ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 24 Desember 2010

Arti Sebuah Nama

What’s in a name? That which we call a rose
by any other name would smell as sweet.
~William Shakespeare~

Apalah arti sebuah nama. Mungkin itu yang ada di benak mereka mengutip kata-kata sang pujangga William Shakespeare. Kalau kita hanya melihat sepenggal kalimat tersebut, memang seolah-olah nama bukanlah hal penting. Namun mari kita coba melihat lengkapnya kalimat tersebut.

Apalah arti sebuah nama? Meskipun kita menyebut mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap harum.

Jadi jelas, wangi mawar akan tetap seperti itu meski kita menyebutnya kotoran kuda sekalipun. Nama bisa saja bukan hal yang penting bila kita bandingkan dengan tindakan kita. Orang bisa jadi tidak mengenal nama A, B atau C. Namun kalau tindakan kita baik maka akan ada cap “orang baik” ke kita. Begitu juga sebaliknya.

Tentu saja, nama sebaik apa pun tidak akan membuat sang empunya nama menjadi baik pula. Setidaknya, tidak secara langsung. Dalam konteks ini, sebuah nama hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Tanda yang digunakan agar seseorang tahu sedang dipanggil oleh orang lain. Tanda untuk absensi saat di sekolah. Tanda dalam kartu pengenal. Tanda yang perlu dicantumkan pada surat undangan pernikahan. Dan masih banyak lagi. Bayangkan betapa sulitnya menunjuk seseorang bila tanpa menggunakan nama. Untuk mengatakan Joko, barangkali orang harus mengatakannya dengan lelaki-berwajah-oval-dan-berhidung-mancung-yang-tinggal-di-belakang-pos-kamling-RW-7. Fiuuuhh..

Tidak ada informasi dengan jelas sejak kapan peradaban manusia pertama kali menggunakan nama. Meskipun setiap kultur di muka bumi ini menggunakan nama, ternyata penggunaannya dapat bervariasi dari masyarakat yang satu ke masyarakat yang lain. Ada yang menggunakan nama dengan sangat sederhana seperti di Indonesia, yang hanya menggunakan satu kata seperti Parto, Paryono, Hamid, dan Soeharto. Namun ada pula yang penggunaan namanya sangat kompleks seperti pada tradisi masyarakat Cina.

Beberapa model nama mengandung informasi tentang silsilah seseorang, semisal nama keluarga atau marga. Biasanya model nama seperti ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nama bisa juga mengandung informasi urutan lahir seseorang seperti yang digunakan oleh masyarakat Bali dan juga beberapa kultur di Afrika. Atau given name seperti pada tradisi barat yang merupakan semacam nama pemberian yang diberikan pada suatu waktu setelah seorang anak lahir.

Nama adalah sebuah Doa, Panggilan, sekaligus harapan agar seseorang dapat memenuhi panggilan kita, agar yang dipanggil merasa diangkat derajatnya, bukan sebaliknya. Seyogiyanya umat manusia memberi nama dengan makna yang baik, sekaligus Doa yang baik terhadap anak dan kerabatnya.


Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW:

“Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab: “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tempat yang baik”.

“Baguskan namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti,” kata Rasulullah. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hiban).

Nama di dalam Islam tidak hanya berfungsi untuk membedakan satu anak dengan anak yang lainnya. Betul sekali apa yang anda sampaikan, bahwa pada sebuah nama, ada cita-cita, doa dan harapan orang tua yang ingin disematkan pada si anak.

Nama adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa bahkan aqidah. Secara psikologis nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang. Secara tidak sadar seseorang akan didorong untuk memenuhi citra yang terkandung dalam namanya.

Teori Labelling (penamaan) menjelaskan kemungkinan seseorang menjadi jahat karena masyarakat menamainya sebagai penjahat. Memang boleh jadi orang akan berperilaku yang bertentangan dengan namanya.

Seseorang yang bernama Abdullah misalnya, seharusnya rajin beribadah, tapi bisa jadi sering meninggalkan sholat. Mestinya nama itu akan meresahkan batinnya. Ia boleh jadi akan mengubah namanya atau perilakunya.

Keinginan orang tua untuk memberikan nama yang baik pada anaknya tentu harus disertai dengan memahami makna nama tersebut. Nama yang berbau Arab belum tentu tepat kalau tidak mengerti maksudnya, malahan bisa salah dan tidak punya makna.

Ada beberapa hal yang tidak diperbolehkan dalam memberikan nama pada anak. Syekh Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, mengemukakan beberapa acuan dalam menamai anak.

Pertama: Nama-nama yang khusus untuk Allah SWT karena sifatnya yang mutlak, seperti Ar Rahiim, Al Khaliq dan sebagainya. Tidak diperkenankan bagi orang tua untuk menamai anak-anaknya dengan nama-nama khusus Allah, kecuali dengan menunjukkan secara jelas kedudukannya sebagai hamba Allah.

Jika nama-nama khusus untuk Allah tidak diperbolehkan, nama yang menunjukkan kedudukan sebagai hamba justru disukai. Misalnya Abdullah atau Abdurrahman.

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling disukai oleh Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha agung adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim).

Kedua: Tidak boleh menggunakan nama yang menunjukkan ketundukan kepada selain Allah, seperti misalnya Abdul Uzza, Abdun Nabi dan sebagainya.

Ketiga: Menjauhi nama-nama yang maknanya terlalu optimistik. Termasuk nama yang optimistik adalah Najieh, Nafi, maupun Aflah.

“Janganlah kamu memberi nama kepada anak laki-lakimu dengan nama Yassar, Rabaah, Najaah, dan juga Aflah… (HR. Muslim).

Keempat: Jangan pernah memberi nama dengan nama yang mempunyai makna mudah lekang, lekas sirna, serta nama-nama yang dapat mnelemahkan jiwa anak. Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki kepribadian khas yang kuat, berbeda dengan umat yang lain.

Berbicara tentang nama, memang tidak ada habisnya. Seperti pepatah mengatakan, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan Nama.” Namun pertanyaan penting pula, bagaimana kita meninggalkan nama yang harum bagi generasi di belakang kita?

Jagalah nama anda dengan jejak rekam yang baik selama anda hidup di dunia, tuliskanlah gagasan dan kebijaksaan anda untuk dibagikan pada generasi selanjutnya, dengan demikian nama anda akan dikenang dalam keabadian.

Arti Nama dalam Dunia Bisnis
Di dunia bisnis nama sangat amat diperlukan dan hal yang sangat vital. Istilah nama ini kalau di dunia bisnis sering disebut branding, brand atau merk. Dengan kita memiliki Merk, label branding yang bagus apapun yang kita kerjakan, omongkan dan segala tindak tanduk anda bakalan dipercaya orang, perusahaan ataupun organisasi. Nah kita bakalan diskusi soal bagaimana “membangun sebuah kepercayaan publik” terhadap brand atau merk kamu.

Branding diibaratkan jika kamu bicara A maka orang lain pun ikut bicara A. Aura seseorang atau perusahaan yang sudah memiliki label, branding atau merk yang kuat, meskipun banyak pesaing baru yang muncul dan mencoba menggoyahkannya tapi dominasi ia tak juga goyah. Namun Merk yang kamu miliki bisa saja hancur dan luntur dimakan waktu jika saat awalnya bagus tapi lama kelamaan makin ga profesional dalam pelayanan dan terjadi penurunan kualitas barang atau jasa yang kamu jual.

Nah bagaimana sebenarnya membangun brand atau merk yang kuat itu ?
  1. Pertama adalah Memiliki suatu keunggulan dan bukti-bukti keunggulan anda harus ada. Setelah kamu memiliki keunggulan daripada yang lainnya.
  2. Kedua yang harus kamu bangun adalah komunitas, pertemanan atau jaringan pergaulan yang luas. Dengan jaringan teman yang luas, apapun yang jadi kesulitan kamu bakalan ada solusinya. Selain itu dengan jaringan teman yang luas, kamu juga bisa secara tidak langsung bisa prospek mereka jika ada produk baru.
  3. Ketiga untuk memperkuat branding adalah kamu memiliki pasar yang siap untuk membeli atau menerima produk yang kamu tawarkan. Dengan pasar yang sudah siap, tinggal kamu keluarkan produk yang kamu miliki, maka pasar bakalan siap membeli apa yang kamu jual tersebut.
  4. Keempat untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus peka terhadap produk yang ditawarkan orang lain atau perusahaan lain yang memiliki usaha sejenis dengan kamu. Jadi kalau perusahaan A bikin produk baru dan mutakhir, maka kamu harus bisa paling tidak menyamai atau lebih baik lagi jika bisa lebih dari produk mereka.
  5. Kelima untuk memperkuat branding maka kamu harus giat cari informasi dan sebuah inovasi baru, jika tidak maka siap-siap kamu harus tergeser oleh perusahaan baru yang lebih memiliki inovasi baru dalam bisnis yang kamu geluti sekarang.
  6. Keenam untuk memperkuat branding kamu, maka kamu harus terus meningkatkan layanan kepada konsumen.
  7. Ketujuh dan terakhir untuk memperkuat branding kamu maka kamu coba minta pendapat serta saran dan kritik pada konsumen yang telah memakai produk kamu. Jika memang puas, maka minta bantuan mereka untuk merekomendasikan produk anda ke orang lain. Jadikan konsumen kamu adalah teman anda. Hargai mereka dengan sebaik-baiknya. Maka yang akan terjadi pada konsumen anda adalah ” Saya Puas……Saya Puas…..Saya Puas” .

Nama besar, branding, merk atau label sangat amat diperhitungkan oleh konsumen sebelum mengkonsumsi suatu produk dari seorang produsen. Meskipun membuat branding yang kuat itu susah dan sulit, tapi jika kamu usaha dengan sangat keras, bukan tidak mungkin dalam waktu sekejap bisa menguasai pasar. Tinggal bagaimana daya kreatifitas kamu sebagai seorang yang membawa nama kamu sendiri.


Nama dalam tataran Ilahi 

Kurios (bahasa Yunani) memiliki arti sama dengan Tuhan (Perjanjian Baru). Kata ini sama dengan Yahwe (bahasa Ibrani, Perjanjian Lama). Theos (bahasa Yunani) berarti Allah sama dengan El, Elohim dan Eloah dalam Perjanjian Lama.

Eloah/Elohim diterjemahkan Allah/Allah dalam bentuk jamak. Adonay diterjemahkan Tuan/Tuhan. YHWH diterjemahkan TUHAN.

Kalimat “Allahu Akbar” pun ada dalam kata-kata Sanskerta, “Alla dan Akka”, dua kata panggilan untuk Tuhan.

Kita mengenal adat orang Jahudi yang jumawa, sehingga tanpa dijelaskan pun banyak manusia tidak bersimpati terhadap perilaku orang Jahudi. Namun walaupun begitu, ternyata untuk meyebut nama Tuhan (YHWH) mereka sebut “adonai”. Hal ini semata-mata untuk menghindari menyebut Nama Tuhan dengan serampangan, dan tidak tepat. Karena Asma pasti terkait dengan Dzat, Af'al, dan Sifat dari yang punya Asma. Dengan menyebut Asmanya, maka yang kita maksud adalah memanggil Dzatnya beserta dengan segala sifatNya.

Beriman kepada Allah artinya juga beriman kepada seluruh aspek yang menyertaiNya, Asma, Sifat, Af'al, Dzat, dan juga FirmanNya.

Iman kepada Allah Subhanhu wa ta’alaa adalah satu kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun demikian, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan iman kepada Allah Subhanahu wa ta’alaa tersebut? Beriman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah membenarkan dengan yakin akan adanya Allah subhanhu wa ta’alaa, membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluk-Nya, kemudian juga membenarkan dengan yakin, bahwa Allah swt memiliki sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). Sebuah pembenaran yang terealisir dalam hati, lisan, dan amal perbuatan.

Beriman kepada Allah subhanahu wa ta’alaa berarti meninggalkan segala bentuk penghambaan, bersandar, dan menyembah kepada selain Allah subhanahu wa ta’alaa. Segala bentuk aktivitas kehidupan, baik yang bersifat lahir maupun bathin, jasmaniah maupun ruhaniah, semuanya hanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah subhanhu wa ta’alaa, untuk mendapatkan ridho dan rahmat Allah subhanhu wa ta’alaa.

Adapun dalil-dalil yangberkenaan dengan iman kepada Allah subhanhu wa ta’alaa adalah sebagai berikut:
Firman Allah subhanahu wa ta’alaa:

“Wahai orang yang beriman; berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam ), kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa kafir (tidak beriman) kepada Allah, malaikat-Nya. kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan Hari Akhirat, maka sesungguhnya orang itu sangat jauh tersesat.” (QS. An Nisaa’ (4): 136

“Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah (2): 163.)

“Allah itu tunggal, tidak ada Tuhan selain Dia, yang hidup tidak berkehendak kepada selain-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya lah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Bukankah tidak ada orang yang memberikan syafaat di hadapan-Nya jika tidak dengan seizin-Nya? Ia mengetahui apa yang di hadapan manusia dan apa yang di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sedikit jua pun tentang ilmu-Nya, kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuannya meliputi langit dan bumi. Memelihara kedua makhluk itu tidak berat bagi-Nya. Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah (2): 255.)

“Dialah Allah, Tuhan Yang Tunggal, yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui perkara yang tersembunyi (gaib) dan yang terang Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dialah Allah, tidak tidak ada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, yang sejahtera yang memelihara, yang Maha Kuasa. Yang Maha Mulia, Yang Jabbar,lagi yang Maha besar, maha Suci Allah dari segala sesuatu yang mereka perserikatkan dengannya. Dialah Allah yang menjadikan, yang menciptakan, yang memberi rupa, yang mempunyai nama-nama yang indah dan baik. Semua isi langit mengaku kesucian-Nya. Dialah Allah Yang Maha keras tuntutan-Nya, lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hasyr (59): 22-24 )

“Katakanlah olehmu (hai Muhammad): Allah itu Maha Esa. Dialah tempat bergantung segala makhluk dan tempat memohon segala hajat. Dialah Allah, yang tiada beranak dan tidak diperanakkan dan tidak seorang pun atau sesuatu yang sebanding dengan Dia.” (QS. Al Ikhlash (112): 1-4)

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha (20): 14)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka bartakwalah kepada-Ku.” (QS. Al Mukminun (23): 52)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua agama yang satu dan Aku Tuhan kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

“Sekiranya ada di langit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya telah rusak, binasa. Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arasy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al Anbiya’ (21): 22)

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” (QS. Al Baqarah (59): 177)
Sabda RasululIah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

Di antara sejumlah hadits-hadits tersebut, terdapat sebuah hadits masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Akhir, serta beriman kepada qadar yang baik maupun buruk.”

“Katakanlah olehmu (wahai Sufyan, jika kamu benar-benar hendak memeluk Islam): ‘Saya telah beriman akan Allah’, kemudian berlaku luruslah kamu.” (HR. Taisirul Wushul, 1: 18).

“Manusia yang paling bahagia memperoleh syafaat-Ku di hari kiamat, ialah: orang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12).

“Barangsiapa mati tidak memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk surga. Dan barangsiapa mati tengah memperserikatkan Allah dengan sesuatu, pasti masuk neraka.” (HR. Muslim, Taisirul Wushul, 1: 12)