ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 04 Februari 2011

SEFT sebagai Model Terapi

 
Spritual Emotional Freedom Technique (SEFT) adalah salah satu dari banyak metode yang berkembang untuk membantu klien untuk mengatasi masalah mereka. Teknik semacam ini memiliki keunikan dalam, dasar terminologi filosofis, serta tahapan diambil dalam aplikasi. Meskipun perbedaan tersebut, SEFT dikembangkan sesuai dengan sifat manusia. Hal ini dirancang untuk memenuhi sisi spiritual yang melekat pada setiap orang.

Pendahuluan
Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari masalah yang selalu terjadi dalam berbagai aspek pribadi, sosial, belajar dan karier. Disisi lain, keinginan untuk bebas dari keterikatan masalah merupakan usaha berbagai pihak dan pengembangan metode maupun peningkatan pemikiran dan keyakinan. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi terbaik dan memberikan berbagai pilihan alternatif dalam hal mengatasi tekanan psikologis, sosiologis, maupun ekologis yang mengganggu kebahagiaan hidup manusia.

Kebahagiaan, ketentraman, dan kesehatan adalah tujuan yang ingin dicapai oleh aliran-aliran dalam bimbingan dan konseling, tidak ketinggalan aliran psikoterapi lainnya. Dari serangkaian aliran-aliran yang senada muncul metode orisinil dan praktis yang dapat dipergunakan membantu binimbing mengatasi masalah yang dialami, seperti halnya hipnosis, zen terapi dan meditasi (Mulyo, 1996). Di dalam prosesi bimbingan yang sedang berlangsung pembimbing membantu binimbing menentukan pilihan, menemukan solusi, menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dapat merencanakan masa depan, dan menjadi manusia mandiri. Lebih jauh dalam proses bimbingan binimbing akan menambahkan nilai-nilai kehidupan yang berkualitas dalam dirinya sendiri, serta dapat membantu orang lain yang membutuhkan.

Lahirnya diversifikasi metode bantuan untuk menjadikan manusia unggul dan sehat, diakui memang memiliki keunikan satu dan lainnya. Tetapi dalam pengamatan yang seksama tampak adanya uniformitas pada bagian-bagian tertentu, misalnya gejala-gejala yang dialami klien setelah menerima layanan. Adapun beberapa hal membedakan diantaranya yaitu sebutan nama, nama pembimbing, pemberian kode, perlakuan, durasi, peran pembimbing maupun instruksi yang diberikan oleh seorang instruktur.

Perbedaan maupun kesamaan itu keduanya merupakan wawasan dan pengetahuan untuk mengentaskan binimbing dari kesulitan. Pada keduanya pula tidak perlu dipertentangkan, tetapi menjadi lebih baik jika diketemukan benang merahnya demi kesejahteraan hidup manusia.

Selintas Bimbingan Dan Konseling
Conny Semiawan (2005) menyampaikan bahwa apa yang dimaksud bimbingan dan konseling itu adalah suatu helping, profesion. Pengertian intinya adalah suatu yang bersifat menolong maupun membantu orang lain. Bantuan yang diberikan dapat dalam bentuk bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan yang dibentuk individual. Misalnya, layanan terapi masal dengan melibatkan banyak members untuk mencapai kebugaran, kesembuhan, dan kesehatan.Sedang yang bersifat individual, bantuak diberikan via face to face dalam suatu wawancara atau diskusi dalam layanan konseling (Munawir, 1989)

Konseling sebagai layanan bantuan kemanusiaan memiliki beberapa tokoh yang masing-masing memberikan kontribusi dalam landasan menurut pandangan setiap pencetus. Sigmund Freud tokoh konseling psikoanalisa mendefinisikan manusia dari aspek instinknya untuk memperoleh kepuasan yang disebut principle of pleasure. Artinya seseorang beraktivitas semata-mata demi mengejar keenakan bagi dirinya. Akibat dari dorongan seperti ini bimbingan yang mengalam gangguan psikologis dibantu memimpi. Sebagai aliran utama, selanjutnya memberikan inspirasi berikutnya.

Seperti konseling rational emotif, pencetusya Albert Ellis menggambarkan bahwa manusia itu dapat dipandang dari cara berpikir yang rasional maupun irrasional di dalam merespon suatu obyek di luar dirinya. Individu yang mengalami gangguan adalah yang memikirkan sesuatu hal yang keyakinannya tidak mantap dan menempatkan keyakinan itu pada sisi di luar kewajaran. Menurut Ellis terapi terhadap manusia berkeyakinan irrasional menjadi rasional. Tidak berbeda dengan terapi diagnetik yang memandang individu bermasalah itu dari pikiran kreatif yang beroperasi di bawah kesadaran akibat dari pangalaman traumatis yang dialami. L. Ron Hubb Ard juga menginformasikan bahwa kekuatan pikiran reaktif mampu untuk menggeser pikiran analitik. Perlakuan terhadap orang yang mengalami gangguan dilakukan dengan cara membawa klien ke alam masa lalu, mengingat peristiwa traumatis kemudian diganti dengan pengalaman menyenangkan di masa kini. Hal ini mirip dengan metode asosiasi bebas.

Konseling dalam praktiknya terdiri dari tiga bagian, yaitu
Pertama bagian awal yang berisi pembukaan, perkenalan, serta pertanyaan-pertanyaan ringan, sapaan yang bernuansa pendekatan antara pembimbing dan binimbing. Dalam fase awal ini pembimbing memperhatikan apa saja yang tampak dari perilaku klien, baik dalam bentuk bahasa maupun gerak pikir sebagai bahasa isyarat yang harus dipahami. Pembimbing juga melihat seperti apa keadaan kontak mata pada binimbing, seperti apa pula perasaannya, dan bagaimana ia berkata-kata. Semua ini dalam penjelasan Darsana (2005) disebut sebagai teknologi konseling.

Kedua, merupakan prosesi lanjutan, dalam tahap tengah pembingbing membantu binimbing untuk memahami masalahnya secara jelas juga memberikan pilihan sesuai dengan kemampuan klien mendorong untuk dapat membuat keputusan, mencari cara dalam pencarian masalahnya, dan memberikan semangat bahwa ia dapat berbuat baik bagi dirinya sendiri. Ada pula pendapat yang mengatakan pada tahap tengah inilah klien maupun orang dibantu sedapat mungkin segera menyadari perilaku apa saja yang telah diperbuat sehingga menimbulkan dampak bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Dalam keadaan tidak dapat melakukan sesuatu hal, konselor dapat memberikan terapi maupun bantuan yang sejenis agar binimbing dapat mengenang kejadian-kejadian masa lalu. Kegiatan seperti ini sering pula disebut dengan eksplorasi diri.

Ketiga, adalah tahapan akhir yang menggambarkan keadaan diri binimbing, apakah terentaskan dari kesulitan yang dihadapi atau tidak. Praktisi maupun para pembimbing menyebut sebagai tahap evaluasi dari layanan yang diberikan. Penilaian dalam bimbingan dan konseling dilakukan secara komprehensif dan diarahkan kepada evalu asi dan proses hasil. Evaluasi dalam proses adalah memonitor jalannya selama proses bantuan berlangsung, adakah hambatannya, apakah binimbing dapat mengikuti proses, dan respon-respon apa saja yang yang tampak dalam proses. Evaluasi hasil adalah melihat hasil yang diperoleh binimbing, adakah dirinya merasakan perubahan setelah menerima terapi konseling. Hasil lainnya pada klien yaitu dapat membuat keputusan bagi dirinya sendiri maupun ia dapat membuat pilihan yang tepat. Di sisi lain terdapat pula hasil negatif yang muncul berupa kepasifan pada diri binimbing. Pada waktu bersamaan pembimbing juga mendapatkan hasil dari apa yang telah dikerjakan sebagai refleksi diri. Tidak hanya dalam kawasan bimbingan konseling, pada bantuan alternatif metode lainnya hasil akhir ini juga diungkap melalui pernyataan orang yang dibantu. Misalnya, “Saya merasa menjadi lebih baik”, “Rasa pusing yang saya alami sudah berkurang”, “Apa Anda sudah dapat menentukan pasangan hidup?”. Dengan melihat hasil akhir praktisi dalam layanan terapi maupun bimbingan juga akan menentukan apakah bantuan dilanjutkan dengan cara lainnya atau akan mengikutsertakan binimbing dalam kegiatan terapi berikutnya.

Hakikat Manusia Versi SEFT
Banyak praktisi dan peserta pelatihan mempertanyakan apakah spiritual emotional freedom technique (SEFT) itu dapat dipertimbangkan sebagai salah satu model terapi dalam konseling atau tidak. Jawaban polemik ini tentu saja tidak segera dapat disepakati, sebab memerlukan pengkajian secara seksama. Dalam forum pelatihan para pemula dikatakan bahwa metode SEFT adalah suatu jalan pintas yang dapat dengan mudah dilakukan oleh SEFT-ER pemula untuk membantu orang lain. Dikatakan pula bahwa hasil terapi ini akan sejajar dengan hasil konseling jika diterapkan dengan konsentrasi. Demikian pula terapi yang disajikan dalam workshop APECA (Assosiation Psycholigycal and Educational Conselor of Asia) di Universitas Satya Wacana Salatiga pada tahun 1992 telah menunjukkan penggunaan contoh terapi dari berbagi aliran untuk membantu klien. Salah satu penyaji makalah dalam kongres dan konvensi ABKIN ke-10 tahun 2005 juga menyampaikan terapi dianetik untuk kasus-kasus gejala gangguan psikologis yang serupa untuk membawa manusia ke alam Clear.

Dalam karangan penggagas SEFT memang tidak tampak bahasan khusus yang berkenaan dengan hakikat manusia. Tetapi bilamana dicermati dengan seksama terungkap bahwa manusia itu dipandang sebagai makhluk spiritual yang mempunyai pengalaman duniawi, dan bukan makhluk duniawi yang mempunyai pengalaman spiritual (Faiz, 2006). Manusia sebagai makhluk spiritual cenderung sebagai makhluk sang maha pencipta. Jika perumusan berorientasi terhadap Islam, maka kebenaran tentang hakikat manusia menurut SEFT tidak lain adalah kajian manusia menurut wahyu ilahi, sumber yang dimaksud adalah firman Allah di dalam salah ayat yang menyebutkan bahwa manusia itu mempunyai potensi jiwa mengenai kebaikan dan keburukan (At-Tiin: 5,Ibrahim: 94).

Potensi kebaikan adalah kemampuan untuk bertindak berpikir secara positif, demikian pula dalam merasakan sesuatu. Manusia bertindak positif baik bagi dirinya maupun kepada orang lain, dalam lingkungan dimana ia tinggal. Dalam dunia konseling individu seperti ini dikatakan sebagai orang yang memiliki hasrat menjadi berfungsi penuh dalam kehidupannya (Rosyidan, 2000). Artinya, ia selalu berada di era keselarasan dan keseimbangan. Menurut pandangan filosofi SEFT adalah seseorang yang memiliki sistem energi tubuh dalam posisi stabil.

Potensi lainnya adalah potensi keburukan, kerusakan atau pikiran maupun keyakinan negatif (Faiz, 2006) yang berada di alam bawah sadar. Gejala psikologis ini kerap kali munculnya berupa ungkapan… “Saya tidak bisa mencapai impian saya”, “Saya tidak bicara di depan publik dengan percaya diri”, “Saya menyerah, saya tidak mampu melakukannya”. Freud tokoh psikologi dalam juga memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang mempunyai dorongan negatif yang cenderung pada perilaku merusak diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai makhluk spiritual, dikatakan pula bahwa manusia itu bebas memilih kesejahteraan dan kesengsaraan bagi dirinya sendiri (Al-Ahzab: 72; Al-Imran: 2-3). C. Regers sebagai tokoh konseling Client Centered Therapy menyampaikan bahwa manusia mempunyai hak penuh atas pembuatan keputusan bagi dirinya sendiri. Kedua statemen ini selaras sehingga dapat memberikan gambaran seperti apa hakikat manusia itu sebenarnya.

Tujuan SEFT
Seperti tujuan yang ingin dicapai oleh model-model terapi lainnya, tujuan terapi SEFT adalah untuk membantu orang lain baik individual maupun kelompok dalam mengurangi penderitaan psikis maupun fisik. Acuan yang dapat digunakan untuk melihat tujuan tersebut ada pada moto yang berbunyi “LOGOS” (Loving Good, Blessing to the others, and Self Improvement).

Ada tiga hal yang dapat diungkapkan dari moto tersebut:
pertama, seorang harus mencintai Tuhan. Dengan cara ini seseorang akan mengarahkan aktivitasnya untuk hal-hal yang baik dan tidak berlawanan dengan norma-norma yang sudah ditentukan. Ia akan mengutamakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Kedua, Blessing to the others, ungkapan ini ditujukan agar kita peduli pada orang lain, bila anda memiliki sisi keunggulan tularkan kepada orang lain. Sesungguhkan kelebihan itu semata-mata dari sang Maha Kuasa, maka wajiblah kita membagi berkah dengan sesama manusia.

Ketiga, Self Improvement, yang memiliki makna perbaiki diri sendiri mengingat adanya kelemahan dan kekurangan pada setiap pribadi. Sebab itu melalui refleksi seseorang akan mawas diri, bertindak hati-hati dan tidak ceroboh dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan seutuhnya SEFT tidak lain membawa manusia dalam kehidupan damai dan sejahtera.

Proses Yang Ditempuh
Dalam proses terapi yang berlangsung pembimbing yang biasa disebut SEFT-er memiliki peran sebagai instruktur, sedang sisi binimbing berperan sebagai orang yang mengikuti petunjuk yang diberikan. Proses perlakuan dibagi menjadi tiga tahapan seperti halnya dalam konseling, masing-masing sesi awal, tengah dan akhir.

Pada tahap awal, praktisi menyebut dengan sesi Set-Up. Dalam sisi ini instruktur memberikan atensi yaitu memperhatikan keadaan fisik, mimik dan keluhan yang dikeluhkan disertai dengan mengajukan beberapa pertanyaan ringan agar binimbing dapat menyampaikan keluhannya yang berhubungan dengan perasaan dan gangguan fisik yang dialami. Tahap awal ini memiliki kemiripan dengan sesi awal dalam konseling yang ditandai dengan adanya attending dan open question terhadap klien yang oleh Ivey (1988) disebut sebagai ketrampilan konseling. Bilamana dilakukan tanpa awalan berarti tidak ada pendekatan antara dua orang yaitu pembimbing dengan terbimbing. Selama proses terjadi diharapkan dapat dinetralisir gangguan psikis dalam bentuk pikiran maupun keyakinan negatif. Albert Ellis juga mengatakan bahwa pikiran atau believe irrasional itulah yang dinetralisir oleh konseling rational emotif. Ternyata sekarang dapat kita ketahui kemiripan antara model-model terapi, walaupun masih dijumpai pula sedikit perbedaan dalam beberapa hal. Pandangan Andy Mapiare (2000) menegaskan pendekatan multi bidang lebih efektif daripada pendekatan tunggal. Artinya jika mempunyai kemauan untuk membantu orang lain milikilah lebih dari satu metode saja.

Tahap kedua adalah proses tune-in pembimbing membawa kita memasuki alam masa lalu dengan mengingat-ingat segala peristiwa yang pernah terjadi yang menimbulkan gangguan. Seperti ini identik dengan salah satu prosedur dari terapi dianetik yang mengintruksikan pra Clear untuk menelusuri rangkaian kejadian masa lalu yang pernah dialami.

Demikian pula dengan terapi konseling psikoanalisis pada proses asosiasi bebas binimbing dibawah memasuki alam pikiran dan ingatan sebebas-bebasnya guna menenukan peristiwa yang mencekam para diri klien. Tahap ketiga, adalah proses Tapping, memasuki tahapan ini SEFT-er memberikan sentuhan pada bagian-bagian tubuh pada fokus titik-titik simpul saraf, untuk mengaktifer kembali saluran-saluran saraf yang terganggu. Dengan sentuhan maupun ketukan diharapkan sistem energi tubuh berfungsi normal sehingga tubuh bisa mencapai keseimbangan dan kesegaran. Alex Mackenzie (1992) juga mengutarakan bahwa pengaktifan tenaga misterius dalam tubuh untuk terapi telah dilakukan oleh beberapa aliran seperti Raja Kumala Toga, Subud, Bambu Kuning, dan Satria Nusantara . Dari hasil pengamatan terhadap treatment tersebut sebenarnya belum nampak jelas perbedaannya, tetapi yang dirasakan adalah kemiripan hasil terapi bagi orang-orang yang telah dibantu. Hasil yang serupa juga dapat diperoleh dari hipnosis, meditasi, zen, terapi maupun relaksasi. Oleh karena itu, melalui Tune-in dan metode yang lainnya diperoleh gejalagejala pada subyek yang muncul sebagai berikut.

Subyek yang baru pertama kali mengalami terapi wajahnya mengalami perubahan, kadang-kadang mengeluarkan air mata dan mengalami hal yang luar biasa. Terjadi perubahan pada sistem pembulu darah. Biasanya subyek merasa hangat, dapat bernapas lega, badan terasa agak ringan, terjadi pula penurunan emosi. Subyek dapat mengalami kegairahan motorik, dapat menggerak-gerakkan bagian yang lemah sampai gerakan yang optimal. Subyek dapat merespon lebih baik, memiliki motivasi dalam hidupnya. Subyek merasa mendapat kekuatan baru, mendapatkan kesegaran, dapat melakukan gerakan yang sebelumnya sulit dilakukan.

Kemungkinan masih ada lagi gejala psikis dan fisik yang lainnya masing-masing menurut pengalaman binimbing. Misalnya, dapat mengurangi kebiasaan buruk kemudian kembali pada gerak fisik yang wajar. Jadi apapun prosedur yang ditempuh semuanya bernilai positif dalam membantu orang lain.

Penutup
Upaya-upaya yang diciptakan oleh para penggagas dalam hal membantu orang lain adalah upaya untuk mengentaskan diri dari penderitaan. Meskipun sebutan, tahapan, dan perlakuan tampak berbeda, di sisi lain telah menunjukkan hasil yang positif dan bermanfaat bagi kesehatan manusia, di samping satu dengan yang lainnya saling melengkapi. Secara garis besar dapat dimengerti bahwa terapi konseling memiliki tiga aspek pokok masing-masing yaitu tujuan, metode, dan pandangan tentang apakah manusia itu sebenarnya. Demikian pula kajian terhadap terapi SEFT telah menunjukkan adanya identitas yang mendekati teori-teori bimbingan konseling lainnya.

by. Bambang Hidup Mulyo