ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 09 Februari 2011

Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 2

MAKNA ARTI SEBUAH TASBIH
Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir dtitik yg sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untain butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal sukses, pasang, surut.

Untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yg melingkar, kehidupan pun demikian. Ke mana pun kita pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir

Mungkin itukah yg kemudian tasbih identik dengan dzikir, mengingat Allah. Tasbih menjadi tanda kesalehan, kedekatan hamba pada Allah. Namun, Sebenarnya tasbih juga penanda perjuangan dan semangat. Gambaran kehidupan sejati.

juga cinta. Akal manusia terlalu picik jika mengira tasbih hanya cocok untuk mereka yg dekat dengan maut. Salah. Dalam kehidupan di dunia yg sesungguhnya, tasbih adalah wakil jiwa yg selalu bergerak, tidak pernah berhenti, pantang menyerah, tidak mengenal putus asa, untuk meraih yg lebih tinggi, bahwa hidup adalah karunia paling berharga untuk mahkluk yg bernama manusia. Maka, jangan pernah mengharap cinta, bila engkau tidak memiliki keberanian. Jangan memeluk cinta, bila takut gagal, kecewa, dan sakit hati. Semua itu adalah paket yg akan ditemukan oleh siapapun dalam meraih cinta.

Cinta. Bisakah aku memahami cinta melalui benda ini? Mengapa tidak. Cinta adalah sisi lain yg tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Tasbih adalah keutuhan yg diikat pada sebuah simpul. Hal itu dilakukan agar butiran butiran kecil dapat menyatu, saling tertautan, seimbang, dan bila dilihat tampak indah. Cinta juga akan menjadi indah jika diterima sebagai keutuhan. Mencintai adalah aktivitas berat yg membutuhkan keberanian untuk menerima yg dicintai dengan utuh. Sisi kelebihan, sudah pasti mudah menerimanya. Tapi, bagaimana sisi lainnya yg pasti ada: kekurangan, kelemahan. Semudah itukah menerimanya?

Agar cinta juga menjadi abadi dan kuat, dibutuhkan kesediaan dua ujungnya untuk diikat dalam satu simpul yg kokoh. Tanpa ikatan, tanpa simpul, cinta akan terburai menjadi butiran butiran egoisme yg tercerai berai. Bila demikian, bisakah cinta dipandang sebagai sebuah keindahan? Bahkan, apakah bisa disebut cinta, bila untuk saling berdekatan hati saja, sudah tidak mampu?