ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 22 November 2010

Evolusi Spiritual eps : INSAN KAMIL

¤ INSAN KAMIL ¤

Diturunkannya Nabi Adam ke dunia bukanlah sebuah hukuman. Namun itu yg memang harus terjadi. Agar manusia dapat melakukan proses evolusi selanjutnya menjadi manusia sempurna Insan Kamil.

INSAN KAMIL Artinya adalah manusia sempurna, berasal dari kata al-insan yang berarti manusia dan al-kamil yang berarti sempurna. Konsepsi filosofid ini pertama kali muncul dari gagasan tokoh sufi Ibnu Arabi. Oleh Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428), pengikutnya, gagasan ini dikembangkan menjadi bagian dari renungan mistis yang bercorak tasawuf filosofis.


Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al Ahzab ayat 21, yang artinya:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah”.

Nabi Muhammad SAW adalah sebuah contoh manusia ideal. Jati diri Muhammad (al-haqiqah al-Muhammad) yang demikian tidak semata-mata dipahami dalam pengertian Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan, tetapi juga sebagai nur (cahaya) Ilahi yang menjadi pangkal dan poros kehidupan di jagad raya ini. Nur Ilahi kemudian dikenal sebagai Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad.

Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun 'Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Setelah Rasulullah SAW wafat apakah Nur Muhammad itu ikut hilang?

Tidak! Nur tersebut diteruskan kepada Saidina Abu Bakar Siddiq ra sebagai sahabat Beliau yang utama sebagaimana sabda Nabi:


“ Tidak melebih Abu Bakar dari kamu sekalian dengan karena banyak shalat dan banyak puasa, tetapi (melebihi ia akan kamu) karena ada sesuatu (rahasia) yang tersimpan pada dadanya”

Pada kesempatan yang lain Rasulullah bersabda pula :
“Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah ke dadaku, melainkan seluruhnya kutumpahkan pula ke dada Abu Bakar Siddiq”.

Nur Muhammad akan terus berlanjut hingga akhir zaman, dan Nur itu pula yang terdapat dalam diri seorang Mursyid yang Kamil Mukamil yang wajahnya juga tidak bisa diserupai oleh syetan. Memandang wajah Mursyid hakikatnya adalah memandang Nur Muhammad dan sudah pasti memandang Nur Allah SWT.

Nabi SAW bersabda :
La yadhulunara muslimun ra-ani wal man ra-a man ra-ani wala man ra-a man ra-ani ai walau bisab’ina wasithah, fainnahum khulafa-li fi tablighi wal irsyadi, inistaqamu ala syarii’ati.

“Tidak akan masuk neraka seorang muslim yang melihat aku dan tidak juga (akan masuk neraka) yang melihat orang yang telah melihat aku, dan tidak juga (akan masuk neraka) orang yang melihat orang yang telah melihat aku, sekalipun dengan 70 wasithah (lapisan/antara). Sesungguhnya mereka itu adalah para khalifahku dalam menyampaikan (islam/sunahku) mengasuh dan mendidik (orang ramai), sekiranya mereka itu tetap istiqamah didalam syari’atku” (H.R. Al – Khatib bin Abd.Rahman bin Uqbah).

Makna melihat dalam hadist di atas bukan dalam pengertian melihat secara umum, karena kalau kita maknai melihat itu dengan penglihatan biasa maka Abu Jahal dan musuh-musuh nabi juga melihat beliau akan tetapi tetap masuk Neraka. Melihat yang dimaksud adalah melihat Beliau sebagai sosok nabi yang menyalurkan Nur Allah kepada ummatnya, melihat dalam bentuk rabithah menggabungkan rohani kita dengan rohani beliau.

Darimana kita tahu seseorang itu pernah melihat Nabi dan bersambung sampai kepada Beliau? Kalau melihat dalam pengertian memandang secara awam maka para ahlul bait adalah orang-orang yang sudah pasti punya hubungan melihat karena mereka adalah keturunan Nabi.

Akan tetapi karena pengertian melihat itu lebih kepada rabitah atau hubungan berguru, maka yang paling di jamin punya hubungan melihat adalah Para Ahli Silsilah Thariqat yang saling sambung menyambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Syukurlah bagi orang-orang yang telah menemukan seorang Guru Mursyid yang silsilahnya bersambung kepada Rasulullah SAW, yang selalu memberikan pencerahan dengan menyalurkan Nur Muhammad sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin, bermohon atas namanya niscaya Allah SWT akan mengabulkan do’a dan dari Mursyid lah Firman Nafsani dari Allah terus berlajut dan tersampaikan kepada hamba-Nya yang telah mendapat petunjuk.

Barulah kita tahu kenapa memandang wajah Mursyid itu bisa mengubah akhlak manusia yang paling bejat sekalipun, karena dalam wajah Mursyid itu adalah pintu langsung kepada Allah SWT.

Makna Insan Kamil
Pertama, insan kamil dalam pengertian konsep pengetahuan mengenai manusia yang sempurna. Dalam pengertian demikian, insan kamil terkail dengan pandangan mengenai sesuatu yang dianggap mutlak, yaitu Tuhan. Yang Mutlak tersebut dianggap mempunyai sifat-sifat tertentu, yakni yang baik dan sempurna. Sifat sempurna inilah yang patut ditiru oleh manusia. Seseorang yang makin memiripkan diri pada sifat sempurna dari Yang Mutlak tersebut, maka makin sempurnalah dirinya.

Kedua, insan kamil terkait dengan jati diri yang mengidealkan kesatuan nama serta sifat-sifat Tuhan ke dalam hakikat atau esensi dirinya. Dalam pengertian ini, nama esensial dan sifat-sifat Ilahi tersebut pada dasarnya juga menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yaitu sebagai suatu keniscayaan yang inheren dalam esensi dirinya. Hal itu dinyatakan dalam ungkapan yang sering terdengar, yaitu Tuhan berfungsi sebagai cermin bagi manusia dan manusia menjadi cermin bagi Tuhan untuk melihat diri-Nya.

Manusia dapat mencapai jati diri yang sempurna melalui latihan rohani dan pendakian spiritual, bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat (Evolusi Spiritual).

Iqbal melihat, insan kamil dicapai melalui beberapa proses.
  1. Ketaatan pada hukum, disiplin pada jalan atau latihan ruhani yang ditempuhnya.
  2. Penguasaan Diri sebagai bentuk tertinggi Kesadaran Diri tentang pribadi.
  3. Kekhalifahan Ilahi (Khalifatullah fil ardli).

Diri (nafs) kita yang hakiki dalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.


Di dalam Qalbu Seorang Insan menampung dua sifat :
1. Raja/khalifah/Aku/Materi ►  karakter dari Hawa Nafsu (EGO)
2. Hamba/abdi/Anti Materi ► karakter dari Ruhaniah

Proses Kultivasi (Tazkiyatun Nafs) terjadi Ketika Nafsu dipertemukan dengan Ruh dan direaksikan dengan Nuurun 'ala Nuurin di dalam tabung reaksi yang di sebut Qalbu. Di dalam proses kimiawi spiritual yang disebut Meditasi/Dzikir. Maka struktur kimiawi spiritual manusia tersebut akan berubah menjadi seorang Manusia Cahaya. Lahirlah jati diri seorang manusia baru yang disebut INSAN KAMIL. Manusia yang sempurna lahir bathin, manusia yang telah diresapi oleh sifat-sifat Allah di dalam dirinya. Sifat kehambaannya berubah menjadi hamba Allah (Abdullah) dan sifat Rajanya berubah menjadi Khalifatullah. Orbit diri dan inti dirinya hanyalah Allah semata.

"Kemana pun engkau menghadap, disanalah Wajah Allah."(Al-Baqarah 115)

Q.S. Al A’raaf , Ayat 205 :
“ Sebutlah Tuhanmu dalam hatimu, serta merendahkan diri dan tunduk, dan bukan dengan suara terdengar, waktu pagi dan petang hari, dan janganlah engkau termasuk orang yang tidak berdzikir (tida ingat = lalai)”

(HR. Abu Daud)
Tak dapat memuat Zat-KU, Bumi dan Langit-Ku, yang dapat memuat Zat-KU ialah hati hamba-KU yang mu’min, lunak dan tenang

(HR. Ahmad dari Wahab bin Munabbih)
Sesungguhnya langit dan bumi tak berdaya menjangkau-KU, namun Aku telah dijangkau oleh hati seorang mu’min (Yang Kukasihi)

Resonansi dari Qalbu yang baik itulah kelembutan akan muncul. Bagaikan buluh perindu yang akan menghasilkan suara merdu ketika ditiup. Kenapa? Karena hati yang lembut bagaikan sebuah tabung resonansi yang bagus. Getarannya menghasilkan frekuensi yang semakin lama semakin tinggi. Semakin lembut hati seseorang, semakin tinggi frekuensinya. Pada frekuensi 10 pangkat 8, maka akan menghasilkan gelombang radio. Dan jika frekuensinya lebih tinggi misal 10 pangkat 14, maka akan menghasilkan gelombang cahaya (Mustofa, 2008:153).

Jati Diri yang sempurna Al-Insan Kamil itu bertingkat (berderajat) yang disebut Maqom (Tingkatan derajat), level kesempurnaan ini bertingkat bersamaan dengan turunnya Yang Mutlak ke dalam manusia melalui berbagai tingkat di dalam Evolusi Spiritualnya. Manusia Sempurna Absolut itu tidak ada, karena kesempurnaan yang paling Absolut hanya dimiliki oleh Allah Yang Maha Sempurna.



LAMPIRAN :

1. Teori Annihilasi, proses pengubahan materi menjadi cahaya

Teori ini mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan atau direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama (Mustofa, 2006:20).

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir masih dalam buku yang sama (2006:20), bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan antiproton, atau elektron dengan positron sebagai antielektronnya, maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,11 MeV untuk pasangan elektron dan 938 MeVuntuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi.

2. Anti materi

Ini bukan fiksi. Di jagad raya ini ada sesuatu yang disebut antimateri. Tidak seperti namanya, antimateri ini materi juga, cuma muatan listriknya berkebalikan dengan muatan listrik materi. Kalau elektron materi bermuatan negatif, maka elektron antimateri bermuatan positif. Proton materi bermutaan positif, sedangkan proton antimateri bermuatan negatif. Meski neutron secara teori bermuatan listrik netral, muatan neutron antimateri dan materi berkebalikan juga.

Bagaimana kalau antimateri dan materi yang muatan listriknya berkebalikan itu bertemu atau bersentuhan? Bisa ditebak, keduanya akan menimbulkan energi, persis seperti kabel negatif dan positif listrik bertemu. Bedanya, akibat pertemuan itu, dua macam zat itu akan musnah tanpa sisa. Jadi, begitu kedua zat itu bersentuhan, akan timbul ledakan yang akan mengubah seluruh zat itu menjadi energi seluruhnya, tanpa sisa. Booom....lenyap. Tak ada arang, abu, atau asap. Semuanya menjadi nihil. Para fisikawan menyebut fenomena ini sebagai anihilisasi.

Ini bukan cerita fiksi, lo. Adanya pengamatan dan penemuan antimateri membuktikan kebenaran teori relativitas Enstein: E=MC kuadrat. Bagi Enstein, materi adalah energi yang terperangkap. Kalau perangkapnya dilepas, materi akan berubah menjadi energi. Pertemuan materi dan antimateri adalah materi adalah pelepasan perangkap itu. Berhubung seluruh materi dan antimateri berubah menjadi tenaga, maka energi yang timbulpun luar biasa dahsyat, melebihi energi yang dihasilkan fusi nuklir seperti yang terjadi pada matahari.

Menurut teori, antimateri lahir di jagad raya ini bersamaan dengan materi, persis beberapa detik setelah big bang alias dentuman besar. Kebanyakan fisikawan percaya big bang adalah awal mula lahirnya alam semesta. Kitab-kitab suci mengatakan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu secara berjodoh-jodoh, seperti siang-malam. Meski tak melulu percaya pada kitab suci, para fisikawan juga percaya bahwa jumlah antimateri yang tercipta pada saat big bang mestinya sama persis dengan jumlah materi.

Masalahnya sekarang: kok tidak ada antimateri dekat-dekat sini. Kalau ada, tentu bakal kita lihat ledakan di mana-mana, bukan? Benar, sebagian besar antimateri itu sudah sirna karena bertemu dengan materi yang menjadi saudara kembarnya. Tapi, mestinya, kalau sekarang masih ada sisa materi (termasuk tubuh kita), mestinya masih ada pula sisa antimateri yang jumlahnya seimbang.

Kenyataan itu sempat menggoyahkan teori tentang keberadaan antimateri. Sampai suatu ketika, ada pengamatan sahih yang membuktikan antimateri itu ada. Asal tahu saja, di antara berbagai cahaya dan partikel yang menerpa bumi, terdapat partikel-partikel yang berembus tidak hanya dari atas (langit) tapi dari seluruh arah. Melihat arah terpaanya, partikel seperti itu bukan berasal dari matahari, ledakan bintang, atau pancaran galaksi lain. Para fisikawan yakin partikel itu merupakan sisa-sisa big bang.

Benar saja, sebagian partikel yang menerpa kita itu ternyata merupakan elektron. Cuma, setelah diamati, elektron itu bermuatan positif alias antielektron. Orang menyebutnya positron. Keberadaan antielektron ini bisa terdeteksi lantaran muncul ledakan-ledakan kecil begitu antielektron itu bersentukan dengan elektron atmosfir yang bermuatan positif. Meski begitu sebagian elektron itu bisa ditangkap dan diteliti di laboratorium. Orang pun bisa menciptakan antielektron.

Kini, beberapa alat kedokteran menggunakan positron untuk melakukan diagnosa. Caranya, positorn yang dicampur dengan zat cair tertentu disuntikkan ke jaringan tubuh. Berhubung antielektron-antielektron itu bersentukan dengan elektron yang ada pada zat cair yang menyelimutinya, maka muncul ledakan-ledakan sepanjang aliran zat itu dalam tubuh. Ledakan-ledakan itulah yang menghasilkan pancaran sinar gamma. Nah, radiasi sinar gamma itulah yang kemudian bisa dipantau dokter lewat monitor.

Kalau ada penyumbatan-penyumbatan pembuluh darah di bagian-bagian tertentu yang berbahaya untuk dideteksi dengan sinar rontgen, seperti otak misalnya, cara ini sangat membantu. Tak ada sisa kecuali zat cair yang mengantar antielektron masuk tubuh. Karena proses anihilisasi, antielektron yang masuk tubuh akan musnah bersama dengan elektron yang ada dalam zat cair tadi. Ledakan yang terjadi juga bisa disetel tidak berbahaya karena pertemuan antielektron dan elektron tidak sampai menghasilkan energi yang bisa merusak jaringan tubuh.

Manusia, melalui sebuah upaya laboratorium juga bisa menciptakan antiproton dan antineutron. Itu berarti tinggal satu langkah lagi bagi manusia bisa menciptakan sebuah antiatom. Bagaimana sebuah antimateri tercipta? Di sinilah letak kebesaran Tuhan atau siapapun namanya. Bukan sulap-bukan sihir, antimateri dan materi tercipta begitu saja dari sebuah ledakan energi yang dahsyat. Melalui ledakan seperti big bang sebuah antimateri dan materi tiba-tiba ada begitu saja, entah darimana asalnya.

Para fisikawan eksperimen pun berupaya menciptakan sebuah big bang buatan. Ledakan sekelas big bang hanya bisa terjadi kalau sebuah partikel ditembakkan dengan kecepatan cahaya pada partikel lain. Agar bisa menembakkan partikel dengan kecepatan itu, perlu sebuah alat yang disebut akselerator. Melalui alat itu, para fisikawan menembakkan satu buah partikel dengan kecepatan cahaya pada sebuah lempengan baja (atau apa gitu....).

Booommmmm.....dalam tempo sepersekian detik setelah ledakan itu.... muncullah secara ajaib antimateri dan materi baru....Subhanallah...!!! Namun, pada saat yang sama mula, dua zat yang baru lahir itu bersentuhan sehingga keduanya lenyap seraya menimbulkan ledakan baru. Ledakan baru itupun menghasilkan materi dan antimateri baru. Begitu terus menerus berulang-ulang, sampai ledakan yang tercipta tak mencapai ambang batas untuk menimbulkan materi dan antimateri baru.

Untungnya, sebelum semuanya lenyap para fisikawan berhasil menawan sebuah antimateri dan mengamankannya agar tak bersentuhan dengan materi sehingga tidak sampai sirna. Dengan teknik pemanfaatan medan magnet, sebuah antimateri bisa dibikin mengambang dalam sebuah tabung yang vacum.

Banyak orang bermimpi mulia, proses pelenyapan antimateri dan materi lewat sebuah ledakan bisa menjadi alternatif energi paling aman. Tak ada polusi karena ledakan itu menghasilkan energi secara sempurna. Dalam kisah Star Trek, pesawat Enterprises diceritakan berbahan bakar antimateri.

Sayangnya, menurut para fisikawan, meski antimateri bisa diciptakan, nilai ekonomisnya tidak sebanding dengan energi yang dihasilkannya. Untuk menciptakan sebutir anti proton, perlu ongkos jutaan dolar. Mereka bahkan pesimis semaju apapaun teknik penciptaan antimateri, nilai ekonomisnya tak akan tercapai. Sekadar gambaran, seluruh antimateri yang tercipta lewat eksperimen selama duapuluh tahun terkahir ini paling-paling hanya cukup untuk menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama 3 menit. Antimateri akan menjadi energi alternatif kalau kita bisa menemukan sebuah tambang antimateri di sebuah pojok jagad raya.

Sia-siakah penemuan dan pembuktian keberadaan antimateri? Bagi saya, tidak. Pembuktian adanya antimateri menjadi sebuah titik terang untuk kembali melacak asal-usul. Mungkinkah ada hubungan antara sedikitnya antimateri yang tersisa di jagad raya dengan keberadaan makluk hidup? Mungkinkah, energi yang membuat jantung berdetak dan pada gilirannya mengalirkan darah ke seluruh tubuh merupakan hasil pertemuan antar antimateri dan materi? Jangan-jangan, selain 90 kg materi, saya juga terdiri 90 kg antimateri?

by. MAJELIS NAQS