ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 13 Maret 2011

Manusia Bergerak Ke Arah Kesempurnaan 3 - KESADARAN

Kemampuan Akal
Akal adalah salah satu karunia Tuhan sebagai berkat kepada manusia. Tuhan berkata dalam Al-Qur'anul Karim,
Katakanlah, Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (supaya kamu bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya). [Tetapi] amat sedikit kamu bersyukur. " (QS. al-Mulk: 23)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata,
Akal adalah milik manusia yang paling berharga, karena ia menyimpan kehormatan setelah ia dihina, mengangkatnya apabila ia jatuh, membimbingnya apabila ia tersesat, dan meluruskan bicaranya apabila ia bicara.[27]

Dalam ajaran Islam, akal dipandang sebagai 'nabi' dari batin manusia, dan membimbingnya dan sebagai ayat ('bukti') Tuhan. Imam Musa al-Kazhim as berkata,

Tuhan telah menunjuk dua jenis bimbingan kepada manusia. Yang satu lahiriah dan nyata, yang lainnya di dalam dan tersembunyi. Bukti yang nyata adalah para nabi, rasul dan para imam suci. Bukti yang tersembunyi adalah akal.[28]

Karena kemampuan akal manusia tidak sama tingkatan dan berbeda dalam derajatnya, pada Hari Pengadilan setiap orang akan dituntut tanggung jawabnya sesuai dengan kemampuan akalnya. Imam Baqir as berkata,

Di Hari Pengadilan Tuhan akan memeriksa rekaman peri-laku makhluk-makhluk-Nya (dengan kekerasan) yang sebanding dengan kemampuan akalnya di dunia.[29]

Di zaman ini manusia sangat terpukau oleh capaian akal yang menakjubkan berupa temuan-temuan ilmiah, dengan menganggap-nya sebagai tujuan akhir kehidupan. Keterpukauan ini telah memberikan pukulan yang hampir tak dapat dipercaya pada peran akal dan tempatnya dalam kehidupan manusia. Hal itu telah menyebabkan manusia melupakan dan mengabaikan kekuatan dan daya kemampuan yang berhubungan langsung dengan adikodrati dan Sumber kehidupan. Sekiranya orang yang terpesona itu melihat cakrawala yang jauh dan lebih luas ke panorama adi-kodrati, ia akan tidak mau berhenti pada manifestasi-manifestasi akal yang memukau. Islam sepenuhnya mengenal nilai dan kemam-puan akal yang sesungguhnya serta luasnya bidang kegiatannya. Atas dasar pengetahuan itulah maka Islam memberikan demikian banyak kepedulian pada latihan dan pertumbuhan akal, agar ia dapat memandang realitas kehidupan dengan kepedulian yang penuh pikiran. Al-Qur'an meminta akal supaya tidak berpegang pada apa pun yang tidak terbukti dengan pasti dan tanpa keraguan. Ia meminta akal supaya tidak menerima sesuatu sebelum ada bukti yang jelas dan pasti untuk membenarkan penerimaan seperti itu.

Dan janganlah kamu mengikuti apayangkamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Israa':36)

Peringatan gamblang ini menekankan perluanya penyelidikan seperlunya sebelum menerima sesuatu sebagai kebenaran. Demi-kian pula, Al-Qur'an menunjukkan watak menyeleweng dari orang-orang yang tidak mendasarkan kepercayaan mereka pada kepastian dan hanya mengikuti dugaan dan sangka-sangka mereka. Al-Qur'an berkata tentang mereka,

Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran. (QS. an-Najm: 28)

Berdasarkan itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, ia menghancurkan fondasi intelektual dari peniruan membuta dan dugaan-dugaan. Ia memperingatkan para pengikut buta yang tanpa selidik meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang. Al-Qur'an berkata tentang mereka,

...Mereka hanya mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tidak berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.(QS. an-Najm: 28)

Karena itu, dengan mengambil pendekatan yang kokoh berdasarkan penalaran yang tak tergoyahkan, Islam membongkar fondasi peniruan dan dugaan membuta. Islam memperingatkan para pengikut buta yang meniru keyakinan dan kepercayaan nenek moyang mereka bahwa pendekatan mereka hanyalah kebodohan semata-mata.

Mereka mengatakan, "Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari [perbuatan] nenek moyang kami. (QS. al-Baqarah: 170)

Seruan ini dimaksudkan untuk mengembangkan pikiran kritis dan meletakkan kembali akal pada perannya yang sebenarnya dengan menolak mengikuti dugaan dan persangkaan. Dengan ini Islam hendak membiasakan akal untuk penyelidikan yang ber-disiplin dan kritis pada bidang tindakannya, sehingga dengan demikian ia dapat mengatur berbagai daya kemampuan dan menertibkan gagasan-gagasan dan konsepss-konsepsi ke bawah dominionnya. Jenis pemikiran yang dituntut Islam bukanlah jenis abstrak yang tersisih dari realitas-realitas kongkret yang mengambil bentuk spekulasi filosofls. Dengan memanggil perhatian kepada tanda-tanda (ayat) penciptaan Islam berusaha membangunkan akal supaya manusia dapat menggunakan kemampuan kesadarannya untuk merenungkan secara mendalam Keagungan dan Kebijaksana-an Tuhan yang terwujud dalam sistem penciptaan. Itulah pemikiran yang bebas dari fantasi, bebas dan reseptif terhadap realitas, bukan yang hilang dalam keliaran gelapnya fantasi. Itu pemikiran yang menghubungkan manusia, dengan pikiran dan pengertiannya, kepada Ruh Ilahi yang melingkupi seluruh dunia wujud, dan ini adalah keutamaan tertinggi akal.

Spinoza, menulis,
Yang tertinggi yang dapat dipahami akal adalah Tuhan, yakni Wujud Mutlak yang tak terbatas dan yang tanpa Dia tak akan ada apa pun dan tak ada yang dapat dipikirkan, dan oleh karena itu apa yang sangat menguntungkan bagi pikiran, atau yang merupakan kebaikan tertinggi bagi pikiran, adalah pengetahuan tentang Tuhan. Lagi, pikiran hanya bertindak sejauh ia mengerti dan hanya sejauh ia dapat dikatakan secara mutlak sebagai bertindak sesuai dengan kebajikan. Oleh karena itu, memahami adalah kebajikan mutlak pikiran. Tetapi hal tertinggi yang dapat dimengerti pikiran ialah Tuhan (sebagai-mana telah kami tunjukkan), dan oleh karena itu kebajikan pikiran yang tertinggi ialah memahami atau mengenal Tuhan.[30]

Maksud terakhir dari pikiran dan penyelidikan Islam Islam ialah mengobati hati manusia dan meletakkan fondasi kehidupan pada kebenaran dan keadilan. Ketika seseorang sampai kepada suatu kesimpulan tertentu melalui pemikiran dan menyadari implikasi-implikasinya secara mendalam, ia menerapkannya pada tindakan dan kehidupan. Sekali keyakinan dinamis itu memberi-tahukan kepada akal, perilaku dan daya tanggapnya, ia siap melakukan perjuangan sengit melawan setiap hal yang tak pantas yang berkompromi dengan nilai manusia yang sesungguhnya.

Walaupun akal adalah penuntun terbaik dan sumber penge-nalan yang terbesar, ia kehilangan cerlangnya sebagai akibat tirai hasrat dan hawa nafsu yang menabiri akal dan menghalangi cahayanya. Maka akal pun kehilangan kemampuan bimbingannya. Al-Qur'an merujuk peran menyesatkan dari hasrat dan hawa nafsu dengan kata-kata-kata berikut.

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). (QS. al-Qashash: 50)

Tetapi orang-orang yang lalim mengikuti hawa najsunya tanpa ilmu pengetahuan. (QS. ar-Ruum: 29)
Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini. (QS. al-Mu'minuun: 71)
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya... ? (QS. al-Jaatsiyah: 23)

Tiada ragu, mengatasi dan mengendalikan hawa nafsu dan dorongan-dorongan negatif adalah tugas yang sangat sulit. Hanya dengan—usaha dan latihan yang sungguh-sungguh orang dapat mengekang hawa nafsu pemberontak dan menundukkannya kembali kepada pertimbangan akal. Ini cara mengatasi tirani hawa nafsu dan mengambil manfaat darinya secara tepat dan patut. Nabi saw pada suatu ketika berkata kepada sekelompok mujahid dari suatu pertempuran,

'Selamat datang bagi mereka yang menunaikan jihad kecil dan yang masih akan melakukan jihad besar.' Beliau ditanyai, 'Ya Rasul Allah, apakah jihad besar itu?' Beliau menjawab, 'Itulah jihad melawan hawa nafsu.'[31]

Orang yang mendapat berkat dan kedekatan dengan Tuhan adalah orang yang waspada terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang garang dan berbahaya dan yang tidak mengizinkan motif-motif hawa nafsu menguasai akalnya dan memalingkannya kepada hal-hal yang haram dan menyimpang.

Dan adapun arang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa najsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (QS. an-Nazi'aat; 40-41)

Apakah Kesadaran Produk Terlarang yang Dibatinkan?
Suatu alat pelunak lainnya terhadap naluri dan impuls jiwa manusia ialah kesadaran moral. Sejak awal kemunculan manusia di muka bumi hingga hari ini, abad-abad panjang telah berlalu, dan selama itu manusia cenderung kepada kebaikan dan membenci kejahatan. Manusia selalu mendengar suara moral batin memanggil dari dalam yang disebut "kesadaran" atau "hati nurani". Kehidupan rasionalnya sepanjang zaman berada di samping kehidupan kesadaran

Bilamana manusia dapat membedakan antara duri dan bunga, menjauhi duri dan menikmati bunga, ketika ia dapat membedakan antara yang kotor dengan yang bersih, tentulah ia tidak mencapur-adukkan kebajikan dan kejahatan. Watak mendasar dari kesadaran merupakan salah satu fenomena penciptaan yang paling menarik.

Manusia, dalam keadaan imbang, tertarik kepada kejujuran dan keadilan, dan menolak kecurangan dan kelaliman. Sebenarnya, keyakinan moral lebih tegas daripada keyakinan rasional, yang mempunyai nilai yang pasti untuk menentukan fakta-fakta. Karena, pikiran sangat menyadari bahwa pengetahuan tentang obyek-obyek lahiriah yang ditangkapnya, yang membawa stempel keyakinan yang diletakkan padanya oleh akal, mengenai realitas yang terpisah dan di luar pikiran, sedang kepastian yang diciptakan oleh kesadaran hati nurani berada di atas jenis kepastian menurut persepsi dan pengamatan. Dalam hal keyakinan moral, obyek itu terasa sebagai bagian dari subyek.

Sebagian psikoanalis, seperti Freud dan para pengikutnya, menyangkal bahwa kesadaran moral itu adalah bawaan dalam diri manusia. Mereka percaya bahwa keinginan-keinginan yang tertekan dan larangan-larangan sosial yang tersimpan dalam pikiran bawah-sadar membentuk apa yang dinamakan 'kesadaran'. Dengan kata lain, kesadaran adalah produk dari suatu peradaban dan tidak mempunyai akar-akar yang hakiki dalam jiwa manusia.

Dalam penyelidikan dan analisis psikologisnya dari berbagai fenomena, Freud mencari akar-akar seksual dan tidak memberi perhatian kepada faktor-faktor batin yang merupakan sumber perbuatan baik dan buruk.

Tidak pernah ada masyarakat di dunia yang mungkin meman-dang ketidakjujuran, kelaliman dan pelanggaran janji sebagai sesuatu yang baik dan terhormat, atau kejujuran, keadilan dan kesetiaan sebagai buruk dan tak pantas, atau yang memandang sisi kesejahteraan dan kebahagiaannya terletak pada kejahatan dan keburukan moral.

Teori Freud akan dapat diterapkan apabila manusia telah belajar untuk membedakan antara baik dan buruk melalui pengalaman. Tetapi, kebajikan dan kejelekan yang telah dikenal oleh semua manusia di muka bumi, yang beradab dan liar, dan bahkan orang-orang yang tidak mengenal ajaran para nabi dan pembaru, sama sekali tak dapat dikatakan sebagai produk larangan sosial dan impuls-impuls atau desakan yang tertekan.

Penyangkalan Freud terhadap watak hakiki kesadaran—dalam pengertian yang dipahami oleh etika—dan degradasi wujud manusia ke suatu kumpulan impuls-irnpuls dan naluri fisik semata-mata, tak dapat tidak menjuruskan dia ke penyangkalan total terhadap seluruh nilai moral dan spiritualitas maupun nilai dan keluhuran dorongan-dorongan suci manusia yang demikian aktif pada kedalaman jiwanya. Penyangkalan itu membuat perwujudan-nya, seperti kasih sayang, keadilan, kebaikan, dan suka menolong yang lemah dan tak berdaya, menjadi tidak berarti dan mustahil.

Atas dasar doktrin seperti itu, tak seorang pun dapat mengambil langkah ke dunia nilai spiritual dan moral tanpa menekan dorongan-dorongan dan naluri alaminya dan melewati kesenangan dengan mengandalkan daya kemauannya. Malah, menurut paham itu, semua kekangan batin adalah sepenuhnya produk kekuatan eksternal dari pemaksaan sosial.

Kalau kesadaran dipandang sebagai suatu produk dari kekuatan-kekuatan lingkungan eksternal, tindakan-tindakan orang yang, tanpa melihat manfaat keakuan, menyangkali diri mereka sendiri terhadap banyak kesenangan demi mencapai tujuan dan cita-cita yang lebih tinggi, dan menanggung sakit dan penderitaan demi kepentingan yang lebih luhur, tetap tak akan terjelaskan oleh gagasan Freud yang tak sempuma, yang memandangnya sebagai suatu kelicikan dari bawah-sadar sebagai kompensasi atas keinginan-keinginan yang tertekan. Keagungan penyerahan kepada kepada tuntunan kesadaran akan selalu merupakan suatu misteri yang sulit bagi teori sperti itu.

Para tokoh pembaru yang merupakan pelopor kemanusiaan telah menarik manusia ke dunia kesucian manusiawi. Orang pun tidak menyerah kepada para pemimpin itu seperti menaati para tiran dan orang kuat. Manusia mengambil jalan keutamaan dan pendidikan dengan sukarela dan atas kehendak dan kecintaannya kepada keluhuran, dan ia menahan diri dari melaksanakan sebagian dorongan hawa nafsunya tanpa mengkonfrontasi suatu kompleks jiwanya. Adalah dengan semangat dan gairah sukarela maka ia menyambut rasa manusiawinya yang luhur dan melakukan perbuatan baik yang tidak dipaksakan kepadanya oleh adat, agama dan masyarakat.

Ada fakta-fakta yang menunjukkan bahwa realitas batin jiwa tidak terbuat dari prinsip gelap pencari kepelesiran semata-mata untuk memenuhi hawa nafsu rendah, melainkan ada pula berdasar dalam dirinya dorongan untuk kebaikan tertinggi. Ada suatu prinsip di dalam dirinya yang merupakan sumber independen dari tindakan-tindakan dan perilaku bajiknya. Kesadaran itulah yang mengingatkan dia bahwa segala sesuatu dalam kehidupan tak dapat dicari untuk tujuan keakuan, dan kehidupan bukanlah semata-mata pemuasan hawa nafsu.

Banyak orang di dunia yang memandang kehidupan yang kosong dari kesadaran sebagai suatu penghinaan dan pelecehan terhadap kehormatan pribadi mereka sebagai manusia. Mereka bersedia meninggalkan kehidupan dan merangkul maut, tetapi tidak sedia melanggar hati nurani mereka. Bilamana mereka melakukan perbuatan baik dengan mengikuti dorongan batinnya, mereka mempunyai perasaan yang demikian mendalam tentang nilai dan keindahannya sehingga mereka tidak mau menukarnya dengan seisi dunia.

Sekiranya fondasi kepribadian manusia merupakan prinsip subjektif dari karakter kekanak-kanakan di mana perburuan kesenangan dan pengelakan dari kesukaran yang merupakan satu-satunya fungsi yang diperhitungkan, pengetahuan dan perindus-trian yang dicapai manusia tidak akan sampai pada tahap kemajuan dan perkembangan seperti sekarang.

Wilayah dan Peran Kesadaran

Kesadaran hati nurani jarang membuat kekeliruan dalam penilaian. Berbagai kekeliruan manusia dalam kehidupan sosial entah merupakan hasil kekeliruan penalaran atau indera, atau merupakan akibat hilangnya daya tangkal kesadaran terhadap desakan-desakan yang garang.

Oleh karena itu, banyak kekeliruan yang diamati dalam berbagai bidang kehidupan tidak berhubungan dengan penilaian keliru atau kelemahan kesadaran, karena daya kemampuan batin ini tidak memainkan peran di luar wilayah kegiatannya. Kesadaran menguji kesimpulan-kesimpulan dan data yang diberikan oleh penalaran dan daya inderawi, dan penilaiannya didasarkan pada hal-hal ini.

Orang yang berwatak murni dan sehat ditolak oleh kejahatan dan dosa. Walaupun demikian, di bawah pengaruh faktor-faktor tertentu, mungkin ia temoda oleh dosa dan keburukan, dan ini dapat melemparkan bayangan malu dan rasa bersalah kepada diri-nya. Tetapi, setelah pelanggaran itu dilakukan, sekali orang kembali kepada diri sendiri dan berkonsultasi dengan cahaya terluhur dalam dirinya, ia menyadari karakter buruk dari apa yang terjadi, dan suatu nyala api bergejolak dari kedalaman wujudnya. Suatu rasa bersalah dan malu yang pedih meliputi seluruh wujudnya. Ini yang dinamakan kesadaran hati nurani, yang mencela si pelanggar—bahkan setelah ia dihukum— dan menyiksanya terus-menerus dengan cambukan penyesalan.

Kesadaran bukan saja dapat merupakan penuntun yang patut diandalkan dalam perjalanan hidup, ia pun merupakan saksi yang adil dan jujur atas perilaku manusia, yang menjaga dan memak-lumkan apa yang diamatinya. Seseorang mungkin mengatakan dengan lidah sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatinya, atau ia mungkin menyembunyikan pikiran-pikiran rahasianya dengan mengendalikan gerakan lahiriahnya. Tetapi, ia tidak berkuasa membungkam suara kesadaran atau menghentikan dia dari mencelanya. Kesadaran tak dapat ditipu. Mungkin mengelabuinya melalui suatu tipuan atau trik mental atau bahkan menidurkannya untuk sementara, tetapi begitu ia terbangun dan mengkaji rekaman dosa perbuatan seseorang, ia memaklumkan dengan kejelasan yang sempurna karakter buruk dari perilaku kejinya dan memecutnya keras-keras dengan cambuk rasa salah dan penyesalan.

Tak ada yang dicintai manusia melebihi dirinya sendiri. Orang yang menderita penyiksaan rasa salah yang paling perih adalah sesungguhnya orang yang sudah ditolak dan ditinggalkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa seakan-akan kejahatan dan dosanya adalah kobaran api yang dengan ganas membakar dirinya. Dari itu maka kesadaran adalah alat yang paling efektif untuk menjauhkan kejahatan dan dosa.

Apabila intensitas pedihnya kesadaran yang dideritanya melam-paui kekuasaan dan kemampuannya, suatu perasaan gelisah memenuhi dan menutupi seluruh rasa puas lainnya. Tekanan yang menyiksa dari kesadaran itu dalam beberapa kasus mengganggu perjalanan normal aktivitas jiwa seseorang dan menimbulkan kondisi-kondisi patologis. Kajian tentang ketegangan jiwa dalam beberapa kasus kegilaan yang telah dikaji menunjukkan bahwa ada orang yang kehilangan kewarasannya dan kemampuan akalnya akibat siksaan dan tekanan kesadaran akibat melakukan kejahatan dan dosa lalu jatuh ke dalam tungku penyesalan dan rasa bersalah.

Kadang-kadang demikian kuatnya keingingan seseorang yang tak patut sehingga orang itu hendak menipu kesadarannya dan mengatur kegiatannya. Adalah suatu ciri kesadaran yang menakjub-kan bahwa ia dapat melakukan perlawanan yang tekun terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu yang kuat dan berjuang melawan-nya. Selama tidak terjadi kegagalan dalam perlawanannya kepada tekanan naluri, ia melaksanakan usahanya dan tidak mengabaikan kewajibannya.

Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani itu kuat dalam bertahan, dan sekalipun ketika cahayanya menjadi demikian suram sehingga tak kelihatan, sedikit banyaknya ia tetap waspada dan sadar. Dan bahkan di saat-saat ketika cahayanya hanya dapat dilihat dengan sulit, ia dapat, secara mendadak, mulai bercahaya dengan kecerlangan yang menyilaukan.[32]

Al-Qur'an dan Suara Alam

Sekarang banyak ilmuwan menolak pandangan Freud dan memandang kesadaran hati nurani sebagai bagian hakiki watak manusia. Para pemikir yang telah menggunakan kekuatan akal sehat dan giat berusaha untuk mengetahui manusia dan alam semesta, telah mengukuhkan fenomena bawaan dari kesadaran. Mereka terbimbing kepada keyakinan bahwa kecenderungan kepada kebajikan dan penolakan terhadap kejelekan mempunyai akar dalam wujud kita, bahwa sistem penciptaan telah menempat-kan aset ini dalam watak fitriah setiap manusia.

Di sini, bersama beberapa beberapa ayat Al-Qur'an yang relevan, kami akan mengutip pandangan beberapa pemikir dan ilmuwan Barat mengenai hal itu.

Al-Qur'an memandang kemampuan batin manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, kebajikan dan kejahatan, sebagai ilham Ilahi yang tertanam dalam dirinya.

Demi jiwa serta Yang menyempurnakannya dan mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya. )Q.91:7-8)

Jean Jacques Rousseau menulis,

Pandanglah setiap bangsa di dunia, bacalah setiap jilid sejarahnya; di tengah semua bentuk pemujaan yang ganjil dan kejam ini, di antara keanekaragaman adat istiadat yang mengherankan ini, Anda akan mendapatkan di mana-mana gagasan yang sama tentang baik dan buruk... Oleh karena itu pada dasar hati kita ada suatu prinsip fitriah tentang keadilan dan kebajikan, dan prinsip inilah, yang dengan itu kita menilai tindakan kita sendiri atau tindakan orang lain sebagai baik atau buruk, dan prinsip inilah yang saya namakan kesadaran atau hati nurani....

Kepentingan diri, kata mereka, mendorong setiap orang untuk menyepakati kebaikan umum. Tetapi, bagaimanakah maka orang baik menyetujui hal yang menyakiti dirinya sendiri? Apakah seserang yang menjemput kematian demi kepentingan diri? Tak diragukan, setiap manusia bertindak demi kebaikan-nya; tetapi, apabila tidak ada kebaikan moral yang harus dipertimbangkan, kepentingan diri hanya akan memungkin-kan Anda menuntut tanggung jawab atas perbuatan orang-orang jahat; mungkin Anda tidak akan berusaha berbuat lebih dari itu. Suatu falsafah yang tak mengandung tempat bagi perbuatan baik akan sangat tercela... Apbila doktrin-doktrin seperi itu berakar di kalangan kita maka suara alam, bersama dengan suara akal, akan terus memprotesnya, sehingga tak ada penganut ajaran semacam itu yang akan mengajukan alasan yang jujur bagi keberpihakannya.

Perintah hati nurani bukanlah penilaian melainkan perasaan.Walaupun seluruh gagasan kita datang dari luar, perasaan yang menimbangnya berada dalam diri kita, dan hanya dengan perasaan ini saja kita melihat kesesuaian dan ketidaksesuaian hal-hal sehubungan dengan kita sendiri, yang mengantarkan

kita mencari atau menjauhi hal-hal ini.... Mengetahui kebaikan bukanlah mencintainya; pengetahuan itu tidak fltriah dalam diri manusia, tetapi segera akalnya mengantarkannya untuk melihatnya, nuraninya mendorong dia untuk mencintainya, dan perasaan inilah yang fitriah NuranilNurani! Naluri ilahiah, suara abadi dari langit, penuntun yang meyakinkan bagi makhluk yang sesungguhnya tak tahu dan fana, namun cerdas dan bebas, hakim tentang baik dan buruk yang tak pernah keliru, membuat manusia menyerupai Tuhan! Dalam diri Anda terdapat kehebatan watak manusia dan moralitas tindakan-tindakannya; terlepas dari Anda, Nurani, saya tidak mendapatkan apa-apa dalam diri saya untuk mengangkat saya mengatasi hewan - tak ada selain hak istimewa yang menyedihkan untuk mengembara dari satu sudut ke sudut lainnya, dengan pertolongan pengertian yang tak terkekang dan akal yang tak kenal prinsip.

Syukurlah, kita telah meluputkan diri dari pertunjukan falsafat yang menakutkan itu; kita dapat menjadi manusia tanpa menjadi ilmuwan. Sekarang kita tak perlu mengerahkan kehidupan dengan mengkaji moralitas, kita telah mendapatkan penuntun yang lebih meyakinkan dan lebih murah melalui jaringan luas pemikiran manusia. Tetapi, tidaklah cukup sekadar menyadari adanya penuntun itu. Kita harus menge-nalinya dan mengikutinya. Apabila ia berbicara kepada semua hati, mengapakah maka hanya sangat sedikit yang mempedulikan suaranya? Ia berkata kepada kita dengan bahasa alam, dan segala sesuatu mengantarkan kita untuk melupakan bahasa itu. Nurani itu pemalu; ia mencintai kedamaian dan kesepian, ia bingung karena kebisingan dan jumlah; prasang-ka, dari mana ia dikatakan berasal, adalah musuhnya yang terburuk. Ia melarikan diri dari hadapan mereka atau berdiam diri, suara bising mereka menenggelamkan kata-katanya sehingga ia tak dapat beroleh pendengaran. Fanatisme berani menentang suaranya dan mengilhamkan kejahatan atas namanya. Ia takut akan perlakuan buruk; ia tidak lagi berbicara kepada kita, tidak lagi menyambut panggilan kita. Setelah diejek sekian lama, sulit untuk memanggilnya kembali sebagaimana sukar juga mengasingkannya.[33]

Friedman berkata,

Suara kesadaran bukanlah produk pendidikan atau latihan atau suatu cara lain; ia adalah bagian dari kepribadian manusia. Siapa saja yang naik ke kedudukan yang tinggi yang menonjol dalam masyarakat atau menjadi pembawa panji kemanusiaan, adalah suara kesadarannya yang menuntun dia kepada kebajikan dan ketakwaan.[34]

Psikolog Henri Baruk mengatakan,

Kesadaran hati nurani bukanlah suatu reaksi buatan melainkan suatu pelaku yang paling mendalam yang fitriah dalam watak manusia. Walaupun ada berbagai jenis usaha penekanan, manusia tak dapat membungkam atau menghapus kesadaran itu. Lagi pula, kestabilan dan pertahanan kesadaran yang luar biasa, sekalipun dalam keadaan sakit parah, gila maupun kelainan jiwa, dan kelanjutan hidupnya bahkan setelah suramnya cahaya akal, memberikan kesaksian, sebagai-mana dikatakan sebelumnya, akan kedudukannya yang nyata dan menonjol dalam jiwa manusia.

Sebagian ilmuwan bertanya-tanya apakah kesadaran itu bukan suatu produk dari pelajaran, pendidikan atau agama. Tetapi, haruslah ditunjukkan bahwa fitur-fitur asing dari kesadaran telah didapati dalam ritual-ritual agama primitif. Ungkapan rasa pesona dan kekecewaan di kalangan banyak bangsa pemuja berhala memberikan kesaksian tentang tuanya nurani yang telah ada bersama manusia sejak awal mulanya. Penolakan terhadap fakta ini sama artinya dengan kegagalan total dalam memahami jiwa manusia.[35]

Al-Qur'an memaklumkan,

Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir; dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua buah jalan (kebaikan dan kebajikan serta kejahatan dan kejekkan)? (QS. al-Balad: 8-10)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan); karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. al-Insaan: 2)

Samuel Smiles menulis,

Kesadaran nurani adalah daya kemampuan khusus dari jiwa yang dapat disebut naluri keagamaan. Ia mula-mula mengung-kapkan diri ketika kita menjadi sadar akan perjuangan antara watak yang luhur dan yang rendah di dalam diri kita—tentang ruh yang memperingati melawan daging—tentang kebaikan berjuang untuk menaklukkan kejahatan.... Untuk menikmati kebebasan yang tertinggi, pikiran harus dibangunkan oleh pengetahuan. Ketika pikiran telah tercerahkan, dan kesadaran menunjukkan kekuatannya, tanggung jawab manusia ber-tambah....

Kesadaran itu permanen dan universal. Ia memberikan kepada manusia kendali diri—kemampuan untuk menolak dan melawan godaan.... Satu-satunya latihan komprehensif dalam pengendalian diri tercapai melalui pendakian kesadaran— dalam pengertian kewajiban yang dilaksanakan. Hanya kesadaran saja yang menegakkan manusia pada kakinya, membebaskan dia dari kekuasaan dan tingkah hawa nafsu. Ia menempatkan orang sehubungan dengan kepentingan-kepentingan terbaik baginya. Sumber kenikmatan yang paling benar hanya terdapat di jalan kewajiban. Kenikmatan akan datang sebagai pemanis kerja yang tak diminta, dan memah-kotai setiap pekerjaan yang tepat.

Pada pertumbuhannya yang paling penuh, kesadaran mengarahkan manusia ke mana saja yang membuatnya berba-hagia dalam pengertiannya yang tertinggi, dan menyuruhnya bersabar terhadap segala yang membuatnya tak bahagia.... Tanpa kesadaran, orang tak akan dapat mempunyai prinsip yang lebih tinggi selain kesenangan.... Suatu bangsa yang terbuat seperti itu, dengan akal dan hawa nafsu seperti yang dimiliki manusia, dan tanpa pengaruh tertinggi kesadaran untuk mengatur perbuatannya, akan segera terbuang ke dalam anarki total, dan berakhir dalam kehancuran bersama. Kekuatan akal terbesar mungkin ada tanpa sezarah pun kemuliaan. Kemudian datang dari kekuatan tertinggi dalam pikiran manusia—kesadaran, dan dari daya kemampuan yang paling tinggi, akal, dan kemampuan untuk beriman—yang dengan itu manusia mampu memahami lebih banyak daripada apa yang disuplai oleh indera.... Pelajaran terbesar yang haras dipelajari ialah bahwa manusia harus memperkuat dirinya untuk melaksanakan kewajibannya dan melakukan apa yang tepat, mencari kebahagiaan dan kedamaian batinnya dalam obyek-obyek yang tak dapat diambil dari dia. Kesadaran adalah konflik yang dengan itu kita mencapai penguasaan atas kegagalan-kegagalan kita sendiri. Kesadaran merupakan perkerjaan diam-diam dari batin manusia, yang dengan itu ia membuktikan kekuatan khususnya.[36]

Al-Qur'an menyatakan,

Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. aI-Qiyaamah: 1-2)

Dalam ayat ini jeritan penyesalan dan penyalahan batin yang timbul dari kedalaman kesadaran manusia disebut 'jiwa yang amat menyesali' {an-nafs al-lawwamah). Ini adalah daya kemampuan batin yang oleh para psikolog dinamakan 'kesadaran'.

Otto Friedman menulis,

Seseorang mungkin mengerahkan waktu berjam-jam minum anggur di bar atau membuang waktunya di meja judi, atau sibuk dalam permainan.... Bagaimanapun juga, ketika ia sedang sibuk dengan selingan-selingan itu, ia mungkin mempunyai perasaan batin yang tak tenteram yang terus menyiksanya dan tidak memberinya kesempatan untuk beroleh kesenangan dari waktu selingnya itu. Suatu suara batin mencelanya karena menyia-nyiakan waktu hidupnya. Suara ini terus bergema dalam kesadarannya.

Di sisi lain, sebagai ganti keterlibatan dalam waktu selingan seperti itu, mungkin timbul pikiran bahwa akan jauh lebih baik apabila ia menyibukkan diri dengan melatih anak-anak-nya atau membenahi taman dan tanamannya. Di sinilah kesadarannya menuntun dia ke arah tindakan-tindakan yang baik yang berguna bagi dirinya sendiri dan bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah orang terus membandingkan dirinya dengan orang lain, dan kesadarannya terus mencela dia. Makin besar dan makih tekun ketaatan seseorang kepada suara kesadaran, makin besar kekuatan kreatifnya dan kekuatan spiritualnya, dan makin besar gairah dan semangat hidupnya. Dan makin kecil perhatian sesorang kepada suara kesadaran, makin garang dia dan makin tak terkendali.[37]

Nabi Muhammad saw berkata,
Orang yang dikuasai oleh celaan diri kehilangan semua kedamaian.[38]

Seseorang mungkin kehilangan keseimbangannya di saat lalai lalu dorongan-dorongan rendah menguasainya. Sebagai akibatnya, ia menjadi nista dan menyedihkan, dan penyesalan dan rasa malunya menetap padanya selama hidupnya.

Iman Ali as berkata,

Betapa sering sesaat berleha-leha meninggalkan kesengsaraan sepanjang hidup.[39]

Masyarakat manusia di segala zaman telah mengambil manfaat dari kesadaran batin di saat-saat perlu. Para individu yang kosong dari perasaan moral, yang baginya kebajikan dan kejahatan tidak mengandung makna, dan yang melihat pengejaran kesenangan, makanan dan hawa nafsu sebagai tujuan hidup, adalah seperti keratan-keratan jerami yang dibawa banjir naluri hewani dan tidak mempunyai kredibilitas atau kedudukan dalam masyarakat, bangsa atau komunitas. Bilamana kepada seseorang dipercayakan suatu pekerjaan, hadirnya kesadaran dianggap jaminan bahwa pekerjaan itu akan dilaksanakan. Harus ada suatu ukuran yang baik tentang kepercayaan bahwa ia akan bertindak sesuai dengan kewajibannya. Tidaklah bijaksana menyerahkan suatu tugas kepada seseorang yang perilakunya mencurigakan dari sisi pandang kesadaran atau berlawanan dengan perilaku yang cermat.

Islam telah memberi perhatian khusus pada kesadaran dan mendasarkan usaha-usahanya dalam pembenahan dan perbaikan perilaku sosial dari kesadaran individu. Islam berusaha meyakinkan para individu untuk menempatkan seorang pengawas dalam batin mereka yang dapat mengekang mereka dari melakukan pelang-garan terhadap orang lain, sekalipun dalam kondisi permusuhan dan kemarahan. Al-Qur'an mengingatkan manusia dalam kata-kata berikut,

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. (QS. al-Maa'idah:8)

Sesuai dengan itu, tak seorang pun berhak menyerang orang lain atau melanggar hak-hak orang lain, dalam keadaan bagai-manapun. Hukum positif dengan sarana terbatas yang tersedia baginya untuk mengendalikan manusia dari luar untuk mencegah pelanggaran. Tetapi Islam memberikan kepentingan besar pada pemupukan dan pemeliharaan kesadaran individu. Dengan kesadaran yang berkembang, para individu sendiri melihat perlu-nya menahan diri dari tindakan-tindakan tertentu sehingga mereka dapat mencapai pembangunan spiritual dan keselamatan. Tak syak lagi, pengendalian diri jenis ini, yang dimotivasi oleh keimanan agamawi dan pengertian moral, merupakan sarana yang lebih meyakinkan, dan jalan yang lebih singkat ke tujuan.

Dalam pandangan Islam, pencapaian tujuan kehidupan yang lebih tinggi hanya mungkin melalui kerja sama dan saling cinta di antara sesama manusia. Ia mengundang manusia kepada kebajikan ini dan meminta mereka mendasarkan hubungan pada kerja sama dan kasih sayang. Dalam cahaya ajaran seperti itu, setiap orang merasa bahwa keberadaannya sebagai manusia adalah seperti lampu yang menyinari cakrawala kemanusiaan ketika ia, dengan senang dan tanpa kekangan, mengulurkan kerja sama dan kasih sayang kepada orang lain.


Imam Ja'far as-Shadiq as meriwayatkkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,

Adalah kewajiban setiap mukmin untuk memenuhi tujuh hak saudara seimannya: 
  1. ia tak boleh lalai menunjukkan hormat dan penghargaan kepadanya; 
  2. ia harus sungguh-sungguh mencintainya dari dasar lubuk hatinya; 
  3. ia harus membagikan hartanya secara adil dengannya; 
  4. ia harus menahan diri dari menggunjingi dia dan menyebutkan hal-hal yang tak pantas di saat ketidakhadirannya; 
  5. ia harus mengunjunginya bila ia sakit; 
  6. ia harus mengurusi pengu-burannya bila ia meninggal; 
  7.  ia tak menyebutnya kecuali dengan ramah setelah matinya.[40]

Manusia mendengarkan panggilan alam dan membedakan kebajikan dari kejahatan ketika tak ada sesuatu yang mengganggu perjalanan alam. Suatu kesadaran yang terikat dan telah direbut kebebasan bergeraknya oleh rantai berat nafsu hewani, desakan-desakan mencari kekuasaan dan kedudukan tak dapat mewujud-kan karakternya yang sesungguhnya dan menjadi hakim yang terpercaya. Dengan demikian maka dalam masa krisis peperangan dan revolusi serta keadaan luar biasa, kesadaran menderita pukulan dahsyat, dan kegiatannya berhenti. Dalam keadaan seperti itu gagasan dan doktrin-doktrin yang menyeleweng timbul sebagai kekuatan dinamis yang potensial, dan penekanan pada kesadaran kolektif mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang tak terpulihkan bagi manusia.

Ada suatu perbedaan besar antara orang yang sadar dan orang yang tak berkesadaran; perbedaan ini bahkan lebih besar daripada perbedaan yang memisahkan manusia dari makhluk lain. Apabila api dengan sifatnya, yakni membakar, membakar tubuh seorang manusia, itu adalah akibat wataknya yang hakiki. Api tak punya kesadaran bahwa yang dibakarnya adalah makhluk, manusia yang sangat merasakan siksaan pembakaran. Tetapi, apa saja yang dilakukan oleh orang yang ceroboh dilakukannya dengan pengeta-huan dan kesadaran. Kekejaman, kelaliman dan penderitaan yang ditimpakan oleh manusia kepada manusia lainnya adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar.

Salah satu dari hal-hal yang mengubah watak azali manusia dan melemparkan bayangan gelap pada wajah cerah yang murni adalah pengulangan dosa. Seorang penjahat keji melakukan banyak kejahatan mengerikan tanpa merasakan siksaan jiwa bagi peri-lakunya yang buruk itu. Kondisi sadistis semacam itu sangat terkecuali.

Masyarakat hanya dapat mencapai keadilan sosial bila para individu menerima suatu pelaku batin yang dapat bertindak sebagai hakim dan pengawas atas tindakan-tindakan mereka dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya. Apabila semua orang dalam suatu unit masyarakat yang sesungguhnya yang memberi makna kepada kemanusiaan mereka mempunyai etos yang sama dan identik, hal itu bukan saja menimbulkan suatu kondisi sempurna tentang kehidupan bersama, tetapi juga membuat mereka seperti bagian-bagian organisme dan mata rantai dari suatu mekanisme.

Landasan Akal dan Kesadaran

Bilamana impuls-impuls pemberontak berusaha menjungkir-kan peran akal dan kesadaran, dan menjadikan manusia tawanan hawa nafsu, iman muncul sebagai dukungan terbaik untuk dijadikan andalan. Iman adalah dukungan dan tumpuan yang paling besar bagi kesadaran dan penalaran. Dengan dukungannya, nalar dan kesadaran mendapatkan kemampuan untuk menekan naluri-naluri pemberontak dalam segala keadaan, menolak tekanan hawa nafsu yang memusuhi, dan mengatasi segala kecenderungan yang berbahaya. Seorang manusia yang diperlengkapi dengan senjata keimanan adalah orang yang dalam kata-kata Al-Qur'an, "Telah berpegang kepada buhul taliyang amat kuat".[41]

Fungsi dari penalaran teoritis di atasnya bertumpu metafisika, pengetahuan alam dan matematika, ialah untuk melakukan penilaian mengenai realitas. Namun, penalaran praktislah yang membentuk dasar ilmu pengetahuan tentang kehidupan, dan fungsinya ialah membuat penilaian mengenai kewajiban dan tanggung jawab manusia. Jalan dan pendekatan yang dipilih manusia dalam kehidupan berhubungan dengan karakter penilaian yang dibuat oleh penalaran praktis.

Salah satu faktor penting yang memberikan kejelasan pan-dangan kepada akal ialah takwa. Klaim bahwa takwa menerangi akal dan membuka jendela kebijaksanaan di hadapan manusia adalah suatu hal yang tidak berhubungan dengan akal teoritis. Dengan sarana takwalah manusia mampu membedakan jalan hidup yang tepat dan menemukan penyakitnya sendiri serta obatnya.

Karena wilayah tindakan akal praktis sama dengan wilayah hasrat, impuls dan hawa nafsu, kegarangannya yang tak terkendali mempunyai efek yang menentukan pada akal dan pikiran praktis orang yang berfungsi membentuk konsepsi-konsepsi kewajiban yang jelas, dan yang benar atau salah. Hawa nafsu yang terkendali mengangkat kabut tebal yang mengganggu cahaya lampu akal. Dalam kata-kata Hafizh,

Kecantikan si tercinta tidak bercadar dan bertirai, tetapi
Debu di jalan harus diendapkan supaya pandangan boleh bekerja.
Dalam ajaran Islam, hasrat dan hawa nafsu dipandang sebagai bermusuhan dengan akal, karena cengkeramannya melemahkan kekuatan akal dan menetralisasi pengaruhnya.

Nabi saw berkata,
Musuh Anda yang terbesar adalah yang di antara dua pinggang Anda.[42]

Imam Ja'far as-Shadiq as berkata,
Hawa nafsu adalah musuh akal. 

Amirul Mukminin Ali as berkata,
Kebanyakan dari kegagalan akal terjadi di bawah petir keserakahan.[43]

Bilamana takwa memegang hati, ia membelenggu hasrat dan hawa nafsu, menjinakkan dan mengendalikannya. Sebagai hasilnya, akal menjadi bebas dan aktif. Ini menunjukkan ektivitas takwa dalam memperluas pandangan dan terangnya akal.

Nabi Muhammad saw menyebutkan ciri-ciri berikut ketika menggambarkan sifat-sifat orang beriman,

Di antara keutamaan menonjol orang beriman, ia tidak melanggar norma-norma keadilan karena kemarahannya pada sesorang. Ketertautannya pada seseorang tidak membuat dia menempuh jalan dosa. Ia bukan pelanggar dan tidak menindas orang lain. Ia tidak menerima kebatilan sekalipun datangnya dari seorang sahabat, dan tidak menolak hak-hak musuhnya.[44]


Manusia sepenuhnya bebas menggunakan aset-asetnya yang sangat berharga berupa akal dan kesadaran yang telah dianugerah-kan kepadanya, dan mengambil manfaat darinya. Namun, kebebas-annya yang terakhir terletak pada mengatasi beberapa dari hasrat alaminya; yakni, bilamana sebagian dari wujudnya—yaitu akal dan kesadarannya—mendominasi bagian lainnya yang berupa naluri-naluri alaminya.

Akal dan kesadaran memelihara supremasinya selama tidak ada konflik antara keduanya dan impuls-umpuls kejiwaan yang menggejolak, yang dapat dikendalikan dengan mudah oleh kedua daya kemampuan itu. Keduanya itu mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada otoritas kepolisian lahiriah, karena perintah-perintah mereka dianggap oleh individu sebagai dinyatakan oleh dia sendiri, dan ia tak dapat memberontak melawan dirinya sendiri dengan menolak untuk mematuhinya.

Namun, suatu kesulitan besar muncul ketika dominasi akal dan kesadaran memastikan ketidakpedulian ataii penekanan salah satu dari naluri-naluri batiniah. Dalam situasi seperti itu—dalam berbagai kasus—daya tangkal akal dan kesadaran runtuh di hadapan kekuatan naluri yang ganas. Keduanya dipaksa mundur dan menyerahkan medan kepada kekuatan-kekuatan naluri yang menyerbu. Bagaimanapun keadaannya, manusia selalu terancam oleh hawa nafsunya.

Tetapi, manusia dengan iman sejati kepada Tuhan, yang keimanannya berakar mendalam pada hatinya, dan yang secara khusus menaati dan mempedulikan aspek-aspek keagamaan, memimpin hawa nafsunya yang bergejolak dengan mengandalkan keimanan. Di saat-saat berbahaya, dan dalam menghadapi panggilan hasrat yang haram, ia menolak impuls-impulsnya yang tak patut, da dengan wewenang serta kekuasaan yang sempurna, melakukan perlawanan yang tekun terhadap hawa nafsu yang memberontak.
Pemikiran Sesat dan Rasionalisme

Penyesuaian dengan perintah akal dan kesadaran, dan penye-rahan kepada tuntutan keadilan dan kesamaan, bukanlah tugas yang mudah. Karena itu banyak orang yang harus menyesuaikan diri dengan panggilan kesadaran, menyerah kepada penilaian akal sehat, dalam pertemuannya dengan kewajiban moral, keagamaan dan ilmiah dan dalam mengkonfrontasi fakta-fakta dan realitas, dan mengabaikan sebagian dari kepentingan egoistisnya, disiksa oleh penerimaan tanggung jawab dan prospek kerugian. Kecemas-an ini, yang disebabkan oleh absennya keimanan dan keberanian moral yang sesungguhnya, membuatnya menekan kesadarannya dalam kesukaran-kesukaran hidup. Sesudah itu, untuk menghindar dari tekanan kejiwaan, mereka mencari perlindungan pada pembenaran dan rasionalisasi yang timpang. Jelaslah bilamana seseorang mencari jalan pada pendekatan yang tak pantas ini beberapa kali, kegiatan akalnya menderita dan melemah. Orang itu berangsur-angsur terbiasa dengan cara akal bulus dan menjauh dari pemikiran logis yang benar. Lalu cara itu mengambil bentuk kebiasaan negatif, dan dalam perjalanan waktu kebiasaan itu muncul sebagai sifat pribadi yang langgeng.

Suatu kelompok manusia lainnya, untuk menghindar dari tanggung jawab, dan untuk menjauhkan diri dari mengakui kesalahan, mereka berusaha menggeserkan tanggung jawab atas berbagai urusan dan sekaitan dengan situasi kehidupan yang amat menentukan kepada orang lain, dengan mencari pembenaran bagi kepentingan mereka sendiri, berusaha menutup masalah itu dengan penilaian sepihak. Jenis penilaian yang tak pantas ini bukanlah akibat kelalaian dan tidak adanya perhatian pada hal-hal yang halus dari suatu masalah. Dalam prakteknya semua orang yang menyeleweng, yang karakter keji dari tindakan-tindakannya tidak diragukan, mencari berbagai pembenaran dan rasionalisasi yang tak dapat diterima, untuk menerangkan dan membenarkan tindakan mereka yang tidak manusiawi.

Dale Carnegie menulis,

Saya telah mengadakan beberapa korespondensi yang menarik dengan Warden Lawes dari Penjara Sing Sing, dan ia memaklumkan bahwa "[hanya] sedikit penjahat di Sing Sing yang memandang diri mereka sebagai orang jahat. Mereka hanyalah manusia seperti Anda dan saya. Demikianlah mereka merasionalisasi. Mereka dapat mengatakan kepada Anda mengapa mereka harus membongkar peti besi atau berlaku cepat menarik pelatuk senjatanya. Kebanyakan dari mereka berusaha dengan suatu bentuk penalaran, batil atau logis, untuk membenarkan tindakan-tindakan antisosial mereka, kepada diri mereka sendiri, yang sebagai konsekuensinya, mereka mempertahankan dengan sungguh-sungguh bahwa mereka sama sekali tidak seharusnya dipenjarakan."


Apabila Al Capone, "Two Gun" Crowley, Dutch Schulz, orang-orang nekat di balik dinding penjara, sama sekali tidak menyalahkan diri mereka—bagaimana dengan orang-orang yang berhubungan dengan Anda dan saya?[45]

Pada awalnya setiap orang mengandung rasa bersalah jika mengabaikan tanggung jawab atau karena melanggar norma-norma moral atau sosial. Tetapi, pengulangan pelanggaran dan kesalahan semacam itu membuat orang terbiasa kepadanya. Setelah itu—dalam akhir tahap yang gawat—respon jiwanya terhadap pelanggaran itu secara tak sadar kehilangan kepekaannya, sampai terus merasa kebal dari kecemasan dan siksaan batin.

Al-Qur'an al-Karim menggambarkan makhluk celaka seperti itu, yang telah kehilangan akal dan kesadaran yang juga karena kejahatan, dan memburu keuntungan serakah dan tenggelam secara tak terpulihkan ke dalam tidur kelalaian dan lumpur kemerosotan sehingga tak ada yang dapat membuat mereka berpikir wajar lagi dan membedakan antara yang baik dan buruk, menjadi lebih tersesat dan lebih yang rendah daripada hewan.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergu-nakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang temak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A'raaf: 179)

Tolok Ukur Nilai Manusiawi

Kepribadianlah yang membedakan setiap individu dengan yang lainnya, dan melaluinya kita menentukan nilai dan kedudukan sesungguhnya seorang manusia. Walaupun kenyataan bahwa semua orang mempunyai ciri umum maupun reaksi-reaksi umum yang khas bagi spesies manusia, dan demikian pula sehubungan dengan naluri-naluri sosial, namun setiap orang mempunyai sifat-sifat tertentu yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, dan karunia-karunia khusus tertentu yang membedakan dia dari sesamanya manusia lainnya.

Kepribadian tidak terdiri dari ciri-ciri abstrak tertentu dari seseorang, melainkan dari totalitas seorang individu, yang membe-dakannya dari orang lain. Kepribadian adalah suatu kesatuan yang terdiri dari sekelompok sifat dan motif batin. Lagi pula, hanya sifat-sifat yang dipandang sebagai bagian dari kepribadiannya yang mempunyai kadar tertentu.

Prinsip-prinsip yang mengatur pertumbuhan dan perkembang-an kepribadian berlaku bagi semua. Tetapi, bilamana prinsip ini diterapkan pada dua indhddu, hasil yang diperoleh tidak sama. Bilamana kepribadian dari keduanya dibandingkan, perbedaan antara keduanya nampak jelas.

Aspek-aspek tertentu yang dapat diamati memang dapat diukur, tetapi tidaklah mudah mengukur aspek-aspek yang lebih dalam dan lebih batiniah dari kepribadian bila dilihat dari sisi moral.


Sebagian dari sifat-sifat itu memainkan peran yang lebih penting dalam struktur kepribadian dibanding dengan yang lainnya. Sifat-sifat yang berwatak moral dan etis ini lebih bermakna dari sisi pandang kepribadian. Dalam kenyataan, "karakter" sese-orang adalah kepribadiannya, bila dilihat dari sisi moral.

Dampak dari kepribadian, karakter dan kekuatannya, maupun caranya mendapatkan sifat-sifat yang membentuk pribadi, memain-kan peran yang lebih mendalam dan fundamental dalam kesejah-teraan dan kesengsaraan para individu. Karena, kebahagiaan dan kesengsaraan, lebih daripada setiap faktor luar lainnya, tergantung pada level pemikiran, akal, keutamaan spiritual dan penyebab-penyebab batiniah yang bekerja pada seseorang individu. Perbedaan status sosial dan finansial tidak mempunyai dampak yang tegas dan menentukan pada kebahagiaan seseorang.

Fondasi spiritual seseorang dan perkembangan kepribadiannya berhubungan langsung dengan ketertautannya dan penilaiannya pada berbagai hal. Secara alami ia berusaha menegakkan kesetaraan antara kepribadiannya dan obyek-obyek ke mana ia tertaut, supaya terbiasa dengannya. Kelakuan dan perangainya diselaraskan dengan apa yang dianggapnya paling berharga dan bernilai dalam kehidupan. Berbagai peringkat nilai mewakili cara berpikir dan etos. Di sini kita dapati cara mengukur nilai intrinsik setiap orang dan kriteria untuk mengukur kepribadiannya.

Orang-orang yang mendasarkan keberhasilan dan kebahagiaan mereka pada nilai-nilai materialistis—berkaitan dengan kualitas maupun kuantitas—dengan mengarahkan usaha-usaha mereka sepanjang hidup untuk mencapai tujuan-tujuan materialistis, dan sama sekali mengabaikan dan menolak nilai-nilai riil yang menjadi basis untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya, pada kenyataannya menghancurkan kepribadian manusiawi mereka. Ada banyak orang yang mengerahkan seluruh hidupnya dalam perburuan nilai-nilai materialistis, tetapi tidak sudi mengabdikan sesaat waktunya untuk menemukan khazanah yang tak terkira nilainya berupa keutamaan dan kebajikan spiritual.

Para ilmuwan berbeda pendapat tentang sejauh mana masalah kepribadian berhubungan dengan psikologi sosial. Sebagian memandangnya sebagai bawaan keturunan dan faktor-faktor psikologis. Sebagian lainnya memandang kepribadian sebagai produk dari faktor-faktor sosial semata-mata. Kebenarannya terletak di antara kedua posisi ekstrem itu.


Keluarga, sekolah dan lingkungan sosial merupakan tiga faktor yang paling potensial dalam meletakkan fondasi-fondasi kepriba-dian dan menentukan karakter seseorang. Psikologi modern sangat mementingkan gejala yang kurang dipahami dari kepri-badian—sesuatu yang tidak mendapat banyak perhatian dalam psikologi lama. Tak diragukan, faktor-faktor sosial memainkan peranan penting dalam pembentukan kepribadian dan banyak dari sifat-sifat manusia dibentuk oleh lingkungan luar. Hanya sedikit orang yang dapat menangkal kekuatan dan pengaruh lingkungan mereka dan melawan arus.

Munn, dalam karya psikologinya, berkata,

Kita akan mempunyai kepribadian yang sangat berlainan apabila kita dibesarkan oleh orang Eskimo, orang Indian Sioux, atau orang Bali, atau oleh suatu kelompok kultural lain. Bukan saja kita akan berpakaian secara lain, hidup di kediaman jenis lain, makan makanan lain, menggunakan peralatan dan senjata yang lain, berbahasa dengan bahasa lain, dan mempunyai adat kebiasaan yang lain, tetapi kita pun akan mempunyai konsepsi yang berbeda tentang dunia dan tempat kita di dalamnya. Ego dan superego kita akan sangat berbeda.

Antropologi kultural telah memberikan tekanan yang tepat kepada "acuan sosial kultural" di mana kepribadian berkem-bang. Anak-anak yang dibesarkan di Amerika Serikat menda-patkan suatu jalan hidup dan kepribadian, yang mungkin sekali akan dicirikan sebagai "khas Amerika". Tetapi, bahkan dalam acuan kulturalnya sendiri, aspek-aspek kepribadian dapat berubah, tergantung pada pertanyaan apakah kita dibesarkan di Utara atau di Selatan, di Timur atau di Barat, apakah kita dibesarkan di pedesaan, di kota besar atau kecil, apakah kita dibesarkan di perkampungan kumuh atau di kawasan kediaman yang terbaik, apakah terpencil, berbudaya atau tidak berbudaya, religius atau tidak religius; apakah kita bersekolah di sekolah standar, di bawah standar, atau unggulan; apakah kita mempunyai atau tidak mempunyai sahabat karib, apakah kita menyesuaikan diri atau tidak menyesuaikan diri dengan adat kebiasaan dari kultur kita, dan sebagainya.

Pengaruh-pengaruh sosio-kultural semacam itu difokuskan kepada seorang anak sejak lahimya, dan terus mempengaruhi-nya sepanjang masa hidupnya.[46]


Ada banyak kegiatan naluriah yang dapat secara umum dibentuk dan terbentuk oleh kondisi-kondisi lingkungan. Jadi, untuk perkembangan aspek kreatif dari kegiatan-kegiatan ini, perlulah mengubah dan memperbaiki sebelum segala sesuatu kondisi-kondisi yang dapat memperkuat atau melemahkan kegiatan-kegiatan hakiki ini. Juga, dari sudut pendidikan dan dari sisi pandang pengaruh pada kebiasaan, efek-efek dari setiap tindakan manusia harus dianalisis sebagaimana mestinya agar dapat mema-hami bagaimana suatu kecenderungan tertentu dapat diperkuat atau dicek.

Dari sisi pandang meletakkan fondasi-fondasi pertumbuhan emosi dan pembentukan lingkungan sosial yang patut, tahun-tahun usia kanak-kanak adalah tahun-tahun pembentukan yang paling penting. Latihan dini dilakukan melalui orangtua dan keluarga dekat lainnya. Perilaku dan pembicaraan yang benar oleh para guru mempunyai dampak yang menentukan dalam menetap-kan pola kehidupan si anak dan dalam menyutnbang bagi perkem-bangan kepribadiannya dan mekarnya kemampuan-kemampuan batinnya. Sebaliknya, metode-metode latihan yang tak pantas dan tak berprinsip merugikan perkembangan kepribadian si anak dan menekan kemampuan-kemampuan batinnya. Pohon muda yang baru keluar dari bumi dapat ditekukkan dengan mudah ke arah mana saja yang kita inginkan. Kecantikan dan kebagusan pohon masa depan tengantung pada perhatian yang kita berikan kepadanya di masa ketika ia masih muda.

Seperti itu pula, arah perkembangan kepribadian dapat ditentukan di masa dini kehidupan dan kepribadian masa depan si anak terbentuk dengan menyediakan kondisi-kondisi dan sarana yang tepat. Dari itu mungkin menggambarkan kepribadian masa depan seorang anak dan jenis reaksi-reaksi psikologisnya kepada kondisi-kondisi sulit yang mungkin ditemuinya dengan mengkaji kondisi-kondisi keluarganya dan situasi di dalamnya.

Penyebab keterbelakangan dan pertumbuhan yang lamban dalam kehidupan seseorang atau suatu masyarakat harus dicari dalam kekurangan kepribadiannya. Sekarang para spesialis yang melakukan penelitian tentang kepribadian, dalam beberapa sisi, juga memberi perhatian pada faktor-faktor yang lebih mendalam.

Ukuran kecerdasan seseorang dan kemampuannya menyelesai-kan masalah terungkap dalam situasi-situasi kritis. Orang-orang yang juga memberi perhatian pada reaksi-reaksi batinnya dalam keputusan dan kegiatan-kegiatannya mendapatkan pengertian yang lebih besar tentang keyakinan dan kebebasan diri, dan mendapatkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam kepribadia-nnya sendiri. Sebagai hasilnya, mereka lebih efisien dan efektif daripada orang-orang yang memberikan perhatian lebih besar pada faktor-faktor lahiriah. Perhatian eksklusif pada faktor-faktor lahiriah menjuruskan orang mengabaikan perhatian pada perkembangan pikiran, akal dan pembentukan kepribadian dan memberikan nilai tambah dan kehormatan kepada pandangan sosial seseorang.

Pada saat orang-orang picik dan dangkal dalam mencari pemuasan tujuan dan hasrat yang sia-sia, berusaha memenuhinya dengan jalan berbagai jenis sarana, orang yang bertujuan lebih tinggi menjadi lebih tajam dalam usaha mencapai kesenangan spiritual dengan mengandalkan kekuatan akalnya. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir dan akal yang aktif, dan mengambil manfaat dari setiap kesempatan untuk memburu pikiran-pikiran yang bernilai dan luhur, adalah lebih dekat kepada kebahagiaan yang sesungguhnya di dunia ini.

Schopenhauer berkata,

Suatu temperamen yang tenang, optimisme, energi dan kekuatan adalah faktor-faktor yang paling penting yang menjadi penyebab kebahagiaan manusia.

Seorang bijaksana sekalipun dalam keadaan terkucil dapat menikmati saat-saat yang paling manis dengan sarana pikiran dan khayalannya, sedang orang jahil, tak peduli seberapa besar ia menganekaragamkan penyimpangan dan melakukan perbe-lanjaan yang besar, tak dapat membebaskan dirinya dari depresi yang menyiksa tubuh dan jiwanya. Orang yang optimis dan sabar dapat di saat-saat kemiskinan menjalani hidupnya dengan kepuasan dan ketabahan, sedang si orang rakus, sekalipun ia mempunyai seluruh kekayaan di dunia, selalu sedih dan tak puas.

Orang yang berpikiran kuat dan berakal sehat menahan diri dari kesenangan-kesenangan dangkal dan sepintas, yang untuk mencapainya manusia duniawi membunuh dirinya sendiri.

Socrates, si cendekiawan itu, pada suatu saat ketika mengamati bahan hiasan yang dipamerkan, berkata, "Betapa amat banyak hal-hal yang ada di dunia ini yang tidak diperlukan manusia." Dari itu faktor paling penting yang efektif dalam kebahagiaan manusia adalah kepribadian.[47]

Kepribadian tidak boleh dipandang sebagai berdimensi tunggal atau diukur dengan tolok ukur atau standar tunggal. Pendekatan salah semacam itu berbahaya dan menyelewengkan kita dari fakta-fakta. Banyak orang apabila dikonfrontasi dengan ketidak-lengkapan atau cacat tertentu mengabaikan kekuatan imbalan dari dimensi-dimensi lain dari kepribadian mereka dan mengait-kan ketidaklengkapan seseorang dari dimensi-dimensinya sebagai cacatnya kepribadian secara keseluruhan. Pendapat tak berdasar seperti itu mendorong orang kepada kecemasan yang membuat orang merasa tak berdaya, suatu kondisi yang seterusnya dapat mengakibatkan kerugian yang tak terpulihkan dan bahaya yang tak dapat diperbaiki.

Banyak krisis dan banyak pertumpahan darah dalam sejarah adalah akibat prasangka merugikan yang berdasarkan anggapan yang salah tentang kepribadian, di mana suatu dimensi tunggal saja dijadikan tolok ukur satu-satunya. Suatu kebanggaan tak berdasar yang diilhami oleh prasangka semacam itu telah menyebabkan banyak peristiwa yang menyesalkan dalam perjalanan sejarah.

Banyak orang, sementara memiliki kemampuan-kemampuan besar tertentu menderita kekurangan dalam hal-hal tertentu. Ketidaksempurnaan ini menjadi halangan dalam kegiatan dan kemajuan mereka. Di saat-saat mereka mengaitkan ketidak-sempurnaan psikologis mereka kepada nasib buruk, dan dengan demikian memegang faktor-faktor lain sebagai penyebab kelemah-an mereka sendiri. Sebagai akibatnya, mereka memikul beban kelmahan ini sepanjang hidup, padahal dengan suatu ukuran dari kemauan dan usaha dapat mengatasi ketidaksempurnaan itu dan memperkuat nilai-nilai spiritual mereka.

Selama Anda terus merasionalisasi ketidaklengkapan Anda dan membiarkan pikiran-pikiran buruk menguasai nalar Anda, Anda akanmemperbesar kelemahan itu. Keberhasilan apa saja dalam hal ini bergantung langsung pada sejauh mana orang mampu mengambil keputusan serius bagi kemungkinan-kemungkinan mengembangkan diri tidak terbatas dan menjanjikan hasil yang luar biasa. Pada tahap pembentukan gagasan, poin penting ialah orang itu sebenarnya bercita-rita menjadi orang yang bagaimana. Realitas ini diungkapkan dengan kejelasan yang gamblang di saat-saat kehidupan ketika seseorang harus membuat keputusan kritis untuk memilih satu jalan di antara berbagai alternatif yang timbul dalam pikiran.

Selalu ada kontlik serius yang terjadi di antara berbagai dorongan dan naluri, yang masing-masingnya berusaha menyeret kita ke arah yang berbeda-beda. Pikiran dan renungan menyele-saikan konflik ini dan mengganti aneka ragam tujuan itu dengan satu tujuan yang terintegrasi.

Hendaklah diingat bahwa tidak ada suatu kepribadian yang selesai terbentuk dan final di balik karakter, perilaku dan kegiatan sesorang. Malah ia terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan dan mode-mode perilaku yang rumit yang berangsur-angsur menjadi saling harmonis antara satu dengan lainnya. Bilamana timbul suatu konflik baru di antara dorongan-dorongan itu, pikiran berusaha menegakkan/memapankan sejenis neraca dan keseimbangan di antaranya dan menimbulkan suatu keadaan gencatan sejata. Untuk maksud ini, itu kadang-kadang menimbulkan suatu kompromi antara berbagai dorongan dan dengan demikian mendapatkan sekurang-kurangnya keadaan damai dan kepuasan sementara. Sebagaimana mekanisme fisiologis yang secara otomatis datang beraksi untuk menegakkan suatu keseimbangan dalam tubuh apabila terjadi suatu gangguan yang paling kecil pun, pikiran juga bertindak untuk menyelesaikan permasalahan batin yang rumit dan menghindarkan bahaya yang jelas dengan menempuh jalan yang dapat dilakukannya.

Untuk mencapai neraca mental dan kedamaian mental dalam pikiran yang terganggu dan bingung, ada cara-cara tertentu yang sebagiannya logis dan memuaskan dengan sebagiannya, sedang yang lainnya tak rasional dan merugikan.

Psikolog Strecker dan kawan-kawannya mengajukan analisis sebagai berikut dalam hal ini,

Suatu cara yang efektif untuk menghaindari bahaya ialah menghadapi dan menatap konflik mental dan akibat-akibatnya dengan kecerdikan dan keberanian yang sebesar-besarnya dan mengurani intensitas konflik dan tekanan dari beberapa dari dorongan itu, dan dengan demikian menimbulkan suatu rekonsiliasi di antara mereka sehingga dapat memasuki arena kesadaran tanpa menyebabkan gangguan. Tetapi, sering kita tak dapat memperoleh suatu penyelesaian ideal untuk menyelesaikan konflik mental ini, dan kita terpaksa untuk menempuh jalan dalam bentuk sarana seperti introversion, extroversion, dan penipuan diri.

Kadang-kadang konflik mental tetap tak diketaj\hui dan tak jelas, atau tidak mendapat perhatian orang. Dalam hal ini, konflik-konflik itu menimbulkan suatu jenis perilaku yang sama sekali tidak berselaras dengan kepribadian sesorang dan orang yang bersangkutan tidak mempunyai pengetahuan tentang ketidakharmonisan ini. Sebagai hasilnya, kepriba-dian dan persepsi dirinya terpecah ke dalam dua arus, yang tak selaras antara satu sama lainnya, yang membuat orang itu nampak seperti bermuka dua dan ganjil dalam pandangan yang lain-lain.

Pikiran, rencana dan dorongan-dorongan selalu dalam keadaan kontlik dan tidak stabil dalam pikiran manusia. Orang-orang yang mempunyai kepribadian terpecah secara pribadi bertindak secara tak masuk akal. Para politikus yang selalu berteriak dan berpura-pura membela kelas pekerja termasuk ke dalam kelompok ini. "Kita harus mengangkat kesulitan-kesulitan kaum pekerja," seru mereka, tetapi begitu mereka berhasil, mereka mengambil tindakan-tindakan yang yang membuat kehidupan para pekerja seribu kali lebih suram dan lebih sulit. Ke dalam kelompok ini termasuk semua orang yang mempunyai dua jalan berpikir yang berbeda dan dua kepribadian yang saling berkonflik.[48]
Peran Mendasar Keruhanian dalam Pendidikan

Peran vital pendidikan sebagai faktor supreme bagi kekuatan dan ketegaran masyarakat telah diakui oleh semua mazhab pemikiran. Tidak mungkin mengabaikan perannya yang mendasar dalam kesejahteraan individu manusia. Namun, yang teramat penting ialah makna sesungguhnya dari 'pendidikan' maupun prinsip-prinsip dan tolok ukur pendidikan yang diakui sebagai standar untuk menilai keparibadian intelektual dan spiritual dan diterapkan untuk membimbing manusia menuju kehidupan bahagia dan bebas.

Karena manusia terbuat dari dua konstituen berupa ruh dan tubuh, kita memerlukan prinsip pendidikan yang dapat menye-laraskan dorongan-dorongan tubuh dan ruhani. Prinsip ini dapat didasarkan pada agama atau pada apa yang merupakan peroduk manusia. Bila kita bandingkan keduanya, kita lihat dengan jelas karakter utama dan otentik dari prinsip pendidikan yang didasarkan pada agama. Karena, motif religius innate dalam watak manusia yang terdapat dalam dirinya sebelum ia menjadi korban berbagai jenis kebutaan. Apabila tak ada faktor eksternal yang mengganggu perjalanan kecenderungan religius yang fitriah ini di masa dini kehidupan sinarnya menyoroti hati dan kesadaran manusia. Sebagai akibatnya, ia membuat dirinya sesuai dengan dorongan batin ini, an dengan kesadaran, dan dengan makin meningkatnya kekuatan yang tersembunyi ini ia menjadi lebih menyesuaikan diri dengan dikte-diktenya.

Di sisi lain, para filosof, dengan berbagai persepsi mereka tentang fakta-fakta tak dapat mencapai kesepakatan pendapat mengenai pendidikan dan penghalusan spiritual. Dan sekalipun dianggap bahwa ketidaksepakatan semacam itu dapat dicapai, itu tak dapat, sebagai prinsip, itu tak dapat dijadikan sarana untuk mendidik massa manusia yang tak dapat memahami bahasan-bahasan filosofis. Karena, kekuatan restraint moral harus muncul dari kedalaman ruh manusia supaya dapat memenuhi tuntutan dorongan batin; apabila tidak demikian maka resep-resep falsafah etika, karena merupakan produk buatan manusia, tidak mampu menembus realitas tersembunyi yang terletak pada inti wujud manusia, dan dengan demikian tidak sempurna untuk mendidik pada individu dan mengantarkan mereka kepada kehidupan bahagia lahir batin. Bahkan bagi para individu yang mau menaati-nya, peraturan buatan manusia ini akan menjadi beban yang menjemukan. Dari itu, atas basis ini, kita harus mengakui keunggulan prinsip keagamaan—yang berakar pada kedalaman wujud batin dan kesadaran manusia, dan merupakan realitas abadi yang terletak pada pusat watak fitriahnya—atas semua metode lain yang telah disarankan dalam bidang pendidikan, dan mengambil-nya supaya usaha manusia dapat mencapai tujuan-tujuan yang diletakkannya.

Melalui pengakuan kemenonjolan prinsip inilah maka manusia mendapatkan suatu keimanan yang yakin dalam kewajibannya yang sejati sebelum ia jatuh ke dalam tawanan materialisme. Sebagai akibatnya ia menjadi sangat terikat kepadanya, dan semua jiwa manusia yang paling luhur dalam sejarah telah menemukan kesenangan akibat dari menyesuaikan diri dengan perintah-perintahnya dan mengikutinya dengan pengabdian.

Singkatnya, jalan inilah yang telah ditunjukkan oleh para nabi dan kitab-kitab sud yang diwahyukan, yang memungkinkan watak manusia mengalir pada salurannya yang sebenarnya dan memuas-kan semua aspek wujud manusiawinya. Tujuannya tak lain dari-pada membimbing watak manusia kepada tujuannya berupa kebahagiaan abadi. Dari itu, apabila prinsip utama ini dijadikan basis pendidikan, semua individu akan mampu maju di jalan perkambangan dan kesempurnaan dalam cahayanya dan tetap aman dari setiap jenis peyimpangan.

Pandangan sepintas kepada orang yang menjalani kehidupan mekanistis—suatu fenomena dari era penyelewengan ini— mengungkapkan fakta bahwa walaupun ada kemajuan dalam bidang pengetahuan dan banyak terobosan yang dilakukan dalam pengetahuan alam fisik dan pengungkapari rahasia-rahasianya, sayangnya ia telah mengalami kemunduran dan kemerosotan mengenai pengetahuan tentang dirinya sendiri. Bukan hanya itu, ia telah gagal menolong dunianya—yang merupakan satu-satunya pemeliharaan dan perkembangannya—dari kemusnahan dan kebinasaan; malah, aneka ragam pengetahuannya sendiri telah menjadi sarana kehancuran dan kekacauannya. Lagi pula, ruhani manusia sendiri telah menjadi mangsa kejahilan yang mendalam di dalam lembah suatu peradaban khayali.

Dunia Barat telah membuat manusia menjadi sarana dari tujuan-tujuan industrialisasinya, dan telah mengambil apa yang merupakan sarana sebagai tujuan itu sendiri. Sebagai akibatnya, ia telah menciptakan suatu masyarakat yang aneh berdasarkan prinsip konflik di atas taraf individu atau konflik di antara golongan-golongan sosial. Tak ada dari kedua jenis masyarakat ini yang berharga bagi manusia. Manusia tak akan dapat mencapai kemanusiaannya yang sebenarnya tanpa menyelesaikan kontradiksi antara wujudnya sendiri dan peradaban.

Eric Fromm menulis,

Perasaan terkucil dan tak berdayanya manusia modern ditingkatkan lebih jauh oleh karakter yang semua diambil oleh hubungan manusiawinya. Hubungan kongkret dari satu individu dengan yang lainnya telah kehilangan karakternya yang langsung dan manusiawi dan telah mengambil semangat manipulasi dan instrumentalitas. Dalam semua hubungan sosial dan pribadi, hukum-hukum pasarlah yang mengatur. Jelaslah bahwa hubungan antara para pesaing harus didasarkan pada ketidakpedulian di antara sesama manusia....

Bukan hanya hanya hubungan ekonomi, melainkan juga hubungan pribadi antar manusia, yang mempunyai watak keterasingan ini; sebagai ganti hubungan antar manusia, mereka mengambil karakter hubungan antara benda-benda. Tetapi, barangkali contoh yang paling penting dan paling membinasakan dari semangat instrumentalitas dan pengasing-an ini ialah hubungan individu dengan dirinya sendiri. Manusia tidak hanya menjual barang tetapi juga menjual dirinya sendiri dan merasa dirinya sebagai barang. Pekerja manual menjual tenaga fisiknya; pengusaha, dokter, pegawai, menjual 'kepribadian' mereka. Mereka harus mempunyai 'kepribadian' apabila mereka hendak menjual produk atau jasa mereka. Kepribadian itu harus menyenangkan, tetapi selain pemiliknya harus memenuhi sejumlah persyaratan lainnya, ia harus mempunyai tenaga, inisiatif, ini dan itu atau lainnya, sebagai yang mungkin dituntut oleh kedudukannya. Tentang komoditi mana pun lainnya, pasarlah yang memutuskan harga dari sifat-sifat manusia ini, ya bahkan keberadaan/kehidup-annya. Apabila diperlukan sifat-sifat yang ditawarkan seseorang, ia tak punya apa-apa, sama sebagaimana suatu komoditi yang tak dapat dijual karena tidak berharga walaupun dalam hal nilai pakainya. Jadi, maka kepercayaan diri, 'rasa diri', hanyalah suatu indikasi dari apa yang dipikirkan orang lain tentang pribadi itu; bukan dia yang yakin akan nilainya tanpa peduli akan popularitas dan keberhasilannya di pasar.[49]