ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 12 Februari 2011

Reiki Dalam Pandangan Ulama

Oleh : Ustadz Toto Yati Iskandar
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikam Lembang,
Ketua Majelis Ulama Indonesia Cisarua Lembang

Alam semesta beserta seluruh misteri di dalamnya adalah simbol kemaha adaan Allah Sang Khaliq Yang Maha Ada, Maha Pencipta yaitu Tuhan kita Allah SWT, semakin direnung dan difikirkan maka akan semakin terasa kebesaran Allah serta menjadi pelajaran yang sangat berharga, Allah berfirman dalam surat Albaqoroh: 164

Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, peredaran malam dan siang, kapal yang berlayar dilautan membawa barang-barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan Allah dari langit yang dengannya (dengan air hujan tersebut) dihidupkanNya dengannya bumi yang telah mati dan berkeliaran atasnya tiap-tiap yang melata , angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi, Sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat / simbol-simbol/ tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Manusia adalah sebuah alam dari seluruh alam ciptaanNya.hanya kepada manusialah Allah menyerahkan seluruh alam semesta ciptaanNya untuk diolah, dimanfaatkan karena manusia adalah makhluk yang termulia di muka bumi ini.

Sebagai makhluk termulia dan sebagai pengemban amanat Ilahi di atas alam ini, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan manusia beserta seluruh persoalannya,.Dari kemuliaannya menghadapi persoalan yang harus diselesaikan, banyak sekali nilai hidup yang suit diucapkan dengan (simbol berupa) kata-kata,banyak aktifitas hidup dan kehidupan yang sulit dinyatakan dengan indera kita, tetapi mudah dilukiskan dalam bentuk simbol.

“Manusia adalah makhluk yang bersimbol, makhluk yang pandai menggunaaakan simbol untuk menyatakan perasaannya.” ( Depag : Hkmah Ibadah Haji : Halaman 6)

Sebagai contoh : negara-negara di dunia ini mempunyai bendara, lambang negara dst, bila ada yang mengatakan bahwa simbol-simbol termasuk bendera adalah musyrik, maka izinkan saya bertanya, adakah benda yang musyrik? Syirik adalah sifat yang melekat pada seseorang, musyrik adalah subjeknya, dan yang bisa musyrik itu manusianya, bukan benda, bahkan Ka`bah bagi umat Islam merupakan simbol persatuan dan kesatuan , Huruf hijaiyah merupakan hasil budi daya manusia (ciptaan manusia) dan bila dituliskan Alif lam Lam Ha menjadi nama yang sangat berarti bagi kaum muslimin di seluruh dunia , semuanya merupakan simbol, apakah ini musyrik ?

Selain itu, dalam ajaran tasawwuf ada tatacara tawajjuh dengan wuquf qolbi, kesemuanya merupakan riyaddloh atau ajang pelatihan hati menuju kejernihan hati, dan kesemuanya menggunakan meditasi, simbol, dan visualisasi, untuk lebih jelasnya kami akan kutip buku Ilmu Ketuhanan karya KH.Haderamie HN, hal 89-94 :

“ Siapa yang menghadapkan (tawajjuh) ( fokus/konsentrasi) pada dirinya sendiri niscaya akan terbuka baginya apa yang ada pada Hidrat keTuhanan dari segala rahasia.Maka ia akan sampai kepada ma`rifat Tuhannya dengan ma`rifat Syuhudi (penyaksian akan keagungan Ilahi / seperti saat Musa pingsan melihat “cahaya “Alah) karena pada hekekatnya ruh – kemanusiaan adalah cermin bagi Hidrat keTuhanan itu yang padanya terdapat quwwatul aqliyyah (kekuatan fikiran murni) yang merupakan Jauhar Ilahi……..dst

Cara melaksanakan Wukuf Qolbi : Seorang Salik harus kosongkan dahulu semua pemikiran-pemikiran kemudian melemaskan seluruh kekuatannya dan pengindraannya dari semua alat pengindraan .Lalu melepaskan nafsunya untuk menggerakan organ tubuh.Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran istighroq (tenggelam) istihlak (sirna) secara terus menerus, maka kita tawajjuhnya meningkat kepada hakekat hati itu, bertambah pulalah ma`rifat kepada Tuhan Yang Maha Suci.

Cara yang lain tentang wukuf Qolbu: seorang salik bertawajjuh (mengarahkan pandangan mata hatinya ) pada daerah hati (menyadari keberadaan hati.pen),setelah ia mengosongkan segala macam kesibukan, keruwetan, lalu memeandang/ mengamati tubuhnya, dari daerah hati, bayangkan cahaya seperti bola, dan selanjutnya dia khaaayalkan ruhnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi……………..dst

…………..Seseorang salik berhadap kepada hatinya sendiri kemudian tergambar ruhnya pada hatinya berupa cahaya putih, bersih cemerlang tiada terhingga , tergambar pula pada hakekat ruhnya berupa cahaya (sampai)kepada rupa alam seperti burung diudara, ………..”

Dari kutipan di atas difahami bahwa seorang sufi untuk musyahadah (penyaksian) diawal dengan kaifiyah(tata cara) latihan musyahadah yaitu : pertama mengosongkan keinginan/fikiran/ pengindraan, kemudian konsentrasi, berikutnya membuat gambaran (visualisasi) sebuah atau beberapa simbol (cahaya, bola putih, burung, dst), kemudian dia pasrah/ membiarkan dari akibat kaifiyah tersebut.

Pengertian REIKI menurut buku panduan Reiki Kriya Semesta adalah terdiri dari dua kata : Rei yang artinya alam semesta, dan Ki yang artinya Energi, Jadi Reiki adalah sebuah ilmu untuk mengakses energi alam semesta menjadi sebuah alat yang terkontrol dan terkoordinir melalui beberapa tanda /simbol sebagai penghubung dengan beberapa karakter tenaga alam semesta untuk mencapai tujuan yang bermaslahat bagi ummat manusia .

Reiki ditemukan bukan oleh seorang muslim, tetapi karena Reiki merupakan ilmu ( lahir dari teori kemudian eksperimen-eksperiense, pelatihan,dst) , maka kedudukan Reiki bersifat Netral, tergantung siapa yang menggunakan.

Dalam hal ini sebuah Hadis menyatakan ,” Diriwayatkan dari Auf bin Malik Al Anshory ra. “Kami biasa menggunakan mantera (ruqyah) pada masa jahiliyah, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu tentang mantera?” beliau menjawab,” Peragakan kepadaku manteramu itu!”kemudian beliau menjawab,” Mantera tidak ada salahnya selagi tidak mengandung syirik!” (H.R.Muslim hadist nomor 2063)

Kemudian hadist lainnya, dari Jabir r.a. katanya ,” Ya Rasulullah, keluarga kami mempunyai mantera untuk gigitan kalajengking tetapi (kami mendengar) anda melarang mantera, bagaimana itu ?” Lalu mereka memperagakan mantera mereka dihadapan Rasulullah.Sabda beliau,” Tidak ada jeleknya, siapa yang sanggup diantara kalian memanfaatkan mantera untuk menolong saudaranya, hendaklah dimanfaatkan.” “ (H.R. Muslim, hadist nomor 2062)

Hadist senada Diriwatakan oleh Jabir bin Abdulah r.a. katanya,” Rasululah membolehkan keluarga Hazm memanterai bekas gigitan ular.” Dan beliau bertanya kepada Asma` binti Umais,” kelihatannya tubuh anak saudaraku ini kurus kering.Apakah mereka kurang makan?” Jawab Asma`,” Tidak ! mereka terkena penyakit pengaruh pandangan mata” Sabda nabi padaku,” Manterailah mereka!” Lalu kuminta agar nabilah yang memanterai mereka, tetapi beliau mengatakan,” manterailah mereka oleh kalian!” (H.R.Muslim, Hadist nomor 2060)

Hadist lainnya, dari Aisyah r.a. katanya,” Apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah s.a.w seperti bisul, kudis atau luka maka nabi berucap sambil menggerakan anak jarinya seperti ini- sufyan meletakan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- sambil membaca ,’ Dengan nama
Allah tanah bumi kami, dengan sebagian air ludah kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Allah.” ( H.R.Muslim , Hadist nomor ; 2056)

Hadist senada diriwayatkan dari Aisyah bahwa Nabi pernah memantrai orang sakit dengan debu, tanah, dan air ludah ( H.R Bukhari Hadist nomr 1922, )

Jadi, alam semesta merupakan anugrah dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT, semuanya untuk kemasahatan umat manusia bagi Ulul Albab/ Ahlil Fikri, dan bukankah manusia itu sendiri bagian kecil dari alam semesta, yang kesemuanya itu merupakan ayat-ayat Allah (simbol-simbol) yang hanya dapat di”baca” dan dimengerti oeh kaum yang berfkir, lalu mengapa tidak kita sebagai kholifah fil ardli (penguasa alam semesta) mengadakan kontak/ hubungan dengan alam semesta dalam rangka ibadah kepada Allah?Bukankah Allah memerintahkan kita untuk tadabur pada alam kemudian akhirnya tasyakur ?

Perhatikan firman Allah dalam Alqur`an Surat al anfal ayat 17:
Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar tetapi sesungguhnya Allahlah yang melempar………………………………”

Dari ayat tersebut nampaklah bahwa perbuatan manusia hanyalah mazzhar (objek perbuatan) Allah, yang pada hakekatnya mazzhar itu hanyalah bayangan semata-mata.
Berkenaan dengan ayat tersebutTafsir Ibnu Kasir dan dapat pula dilihat dalam kitab Asbabun Nuzul Imam Suyuthi ,” Ibnu Abbas berkata bahwa ketika perang badar, Rasulullah berdoa ,” Ya Tuhan, jika Engkau binasakan rombongan ini, maka tidak akan disembah lagi Engkau di muka bumi ini untuk selama-lamanya, “ Kemudian Jibril berkata ,” Ambilah segenggam tanah dan lemparkanlah pada mereka!” Maka Nabi mengambil segenggam tanah dan melemparkannnya,”

Itulah hadist yang menjadi Asbabunnuzul turunnya Surat Al Anfal ayat 17, sehingga menjadi pedoman bagi kita bahwa semua yang ada di alam semesta bisa dijadikan media untuk mencapai tujuan yang diharapkan, dan sudah tentu semua itu bagi orang yang bertauhid tidak menjadi syirik.

Ditulis di Cisarua Lembang,2007
http://kriyasemestafoundation.blogspot.com