ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 04 Februari 2011

Avatar ; Manusia Sempurna & Martabat Tujuh

Abstract: Human being is the highest creature among all creatures. Even, he is higher than the world and it is very important for it.The perfection of the world depends on him, Human being in relation to the universe is like spirit for body.

The world without human being is like a unclear mirror which can not refract a picture. The picture of God can not be seen in the mirror clearly so God command that the clear mirror of the world can refract His picture clearly. The human being is the clearness of mirror and the shape of the picture.

The most perfect mirror for God is the perfect human being, because he refracts all the names and the behaviour of God. However, other refract only a few parts of the names and the behaviour of God. The perfect human being, faces all existances of individualism. Spiritually he faces higher individualism; the body he faces lower individualism. His heart faces to (al-Arsh), His soul faces to apen (al-Qalam) and his spirit faces to (lauh –Mahfudz).

Kata kunci: Cermin, budi, manusia sempurna

Dengan berkat rahmat dan inayah-Nya semata, manusia telah diciptakan dengan segala kesempurnaan bahkan dinyatakan secara isyarat di dalam firman-Nya: bahwa “manusia adalah makhluk sempurna dan termulia dari seluruh makhluk ciptaan” (QS. 95:4). Demikian itulah keagungan sifat Allah Kepada manusia, Manusia yang sebenarnya dicipta dari bahan yang sangat hina ternyata dengan segala kemurahan kasih-Nya dibimbing dan didekatkan kepada-Nya selaku makhluk termulia atau tertinggi di antara makhluk ciptaan (QS. 17:70). Sehingga manusia yang berkeadaan mulia dan tinggi diantara makhluk ciptaan dapat dijadikan wadah kecintaan Allah, karena haqiqi manusia diciptakan tidak lain untuk dijadikan wadah kecintaan Allah (Mounadi; 1987:2).

Menurut al-Jilli, nama esensial dan sifat-sifat ilahi pada dasarnya menjadi milik manusia sempurna oleh adanya hak fundamental, yakni sebagai keniscayaan yang inheren dalam esense dirinya. Demikianlah, dengan ungkapan yang sering kita dengar bahwa Tuhan berfungsi sebagai kaca bagi manusia, juga demikian halnya manusia menjadi kaca tempat Tuhan melihat dirinya. Sebagai kaca yang dipakai seseorang melihat bentuk dirinya dan tidak bisa melihat dirinya itu tanpa adanya kaca tersebut, maka sedemikianlah hubungan yang berlangsung antara Tuhan dan manusia sempurna.

Tuhan itu “menyatakan diri” dalam dua cara yakni, dengan berbagai tamsil objektif, ayat-ayat kauniyah, epifani dan secara pribadi bagi pribadi-pribadi pilihan yang paska muthmainnah yakni, Teofani. Nabi-nabi, Rasul-rasul Allah adalah contoh pribadi pilihan yang layar kesadarannya mendekati layar kesadaran sejernih-jernihnya di sisi-Nya, yakni papan yang sangat mulia Lauh al Mahfudz.

Manusia tidak hanya terdiri dari unsur jasadiyah, tetapi hal yang lebih penting lagi dari jasadiyah adalah keberadaan unsur daya potensi ketenagaan di dalam diri yang menggerakkan dan mengaktifkan jasadiyah, Ketenangan inilah yang harusnya menjadi pusat perhatian manusia, karena tidak ada artinya bila hanya sepihak jasadiyah yang diperhatikan, sementara beberapa unsur di dalam diri yang sifatnya katenangan diabaikan saling berbenturan (Moenadi, 1987:4)

Unsur-unsur itu merupakan penentu setimbang tidaknya pertumbuhan unsur daya-potensi ketenagaan di dalam diri manusia. Sedangkan yang dimaksud unsur-unsur ketenagaan di dalam diri itu adalah: unsur ruh, unsur rasa unsur hati , unsur akal dan yang terakhir unsur nafsu (Moenadi, 1987: 16). Konsep manusia sempurna seperti yang ditulis Soejono Redjo dalam ‘Dongeng Kaca Benggala Ageng’ menunjukkan pada penjelasan tentang manusia sempurna yaitu manusia yang lupa akan diri (ora korup marang wujude kang mukmin) (Soejono, 1922:15) tidak lain hanya mengakui pribadi yang satu tanpa warna dan rupa, namun semua warna dan rupa itu merupakan sifat/watak, yaitu bukan arah atau tempat, namun berdiri ditengah-tengah arah di sepanjang tempat.

Adanya kaca benggala itu ibarat sifat / watak manusia yang sudah sempurna, yaitu manusia yang sudah tidak sombong (korup) pada diri sendiri artinya, tidak sekalipun mempunyai niat memamerkan diri, membandingkan diri, Ujub, riya, takabur, bidngah dsb. Yang seperti itu karena bening budinya, serta tidak bernafsu, dengan demikian hidupnya hanya mencari keselamatan sesama, serta membuat kesenangan hati semua.


Seperti dijelaskan dalam martabat tujuh dengan kata mudah yang berasal dari istilah muhdats.
Mudah terdiri dari: nur, rahsa, ruh, nafsu dan budi. Mudah yang empat kemudian diterangkan sebagai berikut:
  1. budi : keadaan pranama, menarik kejelasan kehendak menjadi pangkal pembicara, 
  2. nafsu : keadaan hawa, menarik kejelasan suara, menjadi pangkal pendengaran, 
  3. suksma (roh) : keadaan nyawa, menarik kejelasan cipta, menjadi pangkal perasaan, 
  4. Rahsa : keadaan atma, menarik kejelasan kuasa, menjadi pangkal perasaan (Simuh, 1988:313)

Dalam buku Kaca Wirangi yang diberi judul tulisan ‘Kaca Benggala Ageng’ ini mengumpamakan sesuatu yang mengandung cahaya dan warna itu adalah manusia karena, manusia mempunyai cahaya dan warna (budi dan rahsa).Untuk lebih detailnya yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah bagaimanakah konsep manusia sempurna itu?

ASPEK RAHSA DAN BUDI
Manusia yang sempurna tidak memperlihatkan keadaan dirinya, membandingkan dengan yang lainnya. Keadaan semua orang dirasakan sifatnya pribadi, karena baik dan buruk dirinya tersembunyi, jadi cermin memperlihatkan keadaan orang lain, seperti sama pada dirinya. Cara memandang keadaan satu sama lain itu benar serta tidak melibatkan rahsa. Benar artinya, sesuai dengan kenyataannya. Tidak melibatkan rahsa artinya, tidak senang atau benci dengan yang baik dan buruk atau benar dan salah.

Rahsa
Rahsa itu mungkin sulit untuk dilihat dengan mata, namun manusia biasanya merasakan antara lain: panas, dingin, sakit, enak, perih, capek, bosan, risih, pekewuh, melas, lega, kaku, kaget dsb, itu semua adalah kekuatan dari rahsa.

Hati lebih halus dari pada badan, dan keduanya ini sebenarnya beda alam dan jamannya. Seperti, dingin, sakit, enak, perih, capek, bosan dsb, ada yang dirasakan hati tetapi ada juga yang dirasakan oleh badan. Contohnya kalau panasnya badan bisa disiram dengan air, tetapi kalau panasnya hati tidak.

Ada juga apa yang dirasakan hati tidak sama dengan apa yang dirasakan badan seperti: suka, susah, gembira, benci, kagum, menyesal, malu, gugup, takut, khawatir, sedih, iri hati, marah, kasihan, terenyuh dsb, yang demikian itu hanya ada di dalam hati.

Rahsa adalah wujud getar (obah-obahan) terkadang juga bisa diam/berhenti (ngumpul-mligi). Rasa adalah tempatnya rahsa yang mencakup semua rahsa. Jadi rasa diumpamakan badannya, rahsa diumpamakan tangannya, atau bisa juga rasa diumpamakan pohon dan rahsa diumpamakan cabangnya (Soejono, 1922: 24).

Budi
Budi itu adalah cahaya yang menyinari hati/rohnya manusia, yang berwujud terangnya pikiran (angan-angan). Terangnya pikir diumpamakan rembulan, dan terangnya budi diumpamakan matahari (cahaya rembulan itu sebenarnya adalah cahaya matahari) (Soejono, 1922:25).

Manusia tidak dapat mengetahui bentuk dari budi, namun manusia merasakan kekuatannya, yaitu: sinarnya. Orang yang waspada bisa mengetahui sinarnya budi yang ada pada orang lain. Orang yang bersih/bening budinya, tenang (lerem rahsane) diumpamakan seperti berlian. Orang yang terang budinya namun masih tebal rahsanya, diumpamakan mirah (mirah delima). Orang yang gelap budinya dan tebal nafsunya, cahayanya suram, hanya terlihat warnanya saja, itu diumpamakan sayapnya kupu-kupu.

Jadi bedanya rahsa dan budi adalah: rahsa untuk merasakan enak dan tidak enak, merasakan nikmat (nandhang lan ngasakake nikmat), namun budi itu hanya mengingat, pintar (waskitha), ahli (pranawa), mengerti. Budi tidak dapat merasakan suka, duka ,senang, benci, dsb, hanya menunjukkan pada sesuatu yang benar.

Untuk membedakan budi dengan rahsa itu sama dengan orang membedakan cahaya dengan warna. Cahya itu adalah sesuatu yang bisa membuat terang, kalau warna adalah sesuatu yang diterangi oleh cahaya. Warna merah, hijau, kuning itu ada jika diterangi oleh cahaya, begitu juga cahaya tidak bisa jadi merah, kuning, hijau dsb jika tidak mengandung warna. Jadi warna dan cahaya itu sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, namun masih jelas bedanya kalau warna itu bukan cahaya dan sebaliknya cahaya itu bukan warna.

Budi itu adalah sesuatu yang menunjukkan pada benar dan salah, tanpa warna hanya terang benderang, kalau rahsa adalah sesuatu yang merasakan enak dan tidak. Manusia bisa merasakan suka, duka dsb karena adanya budi. Dan yang dirasaka suka, duka benci, senang dsb, itu adalah kekuatan rahsa. Jadi budi dan rahsa itu sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, meskipun jelas perbedaannya.

Untuk lebih jelasnya misalnya, Ada seseorang sedang duduk, kemudian ingat sesuatu karena ingat sesuatu tadi, hatinya menjadi senang atau sedih, dengan begitu sesuatu yang digunakan untuk mengingat dan sesuatu yang dipakai untuk susah atau senang itu tidak sama. Jadi yang dipakai mengingat itu namanya budi, yang dipakai susah dan senang itu yang dinamakan rahsa. Budi dan rahsa mempunyai alam dan jaman yang berbeda.

Manusia merupakan kesatuan tujuh unsur; jasad, budi, nafsu, ruh, sir (rahsa), nur dan hayyu (hidup). Ketujuhnya saling berhubungan merupakan kesatuan. Gerakan badan dipengaruhi oleh budi, budi dipengaruhi oleh nafsu. Nafsu dipengaruhi oleh ruh atau suksma. Suksma mendapat pengaruh dari rahsa, dan rahsa menerima pengaruh dari nur. Nur menerima pengaruh dari hayyu, dan hayyu pelaksana dari af’al Dzat dan merupakan tajlli Dzat. (Simuh, 1988:314).

Manusia yang dapat mengembangkan kehidupan rohaninya, akandapat memperlihatkan ketujuh martabat di bawah ini, dan akan menjadi insan kamil (manusia yang sempurna), di mana kehidupan dan tindak-tanduknya merupakan pencerminan kehidupan dan af’al (perbuatan) Tuhan di bumi. Dalam keadaan manunggal dengan Tuhan, maka manusia adalah rahsa Tuhan, dan Tuhan adalah rahsa manusia. Karena kalbu mukmin adalah baitullah (Rumah Tuhan) (Simuh, 1988:320)
  1. Martabat Ahadiyat, yaitu martabat la ta’yun dan ithlag. Artinya masih dalam wujud mutlak, tidak bisa dikenal hakikatnya. Karena sunyi dari segala sifat, sandaran dan hubungan dengan yang lain.
  2. Martabat Wahdat, yaitu ibarat ilmu Tuhan terhadap Dzat dan sifatnya,serta terhadap segala perwujudan secara ijmal (keseluruhan) belum ada pemisahan antara satu dengan lainnya.
  3. Mertabat Wahidiyat, yaitu kesatuan yang mengandung kejamakan, tiap-tiap bagian telah jelas batas-batasnya. Sebagai hakekat manusia. Ibarat ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu secara terperinci, sebagian terpisah dengan yang lain.
  4. Martabat alam arwah. Merupakan aspek lahir yang dalam bentuk mujarad dan murni.
  5. Martabat alam mitsal. Ibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak bisa dipisah-pisahkan.
  6. Martabat alam ajsam (tubuh) Yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara materiil telah menerima pemisahan dan dapat dibagi-bagi.Yaitu telah terukur tebal-tipisnya.
  7. Martabat insan. Mencakup segala martabat di atasnya, sehingga dalam manusia terkumpul enam martabat yang bersifat batin dan bersifat lahir.

MENJADI MANUSIA TERANG CAHAYA
Harus hati-hati, tidak terlalu berlebihan dengan adanya rahsa. Misalnya, kalau sedang senang jangan terlalu senang, begitu juga kalau sedang susah, cinta, benci, semua itu jangan berlebihan. Cukup sekedarnya (sawetara).
  1. Selalu meminta petunjuk dari yang Kuasa. Jangan menyimpang dari petunjuk budi (berbuat tidak baik). Agar rahsa banyak tenangnya, angan-angan banyak diamnya, dan budi banyak jernihnya (bening)
  2. Mengakui adanya yang Maha Kuasa, Ada persyaratannya (abon-abone)bertapa untuk setiap hari, tidak bisa dipikir sendiri, harus dicarikanpendapat orang pintar. Bertapa yang terus menerus (rutin) itu menjadi pemantapan jiwa.
  3. Bertapa (semadi), untuk menahan angan-angan (pikir), rahsa dan nafsu berada pada budi dan rasa. Keadaan manusia yang dianggap cermin yang jernih, kepunyaannya kahanan jati. Yang bercermin: kahanan jati. Yang dipakai bercermin: manusia sejati. Bayangan semua itu tergambar di alam. 

Seperti ungkapan terkenal dari Ibn al-Arabi tentang bagaimana proses yang dilalui oleh seseorang agar ia menjadi manusia sempurna yaitu, “al-takhalluq bi akhlaq Allah “ (berakhlak dengan akhlak Allah), atau “al-takhalluq bi asma Allah” (berakhlak dengan nama-nama Allah) (Noer, 1995:139)

Takhalluq berarti menafikan sifat-sifat kita sendiri dan menegaskan sifat-sifat Allah, yang telah ada pada kita meskipun dalam bentuk potansial Sesuai dengan doktrin wahdat al-wujud, takhalluq berarti pula menafikan wujud kita dan menegaskan wujud Allah karena kita dan segala sesuatu selain Allah tidak mempunyai wujud kecuali dalam arti kias (majaz); satu-satunya wujud, atau tepatnya wujud hakiki, adalah Allah. Ketika manusia menafikan wujudnya, ia kembali kepada sifat aslinya, yaitu “ketiadaan” (adam), tetapi pada saat yang
sama ia berada dalam keadaan yang disebut “ketenteraman abadi” (rahad al-abad).

PERBEDAAN BERLIAN DAN KACA BENGGALA
Watak manusia yang diumpamakan berlian yaitu yang bening (wening) serta bisa mempengaruhi pancaindra, karena bisa mempengaruhi pancaindranya maka berlian bisa kelihatan merah (ngabang), hijau (ngijo), kuning (nguning) dsb. Dan berlian bisa menghilangkan warnanya, tinggal beningnya tanpa warna.Bedanya kalau berlian itu masih sombong (korup) pada dirinya, dan kacabenggala itu sudah lupa akan dirinya. (Soejono, 1922:33)

Sombong (korup) pada diri itu artinya, masih mempunyai rasa yang mengakui pada bayangan (kamumkin). Lebih jelasnya merasa kalau dirinya itu bentuk yang jirim, yang punya perkiraan (timbangan), yang mempunyai
kebagusaan atau kejelekan.(Soejono, 1922:33)

Kata mumkin, artinya: keberadaannya hanya tiruan/palsu (wenang), dan adanya karena musim, jadi yang seperti itu bukan keadaan yang murni kahanan jati. Sebenarnya mungkin itu hanya bayang-bayang, yang kelihatan pada penglihatan dzat yang mesti adanya.

Kaca benggala itu yang sudah mempunyai rasa : yang sudah tidak mengakui pada bentuk mumkin. Atau diakui yang tanpa warna, tanpa rupa, yang meliputi bentuk yang jirim (Jirim berasal dari bahasa Arab yang artinya, sesuatu yang yang bisa diukur dengan ukuran m3), yang tidak baik dan tidak buruk, langgeng keberadaannya, yang tidak mengenal musim, bukan awal dan bukan akhir, yaitu keadaan asli (kahanan jati), yaitu yang ada sebenar-benarnya.

Wujud yang tampak (gumelar) sebenarnya hanya berupa gambar (wayangan) yang kelihatan pada cermin gaib, semua itu adanya hanya tiruan/palsu (wenang), bisa ada-bisa tidak, serta adanya hanya sewaktu ketika saja, dan kemudian bisa hilang.

Yang dimaksud berlian itu rasa yang bisa menyerap berbagai perwatakan, tetapi belum memuat wujud mumkin yang tetimbangan, jadi masih mempunyai rasa belum mantap (tetimbangan), merasa diperhitungkan, merasa mempunyai peranan, apalagi merasa jadi isinya alam.  Yang dimaksud bisa memuat/mencakup perwatakan itu adalah: berlian bisa berwarna abang (ngabang), biru (mbiru) dsb, seperti warnanya mirah (merah delima) yang berbeda-beda, karena masih mempunyai rasa ragu-ragu (timbangan), seperti berlian membedakan wujudnya dengan wujud mirah, kupu, arang dan batu (Soejono, 1922:34)

Dalam hal ini sangat sesuai dengan Ibn al-Arabi yang mengatakan bahwa, alam adalah cermin bagi Tuhan. Alam mempunyai banyak bentuk yang jumlahnya tidak terbatas. Karena itu, dapat dikatakan bagi Tuhan terdapat banyak cermin yang jumlahnya tidak terbatas. Ibarat seseorang yang berdiri banyak cermin yang ada disekelilingnya, Tuhan adalah esa tetapi bentuk atau gambar-Nya banyak sebanyak cermin yang memantulkan bentuk atau gambar itu. Kejelasan gambar pada suatu cermin tergantung kepada kualitas kebeningan
cermin itu. Semakin bening atau bersih suatu cermin, semakin jelas dan sempurna gambar yang dipantulkan. Cermin paling sempurna bagi Tuhan adalah Manusia Sempurna, karena ia memantulkan semua nama dan sifat Tuhan.

Setiap makhluk adalah lokus penampakan diri (majla, mazhar) Tuhan dan Manusia Sempurna adalah lokus penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Ini berarti gambar Tuhan terlihat secara sempurna pada Mamusia Sempurna karena ia menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan seimbang
(Noer, 1995:143).

KESIMPULAN
Wujud dari kaca benggala gedhe menjadi ibarat sifat dari dat yang tanpa timbangan. Kaca benggala tidak mempunyai bandingan, artinya tidak pernah dikalahkan dengan bentuk lain, sebab kaca benggala tidak mempunyai rupa, tidak  mempunyai warna, tidak bagus melebihi berlian atau mirah, serta tidak hitam
melebihi arang, tidak buram melebihi batu, tidak bersinar seperti mirah, dan berkerlip seperti berlian, jadi kosong tidak ada apa-apanya, tidak kelihatan, tidak berwujud, tidak berwarna dan tidak bercahaya, dan tidak baik.

Jadi keadaan manusia yang dianggap cermin yang jernih, kepunyaan dat yang kahanan jati. Yang bercermin kahanan jati. Yang dipakai untuk bercermin manusia sejati. Dan bayangannya adalah tampak (gumelar) di alam.

Manusia agar bisa dianggap cermin yang jernih seperti di atas maka setiap hari rasa harus tenang, angan-angan/pikirnya tenang, dan mengakui serta mencintai yang Maha Kuasa secara lahir dan batin.

Seperti sistem Ibn al-Arabi berpusat pada Tuhan, pada tauhid dalam bentuk wahdat al-wujud, paham bahwa tiada wujud selain Tuhan.; hanya ada satu Wujud Hakiki yaitu, Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan tidak ada pada dirinya sendiri; ia hanya ada sejumlah penampakan Wujud Tuhan. Alam adalah lokus penampakan diri Tuhan. Manusia Sempurna adalah lokus penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Manusia Sempurna menyerap semua nama dan sifat Tuhan secara sempurna dan seimbang.

Kesempurnaan dapat dicapai manusia karena ia diciptakan Tuhan menurut gambar-Nya yang ada dalam potensialis. Kesempurnaan akan terwujud dalam diri manusia pada tingkat individual atau historis, apabila ia mampu mengubah gambar Tuhan dalam potensialitas yang telah ada dalam dirinya menjadi gambar Tuhan dalam aktualitas. Meskipun mencapai kesempurnaan, Manusia Sempurna tetap milik Tuhan dan akan Kembali kepada Tuhan.

KONSEP MANUSIA SEMPURNA  by Siti Saudah dan Nusyirwan
Siti Saudah adalah mahasiswa S-2 Ilmu Filsafat UGM, sedangkan Nusyirwan adalah dosen
pembimbing penulisan artikel tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
  • Hasan, Ahnad Rifa’i ,1985, Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam,Grafiti Pers, Jakarta.
  • M.S. Moenadi Ki. 1987. Pengembangan Daya Bakat Kemampuan Manusia.Mizan. Bandung.
  • Noer, Kautsar Azhari, 1998. Tuhan yang diciptakan dan Tuhan yang sebenarnya,Jurnal Paramadina Vol 1 No. 1 Hal. 129-147. Paramadina. Jakarta
  • Noer, Kautsar Azhari, 1995, Ibn.al-Arabi Wahdiat al-Wujud dalam Perdebatan,Paramadina, Jakarta.
  • Redjo, Soejono, 1922, Kaca Wirangi. Tan Khon Swie.
  • Simuh, 1988, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggowarsito, UI Press,Jakarta.
  • Supadjar, Damardjati, 2000, Filsafat Ketuhanan, Fajar Pustaka Buku.Yogyakarta.
  • Supadjar, Damardjati, 2002, Nawang Sari, Fajar Pustaka Buku, Yogyakarta