Sholat Tasbih | Pintu Memasuki Kesadaran Semesta

Tasbih bersama E=MC^2

Saudara-saudara yang budiman , mari nikmati penjelasan berikut artikel dari Spiritual Sinergi Semesta (cahaya-semesta.com), sebagai menambah wawasan kita dalam memahami makna dalam bertasbih menyebut asma Allah SWT.

MAKNA BER-TASBIH

Kata At-Tasbih adalah derivasi dari kata as-sabh, yang berarti : terapung dan as-sibaahah : berenang, yang secara etimologi berarti berlalunya benda materi dengan cepat di tengah-tengah benda yang kepadatan massanya kurang dari benda materi tersebut, seperti air atau udara.

Kemudian, As-Sabh bisa berarti : kekosongan, hampa. Bisa juga berarti : bertindak di dalam kehidupan. As-Sabh bisa juga digunakan dalam bentuk metafora untuk menunjukkan makna peredaran/pergerakan bintang-bintang di hamparan langit. “Dan masing-masing beredar pada garis edarnya (36:40)”.

Sehingga dapat disimpulkan arti dari BERTASBIH adalah bahwa seluruh elemen di alam semesta ini selalu bergerak mengikuti garis edar thowaf semesta seraya fokus kepada Allah, yang ditandakan dengan fokus kepada rumah kosong atau Baitullah.

Baitullah sebagai lambang itu ada di dua tempat, pertama Mekkah (Bumi Fisik), kedua Hati Fuad (Bumi Jiwa). Sedangkan Baitullah yang sejati ada di alam Maha yang kita sebut sebagai ‘Arsy.

(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman ....” (40:7)

Karena Alam semesta selau begerak, maka alam semesta ini selalu bertasbih. Karena Allah bersemayam di atas Arsy-Nya maka Allah-lah yang ditasbihi, yang dithowafi, yang dijadikan titik fokus pergerakan alam semesta.

Karena Baitullah itu Rumah Allah , dan di dalam rumah Allah itu ternyata Kosong (As-Sabh), maka Allah itu adalah “Kosong” (perhatikan : dengan tanda kutip). Maksudnya, Kosong dari berbagai PRASANGKA manusia terhadapNya, sehingga saking kosongnya kita sebut sebagai SUCI, dan saking sucinya, kita sebut saja sebagai MAHA SUCI. Sehingga SUBHANALLAH artinya MAHA SUCI ALLAH YANG TELAH MEMBUAT SEMESTA INI BERGERAK FOKUS KEPADANYA.

Jadi, bertasbih itu bergerak, dan bergerak itu harus benar, bergerak yang benar adalah ta'at. Ta'at dalam berma'rifat, berhakikat, dan bersyariat.

Jadi bertasbih itu artinya bergerak dalam ketaatan... bergerak fokus menuju Allah.. kita hidup hanya untuk beribadah kepada Allah....taat kepadaNya... bergerak taat artinya bergerak sesuai kaidah sunnatullah...

E= MC^2

Tahap berikutnya, mari kita bergerak (baca: bertasbih) lebih dalam dengan pendekatan rumus "temuan" Einstein yaitu E=MC^2.

E = Energi, sifatnya INVISIBLE bisa disebut gelombang elektromagnetik
M = Massa, sifatnya VISIBLE bisa disebut sebagai benda atau materi, tapi dalam kondisi tertentu bisa juga M mencapai maqom Invisible
C = Kecepatan Cahaya, 299792.5 km/detik

Mari kita bahas karakter cahaya sekilas saja. Cahaya memiliki sifat memperlihatkan sesuatu yang tidak terlihat. Memperjelas sesuatu yang tidak jelas. Secantik apapun wajah seorang wanita, jika tidak ada cahaya maka kecantikannya akan tidak jelas.

Pendapat saya, Cahaya itu ada dua tingkatan. Pertama Cahaya yang memperjelas alam jasad, dan kedua cahaya yang memperjelas apa yang ada di dalam Hati. Itu sebabnya Al-Quran dihadirkan sebagai cahaya bagi hati orang-orang yang beriman agar kehidupannya di alam jasad maupun di alam nonjasad menjadi sukses bahagia.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (39:22)”

Sedangkan Allah bukanlah sekedar cahaya untuk jasad atau sekedar cahaya untuk hati. Tetapi Allah adalah pemberi Cahaya jasad dan hati, langit dan bumi, visible dan invisible. Itu sebabnya Allah itu adalah Cahaya di atas Cahaya.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (24:35)”

Perhatikan teks “yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api”. Artinya cahaya Allah bukanlah dari api, tapi justru Cahaya dari Allah bisa membuat api. Bahkan bukan sekedar menciptakan api, melainkan menciptakan alam semesta, termasuk menciptakan “cahaya” yang disebutkan oleh Ayah Einstein.

CAHAYA diatas CAHAYA

Saya tidak kepingin membahas tentang Dzat Allah. Karena itu memang rahasia Allah. Namun, yang kali ini saya bahas hanya lambang tentangNya berdasarkan konteks Al-Quran.

Allah dikatakan sebagai Cahaya di atas Cahaya . Mungkin asumsi kita, berarti Allah itu sangat terang, sehingga kalau kelak kita melihatNya kita akan silau. Kalaulah hari ini kita melihat Matahari saja sudah silau, lalu bagaimana mungkin kita mampu melihat Allah, Dzat Cahaya di atas Cahaya.

Nah, saya yakinkan kepada Anda, Anda tidak akan silau kalau berhasil melihat Allah. Sebab dalam Al-Quran perkataan Nuur (Cahaya) disandingkan dengan Bulan bukan dengan Matahari.

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya (nuur) dan menjadikan matahari sebagai pelita (sirooj)? (71:16)”

Tentunya kita tak akan silau melihat cahaya bulan, bahkan sangat menikmati cahaya Bulan, terlebih lagi jika bulan purnama. Nah, sedangkan Allah itu adalah cahaya di atas cahaya, artinya justru akan sangat sejuk, nikmat, dan tenang bahagia ketika kita berhasil langsung melihat wajah Allah SWT.

Tapi tetap saja, Allah itu Cahaya yang berbeda dengan Cahaya Bulan. Bulan bercahaya karena adanya pelita dari Matahari. Padahal Allah-lah yang memberikan Cahaya kepada Matahari dan Bulan. Begitulah Dzat Allah, selalu berbeda dengan makhluk-Nya.

Sahabat Semesta, merujuk penjelasan tentang makna Subahanallah, maka Allah itu Suci, bahkan MAHA SUCI. Artinya terlepas dari pandangan kita tentang persepsi cahaya yang kita pahami. As-sabh = Kosong, Hampa, Suci, nirwarna, nirwaktu, nirruang, gelap tapi menyinari. Ingat teks “Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.”

E=MC^2 dan Ruang Kosong

Berdasarkan penjelasan di atas, maka makna C^2 itu bisa diartikan sebagai Kecepatan “Bergerak”yang “Sangat Tinggi”, atau kekonsistenan bertasbih yang sangat tinggi. Atau bisa diartikan sebagai KETAATAN KEPADA ALLAH YANG SANGAT LUAR BIASA. Atau, dalam bahasa manusia bisa diartikan sebagai Para Rosulullah, Nabiullah, Waliyullah, atau para Muttaqiin.

Karena E= MC^2, maka M = E/C^2. Sehingga, makna dari M adalah seorang Manusia (M) akan memiliki kualitas yang sangat tinggi jika nilai E nya tinggi, atau jika M-nya tidak terlalu berorientasi jasadi, sebab semakin jasadi semakin rendah pergerakan energi.

Artinya manusia jika meninggikan nilai E-nya maka karaker M menjadi lebih halus, bisa sama atau lebih halus lagi dari gelombang elektromagnetik, lebih taat lagi dibandingkan cahaya, lebih taat lagi dibandingkan malaikat.

Artinya ketika manusia memiliki KETAATAN yang LUAR BIASA kepada ALLAH SWT, maka Energinya menjadi sangat besar dan nafsunya terhadap dunia (kehidupan jasad) menjadi sangatlah kecil. Dan karena nilai C itu konstan, maka rumus Einstein di atas mengatakan secara tersirat bahwa “Semakin padat suatu benda (M), maka semakin kecil energi yang dihasilkan (E), atau semakin halus suatu benda, maka semakin besar energinya”.

Maka wajar saja, kadang Wailiyullah dikarenakan memiliki energi besar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan begitu cepat (walaupun tidak secepat Buroq), tapi bisa lebih dahsyat dari gelombang elektromagnetik.

Dan salah satu cara yang efektif untuk MENGURANGI kepadatan sebuah materi/benda adalah dengan cara BERTASBIH. Yaitu BERGERAK secara harmoni dan thowaf fokus kepadaNYA. Yakni bergerak dengan energi yang TINGGI, atau dengan kata lain bergerak dalam Gelombang otak yang rendah, atau dengan kata lain bergerak dengan hati yang Tenang dan hanya Fokus kepada Allah SWT.

Untuk menghasilkan perGERAKAN yang berenergi tinggi maka pergerakan itu bukan berorientasi fisik yang powerfull, tapi berorientasi spiritual yang mendalam, dalam sebuah ketenangan dan ketaatan padaNya.

Yup, bergerak ke dalam, mencari dan menikmati ruang KOSONG dalam relung-relung materi di tubuh kita ini. Biarkan jiwa ini leluasa bersamaNya. Fokus kepada RUANG KOSONG sebagai kesadaran baru, bukan hanya bermain di alam sadar, pun bukan alam bawah sadar, tapi sudah menuju kepada alam MAHA SADAR. Dan Ruang Kosong bernama "Baitullah Jiwa". Allahu Akbar.

Sholat Tasbih
Shalat Tasbih, shalat sunah yang membuat Allah mengampuni dosa-dosa kita yang pertama dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tak disengaja dan disengaja, yang kecil dan besar, yang tersembunyi dan yang terang-terangan.

Mengapa aku mendirikan shalat tasbih? Aku mendirikan Shalat Sunah Tasbih karena Tuhanku, Allah swt. memerintahkan dan Nabiku, Nabi Muhammad saw. mengajarinya.

Dalam Kitab Suci Al Quran surat Al Hijr ayat 98-99, dicatat wahyu Allah kepada Nabi Muhammad saw : Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

  • "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." ( QS. Al Israa' 17:44 )
  • "Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya." ( QS. Ar Ra'd 13:13 )
  • "maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya." (QS. Al Anbiyaa' 21:79 )
  • "Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuk- nya,"( QS. Saba' 34:10 )
  • "Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi,"( QS. Shaad 38:18 )
  • "Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling 'Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".( QS. Az-Zumar 39:75 )
  • "maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat),"( QS. Al Hijr 15:98 )

Shalat Sunah Tasbih diajarkan Nabi Muhammad saw. kepada kita untuk dilakukan setiap hari, atau kalau tidak mampu dilakukan cukup seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali.

Salat Tasbih merupakan salat sunnat yang didalamnya pelaku salat akan membaca kalimat tasbih (kalimat “Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar”) sebanyak 300 kali (4 raka'at masing-masing 75 kali tasbih). Salat ini diajarkan Rasulullah SAW kepada pamannya yakni sayyidina Abbas bin Abdul Muthallib.

Hadits Rasulullah SAW kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib yang berbunyi:

"Wahai Abbas pamanku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksankan salat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku'lah dan bacalah do'a tersebut 10 kali ketika sedang ruku, kemudian sujudlah dan bacalah do'a tersebut 10 kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu" (HR Abu Daud 2/67-68)

Ibnu Ma'in. An-Nasaiy berkata: Ia tidak apa-apa. Az-Zarkasyi berpendapat: "Hadis shahih dan bukan dhaif". Ibnu As-Sholah: "Haditsnya adalah Hasan"

Hikmah salat adalah dapat mencegah perbuatan keji dan kemungkaran, tentu saja dari salat tasbih yang dilakukan dengan hati yang ikhlas diharapkan akan dapat pula seseorang yang melakukannya dicegah atau terjaga dari perbuata-perbuatan yang keji lagi mungkar.

Niat salat ini, sebagaimana juga salat-salat yang lain cukup diucapkan didalam hati dan tidak perlu dilafalkan, tidak terdapat riwayat yang menyatakan keharusan untuk melafalkan niat akan tetapi yang terpenting adalah dengan niat hanya mengharapkan Ridho Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan khusyu.

TATA CARA SHALAT TASBIH

Adapun tata cara mengerjakan shalat ini adalah sebagai berikut:
1. Empat Rakaat
Dimalam hari dikerjakan dengan dua salam. Di siang hari boleh dua salam dan boleh satu salam (dengan satu tahiyat).

2. Dilaksanakan tanpa berjama'ah
tetapi sendiri-sendiri dan boleh secara serempak oleh orang banyak dalam waktu dan tempat yang sama, asalkan tidak ada imam dan tidak ada makmum.
3. Lafadz niatnya adalah sebagai berikut :
"Usholli sunnatat tasbiihi rok'ataini lillahi ta'ala."
Artinya: Aku niat shalat sunat tasbih dua rakaat, karena Allah.
4. Surat Al-Qur'an yang dibaca setelah surat Al-Fatiha, boleh surat apa saja.
5. Membaca tasbih sebanyak 75 kali setiap rakaat.
Bacaan tasbih yang dimaksud ialah: Subhaanallah walhamdu lillah ilaaha ilallahu
wallahu akbar"

6. Tasbih tersebut dibaca pada tempat-tempat  :

No. Waktu Jml. Tasbih
1 Setelah pembacaan surat al fatihah dan surat pendek saat berdiri 15 kali
2 Setelah tasbih ruku' (Subhana rabiyyal adzim...) 10 Kali
3 Setelah I'tidal 10 Kali
4 Setelah tasbih sujud pertama (Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
5 Setelah duduk diantara dua sujud 10 Kali
6 Setelah tasbih sujud kedua (Subhana rabiyyal a'la...) 10 Kali
7 Setelah duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka'at keberapa) 10 Kali

Jumlah total satu raka'at 75

Jumlah total empat raka'at 4 X 75
= 300 kali

Adapun cara kita melakukan sholat tasbih sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab fikih ada dua cara, yaitu sebagaimana berikut:

Cara Pertama : Melakukan sholat tasbih sebanyak empat rakaat, dimulai dengan takbir ikhrom setelah itu membaca doa iftiftah kemudian membaca surat alfatihah dan membaca surat kemudian membaca:

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Sebanyak 15 kali kemudian ruku’ dengan membaca

سبحان ربي العظيم وبحمده

Sebanyak 3 kali kemudian membaca


سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku membaca:

ربنا لك الحمد حمدا طيبا كثيرا مباركا ....الج

Kemudian membaca

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Demikian juga dalam sujud dan ketika bangun dari sujud, akan tetapi diperhatikan bahwa bacaan ini:

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

.juga dibaca sebelum membaca tahiyyat ( tasyahud)

Cara Kedua : Setelah membaca takbir ikhrom dan doa iftitah membaca
سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Sebanyak 15 kali kemudian membaca surat alfatihah dan surat kemudian membaca:

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Sebanyak 10 kali sebagaimana dalam cara yang pertama tadi, akan tetapi perlu diperhatikan bahwa dalam keadaan duduk istirahat (diantara dua sujud ) dan sebelum tasyahud tidak di anjurkan untuk membaca

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

Cara yang kedua inilah menurut Iimam Ghozali yang paling baik. Demikianlah kajian hadis yang dapat kami sampaikan dalam kegiatan I’tikaf pada kali ini, semoga bermanfaat.

Wallahu A’lam Bishowab.

Nb. Bila engkau ingin menguasai sebuah Ilmu yang bisa menundukkan Alam Semesta, maka selaraskanlah dirimu dengan Tasbih Alam Semesta. Inilah Meditasi Kesadaran Alam Semesta yang menggunakan Tekhnologi Al-Quran  dari Allah SWT.
Sholat Tasbih | Pintu Memasuki Kesadaran Semesta Sholat Tasbih | Pintu Memasuki Kesadaran Semesta Reviewed by Edi Sugianto on 00.51 Rating: 5

Tidak ada komentar:


kelas Gendam Online
Diberdayakan oleh Blogger.