ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 15 Januari 2011

N-Generation (Neo-Generation The Next Level of Human Evolution)

The Matrix: Trilogy 
salah satu trilogi film terbaik sepanjang sejarah umat manusia

Thomas A. Anderson adalah seorang pria yang hidup dalam dua kehidupan. Pada siang hari ia adalah seorang programmer komputer dan di malam hari sebagai hacker underground yang dikenal sebagai Neo. Neo selalu mempertanyakan realitas kehidupan manusia, tapi sebenarnya kehidupan adalah jauh melebihi imajinasinya (The Truth is Far Beyond The Imagination). Neo menemukan dirinya menjadi target oleh polisi ketika ia dihubungi oleh Morpheus, hacker komputer legendaris yang dicap sebagai teroris oleh pemerintah. Neo terbangun ke dunia nyata, gurun pasir yang rusak di mana sebagian besar umat manusia telah ditangkap oleh ras mesin yang hidup dari panas tubuh mereka dan memenjarakan pikiran mereka dalam suatu realitas buatan yang dikenal sebagai Matrix. Sebagai seorang pemberontak melawan mesin, Neo harus kembali ke Matrix dan menghadapi agen, program komputer super canggih yang ditujukan untuk membekukan pemberontakan seluruh manusia.


Dunia Matrix

Apa makna waktu, jika ia tak lagi membagi peristiwa menjadi kenangan, kenyataan, dan harapan?

Hukum alam adalah hukum tentang keteraturan. Buah apel yang jatuh dari pohon dan lintasan gerak peluru adalah serepih keteraturan yang telah mampu diurai. Akurasinya akan terus meningkat dengan terus mencermati lebih detail faktor-faktor lain yang sedikit banyak mempengaruhi. Viskositas dan perubahan tekanan udara, kepresisian pengukuran konstanta gravitasi, kecepatan awal, sudut elevasi, dan sebagainya.

Kemudian bagaimana peristiwa jatuhnya buah apel dari tangkainya adalah akibat dari akumulasi hukum keteraturan. Tentang peningkatan berat dan kematangan melalui proses faal tumbuhan, kecepatan angin yang menggerakkan buah tersebut lalu menghasilkan gaya inersia yang ditambahkan pada beratnya, proses penuaan dan titik lelah tangkai pengikat yang terlampaui oleh beban, dan beberapa faktor lainnya.

Secuil ilmu akan menggugah kesadaran atas kuasa manusia menyingkap rahasia setiap peristiwa. Diawali dari pertanyaan demi pertanyaan, semua menuju pada satu kesimpulan: hukum alam -- atau hukum Tuhan -- adalah kumpulan rumus-rumus yang membuat segala sesuatu berjalan sedemikian runut, tanpa terkecuali, tanpa anomali. Saksikan keindahan container yang hancur terlipat karena benturan teramat keras. Meski nampak berantakan, dalam adegan lambat akan terlihat bahwa semua adalah proses mekanika, dimana energi impak mendeformasi plastis bagian-bagian container secara serempak. Perhatikan pula bagaimana keputusan seseorang untuk pergi ke kamar kecil, adalah ujung dari mata rantai peristiwa reaksi atas rangsangan terhadap makanan dan minuman yang menyebabkan kandung kemih dipenuhi cairan dan memberikan sinyal ke otak melalui syaraf. Dimana letak pembenar bahwa keputusan untuk buang air adalah pilihan?

Segala sesuatu adalah runtutan sebab akibat. Meski tidak selalu segaris dan paralel, meski kadang saling bertumpukan dan saling berkaitan dalam kompleksitas. Tak ada lagi kebetulan, tak ada lagi kehendak bebas. Tak ada lagi penyesalan, tak ada lagi harapan. Tak ada pilihan, tak ada keteracakan. Semua rahasia terpapar jelas. Semua hal telah selesai, tunak, mutlak, dan diam. Umat manusia adalah boneka-boneka dengan setetes anugerah maya yaitu akal budi dan kuasa yang memabukkan. Pencerahan membuat manusia semakin mengenal Tuhan; jikalau Ia adalah benar penyebab segala awal. Dan sedikit demi sedikit mulai menguak tabir pekerjaanNya.

Memahami Dunia Matrix dalam Pikiran Tuhan

Selama ribuan tahun hidup di muka bumi ini spesies manusia tak berhenti berusaha mencari dan mengetahui keberadaan Tuhan, Awal segala sesuatu dan Akhir dari semua keberadaan makhluk. Hampir semua kebudayaan menghasilkan produk agama dan kepercayaan yang bertujuan mengekalkan keyakinan akan adanya Tuhan dan keberadaanNya.

Agamawan, spiritualis, pemikir, filsuf, hingga ilmuwan dan saintis menghabiskan waktunya untuk meyakinkan atau bahkan untuk menafikan keberadaan Tuhan. Segala upaya tersebut menghasilkan berbagai penemuan, filsafat, agama, kebudayaan, seni, faham, hipotesa, teori, ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun hingga saat ini semua masih berada dalam kebingungan, di manakah Tuhan?

Untuk memberikan kemudahan bagi manusia, Allah Swt mendatangkan utusanNya dari kalangan manusia sendiri yang disebut para Rasul dan Nabi. Beberapa periode dalam kedatangan para Rasul Allah tersebut ternyata masih banyak manusia yang belum tumbuh keyakinannya akan keberadaan Allah, sehingga para utusan tersebut beserta bukti-bukti yang dibawanya berupa kitab suci dan mukjizat tidak dipedulikan dan pengingkaran terhadap ajaran dan agama yang dibawanya terus berlangsung.

Pembuktian sains dan keimanan

Sejak ilmu pengetahuan direnggut dari masa keemasannya di tangan penguasa Muslim di masa daulah Umayah dan Abbasiyah di Eropa dan Asia Tengah, dan kemudian berada di dalam penguasaan ilmuwan-ilmuwan Eropa, ilmu pengetahuan terpisah dari induknya yakni keimanan Islam.

Penelitian-penelitian sains di masa Islam yang selalu diilhami keyakinan yang teguh akan kekuasaan Allah Swt berdasarkan wahyuNya dalam Alquran kemudian bertukar menjadi usaha-usaha ilmiah untuk mengingkari keberadaanNya. Meskipun demikian masih ada sebagian ilmuwan dan saintis yang masih terjaga keimanannya dan berupaya membuktikan kebesaranNya. Mereka inilah yang terus menggali akalnya untuk membuktikan kebenaran keberadaan Tuhan.

Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga

Dalam pembahasan di warta yang lalu berjudul “Menyingkap Misteri 7 Lapisan Langit dan Keajaiban Isra Miraj” kita sudah membicarakan mengenai 7 lapisan langit yang bertingkat-tingkat menurut penambahan tingkat dimensinya. Langit pertama atau langit dunia kita ini berdimensi 3, langit kedua berdimensi 4 dan seterusnya hingga langit ketujuh berdimensi 9.

Penambahan dimensi tersebut sebetulnya tidak tepat demikian, karena penambahan 1 dimensi untuk setiap kenaikan dimensi langit adalah asumsi untuk memudahkan pemahaman. Berapa jumlah kenaikan dimensi yang sebenarnya tidak diketahui dengan pasti, bisa 1, 2 atau lebih dari itu.

Setiap dimensi dihuni makhluk-makhluk tertentu dan semua makhluk tentu adalah ciptaan Allah. Jadi bagaimana dengan Allah sendiri? Di manakah keberadaanNya? Apakah Allah mempunyai dimensi sendiri?

Jawabannya adalah Allah Swt tidak berada di dimensi manapun. Karena dimensi adalah ciptaanNya, maka mustahil Allah bercampur dengan makhluk ciptaanNya. Namun untuk memudahkan pemahaman kita agar keberadaanNya bisa dijelaskan dengan akal manusia yang terbatas (persis seperti analogi peningkatan dimensi langit yang menggunakan ukuran dimensi ke-3, karena tingkat pemahaman kita hanya sampai di alam berdimensi 3), maka kita mengasumsikan bahwa Allah Yang Maha Besar Tak Berhingga itu berada di dimensi tak berhingga juga (tidak ada batas akhir atau ujungnya).

Kita juga mengetahui bahwa dimensi ke-1 berada di dalam dimensi ke-2, dimensi ke-2 dalam dimensi ke-3 dan seterusnya. Maka dengan berasumsi bahwa Allah berada di dimensi tak berhingga, maka semua dimensi sudah pasti berada di dalam dimensi Allah Swt.

Penjelasan tentang penciptaan

Berikut diuraikan bagaimana sebuah penciptaan terjadi. Kita ambil contoh seorang pembuat keramik atau tembikar. Sebelum seorang pembuat keramik membuat sebuah barang berupa tembikar, maka terlebih dulu dia harus membuat rancangan di dalam pikirannya. Ide awal berupa gambaran sebuah cangkir, misalnya, akan berwujud di dalam pikirannya secara lengkap dan utuh lengkap dengan detil dan warnanya.

Kemudian si pembuat keramik akan mengambil sebongkah tanah dan mencampurnya dengan air, dan mulai bekerja mewujudkan ide gambaran cangkir di dalam pikirannya. Dia bekerja dengan penuh konsentrasi sampai wujud cangkir di dalam pikirannya hadir di hadapannya dari sebongkah tanah liat bercampur air di tangannya tadi.

Sangat jelas di akhir proses ini cangkir dan si pembuat keramik sudah terpisah secara material. Artinya keberadaan cangkir dan si pembuat keramik berada di dalam ruang dan waktu yang sama.

Kalau analogi di atas dipakai dalam penciptaan alam semesta oleh Allah Swt, akan menimbulkan kemustahilan dan bertentangan dengan kebesaran Allah. Kemustahilan tersebut disebabkan ada syarat-syarat wajib keberadaan Allah yang harus berbeda dengan makhluk ciptaanNya. Syarat-syarat tersebut adalah pertama, wujud Allah tidak boleh sama dengan makhluk ciptaanNya dan kedua, keberadaan Allah tidak boleh bersamaan dengan makhluk ciptaanNya. Kalau syarat-syarat ini tidak terpenuhi berarti Allah sama dan bersekutu dengan makhlukNya dan itu menunjukkan kelemahanNya sebagai Tuhan.

Bagaimanakah penjelasan yang sesuai mengenai penciptaan alam semesta oleh Allah sebagai penciptanya?

Jawabannya adalah ide penciptaan berupa alam semesta itu mewujud tidak di luar wujud Allah tapi di dalam pikiranNya. Atau dari segi dimensi, maka dimensi makhluk yang terbatas berada di dalam dimensi pikiran Allah yang tidak terbatas. Namun perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan pikiran Allah di sini tidak sama dengan pikiran makhluk.

Semua makhluk ciptaan Allah mewujud dalam pikiranNya

Di dalam warta yang lain berjudul “Dunia Maya yang Menyesatkan” diungkapkan bahwa wujud alam semesta ini – termasuk kita di dalamnya – hanyalah merupakan susunan dari atom-atom dengan loncatan-loncatan elektron di antaranya. Bahkan lebih jauh lagi disimpulkan bahwa alam semesta yang berlapis-lapis dimensinya ini hanyalah kumpulan energi yang memadat.

Yang dimaksud dengan energi di sini adalah “kekuatan dari kehendak” atau Qudrat dan Iradat Tuhan. Qudrat (Kekuatan) sebagai yang mewujudkan dan Iradat (Kehendak) sebagai ide atau pikiran awal (Akal Pertama). Kedua-duanya, Qudrat dan Iradat tidak berada di luar wujud Allah Swt tapi berada di dalam diriNya karena merupakan sifat-sifatNya, atau bisa dikatakan berada di dalam pikiranNya.

Jadi semua ide mengenai alam semesta serta makhluk-makhluk ciptaanNya mewujud di dalam pikiran Allah Swt saja dan tidak berada di luar wujudNya. Kondisi ini dapat menjelaskan keutamaan sifat Allah Swt atas makhluk ciptaanNya, yakni :
  1. Wujud Allah Swt tidak serupa dengan makhluknya (Laisa kamislihi sai’un). Wujud Allah Swt yang menciptakan pasti tidak sama dengan makhluk ciptaanNya yang hanya ada dalam pikiranNya.
  2. Keberadaan Allah Swt tidak bersamaan dengan makhluknya (Laa syarikalah). Sangat jelas Allah Swt berdiri sendiri (Qiyamuhu binafsih) sedangkan makhluk ciptaanNya hanya berada dalam pikiranNya.
  3. Allah Swt Maha Besar, Maha Berkuasa dan meliputi segala sesuatu (Innahu bikulli syaiimmuhiith – Alquran Surat Fushshilat : 54). Karena makhluk mewujud dalam pikiranNya, maka secara langsung Allah Swt meliputi semua ide-ideNya, dan Maha Besar serta Berkuasa atas apa-apa yang ada dalam pikiranNya. Sesuatu yang berada dalam pikiran bermakna dalam kekuasaan yang memikirkan.
  4. Allah Swt Maha Nyata dan Maha Menjelaskan (Alquran Surah An-Nur : 25). Tampak jelas dalam pemahaman kita bahwa Allah Swt adalah Yang Maha Nyata karena benar-benar ada atau ada dengan sesungguhnya karena Dia yang berpikir, sedangkan makhluk ciptaanNya hanya bersifat semu dalam pikiranNya.
  5. Allah Swt menciptakan sesuatu cukup dengan berkata: “Jadi maka jadilah” (Alquran Surah Yaasin ayat 82), dan ini bisa terjadi di dalam pikiran.

Dunia matrix yang sesungguhnya

Bagi anda yang sudah menonton film The Matrix yang diperankan oleh Keanu Reves pasti bisa menerima gambaran bahwa alam pikiran bisa dijelajahi. Diceritakan bahwa Neo dan kawan-kawannya berpetualangan di dunia matrix yang merupakan dunia di dalam pikiran mereka sendiri. Dengan dihubungkan oleh sebuah perangkat komputer, mereka bisa berkomunikasi dan bertemu di dunia maya dalam pikiran mereka masing-masing.

Kalau kita menghubungkan ide cerita film tersebut dengan isi tulisannya ini, bukankah dunia kita ini sebenarnya adalah dunia matrix dalam pikiran Tuhan? Kita semua dan seluruh alam ini hanyalah tokoh ciptaan dalam dunia maya yang semu, dan yang benar-benar nyata hanyalah Allah Swt sendiri.

Alam semesta tidak diciptakan dengan sia-sia

Walaupun kita dan alam ini hanya mewujud di dalam pikiran Allah Swt, namun semua ini tidak diciptakan oleh Allah dengan sia-sia. Tujuan akhir dari penciptaan adalah pengagungan kebesaran Allah Swt atas semua makhluk ciptaanNya, disamping manfaat tetap dirasakan oleh makhluk itu sendiri semuanya.

Seperti disebutkan di dalam Alquran Surah Ali-Imran Ayat 191:

Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya, Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Wallahua’lam.