ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 19 Maret 2011

Hati Dalam

Setelah beberapa tulisan terdahulu membahas Hati Luar yang bersemayam di jantung, di dalam dada, maka kini kita mulai membahas Hati Dalam. Yakni, hati yang bersemayam di OTAK. Jika Hati Luar disebut al Qur’an dengan istilah Qalb, maka Hati Dalam disebut dengan Fuad.

QS. As Sajdah (32): 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya sebagian Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan HATI (Fuad); sedikit sekali kamu bersyukur.

Perhatikanlah ayat di atas. Fuad (Af-idah – jamak) disetarakan dengan pendengaran dan penglihatan. Dan munculnya adalah seiring dengan peniupan Ruh. Karena memang, pendengaran dan penglihatan itu adalah sifat-sifat Allah yang ditularkan kepada manusia melalui Ruh. Bukan mata dan telinga sebagai benda, melainkan pendengaran dan penglihatan sebagai fungsi.

Ini berbeda dengan Qalb yang disetarakan dengan telinga dan mata, QS. 7:179. Pendengaran dan penglihatan terjadi di OTAK, sebagaimana telah kita bahas di Notes sebelumnya. Maka, fungsi pemahaman oleh Hati Dalam bukan berada di jantung melainkan berada di otak. Antara Qalb dan Fuad tidak bisa dipisahkan, karena sesungguhnya Qalb hanyalah kepanjangan tangan bagi Fuad.

Karena penglihatan tidak terjadi di mata melainkan di Otak, maka pusat pemahaman akan perasaan yang berdesir di jantung pun sebenarnya berada di otak. Yakni di sebuah daerah otak tengah yang dikenal sebagai Sistem Limbik. Dalam ilmu jiwa, sistem ini dikenal sebagai pusat Fungsi Luhur manusia. Disinilah pertarungan hal-hal yang rasional dan emosional terjadi.

Sistem Limbik tersusun dari beberapa bagian otak yang saling mempengaruhi. Diantaranya adalah bagian yang disebut Hipocampus, yang berfungsi sebagai pusat memori rasional. Yang kedua, adalah Amygdala yang menjadi pusat memori emosional alias perasaan universal manusia. Selebihnya, ada bagian lain yang bernama Thalamus, Gyrus Cingulata, Nucleus Basal, dan Prefrontal Cortex.

Empat bagian yang terakhir ini tidak kita bahas disini, karena akan menjadi sangat teknis dan melebar. Tetapi, jika Anda ingin memperoleh informasi lebih detil, silakan membaca buku serial ke-4 yang berjudul MENYELAM KE SAMUDERA JIWA & RUH. Dalam artikel yang sangat pendek ini, saya cuma ingin menunjukkan kepada Anda, bahwa Hati Dalam itu berpusat di Sistem Limbik, yang melibatkan fungsi perasaan emosional sekaligus pikiran rasional.

Sesungguhnya perasaan sedih, gembira, marah, benci, malas, sombong, rendah hati, sabar, dan lain sebagainya itu sudah tersimpan di dalam Amygdala sebagai sebuah memori universal. Karena itu, umat manusia di seluruh dunia memiliki rasa yang sama terhadap sifat-sifat tersebut.

Anda tidak perlu mengajari seorang anak tentang rasa gembira, misalnya, karena di dalam memori Amygdalanya sudah ada. Bahkan perasaan gembira bagi orang Indonesia adalah sama dengan orang Eropa, Amerika, Arab, Yahudi, China, dan sebagainya. Yang berbeda hanya pemicunya saja. Misalnya, lucunya lawakan Kartolo Cs dari Surabaya, belum tentu dianggap lucu oleh orang Eropa. Tetapi, perasaan lucu itu sendiri sama, yakni sesuatu yang mendorong seseorang ingin tertawa. Perasaan universal ini adalah program bawaan yang sudah ada di otak mereka. Pusatnya di Amygdala.

Maka, kita tidak perlu mengajari bangsa mana pun untuk tertawa ketika gembira dan menangis ketika bersedih, mereka pasti sudah bisa dengan sendirinya, karena sudah punya rasa itu di dalam otaknya. Tinggal kadarnya saja yang berbeda-beda. Aktif-tidaknya Amygdala hanya tinggal menunggu sinyal dari luar otak.

Sinyal itu berasal dari panca indera dan indera ke enamnya. Semuanya berupa sinyal-sinyal elektromagnetik, yang masuk ke tempurung kepala. Ada yang lewat saraf ada yang memapar secara radiasi. Tetapi, ujung-ujungnya akan dirujukkan ke Amygdala untuk memunculkan rasa, dan setelah diolah di Sistem Limbik, lantas di-feed-back ke seluruh badan lewat mekanisme sarafi, hormonal, dan radiatif. Rasa itulah yang lantas muncul di jantung sebagai desiran yang khas...! (Bersambung)

Wallahu a'lam bishshawab

~ salam ~

Oleh: Agus Mustofa