ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 17 Januari 2011

N-Generation | Kekuatan Imajinasi

Dunia ini adalah Alam Mimpi atau Alam Imajinasi Yang dibentuk Di dalam Fikiiran Tuhan Atau MainFrame Tuhan Atau Lauhil Mahfudz. Dan kitapun diberi kekuatan oleh Allah untuk membentuk dunia kita sendiri dengan kekuatan alam imajinasi kita. (Mas Eddy s.)

Apa perbedaan antara orang-orang cerdas, dengan orang-orang genius yang pikirannya mampu merubah dunia? Orang-orang seperti Einstein, Napoleon, Mozart, atau Sukarno.

Orang-orang genius mempunyai impian-impian besar, sebesar seluruh dunia. Mereka belajar dari orang-orang hebat, yang terhebat dalam sejarah, dan menyerap seluruh pengetahuan-pengetahuan besar mereka. Pengetahuan yang besar itu membuat mereka senang bermimpi. Senang bermimpi besar. Berani bermimpi besar. Hal-hal yang tidak terbayangkan oleh manusia-manusia lainnya.

Dan impian-impian besar mereka yang ajaib datang dari sebuah kekuatan besar, sesuatu yang hanya dimiliki manusia-manusia terunggul di dunia (or mad men..). Sesuatu yang dinamakan, Imajinasi..

Kekuatan imajinasi sering dilecehkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya intelek dan mengaku dewasa. Kekuatan ini acapkali dicap kekanak-kanakan, dan uniknya menurut penelitian, kekuatan ini emang lebih dominan dimiliki oleh anak-anak dibandingkan dewasa. Orang dewasa lebih percaya dengan kekuatan rasio dan matematis. Sehingga kemampuan imajinatif dan kreatif mereka biasanya terkubur di balik alam rasio yang mereka agung-agungkan. Nah, mengutip apa yang pernah diungkapkan oleh Einstein, bahwa “Energi mengikuti Imajinasi”. Einstein serius betul dengan ucapannya. Dia sendiri mengaku telah membuktikannya saat dia ditanya bagaimana dia mampu menghasilkan begitu banyak teori spektakuler, dia menjawab imajinasinyalah yang menjadi salah satu bahan bakar dari idenya itu. Persis seperti sebuah pepatah latin ‘Fortis imaginatio generat casum’ artinya imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan.

EINSTEIN
“Imagination is more important than knowledge.
For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution”. (1879-1955)

Terjemahan : Imajinasi lebih penting dari Pengetahuan. Karena pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merangkul seluruh dunia, mendorong perubahan, dan melahirkan kemajuan manusia. (Sekarang anda sudah tahu kenapa Einstein jadi genius).

“The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination.”
"Logic will get you from A to B. Imagination, will take you everywhere".

NAPOLEON
Salahsatu jenderal terbesar sepanjang sejarah, penguasa Perancis di umur 30 tahun.

"Imagination rules the world"

SUKARNO
Ceramah di Semarang, 29 Juli 1956. Salahsatu pidato terbaik Sukarno tentang bagaimana menciptakan bangsa besar.
"(Bangsa) Jang tidak mempunjai "imagination", tidak mempunjai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunjai keberanian - Padahal jang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa jang mempunjai "imagination", mempunjai fantasi fantasi besar: mempunjai keberanian ; mempunjai kesediaan menghadapi risiko ; mempunjai dinamika.

George Washington Monument misalnja, tugu nasional Washington di Washington, Saudara-saudara : Masja Allah !!! Itu bukan bikinan tahun ini ; dibikin sudah abad jang lalu, Saudara-saudara. Tingginja! Besarnja! Saja kagum arsiteknja jang mempunjai "imagination" itu, Saudara-saudara. Bangsa jang tidak mempunjai "imagination" tidak bisa membikin Washington Monument.

"Pennj-wise " tidak ada, Saudara-saudara. Mereka mengerti bahwa kita - atau mereka - djikalau ingin mendjadi satu bangsa jang besar, ingin mendjadi bangsa jang mempunjai kehendak untuk bekerdja, perlu pula mempunjai "imagination",: "imagination" hebat, Saudara-saudara!".

ROBERT FULGHUM

Penulis Bestseller/Filsuf.

"I believe that imagination is stronger than knowledge -- myth is more potent than history -- dreams are more powerful than facts -- hope always triumphs over experience -- laughter is the cure for grief -- love is stronger than death".

WOLFGANG AMADEUS MOZART
Salahsatu komponis klasik terbesar sepanjang masa. Albert Einstein menganggap Mozart adalah yang terhebat, lebih hebat dari Beethoven.

"Neither a lofty degree of intelligence nor imagination nor both together go to the making of genius. Love, love, love, that is the soul of genius."


Imajinasi yang Anda kembangkan merupakan pemicu yang mendorong Anda untuk bergerak melakukan sesuatu. Anda akan punya kekuatan untuk mencapai imajinasi. Walau Anda tidak langsung dapat meraihnya, tetapi melalui usaha yang bertahap suatu saat imajinasi, mimpi, dan fantasi Anda akan menjadi kenyataan.

Imajinasi itu adalah pikiran, yang melahirkan energi, yang menggerakkan tangan, jari, kaki, mata, dan anggota tubuh Anda lainnya.

Bukankah sebagian yang telah kita peroleh saat ini pernah kita pikirkan sebelumnya?

Tandanya energi itu mulai bekerja ialah ketika Anda akan menyusun langkah dan rencana untuk mencapai fantasi Anda, kemudian bergeraklah seluruh tubuh ini mengerjakan rencana-rencana itu.

Jika Anda bisa menggabungkan imajinasi, harapan, rencana, peluang, dan kerja keras, imajinasi Anda akan berubah menjadi sukses yang paling indah dalam hidup Anda.

Imajinasi itu gratis, biaya mungkin timbul saat Anda mewujudkannya. Kalau tidak ada biaya, ya imajinasikanlah dulu untuk mendapatkan biaya itu, agar timbul energi untuk mendapatkannya juga, terus susul dengan imajinasi baru lainnya. Tulislah Rencana Kerja yang ada dalam imajinasimu, sehingga tiada satupun yang terlupakan, sehingga akumulasinya memberi Anda tambahan energi.

Ada cerita tentang seorang pilot amerika yang tertembak jatuh dan dipenjara di Vietnam Utara pada saat perang Vietnam di tahun 1950-an. Pilot ini memiliki kegemaran untuk bermain golf, sehingga selama berada di penjara, pilot ini selalu ber-visualisasi bahwa dirinya bermain golf di sebuah turnamen dan menang… Dia habiskan waktu untuk “bermain” di 18 holes, berulang kali, ya… sekalian menghabiskan waktu di penjara yang membosankan.

Mayor James Nesmeth dijebloskan ke penjara yang pengap dan sempit. Dia nggak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siapa pun. Situasi pengap, kosong, dan beku itu sungguh menjadi siksaan fisik dan mental yang meletihkan baginya. Untungnya, Nesmeth sadar dirinya harus menjaga pikirannya agar gak sinting. Dia mulai berlatih mental. Setiap hari, dengan imajinasinya, dia membayangkan dirinya berada di padang golf yang indah dan memainkan golf 18 hole. Dia berimajinasi secara detail. Dia melakukannya rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun. Lantas, tujuh tahun kemudian, dia pun dibebaskan dari penjara. Namun, ada yang menarik saat dia mulai bermain golf kembali untuk pertama kalinya. Ternyata, Mayor James Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang pun bertanya kepada siapa dia berlatih. Tentu saja, tidak dengan siapa pun. Yang jelas, dia hanya bermain dengan imajinasinya. Tetapi, ternyata itu berdampak pada hasil kemampuannya. Nah, inilah kekuatan imajinasi itu. Imajinasi membentuk mimpi, mimpi membentuk cita-cita, dan cita-cita membentuk realita. Jadi awalilah dengan berimajinasi dan bermimpi!

Ada cerita lain tentang kekuatan imajinasi dan mimpi. Cerita ini berasal dari zaman Rasulullah dalam Peristiwa Perang Khandaq (Benteng Parit). Dalam peristiwa bersejarah ini banyak terdapat kejadian luar biasa sebagai salah satu tanda kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:
لَمَّا أَمَرَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحَفْرِ الْخَنْدَقِ عَرَضَتْ لَهُمْ صَخْرَةٌ حَالَتْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْحَفْرِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَخَذَ الْمِعْوَلَ وَوَضَعَ رِدَاءَهُ نَاحِيَةَ الْخَنْدَقِ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. فَنَدَرَ ثُلُثُ الْحَجَرِ وَسَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ قَائِمٌ يَنْظُرُ فَبَرَقَ مَعَ ضَرْبَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرْقَةٌ ثُمَّ ضَرَبَ الثَّانِيَةَ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. فَنَدَرَ الثُّلُثُ اْلآخَرُ فَبَرَقَتْ بَرْقَةٌ فَرَآهَا سَلْمَانُ ثُمَّ ضَرَبَ الثَّالِثَةَ وَقَالَ: تَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. فَنَدَرَ الثُّلُثُ الْبَاقِي وَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ وَجَلَسَ، قَالَ سَلْمَانُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ رَأَيْتُكَ حِيْنَ ضَرَبْتَ مَا تَضْرِبُ َرْبَةً إِلاَّ كَانَتْ مَعَهَا بَرْقَةٌ. قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا سَلْمَانُ، رَأَيْتَ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: إِي، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: فَإِنِّي حِيْنَ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ اْلأُولَى رُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ كِسْرَى وَمَا حَوْلَهَا وَمَدَائِنُ كَثِيْرَةٌ حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالَ لَهُ مَنْ حَضَرَهُ مِنْ أَصْحَابِهِ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَفْتَحَهَا عَلَيْنَا وَيُغَنِّمَنَا دِيَارَهُمْ وَيُخَرِّبَ بِأَيْدِيْنَا بِلاَدَهُمْ. فَدَعَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ. ثُمَّ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ الثَّانِيَةَ فَرُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ قَيْصَرَ وَمَا حَوْلَهَا حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ ادْعُ اللهَ أَنْ يَفْتَحَهَا عَلَيْنَ وَيُغَنِّمَنَا دِيَارَهُمْ وَيُخَرِّبَ بِأَيْدِيْنَا بِلاَدَهُمْ. فَدَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذَلِكَ. ثُمَّ ضَرَبْتُ الثَّالِثَةَ فَرُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ الْحَبَشَةِ وَمَا حَوْلَهَا مِنَ الْقُرَى حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَيَّ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: دَعُوا الْحَبَشَةَ مَا وَدَعُوْكُمْ، وَاتْرُكُوا التُّرْكَ مَا تَرَكُوْكُمْ
“Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk.
Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat Yang mengutus anda membawa kebenaran. Betul, wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumahrumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.” Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”
Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.

Tentunya Rasul bisa melihat ini melalui perantaraan wahyu dari Allah. Namun menariknya adalah beliau saat itu sebenarnya sedang menanamkan mimpi dan imajinasi kepada para sahabatnya. Ini unik! beliau menanamkan imajinasi di benak mereka bahwa pada waktu yang tidak lama lagi mereka akan menaklukkan 3 negara yang paling berkuasa saat itu, yaitu Persia, Romawi, Mesir. Padahal, saat itu mereka –Rasul dan para Sahabat- sedang dalam keadaan paling kritis, yaitu ancaman mematikan, serangan telak dari musuh bebuyutan kafir Quraisy dibantu para sekutunya dari kabilah-kabilah Arab. Hitung-hitungan rasio dan matematis, mustahil mereka bisa selamat. Bahkan kebanyakan berpikir inilah saatnya kaum muslimin menemui ajalnya… hancur lebur. Rasulullah sendiri hanya bisa memilih bertahan di Madinah. Namun, kita simak bagaimana beliau memberikan imajinasi kepada para pengikutnya… gak alang tanggung, imajinasi yang ditanamkan bukan hanya kemenangan pada perang itu… namun kemenangan bahwa mereka setelah ini akan menjelma menjadi umat terhebat, negara mereka menjadi negara paling adidaya, superpower mengalahkan Persia dan Romawi. Imajinasi membentuk mimpi dan mimpi menjelma menjadi nyata…. hingga akhirnya terbukti, kata-kata yang disampaikan Rasul di saat-saat kritis itu benar-benar nyata. Satu per satu daerah tadi kemudian akhirnya ditaklukkan oleh kaum muslimin.

Imajinasi adalah energi. Energi yang kalau diolah terus-menerus akan wujud dalam apa yang kita imajinasikan itu. Dengan kekuatan imajinasi, masa depan akan menjadi milik kita sesuai yang kita cita-citakan. Dengan imajinasi, kita bisa menjadi tuan atas takdir kita. Stephen Covey dalam 7 Habits mengatakan kita membuat kreasi mental lebih dulu sebelum kreasi fisiknya. Semakin kuat gambaran mental yang kita miliki, semakin besar energi yang kita miliki untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika kita terlalu banyak membayangkan yang buruk dan negatif, kita menarik energi negatif dan kita semakin ter-demotivasi untuk meraihnya.

Pesanku, hati-hatilah dengan kekuatan fikiranmu.
Kendalikan fokus perhatian anda hanya pada tujuan yang menunjang kesuksesan anda Dunia Akhirat. Kurangi tertarik pada hal-hal yang kurang berguna. Atau tenggelam di alam imajinasi yang bisa menghancurkan kehidupanmu.


Kemana fikiran anda bergerak kesitu energy kesadaran anda menuju. Ketika energy kesadaran anda terus menerus mengalir kepada sesuatu, Maka sesuatu itu akan tercipta dan Maujud dalam kehidupan anda. Apa yang kamu alami adalah hasil perbuatanmu sendiri. Give & Take for The Best. (Mas Eddy S.)