ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 14 Februari 2011

Reiki dan Islam

Berubahnya pola makanan, pola hidup dan kehidupan menyebabkan manusia merasakan sakit yang berkepanjangan. Mulai dari penyakit yang sangat ringan sampai penyakit yang berat. Jika manusia sakit tentu ia akan mendatangi dokter untuk berobat dan menyembuhkan penyakitnya. Ada yang bisa disembuhkan melalui medis tapi tak jarang juga tidak kunjung sembuh. Berbagai upaya dilakukan agar penyakitnya segera hilang dan sembuh total.

Sementara Allah berjanji dalam firmannya, "Apabila kamu sakit, AKU akan sembuhkan". Bagi yang tidak sembuh penyakitnya mencoba mendatangi pengobat alternatif yang dianggap mampu menyembuhkan penyakitnya. REIKI adalah salah satu penyembuhan penyakit yang saat ini semakin diminati generasi tua dan muda dalam upaya mencari kesembuhan. Penyembuhan melalui Reiki tidak memerlukan banyak biaya. Namun bagaimana sebenarnya Reiki dilihat dari Hukum Islam? Apakah dibolehkan berobat dengan Reiki atau tidak?

Pertanyaan itu sering muncul di kalangan umat Islam untuk berobat melalui Reiki. Sebelum menjawab pertanyaan itu digambarkan lebih dulu apa itu Reiki. Reiki berasal dari bahasa Jepang yang artinya REI adalah alam semesta, sedangkan KI berarti energi. Karenanya REIKI adalah energi alam semesta dan jika dikatakan berobat dengan Reiki berarti memasukkan enegi alam semesta ke dalam diri sendiri dan orang lain. Lantas siapa yang berperan memasukkan energi alam semesta itu ke pasien? Jawabannya adalah Praktisi Reiki.

Energi ini sangat efektif untuk penyembuhan karena dapat langsung mencapai sasaran tanpa harus melalui benda-benda atau bagian tubuh lainnya, baik jarakdekat atau jarak jauh. Energi ini juga tidak bisa dihalangi perjalanannya ketempat organ tubuh manusia yang sakit. Tetapi Reiki tidak dapat digunakan perlindungan diri dari serangan phisik orang lain. Hanya dengan membuat bola energi simbol Cho Ku Rai saja perisai diri bagi seseorang yang perlu perlindungan dapat dibuat agar niat, pikiran, kehendak jahat seseorang dapat ditangkal dan diredam.

Setiap makluk hidup membutuhkan energi. Pada manusia energi masuk dan keluar melalui gerbang energi yang disebut chakra. Selain itu juga ada jalur yang menghubungkan chakra-chakra tersebut sehingga terjadi sirkulasi energi. Energi negative (penyakit) didorong keluar tubuh keluar melalui chakra telapak kaki kanan atau kiri masuk ke bumi dan energi positif masuk tubuh pasien sebagai penyembuh penyakitnya.

Jalur energi ini bukan berbentuk fisik namun berada dalam tubuh manusia, yakni disekeliling jalur syaraf dan pembuluh darah. Sedangkan jalur energi terbesar didaerah sumsum tulang belakang. Jalur ini dalam Reiki disebut jalur Shusumna. Chakra merupakan pusat energi kehidupan yang berarti roda putaran. Dalam Reiki dikenal 7 chakra utama, di samping ada chakra mayor dan minor. Chakra berasal dari Tibet (bahasa Shansekerta) yang membagi chakra menjadi 9 chakra terdiri atas 7 chakra utama, kedelapan adalah ruh dan kesembilan jiwa.

Tujuh chakra yang dimaksud adalah chakra dasar, sex, solar pleksus, jantung, tenggorokan dan mahkota. Reiki mengalir masuk melalui chakra mahkota dan terus merambat ke chakra lainnya yang aktif dan terus aktif melalui meditasi (muasabah). Dari penjelasan ini kelihatannya pendekatan Reiki lebih dekat kepada ilmu tasawuf di dalam Islam, bukan pendekatan fiqih (hukum Islam). Ilmu tasawuf pada dasarnya bagaimana mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah sedekat mungkin, sehingga tidak ada penghalang antara hamba dengan Allah. Karenanya energi hamba seluruhnya tercurah kepada Allah.

Pendekatan kepada Tuhan inilah yang dicoba oleh seorang Sufi. Karenanya dari segi agama, Reiki dalam istilah alam semesta yang ditarik masuk dan keluar tubuh manusia dapat diterima. Penyembuhan dengan Reiki adalah penemuan baru yang tidak ada salahnya dicoba. Tuhan menciptakan obat-obatan dari alam dan tinggal manusia mencarinya. Bila sudah ketemu tinggal mengolahnya dan mendayagunakan penemuannya ini untuk kesejahteraan umat manusia.

Untuk mengaktifkan chakra agar selalu bersih aktif dapat ditempuh cara muasabah (meditasi). Pertama mencari tempat yang jauh dari manusia lainnya. Artinya seseorang harus berada dalam kesendirian yang tidak bisa diganggu orang lain atau alam sekitar. Lalu kedua seseorang menghilangkan semua hasrat, nafsu, keinginan dan harapan. Ketiga memusatkan konsentrasi ke pusat chakra mahkota sebagai gerbang pengendali spiritual manusia. Disebut energi alam semesta atau energi Ilahi karena masuk ke tubuh manusia melalui Chakra Mahkota.

Seiring berjalannya energi dari Chakra Mahkota lalu energi digerakkan menuju Chakra Ajna, Tenggorokan, Jantung, Solar Flexus, Sex dan terakhir Chakra Dasar. Jika proses memindahkan energi dari chakra satu ke chakra lainnya dilalui dengan baik, seseorang ini telah mampu menyalurkan energi ke tubuhnya melalui meditasi. Sensasi yang diterima orang ini adalah timbulnya getaran energi yang merambat menimbulkan rasa hangat, panas dan dingin bahkan sejuk di sekujur tubuhnya.

Meditasi dalam tasawuf sebenarnya sama dengan meditasi dalam Reiki. Meditasi dalam tasawuf bertujuan mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin dengan mengerahkan energi ke arah sifat sabar, tawakal, zahid dan taubat. Khusus dalam mencapai tingkatan zahid seseorang bermeditasi bertahun-tahun, persis seperti yang dilakukan Mikao Usui ketika bermeditasi dalam Reiki, yang memakan waktu 5 tahun hanya untuk mengaktifkan chakra-chakra dalam dirinya. Setelah belajar Sutra di Tibet dan kembali ke Jepang Mikao Usui menuju Gunung Kuri untuk menyempurnakan meditasi dan puasa selama 21 hari. Di hari ke-21 inilah Mikao Usui mendapatkan attunement yang memungkinkan dirinya mampu mengakses energi alam semesta untuk penyembuhan penyakit manusia.

Dilihat dari tata cara bacaan yang dilakukan saat mulai menggunakan Reiki tentunya disesuaikan dengan keyakinan praktisi Reiki itu sendiri. Jika ia muslim maka tata cara dan bacaan disesuaikan dengan ajaran Islam, misalkan berdzikir, berdoa, minta ampun kepada Allah. Demikian pula agama lain menurut keyakinan dan iman masing-masing praktisinya. Sekalipun Reiki pertama kali datangnya dari Tibet namun istilah yang digunakan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ulama juga mengatakan, "Tidak ada masalah dengan perbedaan istilah asal tidak substansialnya yang berbeda."

Rasulullah SAW menyatakan, " Tuntutlah ilmu itu walaupun ke negeri China." ini artinya yang sifatnya ilmu dari manapun datangnya boleh diambil asalkan itu baik bagi umat manusia. Adapun jika terdapat menyalahi syariat Islam maka harus dihindarkan oleh setiap muslim sehingga masalah aqidah tidak terganggu. Diharapkan Reiki sebagai salah satu alternatif penyembuhan penyakit dapat berjalan dengan baik berjalan sejajar dengan medis kedokteran juga metode penyembuhan lainnya misalnya Prana, Chikung, Akupresuer dan Akupuntur.

Untuk menambah wawasan tentang Reiki Anda dapat membaca buku Hidup Sehat dengan Reiki dan Energi-Energi Non Reiki karya Prof.Dr.Sutan Remy Sjahdeini, S.H juga buku Mukjizat Tasawuf Reiki karya Syamsul Bakri. Bagaimana pendapat Anda tentang Reiki? Silahkan berikan komentar artikel ini, terima kasih.

Oleh : Prof. Dr. H. Nasrun Haroen, M.A. Ketua Majelis Ulama Indonesia propinsi Sumatera Barat dan Guru Besar IAIN Padang, Agustus 2003.
(Referensi Buku : Meraih Sukses dg Pencerahan Diri Oleh Tjiptadinata Effendi)