ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 09 Februari 2011

Meditasi Orbit Semesta Bertasbih 3

TASBIH (Menyucikan Allah Swt.)

Kata tasbih (تَسْبِيْح) adalah bentuk masdar dari sabbaha–yusabbihu–tasbihan (سَبَّحَ- يُسَبِّحُ- تَسْبِيْحًا), yang berasal dari kata sabh (سَبْح). Menurut Ibnu Faris, asal makna kata sabh ada dua. Pertama, sejenis ibadah. Kedua, sejenis perjalanan cepat. Pengertian kata tasbih (تَسْبِيْح) berasal dari pengertian pertama, yaitu menyucikan Allah Swt. dari setiap yang jelek (tanzihullahi min kulli su’in (تَنْزِيْهُ اللهِ مِنْ كُلِّ سُوْء ), sedangkan kata tanzih (تَنْزِيْه) berarti tab‘id (تَبْعِيْد = menjauhkan). Jadi, Allah jauh dari setiap yang jelek. Sementara itu, kata subbuhun (سُبُّوْحٌ) adalah suatu sifat bagi Allah, yang berarti Allah Maha Suci dari segala sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya.

Ar-Ragib Al-Asfahani mengartikan kata as-sabh (السَّبْحُ) sebagai “berlari cepat di dalam air (berenang) atau di udara (terbang)”. Kata itu dapat dipergunakan untuk perjalanan bin­tang di langit, atau lari kuda yang cepat, atau kecepatan beramal. Dinamakan tasbih karena segera pergi untuk beramal dalam rangka menyembah Allah. Kata ini berlaku untuk melakukan kebaikan atau menjauhi kejahatan. Lebih lanjut Al-Asfahani menambahkan, tasbih bisa dalam wujud perkataan, perbuatan ataupun niat. Pengertian tasbih terakhir itu mengacu kepada pengertian isthilahi yang sudah berkembang sampai sekarang.

Kata tasbih dalam bentuk mashdar hanya disebutkan dua kali di dalam Alquran, yaitu di dalam S. Al-Isra’ [17]: 44 dan S. An-Nur [24]: 41. Di dalam bentuk fi'l madhi disebut empat kali, yaitu di dalam S. Al-Hadid [57]: 1, S. Al-Hasyr [59]: 1, S. Ash-Shaff [61]: 1, S. As-Sajadah [32]: 15. Di dalam bentuk fi‘l mu­dhari‘ disebut 20 kali, antara lain di dalam S. Al-Baqarah [2]: 30, S. Ar-Ra‘d [13]: 13, S. Al-Isra’ [17]: 44 (dua kali), S. Al-Anbiya’ [21]: 20 dan 79, S. An-Nur [24]: 36 dan 41, dan lain-lain. Dalam bentuk fi‘l amr disebut 18 kali, antara lain di dalam S. Ali ‘Imran [3]: 4, S. Al-Hijr [15]: 98, S. Maryam [19]: 11, S. Thaha [20]: 130 (dua kali), S. Al-Furqan [25]: 58, S. Al-Ahzab [33]: 42, dan lain-lain. Dalam bentuk Subhana, baik di-idhafah-kan atau tidak, disebut 41 kali, antara lain di dalam S. Yusuf [12]: 108, S. Al-Isra’ [17]: 1, 93, dan 108, S. Al-Anbiya’ [21]: 22, S. Al-Mu’minun [23]: 91, S. An-Naml [27]: 8, S. Al-Qashash [28]: 68, dan lain-lain. Dalam bentuk musabbihun, musabbihin disebut dua kali, yaitu di dalam S. Ash-Shaffat [37]: 143 dan 166.

Firman Allah di dalam S. Al-Isra’ [17]: 44 menjelaskan bahwa langit yang tujuh, bumi dan segala yang ada di dalamnya ber-tasbih kepada Allah, meskipun kita tidak mengetahui tasbih mereka. Muhammad Husain At-Thabathaba’i mengemukakan di dalam tafsirnya, tasbih di sini maksud­nya adalah tanzihun qauli (تَنْزِيْهٌ قَوْلِيٌّ = mensucikan Allah melalui ucapan). Hakikat kalam (كَلاَم) adalah mengungkapkan apa yang terdapat di dalam hati dengan bermacam-macam isyarat. Tatkala manusia tidak mendapatkan apa yang ditujunya melalui isyarat maka ia menggunakan lafaz, yaitu suara yang diperuntukkan bagi suatu pengertian. Dengan cara itu ia menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya. Sering pula orang menggunakan isya­rat tangan, kepala dan lainnya untuk menyatakan maksudnya. Demikian juga halnya perbuatan yang menggunakan tulisan atau membuat tanda-tanda. Yang benar, demikian Husain menambahkan, tasbih semua makhluk itu adalah ucapan haqiqi; namun, tidak mesti dengan lafaz tertentu dan suara yang dibunyikan. Ditambahkannya, namun dikenal di kalangan Syi‘ah dan Ahli Sunnah, semua yang ada ini ber-tasbih kepada Allah.

Al-Qurthubi mengemukakan di dalam tafsirnya, terdapat perbedaan pendapat dalam memahami keumuman ayat ini, apakah di-takhshish atau tidak. Satu golongan ulama berpendapat, tidak di-takhshish dan tetap berlaku umum, yaitu semua makh­luk ciptaan Tuhan mengakui bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Tasbih di sini merupa­kan tasbihud-dalalah (تَسْبِيْح الدَّلاَلَة), bukan tasbihul-haqiqah (تَسْبِيْح الْحَقِيْقَة); namun, kita tidak dapat mendengar dan memahami tasbih mereka. Ada lagi yang berpendapat, meskipun kata asy-syay’ (الشَّيْء) di dalam ayat ini bersifat umum; namun, maksudnya adalah khusus, yaitu ter­tentu pada makhluk hidup dan manusia, tidak mencakup benda-benda mati. Ini dikuatkan dengan adanya ucapan ‘Ikr­imah bahwa pohon kayu ber-tasbih, sedangkan benda mati tidak.

Sayyid Quthb di dalam tafsirnya lebih menekankan hikmah yang bisa diambil oleh manusia dari tasbih yang dilakukan oleh burung dan makhluk-makhluk lainnya yang ada di langit dan dibumi. Bila makhluk lain tersebut selalu ber-tasbih kepada Allah, maka manusia lebih pantas lagi untuk melaku­kannya dan tidak sewajarnya mereka lalai.

Kata tasbih yang ada di dalam Alquran ternyata obyeknya selalu nama Allah, yaitu mereka ber-tasbih memuji Allah, sedangkan subyek atau yang melakukannya bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk lain, seperti malaikat, jin, gunung, burung, dan makhluk-makhluk lainnya. Setiap kata subhana (سُبْحَانَ) selalu dihubungkan dengan kata Allah, atau rabbi, rabbika dan al-ladzi. Umpamanya subhanallah (سُبْحَانَ اللهِ), subhana rabbika (سُبْحَانَ رَبِّكَ ), subhana rabbi (سُبْحَانَ رَبِّ), dan Subhana al-ladzi (سُبْحَانَ الَّذِيْ). (Hasan Zaini)

PUSAT STUDI AL-QUR'AN ~ http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=120

Apakah Maksud dari Bertasbihnya segala sesuatu di alam semesta?

Di dalam beberapa ayat Al-Qur’an disebutkan tasbih dan tahmîd (puja dan puji) seluruh makhluk semesta kepada Allah Swt. Barangkali yang paling gamblang dari ayat-ayat tersebut adalah firman Allah: “... dan tidak suatu pun melainkan bertasbih memuji kepada-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka ....” (QS. Al-Isra’ [17]: 44). Dalam ayat ini disebutkan bahwa seluruh makhluk alam memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.

Dalam penafsiran hakikat tasbih dan pujian ini, terdapat perbedaan pendapat yang tidak sedikit di antara para ulama, filsuf dan mufassir.

Sebagian mereka beranggapan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk adalah dengan bahasa wujud masing-masing. Dan sebagian yang lain berkeyakinan bahwa tasbih dan pujian mereka adalah bahasa lisan. Kesimpulan pendapat mereka yang dapat kita terima adalah di bawah ini:

a. Sebagian berkeyakinan bahwa seluruh partikel alam cipta ini, dari yang kita anggap berakal, atau tanpa ruh dan tidak berakal, memiliki satu jenis pengetahuan. Dan pada wujudnya masing-masing, mereka bertasbih dan memuji Allah Swt. Kendati demikian, kita tidak mampu memahami jenis pengetahuan mereka dan mendengarkan alunan tasbih dan pujian mereka. Ayat-ayat seperti, “... di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah ....” (QS.Al-Baqarah [2]: 74), dan, “... Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah Kamu berkedua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati dan taat kepada perintahMu.’” (QS.Fushshilat [33]: 11) atau ayat-ayat senada yang dapat dijadikan sebagai bukti atas akidah ini.

b. Mayoritas mufassirin (pakar dalam bidang tafsir) meyakini bahwa tasbih dan pujian adalah sesuatu yang kita kenal sebagai bahasa wujud, bermakbna hakiki, bukan figuratif; dalam bahasa wujud, bukan bahasa lisan. (Perhatikan baik-baik!).


Penjelasan

Ketika kita melihat seseorang sedang bersedih dan tampak kurang tidur, kita dapat mengatakan kepadanya, “Meskipun engkau tidak menceritakan kesedihanmu, matamu menunjukkan bahwa engkau tidak tidur semalam suntuk, dan raut wajahmu memberikan kesaksian bahwa engkau sakit.”

Bahasa wujud ini kerap sedemikian kuat dan energiknya sehingga ia dapat membuat bahasa lisan berada di bawah kekuatannya dan ia tidak dapat didustakan. Seorang pujangga bersyair,

Kuberkata dengan tipu dan kecoh, kututupi rahasia diri,
Tak tertutup darah berlalu dari pandanganku.

Untaian syair ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. dalam ucapannya yang terkenal, “Seseorang tidak dapat menyembunyikan rahasia hatinya kecuali akan tersingkap dari kata-kata yang tersirat dan raut wajahnya.”[1]

Dari sisi lain, apakah seseorang dapat mengingkari sebuah papan yang amat indah sebagai tanda nilai seni yang tinggi (artistik) yang menjadi saksi atas kepandaian dan talenta seorang pelukis, lalu memuji dan memujanya? Apakah ia dapat mengingkari diwân (kumpulan bait) syair para pujangga besar dan ternama yang mengisahkan disposisi fitrah tinggi mereka, lalu senantiasa memujinya? Apakah dapat diingkari bahwa gedung-gedung tinggi dan pabrik-pabrik besar serta otak-otak rumit elektronika dan semisalnya adalah ungkapan lisan; tanpa wicara dari seorang pencipta dan perancangnya? tidakkah masing-masing sesuai dengan batas profesi dan karya mereka, pasti akan dipuji oleh orang-orang yang menyaksikannya?

Oleh karena itu, harus diterima bahwa keajaiban alam wujud dengan sistemnya yang menakjubkan, dengan rahasia dan misteri, dengan keagungan yang membawa kebaikan, dan dengan pekerjaan-pekerjaan sempurnanya akan sekalu bertasbih dan memuja Allah swt.

Bukankah tasbih tidak lain adalah penyucian dan pengudusan sesuatu dari segala aib dan noda? Bangunan dan sistem alam semesta yang dibuat oleh Penciptanya ini terbebas dari segala aib dan noda.

Bukankah pujian tidak lain adalah penjelasan atas kesempurnaan? Sistem penciptaan menyingkapkan kesempurnaan Tuhan; sistem yang bersumber dari ilmu dan kemahakuasaan-Nya yang Nir-batas, dari hikmah-Nya yang serba luas dan meliput.

Inilah makna tasbih dan pujian seluruh makhluk alam semesta secara umum, yang secara sempurna dapat kita pahami, dan tanpa kita perlu percaya bahwa seluruh atom-atom alam ini memiliki pengetahuan, lantaran kita tidak memiliki dalil pasti atas hal ini. Dan ayat-ayat yang disitir di atas juga memberikan kemungkinan besar bahwa yang dimaksudkan adalah bahasa wujud.

Akan tetapi, di sini masih tersisa pertanyaan. Yaitu, sekiranya maksud dari tasbih dan pujian itu hanyalah mengisahkan sistem penciptaan yang bersumber dari kesucian, keagungan dan kemahakuasaan Tuhan Yang Mahakuasa, dan menjelaskan sifat Salbiyah dan Tsubutiyah Allah Swt., lalu mengapa Al-Qur’an menyatakan bahwa Kamu tidak memahami tasbih dan pujian mereka? Kalau benar bahwa sebagian orang (awam) tidak memahaminya, setidaknya ulama dapat memahami ihwal tersebut!

Ada tiga jawaban atas pertanyaan ini:

Pertama, mayoritas manusia, khususnya musyrikin tidak mengerti, sementara para ulama tergolong minoritas. Maka, mereka masuk ke dalam pengecualian, karena pada hal yang bersifat umum terdapat pengecualian.

Kedua, apa yang kita ketahui tentang rahasia semesta dibandingkan dengan apa yang tidak kita ketahui ibarat setetes air di samudra dan sebiji atom di gunung raksasa. Sejenak saja benar-benar merenungkannya, kita tidak dapat melekatkan nama ilmu atau pengetahuan atasnya.

Hingga titik aku mengetahui ilmuku,
Kini aku tahu bahwa aku tidak tahu.

Oleh karena itu, sejatinya kita tidak dapat mendengarkan tasbih dan pujian wujud-wujud ini, betapapun kita adalah seorang ulama. Karena apa yang kita dengarkan hanyalah sebuah kalimat dari sebuah buku besar. Maka dari itu, dapat diasumsikan melalui sebuah hukum umum atas seluruh makhluk, bahwa Kamu tidak mampu mengetahui tasbih dan pujian seluruh makhluk yang memiliki bahasa wujud ini. Karena apa yang kita ketahui bukanlah sesuatu sehingga dapat diperhitungkan.

c. Sebagian mufassir juga memberikan kemungkinan bahwa tasbih dan pujian seluruh makhluk secara umum di sini merupakan sintesa dari bahasa wujud dan bahasa lisan. Dengan kata lain, tasbih takwînî dan tasbih tasyrî'î. Kerena, kebanyakan manusia dan seluruh malaikat -berdasarkan pengetahuan- memuji dan memuja-Nya dan seluruh partikel alam semesta juga dengan bahasa wujud memuja kebesaran dan keagungan-Nya.

Meski dua jenis pujian dan tasbih berbeda satu dengan yang lainnya, namun secara umum makna tasbih dan pujian dalam arti luas adalah sinonim.

Meski begitu, tampaknya tafsir yang kedua dengan elaborasi yang kami uraikan di atas lebih melegakan hati dibandingkan yang lain.[2]


[1] Nahjul Balâghah, Hikmah-hikmah Pendek, No. 26)
[2] Tafsir Nemûneh, jilid 12, hal. 134.
BY. www.telagahikmah.org/kalam/110/20.htm