfirman: “Aku adalah Harta Karun terpendam, dan aku cinta untuk dikenal, maka Kuciptakan Alam semesta”). Tuhan sebagai Dzat sangatlah tinggi. Dia tidak bisa dilukiskan bagaimana dan seperti apa. Dia hanya bisa diketahui secara negatif, yakni Dia tidak sama dengan apa pun selain-Nya. Dia berbeda dengan apa pun yang kita bayangkan. Hal ini karena, menurut para sufi, pada level tersebut, Tuhan belum lagi menjadi entitas (ghair muta’ayyan). Pada level ini, Tuhan bahkan belum bersifat personal dan belum punya kaitan apa pun dengan alam (bandingkan dengan konsep Impersonal God dalam Budha!).

Namun, pada level sifat atau tahap ta’ayun (proses menjadi entitas), Tuhan tidak lagi sebagai Dzat yang tidak dapat didekati, tetapi sudah bersifat personal dan bisa dikenal secara lebih positif. Konsep Tuhan pada tahapan inilah yang pada umumnya kita kenal, yaitu Tuhan yang memiliki identitas atau sifat-sifat tertentu.

Menurut para sufi, sifat-sifat Tuhan ini punya kaitan yang tak terpisahkan dengan alam, terutama manusia. Karena menurut mereka, sifat-sifat itu tidak lain daripada prototipe atau arketipe dari apa pun yang ada di alam semesta. Dia laksana bentuk terhadap materi atau jiwa, yaitu inti dari keseluruhan manusia. Apa pun yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan tersebut. Inilah makanya alam semesta disebut sebagai cermin, yang dengannya Tuhan melihat gambar diri-Nya.

Setiap tingkat eksistensi makhluk mencerminkan sifat-sifat tertentu Tuhan. Semakin tinggi tingkat suatu wujud semakin banyak sifat-sifat Tuhan yang dipantulkannya. Dan, semua ini berpuncak pada diri manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsan at-taqwim) atau diciptakan dalam bentuk atau citra-Nya (ala shuratihi).

Seperti telah saya singgung sebelumnya, manusia disebut “mikrokosmos” karena pada diri manusia terkandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai tingkat manusia. Bahkan manusia juga mempunyai unsur spiritual, nonmateri. Apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat tertentu dari Tuhan, alam semesta secara keseluruhan merupakan cermin Tuhan, maka manusia yang memiliki unsur alam semesta berpotensi untuk memantulkan seluruh sifat-sifat ilahi.

Jadi, secara potensial manusia dapat mencerminkan sifat-sifat Tuhan, dan pencerminan itu bisa menjadi aktual saat manusia berhasil mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaannya. Manusia akan mampu memantulkan semua sifat-sifat Tuhan ketika ia telah mencapai tingkat kesempurnaannya, yakni ketika ia mencapai derajat “paripurna” atau insan kamil. Karena kemampuannya memantulkan sifat-sifat keilahian, ia disebut dengan KHALIFATULLAH. Dan ini sama sekali tidak berarti bahwa kita menaikkan derajat manusia menjadi Tuhan. Karena Tuhan tetap Tuhan dan Manusia tetap hamba-Nya yang harus menjalankan tugasnya sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bagaimanakah proses kesempurnaan itu terjadi dalam diri manusia? Berikut saya akan coba memetakan prosesnya sesuai ajaran tasawuf yang saya tahu.

Dalam dunia tasawuf, dikenal konsep Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad (dalam setiap agama mungkin mempunyai istilah yang berbeda). Ia adalah ciptaan awal (yang pertama kali diciptakan oleh Allah). Kemudian dari percikan Nur inilah ruh (jauhar/subtansi) manusia berasal.

Ruh insani yang merupakan subtansi dari diri manusia ini berbeda dengan Ruhul Qudus. Dalam diri manusia yang telah disempurnakan Allah sebagai manusia paripurna (insan kamil) terdapat percikan  Nurun 'Ala Nuurin ‘Cahaya yang berlapis-lapis,’ inilah yang disebut dengan Ruhul Qudus. Ruhul Qudus juga bukan malaikat Jibril as, seperti pendapat beberapa ahli tafsir selama ini. Jibril disebut sebagai Ruhul Amin, bukan Ruhul Qudus. Sementara Ruhul Qudus inilah yang dalam Al-Qur’an disifati sebagai Ruh min Amr Rabbi, atau Ruh dari Amr Allah (Amr = urusan, tanggung jawab, perintah). Dalam agama Kristen disebut Roh Kudus.

Ketika Allah berkehendak untuk memperlengkapi diri seorang manusia dengan Ruhul Qudus, maka inilah yang menyebabkan manusia dikatakan lebih mulia dari makhluk mana pun juga. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kamu (malaikat) tersungkur dengan sujud kepadanya.” (Q.S. Shad 38:72)

Para Nabi, sebagai orang pilihan, melewati proses pemurnian ini dengan sangat mudah karena bimbingan dan kehendak-Nya. Karena mereka memiliki misi khusus (risalah) dari Tuhan.

Sedang bagi manusia biasa yang tercipta melalui proses alamiah atas kehendak-Nya, juga diberikan perangkat untuk memperoleh anugerah menjadi KHALIFATULLAH. Ruhul Qudus ini baru akan hadir bila ruh insan dan jiwa telah sempurna berproses. Dalam Islam, kesempurnaan proses ini ditandai dengan terwujudnya Jiwa Hening (nafs al-muthmainnah) di mana ia telah ridha akan semua kehendak Allah dan Allah pun ridha denganya.

“Hai jiwa yang tenang/hening . Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba- Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]:27-30)

Saat manusia mencapai keridhaan inilah semua hijab antara dia dan Tuhan tersibak yang dengan mana ia bisa mengakses Kuasa Tuhan secara sempurna tahap demi tahap hingga pada tahapan di mana Tuhan ridha kepada manusia. Dan Tuhanpun menjadi kasih dan sayang kepadanya.

Fadzkuruni adzkurkum..” (Ingatlah aku, Aku akan mengingatmu, Qs. Al-Baqarah [2]:152). Itulah Dzikir Tuhan kepada hamba.

Tidak henti-hentinya hamba-hamba-Ku mendekatkan diri kepada–Ku dengan melakukan ibadah-ibadah nawafil, hingga Aku mencintainya. Kalau Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar; Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia melihat; Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang; Aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia bermohon kepada-Ku, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku akan melindungi dirinya” (HR. Bukhari).

Jadi, kurang tepat jika kita mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam semesta secara mutlak. Karena manusia baru menjadi makhluk yang paling mulia jika telah berproses  menyempurnakan jiwanya. Jika belum diproses maka kedudukan manusia bisa lebih rendah dari hewan ternak (lihat Q.S. Al-Furqon [25]: 44).

Pencapaian spiritual manusia hingga mencapai derajat Kesucian Ruhani (Ruhul Qudus) yang secara awam dikatakan sebagai ‘manunggaling kawulo gusti’, atau ‘penyatuan hamba dan Tuhannya’ yang sering dilabelkan pada kaum sufi di seluruh dunia. Hakikat sebenarnya tidaklah demikian, Padahal yang terjadi sebenarnya, adalah (tajalliyat) dari sifat-sifat Tuhan pada derajat tertinggi dari kesucian makhluk sehingga sifat-sifat Tuhan tercermin dengan sempurna. Manusia dipenuhi dengan sifat-sifat yang terpuji (al-haqiqah al-Muhammad). Manusia yang sudah mencapai tingkatan ‘abdihi, hamba-Nya (ABDULLAH). Atau dalam istilah Quraish Shihab sebagai INSAN KAMIL.

Manunggaling kawulo gusti dalam artian penyatuan dzat hamba dengan Dzat Tuhannya, adalah sesuatu yang mustahil. Karena sebagai Dzat, Allah dan makhluk mustahil menyatu. Manusia dengan derajat kesempurnaannya ia tetap merupakan makhluk. Yang terjadi adalah manifestasi (tajalli) sifat-sifat Tuhan pada diri manusia.

Abdul Karim al-Jili dalam kitabnya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifati al-Awakhir wa al-Awa’il mengatakan, apabila sifat Allah ber-tajalli pada diri hamba, maka hamba tersebut berenang dalam orbit (falak) sifat tersebut. Kalau sifat ilmu tuhan yang bertajalli pada diri hamba, maka ia akan dapat mengetahui objek-objek ilmunya itu secara komprehensif dari awal sampai akhir. Ia mengetahui sesuatu dari sudut kualitasnya, bagaimana keberadaanya, bagaimana akan jadinya. Mengetahui apa yang belum ada dan apa yang tidak akan ada sejauh belum ada… Jika yang bermanifestasi dalah sifat Tuhan “Al-Razaq”, Maha Pemberi Rezeki, maka pada diri manusia tercermin kuasa yang dapat “mempengaruhi” rezeki di dunia ini. Begitu seterusnya.

Jadi, KHALIFATULLAH dipercaya sebagai wakil Allah di alam semesta (khalifatullah fi al-ardh), selain sebagai segel alam semesta juga sebagai pintu bagi alam semesta untuk melihat Sang Pencipta, mengenal-Nya; kehadiran Keindahan dan Kekuasaan Ilahi yang membayang dalam diri Insan Ilahi merupakan jembatan rahmat (penolong) bagi alam semesta untuk berjalan mengenal-Nya, Insan Ilahi adalah tangan Kepemurahan- Nya (shurratur-Rahmaan) yang membawa seluruh alam semesta menjadi peningkat derajatnya. Inilah amanah yang diembankan kepada insan Ilahi yang dipercaya sebagai ruh dan cahaya kehidupan bagi seluruh alam semesta.

Iblis Sebagai Musuh Nyata

Sujudnya Malaikat kepada Adam, karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan- Nya (insan kamil) terdapat apa yang disebut ‘Ruh-Ku’ dalam Q.S. Shad [38]:72 tadi. Malaikat bukan sujud kepada sifat jasadiyahnya Adam. Malaikat akan sujud kepada siapa pun yang dalam dirinya ada pantulan ‘citra’ Allah (yang jelas, fokus, dan tidak blur), yaitu dengan kehadiran Ruh-Nya (Ruhul Qudus) dalam jiwa seseorang.

Sementara Iblis tidak mampu melihat ke dalam inti jiwa manusia tempat Ruhul Qudus disematkan Allah, maka ia melihat Adam tidak lebih dalam dari sekadar tanah yang digunakan sebagai bahan jasadnya, sehingga ia enggan bersujud.

Siapakah Iblis? Ia berasal dari bangsa jin yang telah mencapai tingkat kultivasi tinggi dan tinggal di surga. Ia bahkan dapat berkomunikasi langsung Allah. Namun karena kesombongan dan iri hatinya (Q.S. Shad [38]:76), ia jatuh pada level yang dikutuk Tuhan hingga hari pembalasan.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya.” (Q.S. Jin [72]: 50)

Lalu Allah berkata kepadanya,'" Keluarlah dari surga! kamu itu makhluk yang terkutuk. Kutukan-Ku atasmu berlaku sampai hari pembalasan." (Q.S. Shad [38]:77-78)

Lalu Iblis mengajukan permintaan kepada Allah agar dapat menggoda manusia sampai akhir zaman. Iblis pun diberi kesempatan untuk hidup sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah. (lihat Q.S. Shad [38]: 79-81)

Iblis berkata: Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba- Mu yang mukhlashin (yang termurnikan) .” (Q.S. Shaad [38]: 82-83)

Dalam ayat lain diceritakan bahwa Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menghiasi (perbuatan) mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba- Mu yang Mukhlash (termurnikan) di antara mereka. Allah Berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, ‘kewajiban’ Aku-lah (menjaganya) . Sesungguhnya hamba-hamba- Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S. Al-Hijr [15]: 39-42)

Dari kisah pembangkangan Iblis di atas, kita tahu bahwa ia dan anak-cucunya telah diizinkan Tuhan untuk melakukan apa pun untuk dapat menyesatkan anak-cucu Adam. Dalam salah satu ayat di atas bahkan Iblis mengatakan bahwa ia akan menghiasi amal perbuatan manusia. Banyak orang yang secara lahiriahnya rajin melakukan ibadah dan amal shaleh, namun keterikatan hatinya telah memberikan peluang bagi Iblis dan anak-cucunya untuk masuk dalam relung hati dan jiwanya dan dalam jangka panjang kesadarannya akan dikuasai dan dikontrol oleh Iblis tersebut. Inilah yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut waswas.

Seperti pengakuan Iblis sendiri, bahwa ia tidak akan mampu mengganggu hamba-hamba Allah yang mukhlashin. Kata mukhlashin bentuk jamak dari mukhlash yang merupakan bentuk pasif (maf’ul) dari khalasha. Jika kita buka kembali kamus bahasa Arab, kita akan temukan arti khalasha adalah murni. Mukhlashin berarti orang-orang yang telah termurnikan. Kata mukhlashin juga dapat diartikan orang-orang terpilih.

Jadi, mukhlashin adalah orang-orang yang telah mencapai pemurnian di mana di dalam diri mereka terdapat percikan Nur-Nya. Karena itu, Ikhlas (dengan I besar) adalah kondisi (maqam) diri yang murni dari semua hal yang negatif, baik emosi negatif, dosa (karma negatif) maupun pengaruh Iblis (mungkin ini arti firman Allah di atas: “…kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat.”). Konsep Ikhlas seperti ini berbeda dengan ikhlas (dengan i kecil) yaitu usaha seorang hamba secara sungguh-sungguh untuk menghilangkan apa pun yang mengikat hatinya, kecuali ridha-Nya. Ketika seorang hamba selalu berusaha untuk ikhlas dan Allah meridha-Nya, maka Allah sendiri yang akan memurnikanya (mukhlashin) dengan penganugrahan percikan Nur-Nya.

Intinya, manusia harus terus waspada agar tidak terkena godaan Iblis. Karena Iblis adalah musuh yang nyata bagi kita. Ia sudah berjanji untuk selalu berusaha sekuat tenaga menyesatkan anak-cucu Adam, agar mereka tidak pernah dapat mencapai “kemurniaan” (kesempurnaan) dan menjadi Manusia Ilahi. Karena di saat manusia mencapai kesempurnaan ini, Iblis tidak lagi mempunyai daya kuasa untuk menggodanya.

Manusia tidak diperbolehkan mempercayai Iblis dan keturunannya, apalagi menjadikan mereka sebagai sekutu. “Patutkah kamu mengambil dia (Iblis) dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 50)

Pintu masuk yang paling mudah diterobos iblis ialah keterikatan hati dan jiwa-jiwa negatif yang dominan. Karena itu, ikhlas (tidak ada keterikatan hati) adalah sangat penting dan merupakan syarat utama semua amal ibadah diterima oleh Allah.

Sistem Evolusi Spiritual Ilmiah

Fisika Newtonian (para pengikut Newton ) dan kaum positivis lainya menyatakan bahwa bagian terkecil yang menyusun alam alam semesta ini adalah atom, dan atom lebih dipandang sebagai partikel yang solid ketimbang gelombang ataupun superstring. Dengan demikian, orang menyakini bahwa komponen dunia paling dasar bersifat materi (fisik), berupa atom yang tak dapat dibagi-bagi lagi. Bagi mereka, tak ada tempat bagi realitas-realitas spiritual (metafisik) untuk dipercaya keberadaanya karena tidak dapat diobservasi secara indrawi.

Akan tetapi pandangan alam semesta seperti itu kini telah ditinggalkan oleh ahli-ahli fisika modern. Pandangan bahwa atom adalah partikel telah ditentang dan teori baru bermunculan, seperti “teori gelombang” atau superstring oleh Stephen Hawking. Kepercayaan yang menyatakan atom sebagai elemen terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi sudah lama ditinggalkan, dan fisikawan baru membagi dunia atom ke dalam lima level, yaitu molekul, atom, inti (nucleus), hadron, dan quark. Atom sendiri terdiri dari nucleus (inti) dan orbit. Dalam inti terdapat dua jenis hadron, yaitu neutron dan proton yang keduanya itu terdiri dari quark-quark. Sedangkan pada orbit adalah elektron.

Yang terpenting dari teori ini adalah adanya ruang lebar yang merentang antara inti atom (nucleus) dan orbitnya (elektron). Dikatakan bahwa dalam potongan kuku kita terdapat jutaan atom, dan setiap atom memiliki ruang yang luas dan kosong yang terbentang antara inti atom dan orbitnya. Menurut Brian Haines dalam bukunya God’s Wishper and Creation’s Thunder, jika kita dapat memperbesar inti atom hingga terlihat sebesar kelereng, maka letak elektronya di orbit adalah sejauh 300 meter lebih. Itu artinya ada ruang kosong nonmateri yang merentang luas antara inti dan orbit atom. Jadi, bagian terbesar atom adalah nonmateri, ketimbang materi seperti klaim Newtonian.

Yang lebih menarik, seperti disebutkan Haines, bahwa seandainya kita bisa memadatkan seluruh atom yang ada di tubuh kita, dengan (misalnya) menarik elektron ke dalam inti atom, kita akan tereduksi menjadi hanya seukuran ujung pensil yang sangat lancip. Jika bumi kita dipadatkan seperti di atas, ia akan tereduksi menjadi seukuran kelereng.

Realitas quantum ini bagi saya merupakan kritik yang sangat signifikan bagi pandangan positivisme yang menganggap alam semesta ini tak lebih hanya materi, sehingga mereka kehilangan pijakannya. Mereka keliru dengan menganggap dunia yang luas ini hanya berdimensi tunggal dan itu materi. Kenyataannya adalah bahwa bagian terbesar dari semesta ini adalah nonmateri.

Nah, jika konsep ilmiah ala quantum ini diterima, maka kita akan dapat menerima keilmiahan metode N-AQS. Dalam metode N-AQS proses pencapaian kesempurnaan manusia dilalui secara alami dalam dunia quantum (nonmateri). Dengan energi yang sangat tinggi dan halus hingga mencapai triliunan level di bawah quark, evolusi spiritual manusia dapat dilakukan dengan sangat singkat.

Dalam konsep N-AQS, secara garis besar tubuh manusia juga terdiri dari tubuh fisik (jasmani), tubuh ruh (jauhar/subtansi), dan tubuh jiwa. Dengan energi yang spesifik, ketiga tubuh tersebut dimurnikan dari semua yang mengotorinya seperti, pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi negatif. Pemurniaan ini disebut dengan kultivasi atau evolusi spiritual.

Kultivasi ruh dalam tradisi Timur dilakukan dengan melatih kundalini. Dengan energi N-AQS yang sangat spesifik, tidak memerlukan untuk mengolah kundalini. Ketika Energi Nurun 'Ala Nuurin telah mengkultivasi cakra mahkota, maka tabir atau hijab yang selama ini menghalangi diri kita dengan cahaya atau kuasa ilahi akan terbuka. Dengan terbukanya tabir tersebut, kita akan dapat mengakses kuasa ilahi untuk membantu memurnikan ruh kita (beberapa aliran reiki dengan salah kaprah menyakini bahwa energi atau kuasa ilahi ini dapat diakses hanya dengan membuka cakra mahkota. Karenanya, mereka dengan sangat mudah mengidentikkan energi reiki dengan energi ilahi, padahal hakikatnya tidak demikian). Saat ruh telah disempurnakan, saat itulah terjadi evolusi spiritual, di mana ruh kita mencapai tingkatan ruh suci.


TINGKATAN RUH
AlamRûh(Nafs)
LâhûtRûh al-QudsSirr
JabarûtRûh as-SulthanyFu’ad
MalakûtRûh ar-RûhânyQalbu
MulkiRûh al-JismânyRûh


Kultivasi berikutnya adalah jiwa. Sama dengan konsep jiwa dalam tradisi tasawuf dan teologi yang telah saya singgung di atas, N-AQS juga menyebut jiwa sebagai padanan karakter atau sifat . Manusia mempunyai jiwa atau sifat yang sangat banyak, ada yang positif dan ada yang negatif. Dengan mengembangkan jiwa positif (akhlaq terpuji) berarti kita sedang menyiapkan diri untuk menerima tajalli atau manifestasi dari sifat-sifat Tuhan. Sebaliknya, dengan kita membiarkan jiwa negatif (akhlaq tercela) berkembang (dengan mengikuti nafsu dan ego), maka sama artinya kita membuka pintu untuk masuknya iblis ke dalam diri kita. Sekali ia masuk dalam diri, ia akan terus berusaha menguasai kesadaran kita dan akan menyesatkan kita.

Dalam agama (terutama agama samawi), pemurnian jiwa dilakukan dengan ketundukan total terhadap ajaran Tuhan yang dibawa oleh utusan-Nya. Dengan ketundukan ini, otomatis jiwa negatif pun mengalami pembatasan atau pengekangan pertumbuhannya, sementara jiwa positif terus berkembang seiring dengan keheningan (muthmainnah) dan keikhlasan (terbebas dari keterikatan) hati. Berbanding terbalik dengan perkembangan jiwa-jiwa positif, dengan ketaatan kepada Tuhan, jiwa-jiwa negatif justru semakin melemah dan mengecil.

Dalam N-AQS, dengan energi bervibrasi tinggi dan suci (Nuurun 'Ala Nuurin) dan spesifik, kultivasi jiwa-jiwa positif dapat dengan mudah dilakukan. Sementara jiwa negatif akan terus melemah atau mengecil seiring dengan level kemurnian jiwa positif .

Tujuh tingkat Jiwa/nafsu menurut ahli tasawuf

  1. Nafsul Amarah
  2. Nafsul Lawwamah
  3. Nafsul Mulhammah
  4. Nafsul Muthmainnah
  5. Nafsul Radhiah
  6. Nafsul Mardhiyah
  7. Nafsul Kamilah
Di N-AQS, proses pencapaian awal INSAN KAMIL didapat dengan proses inisiasi atau attunement yang dilakukan oleh Master yang mempunyai kemampuan untuk itu. Dengan inisiasi tersebut, praktisi tidak hanya mampu mengakses energi N-AQS—yang kelembutan dan ketinggiannya berada triliunan kali lipat di bawah quark—, tetapi ia juga telah mengalami evolusi spiritual pada tubuh ruh dan tubuh jiwanya. Dengan kemampuan tersebut beserta tubuh-tubuh suci dari ruh maupun jiwa, seorang praktisi diharapkan untuk terus melakukan pemurnian dirinya secara terus-menerus dari pengaruh kuasa gelap (iblis), karma negatif, dan emosi-emosi negatif.

Seiring dengan semakin murni diri kita, percikan Nur-Nya pun akan semakin sempurna menyatu dalam diri kita.

Inilah teknologi spiritual yang dapat menjelaskan mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh (fisik maupun nonfisik) dan alam semesta, di mana ditemukan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos) . Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci dalam satu buku maupun kitab adalah sesuatu yang tidak mungkin. Oleh karenanya, kita diminta untuk berusaha mencoba, meneliti dan mengalaminya sendiri. Dengan N-AQS, kita dapat menemukan sendiri persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita dan menemukan jati diri kita.

Kesimpulan saya, N-AQS tidak bertentangan dan memang tidak perlu dipertentangkan dengan ajaran agama mana pun. Sebagai metode ilmiah dengan penekanan pada penggalian hakikat semesta dan diri, N-AQS merupakan sistem spiritual yang universal yang dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa pun dengan latar belakang kepercayaan dan agama apa pun. Dengan belajar N-AQS seorang praktisi tidak dituntut untuk menanggalkan agama yang telah ia anut. Dengan pemahaman mendalam dan praktik yang tepat terhadap metode N-AQS, justru akan dapat menambah keimanan dan kualitas kedekatan kita dengan Sang Khaliq.

N-AQS adalah berkah bagi para pencari. Inilah metode revolusioner dalam dunia spiritual yang tidak hanya dapat diverifikasi secara ilmiah, namun juga telah terbukti dapat membantu dalam menyeimbangkan hidup praktisinya. Selamat datang di dunia penuh keajaiban. Semoga Allah senantiasa membimbing dan meridhai jalan kita menuju-Nya. Amin.