ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 29 Desember 2010

Evolusi Kesadaran Spiritual

Apabila kita amati, maka sebenarnya umat manusia mengalami evolusi kesadaran spiritual dalam rangka menuju pencerahan puncak, yaitu bersatu kembali dengan kesejatian. Untuk mudahnya, kita dapat membagi tahap evolusi kesadaran itu menjadi empat tahap, yaitu:

Tahap Pertama: Paradigma Dualistic.
  • Dalam tahap ini, kita memahami bahwa Tuhan adalah Yang Mahakuasa, pencipta alam semesta (kosmologi dan teologi).
  • Kita melihat segala sesuatu serba dua. Ada surga ada neraka, ada Tuhan ada iblis, Tuhan mahabaik tapi Tuhan menghukum, ada baik ada buruk, ada positif ada negatif, Tuhan memberi berkat tapi Tuhan menurunkan bencana dan musibah. Tahu Tuhan Mahacinta tapi mengatakan bahwa suatu bencana itu merupakan kehendak Tuhan.
  • Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.
  • Bila berbuat baik mengharapkan pahala, dan bila berbuat jahat akan disiksa.
  • Ego sangat kuat, ingin menang sendiri, masuk surga pun ingin duluan.

Tahap Kedua: Paradigma Semi-dualistic.
  • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, Tuhan Mahabaik, dan yang tidak baik bukan dari Tuhan.
  • Di sini kita tidak lagi berpikir bahwa Tuhan mengadakan bencana. Banjir dan air bah kita mengerti sebagai akibat mekanisme alam, demikian pula gunung meletus dianggap merupakan fenomena alam semata.
  • Bila berbuat baik, kita mendapat pahala, tetapi perbuatan jahat akan diampuni Tuhan karena Tuhan Mahapengampun.
  • Termasuk juga pandangan untuk memilih jalan positif atau jalan negatif untuk mencapai persatuan dengan Tuhan.
  • Ego masih kuat.

Tahap Ketiga: Paradigma Non-Dualistic
  • Dalam tahap ini kita masih memahami bahwa Tuhan adalah Sang Pencipta semesta, namun semuanya berada dalam satu kesatuan. Tuhan dan mahluknya adalah satu kesatuan.
  • Termasuk di sini adalah pandangan keesaan Tuhan dimana Tuhan mencakup segala-galanya. Jadi Tuhan menjiwai dan meresapi dunia. Tuhan hadir di setiap mahluk. Tuhan hadir di dalam alam yang fana ini. Tuhan berada di balik proses-proses lahir mati dan siklus daur-ulang. Di sini kita mulai bermeditasi merasakan harmoni dengan alam.
  • Manusia mulai bersifat belas-kasih, aku dan orang lain (mahluk lain) adalah sama. Tidak mau membunuh mahluk lain (ahimsa).
  • Ego masih ada tapi sudah tidak terlalu kuat.

Tahap keempat: Paradigma "Pure Non-Dualistic"
  • Tuhan adalah realitas sejati, dunia adalah realitas maya (mayapada)
  • Realitas sejati itu kekal, dunia maya itu fana (berubah-ubah).
  • Dunia fana ini adalah ciptaan manusia sendiri (maya, ilusi)
  • Tuhan "nothing to do" dengan dunia. Dunia ini sepenuhnya urusan manusia.
  • Adalah Ego yang menimbulkan keterpisahan manusia dari Tuhan dan Surga.
  • Tuhan Mahakasih dan Pengampun.
  • Segala perbuatan baik oleh manusia di dunia adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri.
  • Segala perbuatan buruk oleh manusia di dunia adalah menyakiti diri sendiri.
  • Seluruh alam semesta ini adalah kesatuan kemanusiaan (si Anak Manusia).
  • Untuk masuk Surga, Tuhan tidak memperhitungkan amal baik atau kejahatan manusia. (Maka itu orang bisa hidup di jalan positif atau negatif).
  • Juga kebijaksanaan dunia tidak berlaku sebagai tiket untuk masuk Surga.
  • Tiket masuk Surga adalah pertobatan (tidak mengharap pahala dan siksa) dan penghapusan Ego.
  • Untuk menghapus Ego, manusia harus mulai belajar melepaskan segala keterikatannya, terutama dengan praktek forgiveness (mengampuni, memaafkan, let it go).
  • Yang dimaksud suci di hadapan Tuhan bukanlah kita tidak punya dosa atau banyak berbuat baik. Suci berarti tidak ada ego lagi, sehingga kita tidak punya kepentingan atau keterlekatan apapun dengan dunia.
  • Selama kita masih mempertahankan Ego, maka selama itu pula kita masih memisahkan diri dari Tuhan dan Surga.
  • Dunia (alam semesta) ini sebenarnya merupakan tempat pelarian kita dari Hadirat Tuhan.
  • Masuk Surga berarti sudah rela meninggalkan dunia.
  • Orang yang masih hidup di dunia bisa saja sudah masuk Surga, seperti orang yang melangkah di ambang pintu. Satu kaki masih di dunia, dan kaki lainnya sudah menapak ke Surga.

Sekian dulu dan terima kasih.

Salam,

P.M. Winarno

NB
Perhatikan pembicaraan kita dengan orang lain. Apabila kita masih menggunakan kata "aku", "saya" maka itu berarti masih ada si ego.
Cobalah berlatih menghilangkan ego ketika berinteraksi dengan orang lain. Gunakan kata "kita".
Segera maafkan bila kita dibuat marah, benci, kecewa, dsb tanpa diminta. Demikian pula bila kita berbuat salah, segeralah minta maaf.


sumber: milis HDnet
iloveblue.com