ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 25 Maret 2011

Kemerdekaan Spiritual

"Hai kaumku, ingatlah ni'mat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain". ( QS. Al Maidah 5:20 )

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." ( QS. Ar Ruum 30:30 )

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Q.S. 48 : 23)”

Definisi Merdeka Menurut Kajian Ulama
http://lomba.kompasiana.com/blog-kemerdekaan/2010/08/16/ketika-ulama-memaknai-kemerdekaan/

Makna kemerdekaan menurut kajian agama yang digagas para ulama senafas dengan semangat HAM, Pancasila dan Undang-undang Dasar.

Menelisik makna kemerdekaan versi ulama sangat menarik. Setidaknya ada empat kata yang senafas dengan makna kemerdekaan yang akan dibahas dalam artikel ini: Dua kata diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir berasal dari makna budaya. Dari keempatnya itu masuk dalam konsep Pancasila dan UUD 45 dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Pertama, Kemerdekaan adalah bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. Makna ini diambil dari kata “Itqun Minannar”. Kata ini diambiil dari hadits Nabi yang sering dikaitkan dengan keutamaan bulan ramadhan: “… awaluhu rahmah, wausatuhu maghfiroh, wa akhiruhu itqun minannar.” (…. puasa ramadhan itu awalnya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalha pembebasan dari api neraka).

Konteks dari kata tersebut adalah bahwa kemerdekaan itu bisa tercipta manakala bisa terbebas dari penindasan, ancaman, intimidasi dari pihak-pihak lain. Misalnya rakyat Indonesia dikatakan merdeka, manakala tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna hakikat “merdeka”. Jika masih ada ancaman, intimidasi penekanan pihak satu dengan pihak lain itu artinya belum merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, yang berarti terbebas dari siksaan.

Kedua, Kemerdekaan berarti menghilangkan kelas-kelas sosial dalam masyarakat, menciptakan tatanan masyaarakat yang sederajat. Memuliakan antara satu sama lain, kesetaraan, tidak ada kelas dalam masyarakat, masing-masing memiliki hak sebagai bangsa tanpa membedakan kultur dan kelasnya.

Makna itu terambil dari kata “Fatahriru Roqobah”. Kata ini cukup banyak terdapat dalam al Quran. misalnya dalam satu ayat pada Annisa: 92 saja ada tiga kata. Kata “tahrir” dan “khurriyah” dalam bahasa Arab artinya “merdeka”.

Makna “merdeka” yang diambil dari ungkapan al quran itu adalah: “asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih.” Artinya, memuliakan masyarakat satu dengan yang lain, itulah makna merdeka yang sesungguhnya. Merdeka berarti jika seseorang itu menjadi mulia, tidak ada kelas di dalam kehidupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul.

Lebih mudahnya, konteks di Indonesia sesuai dengan Pancasila dan UUD 45, setiap warga negara sederajat tidak ada ras, agama dan apapun yang merasa nomor satu atau nomor dua, tetapi masing-masing menghormati, memuliakan satu sama lain. Dalam tatanan dunia ada HAM yang juga senafas dengan ungkapan ini, bahwa setiap manusia sederajat. Bukankah juga dalam quran pun menyebutkan bahwa manusia di hadapan tuhan sama.

Dengan jelas al quran yang menyebutkan “Inna akromakum ‘indallahi atqoqum.” Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jika masih ada yang merasa “tuan”, atau masih ada yang menganggap “itu anak buah saya”, berarti secara pribadi belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak ada kelas.

Kolonialisme zaman dulu menganggap bangsa Indonesia dikategorikan bangsa kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karenanya kata “hurriyah” tidak berlaku saat itu. Bangsa kita dahulu belum merdeka. Namun sekarang, jika dikatakan merdeka, maka mesti merujuk pada kata “hurriyah”, di mana tidak lagi ada kelas-kelas dan merasa nomor satu, baru dikatakan merdeka.

Ketiga, merdeka diambil dari kata Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an “Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah” (Al Balad: 12-13). Kata “fakku” di sini pengertianya “merdeka“. Lebih lengkapnya, para ulama mendefinisikan kata fakku dengan إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d).

Lebih jelasnya, kemerdekaan itu bisa tercapai, manakala bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya kelompok satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, lenyapkan saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil”, dan lain-lain.

Dalam praktek hukum maka mestinya masing-masing komponen bangsa tidak pandang bulu. Jika hukum masih bersembunyi di belakang layar, sedangkan yang tampil adalah “uang”, ini berarti belum “merdeka”. Sebab hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama.

Orang yang bersalah mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar secara hukum harus dibela. Jika bangsa disebut merdeka, maka tidak ada lagi istilah intimidasi, diskriminasi, character assanisation, mengancam pihak lain, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam masyarakat, dan lain sebagainya.

Keempat, merdeka diambil dari kata Istiqlal. (Masjid Istiqlal = masjid merdeka). Pengertian istiqlal menurut para ulama adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh pihak lain. Sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri, bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau saja masih ada intervensi negara lain artinya belum merdeka.

Demikian juga bila makna istiqlal bagi individu artinya, seorang individu dikatakan merdeka jika sudah terbebas dari pengaruh “duniawi”, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam rayuan dan godaan lainnya, itupun belum dikatakan mandiri namanya, alias belum merdeka.

Kesimpulannya,
  1. Merdeka adalah “Itqun Minannar”, bebas dari tekanan atau penindasan dari pihak lain. negara dikatakan merdeka jika bebas dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti oleh pihak lain. 
  2. Merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan
  3. Merdeka adalah fakku roqobah, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. 
  4. Merdeka diambil dari kata Istiqlal, merdeka berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain alias mandiri.

Dalam konsep agama orang yang masuk syurga adalah mereka yang “merdeka”,  bukan hamba sahaya. Kenapa dikatakan merdeka, karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.

KEMERDEKAAN SPIRITUAL
Spiritualitas manusia berpusat pada qalbu, dan di dalam qalbu manusia sudah ada potensi-potensi spiritual yang merupakan format dasar kemanusiaan. Hakekat diri manusia adalah diri yang ruhaniah/spiritual yang sudah tercipta sebelum adanya tubuh biologis (basyar). Ketika manusia masih dalam wujud ruh di alam lahut, ruh merupakan wujud pertama manusia dalam proses penciptaannya sebelum diturunkan ke bumi dan dimasukkan ke dalam tubuh jismaniah (basyar). Allah mempersiapkan basyar (tubuh biologis kebinatangan) hanya sebagai cangkang/wadah bagi si manusia ruhaniah itu.

Inti ruh yang menjadi pusat diri manusia adalah qalbu. Di dalam Bahasa Arab dikenal ada 2 macam qalbu; qalbu jismaniah berupa gumpalan daging yaitu jantung, dan qalbu ruhaniah yang dalam Bahasa Indonesia disebut hati nurani. Di dalam qalbu ruhaniah inilah terletak fithrah (sifat-sifat asli dari Tuhan) berupa kesadaran, perasaan, kecerdasan, iman dan iradah. Jadi, sejak diturunkan dari sisi Allah, si manusia ruhaniah itu qalbunya tidak kosong. Karena di dalam qalbu itu Allah SWT sudah menempatkan potensi-potensi dasar spiritual (fithrah), bibit iman, moralitas, ilmu dan kemerdekaan.

Tinggallah engkau & isterimu di dalam kebun ini dan makanlah segala yang tersedia berlimpah, yang mana saja yang kamu kehendaki…”,(QS. Al-Baqarah, 2:35-38)

Artinya sejak saat itu kepada Adam diberikan masyi’ah / kebebasan berkehendak. You are free to make your own choice, kamu bebas menentukan kehendakmu sendiri.
Seberapa besar kebebasan yang Allah berikan kepada Adam? 
Kebebasan yang sebebas-bebasnya

Apakah kebebasan itu hanya untuk Adam dan Hawa saja? 
Sepanjang di dalam kebun itu saja?
Tidak, kebebasan yang Allah berikan adalah kebebasan yang seluas-luasnya, sedemikian luas sampai-sampai seluruh manusia di muka bumi ini bebas bahkan untuk membangkang Allah sekali pun.
“Kalau saja Tuhanmu menghendaki, Dia bisa membuat semua yang ada dimuka bumi beriman kepada Dia…”,(QS. Yunus, 10:99)

Tidak ada paksaan untuk dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…”,(QS. Al-Baqarah, 2:256)

Muncul pertanyaan, mengapa Allah memberikan kebebasan yang begitu luas kepada manusia sampai-sampai manusia bebas untuk membangkang kepada Allah sehingga manusia berbuat jahat dimuka bumi?

Sebagai wakil Allah yang akan memimpin kehidupan di muka bumi, manusia akan banyak menghadapi problem. Supaya bisa menyelesaikan problem-problem itu maka manusia haruslah merupakan makhluk yang kreatif. Maka supaya bisa kreatif itulah Allah berikan ilmu dan kebebasan karena ilmu dan kebebasan adalah dua bahan baku untuk munculnya kreatifitas.

Kreatifitas, yang berangkat dari ilmu pengetahuan dan kemerdekaan, adalah salah satu dari hal-hal yang paling awal Allah berikan kepada manusia. Dengan ilmu manusia akan menjadi cerdas dan banyak tahu, dan dipadu dengan kemerdekaan kecerdasan berubah menjadi daya cipta yang dahsyat yang menyebabkan peradaban manusia berkembang progressif.

Yang Merusak Fithrah Manusia
1. Hawa Nafsu
2. Iblis, syetan, & Agen Dakwahnya (Wali Syetan)

Wahai Adam, maukah engkau kutunjukkan pada Pohon Keabadian (Status Quo) dan Kejayaan Tanpa Batas (Keserakahan).”(At-Thaahaa, 20:120)

Iblis menyusup ke kebun kelimpahruahan (jannah) dan mengiming-imingi Adam (manusia pertama di bumi) dengan janji Keabadian dan Kejayaan Tanpa Batas dengan cara memakan buah Pohon Terlarang. Rupanya Adam tergiur untuk mendapatkan keabadian dan kejayaan tanpa batas, maka Adam pun memakan buah pohon terlarang itu. Lalu apa yang terjadi?

“…maka nampaklah ‘kemaluan’ mereka berdua, dan keduanya mencari-cari alat untuk menutupinya dengan dedaunan di kebun; Adam telah membelakangi Tuhannya dan sesatlah ia.” (At-Thaahaa, 20:121)

Ketika manusia memperturutkan hawa nafsunya yang berupa hasrat keabadian dan keserakahannya maka akan nampaklah segala hal yang memalukan dari dirinya, terkuaklah segala aib yang menghinakannya. Manusia menjadi telanjang dan pakaiannya rontok. Pakaian adalah simbol keberadaban, simbol martabat dan status sosial, yang tiada lagi berguna ketika manusia memperturutkan hasrat keabadian dan keserakahan dengan mengabaikan fithrahnya.

Ketika Allah SWT melarang Adam untuk mendekati pohon terlarang itu bukan karena Allah takut akan tersaingi keabadian dan kejayaanNya, tetapi Allah, dengan teknik learning by doing, sedang memberi pelatihan kepada Adam tentang:

1. Suatu kebebasan bukanlah tanpa batas, harus dikendalikan.
2. Titik lemah manusia adalah hasrat keabadian & keserakahan.
3. Iblis adalah musuh yang nyata.

Adam bertaubat dan memohon ampun, Allah menerima taubat dan mengampuni Adam. Lalu Adam dikeluarkan dari “kebun pelatihan” untuk turun ke bumi relitas untuk menjalani missinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah Allah.

Perbudakan Spiritual oleh Jin & Manusia.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS Fathir ayat 6)

Supaya setan jin dapat melancarkan tipudaya dengan mudah maka manusia harus terlebih dahulu dikuasai kesadarannya. Namun ironisnya, upaya setan jin itu justru difasilitasi sendiri oleh manusia. Yaitu dengan berkolaborasi dengan Jin demi memuaskan keinginan hatinya untuk menjadi manusia linuwih (dalam tanda kutip yang negatif, yaitu ingin menguasai manusia lain).

Mengamalkan ilmu bathin, ghaib, dll. yang dilandasi oleh dorongan hawa nafsu yang semacam ini atau dilandasi oleh ketidak sabarannya dalam menempuh laku spiritual yang dijalankan sehingga memunculkan sebuah pemaksaan kehendak kepada Tuhan agar disegerakan turunnya karunia Tuhan kepadanya, meminta disegerakannya datang yang kesannya dipaksakan itu, para spiritualis itu tanpa sadar justru mengundang jin untuk menguasai kesadaran mereka sendiri, para jin itu datang dengan menawarkan beragam paket ilmu dan kesaktian seperti yang diangankan dan di impikan oleh para spiritualis tersebut.

Mestinya, kesadaran adalah bagian yang paling utama yang harus mendapat penjagaan dengan bersungguh-sungguh. Ia jangan dipertaruhkan dengan apa saja, lebih-lebih dengan alasan yang tidak pasti. Yang pasti adalah kesadaran itu, apabila dirasakan sehat, berarti tidak ada jin di dalamnya. Kalau ada jin di dalamnya, berarti orang tersebut menjadi budak jin.

Dengan adanya kesadaran itu, supaya manusia dapat ingat kepada Allah Ta’ala dan selanjutnya dapat bersyukur atas segala anugerah dan kenikmatan. Dengan kesadaran yang dikuasai jin berarti manusia tidak dapat melakukan ibadah dengan sempurna. Serta perkembangangan ruhaninya menjadi mandeg serta Ruh Sucinya (Ruh Al-Quds) menjadi terhijab dari dirinya. Sehingga jalan untuk mencapai makrifatullah terputuslah sudah.

Padahal di dalam Ruh al-Quds itulah terdapat DNA Energi Ilahi yang berisi program, informasi, & instruksi energi untuk membentuk seorang manusia supaya bisa menjadi makhluk yang terbaik (li ahsani Takwim) yang berderajat mulia Al-Insan Kamil. Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia). Al-Insaanu Sirri wa Ana Sirruhu. Artinya : Manusia itu adalah Rahasi-Ku dan Akulah yang menjadi rahasianya. Sirrullah = Rahasia Allah.

Sesungguhnya jin dapat bebas keluar masuk ke dalam tubuh manusia, baik sekedar memberi informasi maupun mengadakan tipudaya bahkan langsung melalui hatinya. (QS. An-Nas ayat 5-6)

Rasulullah bersabda . “Sesungguhnya setan berjalan di tubuh anak adam pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu berdua , sehingga timbul prasangka yang buruk.“ (Bukhori 4:240,Muslim 2174-2175)

Oleh karena itulah saya melalui NAQS DNA selalu menyarankan agar manusia menjauhi perbuatan bekerja sama dengan makhlub ghaib apapun itu namanya. Walaupun dia mengaku sebagai Jin Muslim atau malaikat sekalipun. Karena malaikat hanya tunduk pada perintah Allah, yang artinya tidak bisa dijadikan suruhan manusia. Walaupun malaikat sujud dan hormat pada manusia yang berderajat mulia tidak berarti malaikat bisa disuruh-suruh untuk melakukan kepentingan manusia. Bantuan tentara malaikat kepada manusia adalah atas dasar komando dari Allah, dan bukan atas dasar komando dari manusia. Oleh karena itulah, kalau kita meminta pertolongan haruslah langsung kepada Allah, dan bukan pada malaikat Allah.

Oleh karena itu kalau ada orang yag mengaku punya khodam malaikat dan bisa disuruh sekehendak hatinya, maka menurut saya itu bukanlah makhluk Allah dari jenis malaikat. Namun dari jenis yang lain yang mengaku-aku sebagai malaikat.

Kembali kepada masalah perbudakan spiritual, selain perbudakan oleh bangsa jin. Juga ada perbudakan spiritual oleh manusia kepada manusia lainnya dengan perantaraan ilmu ghaib. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang berilmu ghaib yang berhati kotor dan dikuasai nafsu syetannya, sehingga dia secara otomatis sadar atau tidak sadar telah berkolaborasi dengan kekuatan non pribadi semacam Syetan jin, dll. Dan dia telah menjadi Wali Syetan.

Contohnya ilmu Gendam, Di masyarakat kita seringkali ada orang yang melancarkan sebuah ilmu gendam untuk menguasai kesadaran orang lain sehingga dengan mudah orang tersebut dapat dikuasainya dan diperintah sekehendak hatinya.

Juga ilmu pelet, yang biasanya digunakan untuk menundukkan hati lawan jenisnya. Pernah ada sebuah fenomena di negara kita ini, ada orang yang punya istri 10 orang dan ditempatkan dalam satu rumah tapi rukun semua tanpa sekalipun cekcok, biasanya hal ini terjadi karena fihak laki-laki mempunyai pegangan ilmu pelet yang berfungsi untuk menguasai kesadaran hati para istrinya sehingga mau saja diperlakukan dengan tidak terhormat seperti itu.

Contoh lain, adalah beredarnya para petualang cinta di dunia maya semacam fesbuk dan situs jejaring sosial lainnya yang berbekal ilmu pelet dan gendam dan digunakan untuk menebar ranjau cinta di internet. Sehingga siapapun yang terkena ranjau cinta mereka, maka akan hilanglah kesadarannnya dan menuruti apa saja maunya, termasuk di ajak minggat atau di culik, atau ditipu dan dikuras hartanya, dll. seperti yang sering terjadi dan diberitakan di televisi. Oleh karena itu berhati-hatilah ketika anda bergaul di dunia maya ini, banyak penipu, pemerkosa, pencoleng, dan maling berkeliaran...

Juga ada yang disebut ilmu penunduk massa, yang biasanya dipegang oleh para pimpinan organisasi, guru spiritual, dll. Ciri khas dari manusia yang terkena efek ilmu semacam itu adalah hilangnya kesadaran logika dan rasionalnya serta tumpulnya hati nuraninya. Dan ada kecenderungan untuk mengisolasi diri dari masyarakat sekitarnya terutama yang berasal dari luar kelompoknya. Atau disebut juga fanatisme berlebihan yang disertai dengan eksklusifisme kelompok.

Seorang guru spiritual yang benar dan berhati bersih tidak akan menimbulkan efek seperti disebutkan di atas kepada anggotanya, Sang guru justru menuntun manusia untuk mencapai kemerdekaan spiritualnya, serta menuntunnya untuk menggali segala potensi diri yang berada di dalam diri manusia tersebut, Baik potensi lahir maupun potensi bathinnya. Serta meningkatkan kecerdasan IQ, EQ, SQ, kesadaran dan kemandirian pribadi sang murid. Serta menuntun sang murid untuk menemukan jati dirinya yang sejati.

Jadi berhati-hatilah dalam berguru ilmu bathin, karena ada guru spiritual yang membebaskan spiritual kita dan ada guru spiritual yang malah mengebiri spiritualitas dan kemajuan atau kesuksesan lahir bathin kita....

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." ( QS. Ali Imran : 14 )

اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( QS. Ali Imran : 26 )

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". ( QS. Ali Imran : 8 )

Wallahu a'lam bis showab...
Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...
Salam M E R D E K A