ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 25 November 2010

Hakikat Kultivasi Nafsu dan Ruh

Struktur manusia adalah struktur berbagai alam dan bagian-bagiannya. Tentu saja hal ini tidak dalam bentuk penampakannya, tapi lebih pada unsur-unsur penyusunnya, inter relasinya, dan mekanisme hukum yang berlaku di dalamnya dimana alam yang dimaksud tidak hanya meliputi alam fisik inderawi tapi juga alam-alam atas (alamul a’laa), termasuk alam malaikat. Semua ini adalah kalam ilahi yang bertutur tentang Dia SWT yang berada di balik semuanya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menurut rupa-Nya” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Untuk menjelaskan struktur insan yang kompleks ini maka Imam Al-Ghazali ra menggambarkan bahwa manusia itu adalah hewan yang mampu berpikir (hayyawan nathiq), maksudnya berjasmani seperti hewan, tapi juga mampu mencerap pengetahuan tentang Allah SWT sebagaimana malaikat. Perbedaan antara manusia dengan hewan adalah adanya tambahan unsur jiwa (an-nafs) yang membuat manusia mampu berpikir dan mewujudkan apa yang dipikirkannya (nathiq), baik dalam bentuk perkataan hingga perbuatan, sehingga bila saja binatang diberi jiwa (an-nafs) sebagaimana yang diberikan kepada manusia, tentu ia akan sanggup berpikir dan akhirnya mukallafah.

Struktur makhluq yang seperti ini oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism).

Jasmani manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal di mana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam as, proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah, ‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.

Jika diperhatikan lebih jauh mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, maka akan ditemui persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos). Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan, tentu maka akan menemukan persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.

Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh (Ruh Jasmani). Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut.Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, di mana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)

Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).

Ruh Jasmani
Nafakh Ruh /Ruh hewani/Ruh Indriawi adalah Hakikat Jiwa/Nafs dan Dzat Hidup


Ruh Jasmani merupakam cikal bakal kehidupan, artinya ruh jasmani inilah yang menyebabkan makhluk hidup dapat hidup. Ruh Jasmani adalah tingkatan lapis terluar dari Ruh yang berkaitan erat dengan diri jasmani manusia. Oleh karena itu bersifat materi (Aradh). Nafsu dan Ruh dalam perkembangannya mempunyai perkembangan yang sangat saling terkait namun tumbuh secara terpisah sendiri-sendiri.

Kekuatan jiwa (aradh) itu dibedakan menjadi dua, yaitu motorik (penggerak) dan kognitif. Sementara kognitif sendiri terbagi menjadi dua, yaitu luar dan dalam. Kognitif luar adalah seperti mendengar, melihat, membaui, meraba dan sebagainya. Adapun kognitif dalam terdiri dari tiga macam:

1. Imajinasi (khayaliyyah), yang bertugas merekam segala bentuk yang pernah ditangkap oleh indera.

2. Fantasi (wahmiyyah), yang mampu memahami berbagai makna (pengertian). Kekuatan ini akan merekam pengertian (makna) dari segala bentuk yang direkam oleh khayaliyyah.

3. Pikiran (fikriyyah), yang berfungsi menyusun beberapa bentuk, antara yang satu dengan yang lainnya.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa kognitif luar itu melekat pada panca indera dan kognitif dalam itu melekat pada dimagh (otak). Yang menarik ternyata hampir semua kekuatan (aradh) tersebut juga dimiliki oleh binatang karena kambingpun bisa langsung mengerti bahwa anjing hutan adalah musuhnya, maka ia segera melarikan diri. Artinya hewanpun adalah makhluk yang berfikir. Karena itu jiwa (an-nafs) mestilah sesuatu yang derajatnya di atas kekuatan-kekuatan (aradh) tersebut, karena jiwa (an-nafs) merupakan pembeda antara manusia dan binatang yang perbandingannya sebagaimana dilukiskan pada gambar 1 di mana cahaya dengan sumbernya tetaplah sesuatu yang derajatnya berbeda.

Demikianlah, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor pembeda manusia dengan binatang adalah pada zat jiwa itu sendiri, yaitu jiwa sebagai jauhar yang memiliki kemampuan untuk merespon atau memahami pengetahuan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa jiwa jauhar ini bukanlah kekuatan-kekuatan tersebut, melainkan merupakan esensi yang sempurna dan tunggal yang tidak muncul selain dengan cara mengingat, menghapal, berpikir, membedakan dan mempertimbangkan sehingga dikatakan bahwa dialah yang menerima seluruh ilmu. Ia tidak bosan menerima gambaran-gambaran yang lepas dari materi. Semua bagian diri manusia berkhidmat kepada jauhar ini dan melaksanakan perintahnya.

Dalam hubungannya dengan jasad, jiwa jauhar ini (an-nafs) dikatakan memiliki dua jenis kekuatan, yaitu kekuatan yang bersifat amaliah (praktis) dan yang bersifat ilmiah. Adapun yang bersifat amaliah adalah kekuatan yang menjadi pusat penggerak manusia sehingga melahirkan karya dan cipta dalam wujud teknologi-teknologi manusia. Sementara yang bersifat ilmiah adalah yang mampu memahami materi ilmu-ilmu pengetahuan yang tidak ada bentuk dan bendanya, di mana ilmu pengetahuan tersebut merupakan masalah-masalah yang bersifat universal, abstrak dan hanya dapat dipahami oleh akal.

Dalam kaitannya dengan aspek amaliah dan ilmiah inilah maka jiwa jauhar ini disebut juga dengan jiwa berpikir (nafs nathiqah) karena makna nathiq di sini tidak hanya meliputi kekuatan berpikir (ilmiah), tapi sampai pada kekuatan untuk mewujudkannya dalam bentuk gerak dan perbuatan (amaliah). Al-Qur’an menamai nafs nathiqah sebagai suatu paduan antara jiwa yang tenteram (nafs muthmainnah) dengan ruh Amri. Karena itu Imam Al-Ghazali ra menyatakan bahwa nafs nathiqah adalah jauhar yang hidup, aktif dan rasional.

Tingkatan Jiwa

Jiwa itu sesungguhnya berlapis-lapis dan bertingkat, sehingga istilah jiwa sebenarnya digunakan untuk mewakili/menggambarkan banyak aspek. Bila istilah jiwa ditujukan pada jiwa yang menjadi jauhar manusia (an-nafs), maka binatang dapat dikatakan tak memiliki jiwa tersebut. Tapi bila derajat pemahaman tentang jiwa ini diturunkan, maka binatang pun sebenarnya memiliki jiwa. Bahkan tenaga gas dan segala sesuatu yang dapat berkembang (seperti tumbuhan) juga dikatakan memiliki jiwa. Hanya saja derajat jiwa yang mereka miliki tidak cukup untuk membuat mereka mukallafah. Karena itu dalam tulisan ini, ketika jiwa disebut dalam bentuk isim ma’rifah an-nafs, maka itu menunjuk kepada jiwa jauhar. Sedangkan ketika disebut dengan nafs saja, maka itu menunjukkan kepada jiwa dalam seluruh derajatnya (jiwa secara umum).

Untuk memahami masalah ini lebih jauh, harus dipahami bahwa jiwa itu tumbuh. Ia berproses dari suatu kekuatan (kemampuan, potensi) menuju bentuk perbuatan. Jiwa hewani (an-nafs al-hayawaniyyah) melekat pada kesempurnaan suatu tubuh (jism) secara alamiah dimana pada derajat tersebut pemilik jiwa memiliki kemampuan untuk dapat merasa dan bergerak sehingga dikatakan bahwa jiwa hewani adalah tingkatan pertama dari munculnya suatu perbuatan. Karena itulah binatang dan manusia sama-sama memiliki jiwa jenis ini.

Penggerak indera pada binatang adalah melalui daya fantasi, yang fungsinya sama dengan daya intelektual yang ada pada manusia. Seekor binatang akan berperilaku sesuai dengan perilaku yang dikendalikan daya fantasinya ketika melihat sesuatu yang berbahaya. Kalau melihat sesuatu yang berbahaya, ia akan segera menghindar, dan tidak terlalu salah bila dikatakan bahwa ia punya daya rekam yang mampu merekam citra.

Jiwa manusia sendiri memang memiliki dua sisi. Satu sisi menuju alam ruh (alam tinggi, alamu’ a’la) dan sisi lain menuju alam bawah (rendah, alam materi) di mana dia diperintah agar memelihara dua sisi yang saling berseberangan ini. Dari sisi yang menuju alam tinggi ia mirip dengan malaikat dalam berbagai keutamaan dan ketekunan beribadat kepada Tuhannya. Sedangkan sisi yang menuju alam bawah membuatnya mampu berinteraksi dengan alam bawah yang terformulasi dari unsur materi (alam khalq). Penguasaan jiwa terhadap alam materi tersebut adalah melalui tubuh fisik (jism).

Berbagai alam tersebut memiliki tuntutannya masing-masing, yang sering saling bertolak belakang. Inilah yang membuat jiwa manusia cenderung bingung dalam menjalani kehidupannya di dunia. Masing-masing ingin dipenuhi secara adil sesuai dengan hukum keadilan Tuhan. Karena itu agar manusia pada akhirnya tetap bisa cenderung pada sisi yang tinggi, maka Allah memperkuatnya dengan akal agar dapat menerima apa yang disampaikan dari para malaikat dan Rasul-Nya, di samping juga sanggup memahami apa yang dikehendaki Tuhannya. Inilah kebijakan Tuhan (hikmah Ilahiyyah) yang menjadikan manusia itu istimewa.

Dua sisi tersebut kemudian membuat jiwa (an-nafs) memiliki dua kekuatan dasar, yaitu amaliah dan ilmiah. Kekuatan amaliah terkait dengan sisi yang menuju alam bawah yang sebagian besar bersifat inderawi, sedang kekuatan ilmiah terkait dengan sisi yang menuju alam atas karena dari sisi inilah turunnya pengetahuan yang tak terbatas. Terkait dengan hal tersebut, jiwa hewani sesungguhnya adalah representasi jiwa pada sisi yang menghadap alam bawah di mana dengan jiwa hewani tersebut manusia dan binatang dapat menghasilkan dan mensistemkan suatu gerakan atau perbuatan. Hanya saja pada binatang, mereka bergerak dan berbuat tanpa pengetahuan tentang sisi bagian atas sehingga binatang tidak mengerti tentang apa yang menjadi dasar gerakan (perbuatan) mereka. Perbuatan dan karya cipta mereka sepenuhnya dilakukan atas dasar wahyu yang diterima dari Allah swt.

“Dan Rabbmu mewahyukan kepada seekor lebah: Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon, dan di tempat-tempat yang dibikin (manusia).” (An-Nahl [16]: 68)

Sementara manusia bergerak dan berbuat atas dasar pengetahuan yang didapatnya. Bila sisi jiwa yang menghadap alam atas mampu menerima pengetahuan-Nya, maka dia akan berbuat dan berkarya atas dasar ilmu-ilmu tinggi itu. Bila tidak, maka manusia juga akan tetap berbuat, tapi atas dasar ilmu-ilmu rendah (pengetahuan duniawi). Karena itu Al-Qur’an sering menyindir mereka yang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas sebagai tak ubahnya dengan binatang, bahkan lebih rendah dari itu. Mereka tidak mengenal malaikat dan Tuhan penciptanya, tapi sangat mengenal dunianya.

“Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka (mampu) mendengar atau menggunakan ‘aqlnya?. Mereka itu tiada lain bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesatlah jalan mereka.” (QS. Al-Furqan:44).

Manusia dikatakan lebih sesat dari binatang karena meski binatang tak memiliki pengetahuan tentang alam-alam atas namun binatang berada dalam ketaatan yang mutlak kepada Sang Penciptanya. Mereka mendengar, melihat dan mengetahui kehendak Allah SWT atas diri mereka. Mereka tak akan pernah bergerak kecuali atas dasar ilmu Allah SWT yang sudah tercatat dalam suatu kitab, di mana Dia tak akan keliru atau lupa. Sedangkan manusia yang tak berpengetahuan tentang alam-alam atas, maka mereka justru terputus dari ketaatan kepada kehendak Allah SWT karena dengan apa mereka memahami kehendak Allah SWT atas diri mereka? Kalaupun mereka membangun suatu ‘ketaatan’, maka itu adalah atas dasar persangkaan yang dibangun di bawah kendali hawa nafsu dan syahwat.

Tujuh tingkat nafsu menurut ahli tasawuf

1. Nafsul Amarah
2. Nafsul Lawwamah
3. Nafsul Mulhammah
4. Nafsul Muthmainnah
5. Nafsul Radhiah
6. Nafsul Mardhiyah
7. Nafsul Kamilah

KULTIVASI JIWA
Jiwa yang telah dimurnikan akan menjadi sebuah jiwa yang abadi dan tidak mati.

Janganlah engkau sekali-kali mengira bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizki. (Ali ‘Imran [3]: 169)

Jati diri Ruh Indrawi yang berupa Inti Kehidupan (Dzat Hidup) inilah yang dikultivasikan dalam metode-metode kultivasi oleh agama bumi. Manusia yang telah mencapai kesempurnaan jiwa inilah yang disebut dengan avatar dan dewa. Jiwa mereka bersemayam di alam semesta pada level alam suci.

Di dalam dongeng-dongeng dari negeri tirai bambu sering diceritakan, bahwa hewan dan siluman sekalipun bila melatih metode kultivasi akan dapat mencapai kesempurnaan jiwa mereka menjadi berjiwa manusia yang hidup abadi.

Jati diri Ruh Indrawi inilah yang nantinya akan menempati surga-surga Allah di akherat nanti.

RUH QUDUS

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan Aku tiupkan di dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah mereka kepada-Nya dengan bersujud.(Al-Hijr [15]: 29)

Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari Ruh-Nya, dan Dia menjadikan kalian (memiliki) pendengaran, bashiirah, dan fu’aad, tapi sedikit di antara kalian yang bersyukur. (As-Sajdah [32]: 9)

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit. (Al-Israa’ [17]: 85)

Ruh Qudus inilah yang hakikat sifatnya berasal dari alam Ilahiah dan mempunya sifat-sifat keilahian.

Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.

Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).

Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.

Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:

1. Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.
2. Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.
3. Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.
4. Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.

Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.

Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.

Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.



TABEL TINGKATAN RUH
AlamRûh(Nafs)
LâhûtRûh al-QudsSirr
JabarûtRûh as-SulthanyFu’ad
MalakûtRûh ar-RûhânyQalbu
MulkiRûh al-JismânyRûh



KULTIVASI RUH

Berbeda dengan perjalanan Nafsu/Jiwa, Ruh sebagai bagian dari pancaran sifat-sifat Tuhan akan berusaha untuk kembali pada asal dirinya yaitu Tuhan.

انا لله وانا اليه راجعون
"Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali."
(Surah Al-Baqarah, ayat 156)

Lalu bagaimana perjalanan Ruh bisa dilakukan...?
Telah termaktub dalam dalil araftu rabbi bi rabbi bahwa kita hanya mengenal Dia dgn Dia. Maksudnya jika Tuhan tidak berkehendak kita mengenal-NYA maka kita pun tidak akan bisa mengenal-NYA. Dan, kita mengenal-NYA pun maka hanya melalui Dia (walaupun kita tidak mau tetapi semua telah kehendak-NYA).

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya.............”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mu'jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an)." ( QS. An Nisaa 4:174 )

Dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan...(Perjalanan Spiritual).( QS. Al Hadiid 57:28 )

Satu-satunya cara untuk bisa memperjalankan Ruhani kita di dalam evolusi spiritual hanyalah Cahaya Petunjuk yang datang dari Tuhan.

Pokok dari ajaran agama adalah mengajarkan kepada ummatnya tentang bagaimana berhubungan dengan Tuhan, cara mengenal-Nya dengan sebenar-benar kenal yang di istilahkan dengan makrifat, kemudian baru menyembah-Nya dengan benar pula. Apakah agama Islam, Kristen, Hindu dan lain-lain, semuanya mengajarkan ajaran pokok ini yaitu bagaimana seseorang bisa sampai kehadirat-Nya. Karena itu pula Allah SWT menurunkan para nabi/Rasul untuk menyampaikan metodologi cara berhubungan dengan-Nya, tidak cukup satu Nabi, Allah SWT menurunkan ribuan Nabi untuk meluruskan kembali jalan yang kadangkala terjadi penyimpangan seiring berjalannya waktu.

Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ Nur Muhammad adalah pancaran Nur Allah yang diberikan kepada Para Nabi mulai dari Nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW, dititipkan dalam dada para Nabi dan Rasul sebagai conductor yang menyalurkan energi Ketuhanan Yang Maha Dasyat dan Maha Hebat. Dengan penyaluran yang sempurna itu pula yang membuat nabi Musa bisa membelah laut, Nabi Isa menghidupkan orang mati dan Para nabi menunjukkan mukjizatnya serta para wali menunjukkan kekeramatannya. Karena Nur Muhammad itu pula yang menyebabkan wajah Nabi Muhammad SAW tidak bisa diserupai oleh syetan.

Nurun 'Ala Nuurin adalah ikatan spiritual yang sambung menyambung, rantai berantai sampai dengan rohani Rasulullah, karena pancaran yang terus menerus dan yang selalu disalurkan dari Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hanya dengan energi Nuurun 'Ala nuurin inilah Ruhani kita dapat memulai proses kultivasinya. Dengan getaran energi suci inilah diri kita juga akan digetarkan sehingga mencapai ambang energi kuantum. Yang dapat meningkatkan kualitas dan derajat Ruh kita hingga mencapai derajat Ruhul Qudus.

Itulah kenapa dikatakan bahwa manusia yang menempuh jalan ini seakan-akan tidak butuh surga, Karena memang yang menjadi tujuan utama perjalanan spiritual mereka memang bukan surga. Akan tetapi kepada Dzat yang menciptakan surga yaitu Allah SWT.

Inilah Evolusi Spiritual di dalam Metode Kultivasi yang di ajarkan dari jalur Nabi Muhammad SAW. Yaitu perjalanan kembali kepada Tuhannya.

KULTIVASI NAFSU DAN RUH

Dengan menggunakan energi Nuurun 'ala nuurin ini siswa Majelis NAQS akan dapat mengkultivasikan Tubuh Jasmani, Jiwa, dan Ruhaninya.

Metode Reiki Energi Kultivasi N-AQS adalah metode yang holistik, sehingga dapat mengkultivasikan keseluruhan struktur manusiawi yang ada di dalam diri kita. Inilah yang membedakan metode NAQS dengan Metode Kultivasi yang lain.

Metode kultivasi NAQS selalu menjadikan Tuhan sebagai titik sentral dan fokus dari fikiran, perbuatan, dan ucapan. Sedangkan metode kultivasi yang lain selalu menekankan alam semesta sebagai sentral dan topik pembicaraan. Metode NAQS membicarakan Tuhan sebagai sebuah identitas yang personal tanpa perlu mengait-ngaitkannya dengan alam semesta, sedang metode yang lain selalu mencari jawab tentang Tuhan dari alam semesta. Alam semesta bagi kita adalah tempat kita berkarya sebagai wujud bakti kita kepada Tuhan dalam konsep Pengabdian kepada Tuhan (Hamba Tuhan). Dan sebagai wujud ekspresi dan aktualisasi diri sebagai Khalifatullah Fil Ardh.

Kesimpulannya :

Ada dua potensi ruhaniah dalam diri kita, yaitu :
1. Ruh Insaniah/Nafsu/dzat hidup.
Potensi Ruh ini dapat diolah dg meditasi kultivasi oleh aliran manapun. Pencapaian kultivasi ini ada batasnya. Yaitu ketika telah mencapai Kesempurnaan jiwanya (NAFS).

2. Ruh Qudus / Ruh Ruhaniah dari Tuhan.
Potensi Ruh Qudus ini baru dapat di olah bila telah diberi Nur dari Tuhan, Nur inilah yg di bawa oleh para Nabi & Rasul. Setelah Nur ini ditanam, barulah metode kultivasi yg dilakukan bisa memproses potensi ini. Ketika bibit Nur ini telah bertunas dan hidup. Dia akan hidup abadi, karena hakikatnya memang datang dari Dia Yang Maha Hidup dan Maha Abadi.

Jadi Potensi Ruh Qudus ini tidak akan berkembang bila belum di pasangkan dengan Nur Ilahiah ini. Dan Proses Kultivasi Ruh ini tiada batasnya, berlangsung terus menerus hingga akhir hayat kita. Karena yang dituju adalah Dzat yang tidak terbatas, sedangkan hakikat diri kita adalah terbatas. Itulah kenapa dikisahkan bahwa nabi Muhammad yang sudah dijamin masuk Surga oleh Allah SWT, masih suka beristighfar setiap harinya.

Mengingat ini adalah sebuah perjalanan panjang, maka perlu dijaga keseimbangan dalam hidupnya. Janganlah meneggelamkan diri dalam kesibukan spiritual hingga melupakan urusan duniawinya. Karena hakikatnya Tak ada orang yg mampu bertahan di satu sisi utk waktu yg lama. Ketika dia telah mencapai titik jenuhnya, dia akan berayun ke arah kebalikannya. Bagaikan gerak bandul jam, begitulah dia adanya. Bergerak antara dua kutub ukhrawi dan duniawi. Langit dan bumi.

Oleh karena itu ketika kejenuhan datang menerpamu, dan disiplinmu menjadi kendor.
Itu tdk mengapa sahabat..
Ikuti aja arus..
System NAQS bila sudah jadi, dan manunggal dg dirimu. Akan bersifat auto generated. Dia akan tetap hadir menjagamu, di saat apapun. Dan jika tiba saatnya, kau akan dibangkitkan dari tidur hibernasimu. Fenomena ini juga terjadi pada mereka yg hidupnya berkutat pada kehidupan dunia. Dia nanti akan sampai pada titik jenuh, dan rindu dg Tuhannya.

Metode yang bisa mengkultivasikan Ruh secara otomatis juga bisa mengkultivasikan Jiwa, sedangkan metode yang hanya bisa mengkultivasikan jiwa belum tentu mampu mengkultivasikan Ruhnya.