ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 11 Maret 2011

Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 1

Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini, dalam lingkungan individual atau sosial apa pun, menginginkan kesempurnaannya sendiri sesuai dengan watak dan akal bawaannya. Ia menanggung segala macam penderitaan dan kesukaran demi harapannya akan masa depan yang lebih cerah. Titik tolaknya adalah kekurangan, dan gerakannya diarahkan kepada kesempurnaan. Ia tumbuh dan berkembang dengan setiap langkah maju di jalan kesempurnaan. Akal dan ruhani manusia memberikan suatu kedalaman, kekuatan dan kecepatan yang sedemikian rupa kepada gerakannya menuju kesempurnaan, sehingga tidak ada batas waktu atasnya kecuali kekekalan itu sendiri.

Cinta yang fitriah bagi kesempurnaan adalah kuat dalam diri manusia, dan hal itu pun terdapat pada hewan. Mereka mengatasi setiap rintangan yang mereka temui di jalannya, mengelakkan segala sesuatu yang mereka anggap merugikan, dan maju ke arah tujuan-tujuan nalurinya. Dapatlah dikatakan bahwa semua fenomena yang ada di alam, dari zarah atom yang teramat kecil sampai ke dunia galaksi yang dahsyat, semua adalah bagian dari kafilah ini.

Seorang ilmuwan berkata,

Tanaman gandum telah diberi suatu gerakan yang memung-kinkan dia memberikan hasil yang lebih besar, dan mawar merah diberi suatu gerakan yang memberikan kepadanya keindahan dan keharuman. Manusia juga mempunyai suatu gerakan yang dengan itu ia maju di jalan kebijaksanaan dan cinta. Maka apabila kita mengamati suatu penyakit tertentu yang mempengaruhi pertumbuhan gandum atau keindahan dan aroma mawar, atau kemurnian jiwa seorang manusia, kita tidak boleh mengaitkannya pada gerakan itu sendiri melainkan pada suatu penyebab yang berlawanan yang timbul dalam kerangka gerakan.

Sekarang kita dapat memahami sampai sejauh mana kata 'maksud' membantu kita berpikir secara wajar. Kata itu membuat kita mengerti bahwa alam semesta, di mana kita termasuk sebagai suatu anggota kecil, adalah bermoral dan sadar, bahwa kita tidak hidup dalam suatu kosmos yang gelap dan serampangan, bahwa tentulah ada suatu penggerak di balik semua gerakan ini, dan bahwa ada suatu kesadaran dan akal besar di balik semuanya. Itu cukup untuk meyakinkan kita bahwa hidup adalah sesuatu yang besar dan mulia, dan di sinilah kita dapat—setidak-tidaknya—mempersiapkan diri kita untuk bekerjasama dengan ruh kesadaran dunia, dengan mengetahui bahwa menentangnya akan merugikan kehidupan kita.

Perkembangan fisik manusia terletak di luar kemauannya, sedang perkembangan ruhaninya mengikuti kemauan. Karena itu maka tidaklah pantas bagi manusia untuk menyimpang dari jalur umum evolusi alam semesta dan tertinggal dari sistem kemajuan kosmos. Jelaslah bahwa perkembangan dan kesempumaan batin adalah imaterial. Eksperimen dan kajian tentang fisika mengantarkannya untuk mengadakan temuan-temuan yang berwatak material, tetapi ia tak pernah akan dapat menempatkan dirinya di jalan kesempumaan dan mencapai puncak pendakian spiritual dengan sarana metode-metode fisika itu.

Supaya sebatang pohon dapat mewujudkan potensi penuh dari pertumbuhannya, ia harus terbebas dari rintangan-rintangan bagi pertumbuhannya, seperti gulma dan batu-batuan, dan beroleh hal-hal bermanfaat seperti air, sinar matahari dan udara, yang hakiki bagi pertumbuhannya. Manusia pun, dalam proses pengembangan berbagai dimensi dari wujudnya (tubuh, ruhani, dan akal) harus memperlengkapi dirinya dengan faktor-faktor yang potensial yang menyumbang bagi pendakiannya ke arah kekekalan dan keabadian.

Yakni, ia harus menggunakannya sebagai sarana yang menolong dia mencapai tujuannya dan memerangi faktor-faktor yang mengganggu gerakannya ke arah tujuan itu.

Manusia harus mengatur dimensi-dimensi wujudnya dalam berbagai arah sedemikian rupa sehingga memungkinkan dia memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan material dan spiritual-nya, dan hidup secara pantas dengan mendasarkan hidupnya pada suatu rencana yang disusun dengan tepat dan akurat. Ia harus membangun suatu masyarakat yang tertib yang bebas dari konflik, kelaliman, agresi, kejahilan dan dosa, di mana manusia dapat mencapai kesucian, cahaya dan keluhuran aqliah, dan mencapai puncak-puncak tinggi kemanusiaan.

Wujud manusia adalah suatu kumpulan gejolak dari berbagai dorongan. Dorongan-dorongan ini dalam keadaannya yang alami dan berimbang tidaklah sia-sia atau merugikan, bahkan setiap bagian darinya memainkan peranan vital dalam bangunan spiritual manusia. Namun, pemuasan yang tak terkendali dan tak terkekang dari dorongan-dorongan ini bertentangan dengan perkembangan. Apabila dorongan-dorongan ini dibiarkan bebas tak terkendali dalam diri manusia, ia akan menjadi budak dari dorongan-dorongan dan hawa nafsunya yang buas dan primordial. Dengan jatuh dari puncak ketinggian ia akan tenggelam ke payau kemerosotan dan kehancuran. Seekor binatang mengikuti dan tunduk kepada dorongan-dorongan hawa nafsunya, tetapi manusia setia kepada kepentingan dan taat kepada akalnya. Ia mempunyai kekuatan untuk melawan kecenderungan-kecenderungannya yang merugikan, dan mengukuhkan kecenderungan-kecenderungannya yang bermanfaat dan menguntungkan. Karena, sebagaimana naluri fisik muncul dari watak manusia, demikian pula impuls-impulsnya yang positif, ramah dan pencari kebenaran berasal dari dalam wujudnya, menimbulkan kekuatan spiritual yang melimpah, besar bak raksasa, yang dapat melahirkan kesucian, kehormatan, kekuasaan dan kesalehan.

Penyucian Diri sebagai Sarana Perkembangan
Tak diragukan, bahwa apabila seseorang hendak mengikuti prinsip yang pasti dalam kehidupan yang berwatak religius atau bukan ia harus mengambil pendekatan yang terdefmisi dengan baik. Untuk mengambil suatu pendekatan yang terdefinisi dengan baik, amatlah penting memilih satu tujuan tunggal dan bergerak ke arah yang tunggal.

Oleh karena itu orang harus mengelakkan keterlibatan-keterlibatan yang mungkin sesuai dengan hasratnya yang sesaat tetapi bertentangan dengan prinsip-prinsip dan tujuan hidupnya. Dari itu pengendalian dan pendisiplinan diri adalah hakiki yang penting dalam kehidupan setiap orang yang hendak menjalani kehidupan manusiawi yang rasional. Manusia adalah makhluk yang dilengkapi dengan kekuatan aqliah dan mempunyai hasrat dan hawa nafsu yang tak terbatas. Apabila ia tak mengenal kendali dalam kehidupan, ia dapat menjadi binatang buas yang menyebabkan kehancuran besar.

Kesempurnaaan dan kebesaran manusia tidak bergantung pada masalah fisik, yang hanya dapat mempengaruhinya pada bidang jasadi. Kemajuan ilmiah tidak menimbulkan perbaikan pada seluruh aspek manusia. Kesempurnaan manusia yang sesungguhnya terletak pada pembebasan dirinya dari ikatan hawa nafsu yang khayali dan kesenangan jasadi dalam gerak maju di jalan kemanusiaan dengan mendidik daya rasanya, mendisiplinkan dirinya dan mengenal gagasan-gagasan yang lebih tinggi serta cakrawala yang lebih luas.

Gagasan tentang suatu kebaikan tertinggi berakar mendalam pada ruhani manusia; apabila tidak demikian maka manusia tidak akan menjadi pencarinya di masa kanak-kanaknya dan tidak pula ia akan mampu terbang di cakrawalanya yang luas. Sinar dari nilai-nilai luhur demikian menarik sehingga manusia jatuh cinta kepadanya dengan sukarela dan mengejarnya atas kehendak sendiri. Ada suatu hasrat untuk memperoleh kekuatan dari kedalaman batin seseorang yang diikuti oleh usaha untuk mendapatkannya. Semua ini adalah indikasi dari kenyataan bahwa cinta pada kesempurnaan berakar mendalam pada ruhani manusia dan mengungkapkan dirinya begitu timbul suatu kesempatan yang sesuai.

Otot-otot menjadi kuat sebagai akibat latihan. Demikian juga halnya bagi kemampuan ruhani, yang menjadi kuat akibat latihan dan usaha sungguh-sungguh, dengan perbedaan bahwa tenaga fisik manusia terbatas; kekuatan serta kemampuannya dibatasi oleh kemampuan saraf dan sel-sel tubuh. Namun, keajaia\ban-keajaiban yang diungkapkan oleh sejarah umat manusia merupakan manifestasi dari kekuatan jiwa yang telah dibebaskan, yang pertumbuhannya adalah akibat pembebasan berangsur-angsur dari batas-batas dan rintangan material. Cakrawala pengetahuan diri dan kesadaran diri hanya meluas bilamana disadari bahwa ruhani manusia adalah suatu karya utama agung dari penciptaan.

Ia mengungkapkan dirinya dalam pertunjukan kekuatannya, dalam dinamismenya, dominasinya atas hal-hal material, dan terutama dalam kapasitasnya untuk mengangkat manusia dari kedalaman titik kerendahan kelemahan dan ketidaksempurnaannya kepada ketinggian persatuan dengan Ilahi.

Tentu saja, sebagaimana tubuh dipaksa untuk mengalami sejumlah kesukaran tertentu untuk memenuhi fungsinya yang vital, begitu pula ruhani harus berusaha dengan pahit getirnya dalam rangka pengembangan moral. Semua konsep dan prinsip yang berbagai ragam dalam bidang pembangunan karakter berkisar di seputar poros jiwa atau ruhani. Ruhanilah yang mampu memperbaiki dan berdisiplin. Ruhanilah yang mampu mencapai keluhuran dan mendapatkan sifat-sifat manusiawi dan kecemerlangan yang lebih tinggi, yang mencintai kesempurnaan ruhani. Dan akhimya, ruhanilah yang membangkitkan serangkaian hukum etika bagi manusia, yang tidak dimiliki dan tidak dicapai hewan.

Dr. Alexis Carrel, ilmuwan Prancis, mengatakan,
Kita harus membiasakan diri untuk membedakan antara baik dan buruk dengan usaha yang sama sebagaimana kita membedakan cahaya dan kegelapan, dan antara kebisingan dan kebungkaman, kemudian menetapkan diri kita untuk mengelakkan keburukan dan merangkul kebajikan. Namun, pemantangan dari keburukan memerlukan kesehatan tubuh dan jiwa. Pertumbuhan yang bertujuan dari tubuh dan jiwa tidaklah mungkin tanpa bantuan penyucian diri.

Bagi orang-orang yang mencari pendidikan ruhani, tak ada jenis keistimewaan yang diperkenankan. Tatanan batin selalu mempunyai aturannya sendiri. Keadaan fisiologis dan psikologis merupakan basis hakiki kepribadian, seperti papan loncatan dari mana jiwa dapat melakukan penerbangannya.

Jalan pembinaan itu terarah ke atas, dan para musafir kebanyakan terpeleset ke dalam payau-payau atau jatuh ke jurang di tengah perjalanan, atau tertinggal di belakang di sisi taman-taman tepi kali lalu tertidur dengan nyenyak tanpa berkesudahan, dalam kebahagiaan atau penderitaan, dalam keberlimpahan atau kemiskinan, sehat atau sakit. Tetapi bagaimanapun juga, orang harus berusaha dan bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setiap kali ia terjatuh, dan sedikit demi sedikit, mendapatkan semangat, keimanan dan kemauan untuk bercita-cita serta semangat saling bantu, kemampuan untuk mencintai, dan pada akhirnya mencapai keselamatan.[3]

Ada suatu kekosongan dari keseimbangan, tatanan dan neraca yang tepat di dunia sekarang ini antara individu dan masyarakat dan antara tubuh dan ruh. Ketika manusia mengizinkan keistimewaan manusiawinya untuk tetap terlena dan menekan aspek-aspek yang halus, vital, dan kritis dari wujudnya sendiri, yang merupakan bagian yang perlu dari kedudukannya yang khas sebagai khalifah Tuhan di panggung dunia, ketika ia menolak martabat manusiawinya walaupun ia dicipta sebagai manusia, mencemooh watak karunia Tuhannya dan akhirnya memprogramkan hidupnya atas dasar hedonisme dan perburuan hawa nafsu, yang sampai ke tahap penyangkalan terhadap wujudnya sendiri. Bilamana hal itu terjadi, tak terelakkan bahwa watak pemberian Tuhan itu akan menyebab-kan kerusakan parah karena pemikirannya yang tak berprinsip dan perilakunya yang tolol, dan menimpakan pembalasan dendam yang akan menghancurkannya.

Sekarang ini umat manusia sedang membayar kompensasi berat atas perilakunya dalam urusan perdamaian, kebahagiaan dan ciri-ciri khas manusiawi yang hakiki. Efek dari kelainan dan salah perilaku ini muncul dalam bentuk berbagai jenis kejahatan dan penyelewengan. Dalam masyarakat masa kini barangkali tak ada menit berlalu tanpa perbuatan keji dan kejahatan seperti perzinaan, pemerkosaan, pencurian dan sebagainya. Ini salah satu masalah besar bangsa-bangsa di dunia sekarang dan harus dipandang sebagai suatu krisis manusia terbesar dalam dimensi mendunia (global—peny.). Jumlah pengeluaran tahunan yang dibelanjakan untuk mencegah kejahatan, atau tentang pencarian, pelaksanaan pengadilan dan hukuman bagi para penjahat, sungguh mencengangkan.

Salah satu faktor penyebab merajalelanya sikap tak berperasaan dalam hubungan antar manusia, penyebaran kekejaman, dan semakin meningkatnya kekebalan moral hari demi hari di masyarakat Barat, terletak pada jalan berpikir sebagian guru dan filosof. Nietzsche, filosof Jerman terkenal, mendasarkan falsafahnya pada sikap tak menaruh belas kasihan dan keunggulan rasial, yang menjadi motif di balik pertumpahan darah keji, peperangan yang menghancurkan di abad kedua puluh. Beginilah logika filosof Barat itu, Belas kasihan melawan emosi perangsang yang meninggikan vitalitas kita; belas kasihan mengandung efek memuramkan. Kita kehilangan kekuatan bilamana kita merasa kasihan...

Sangat umum, belas kasihan menyilang hukum perkembangan, yang merupakan hukum seleksi. Ia memelihara apa yang telah matang untuk kehancuran, ia membela orang-orang yang hak warisnya telah dicabut dan dikutuk oleh hidup, dan dengan berlimpah-limpah kegagalan dari segala macam yang dihidup-hidupkannya, ia memberikan aspek suram dan meragukan kepada kehidupan....

Belas kasihan adalah praktek nihilisme. Diulangi: naluri yang depresif dan menular itu membangkitkan naluri-naluri yang bertujuan mempertahankan hidup dan peningkatan nilai-nilainya. Itu melipatgandakan kemelaratan dan mengawet-kan segala yang menyengsarakan, dan dengan demikian ia merupakan instrumen pertama dari laju kemerosotan.[4] Suatu moralitas altruis—moralitas di mana kepentingan diri menjadi lesu—tetap merupakan suatu tanda buruk dalam segala keadaan. Ini berlaku bagi individu; ini berlaku bagi bangsa-bangsa. Yang terbaik berkurang ketika kepentingan diri mulai menuran. Secara naluri memilih apa yang merugikan bagi diri sendiri, merasa tertarik oleh motif-motif yang "tidak berkepen-tingan"; itulah tepatnya formula dari kemerosotan... Zaman-zaman yang kuat, kultur yang mulia, memandang belas kasihan, "cinta-tetangga" dan ketiadaan cinta diri dan peyakinan diri sebagai sesuatu yang patut dihina...[5]

Kesenangan sensual, hawa nafsu untuk kekuasaan, keakuan: ketiganya hingga kini telah paling dikutuk dan dipandang yang terburuk dan paling tak adil—ketiga hal ini akan saya pertimbangkan dengan baik secara manusiawi.[6]

Penyebab Kejahatan
Penyebab kejahatan maupun karakter para penjahat perlu dikaji untuk melihat apakah mereka memang begitu menurut watak dan kelahirannya. Apakah mereka yang dicemari oleh berbagai kebejatan moral dan kejahatan memang dilahirkan dengan kecenderungan itu ataukah kejahatan mereka berasal dari suatu penyakit spiritual? Apabila ya, bagaimanakah penyakit itu dapat diperlakukan!

Sebagian pakar dalam bidang itu percaya bahwa sekelompok penjahat pada dasarnya memang dilahirkan dalam keadaan jahat. Orang-orang jenis ini bahkan mempunyai karakteristik abnormal lahiriah tertentu yang membedakan mereka dari orang lain. Mereka, konon, adalah para penjahat menurut wataknya. Lombroso, kriminolog terkenal asal Itali, adalah pembela yang kuat teori ini. Teorinya mendapat banyak pengikut dan diterima dengan perhatian besar oleh para penulis sezamannya.

Tak diragukan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat menerima pendidikan moral. Ia melaksanakan sebagian dari tindakannya atas kehendak bebasnya sendiri; dan dengan kehendaknya sendiri ia menahan diri dari melakukan hal-hal tertentu. Makhluk semacam itu tentulah harus dianugerahi kehendak bebas; bila tidak demikian maka sia-sia menasihati dan mengajari makhluk yang tindakannya sama sekali telah ditentukan, yang tidak mempunyai kemauan sendiri dan tak mempunyai kendali atas dirinya sendiri. Para pemikir yang kompeten memandang manusia bebas dalam tindakannya, dan bertanggung jawab atasnya.

Para guru moralitas dan etika mendasarkan ajaran moral mereka dan usaha pendidikan mereka yang dimaksudkan untuk membawa kesejahteraan bagi manusia atas pendekatan yang sama, yakni berdasarkan resep yang terdiri dari perintah dan larangan, dan meminta mereka mempelajari hal-hal tertentu serta menahan diri dari perbuatan-perbuatan tertentu untuk mencapai kesejahteraan pribadinya.

Apabila seseorang mempelajari keadaan anak-anak nakal di lembaga-lembaga pemasyarakatan, penjara dan rumah sakit jiwa, akan kedapatan bahwa mereka itu dibesarkan dalam keluarga yang moralnya tercemar atau terlantar dan tidak mempunyai pengalaman pribadi tentang kelurusan moral dan kesucian.

Seperti kelompok hewan yang tidak merasa terkendali dalam melakukan kejahatan atau pelanggaran apa pun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang membuka matanya dalam keluarga yang tidak mempunyai kehangatan emosi dan kebajikan moral, dan tercemar kebejatan, atau mereka itu telah hidup dalam lingkungan sosial yang jorok. Keluarga dan faktor-faktor sosiallah yang menyebabkan mereka memilih kejahatan dan keburukan ketimbang kebaikan dan kesucian.

Etika and Pertumbuhan Spirtual
Sayid Mujtaba Musawi Lari
http://www.musavilari.org/html/20/book/04/index.htm