ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 03 Maret 2011

NAQS DNA ; Persaudaraan Ruhani Muslim

“Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya,. Allah berfirman yang artinya:

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah, hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu. Maka sirami taman persaudaraan ini dengan sumber mata air kehidupan sebagai berikut:

1. Sirami dengan mata Air Cinta dan Kasih sayang

Kasih sayang adalah fitrah dakhil dalam jiwa setiap manusia, siapapun memilikinya sungguh memiliki segenap kebaikan dan siapapun yang kehilangannya sungguh ditimpa kerugian. Ia menghiasi yang mengenakan, dan ia menistakan yang menanggalkan. Demikianlah pesan-pesan manusia yang agung akhlaqnya menegaskan. Taman persaudaraan ini hanya akan subur oleh ketulusan cinta, bukan sikap basa basi dan kemunafikan. Taman ini hanya akan hidup oleh kejujuran dan bukan sikap selalu membenarkan. Ia akan tumbuh berkembang oleh suasana nasehat menasehati dan bukan sikap tidak peduli, ia akan bersemi oleh sikap saling menghargai bukan sikap saling menjatuhkan, ia hanya akan mekar bunga-bunga tamannya oleh budaya menutup aib diri dan bukan saling menelanjangi. Hanya ketulusan cinta yang sanggup mengalirkan mata air kehidupan ini, maka saringlah mata airnya agar tidak bercampur dengan iri dan dengki, tidak keruh oleh hawa nafsu, egoisme dan emosi, suburkan nasihatnya dengan bahasa empati dan tumbuhkan penghargaannya dengan kejujuran dan keikhlasan diri. Maka niscaya ia akan menyejukkan pandangan mata yang menanam dan menjengkelkan hati orang-orang kafir (QS.48: 29).

2. Sinari dengan cahaya dan petunjuk jalan

Bunga-bunga tamannya hanya akan mekar merekah oleh sinar mentari petunjuk-Nya dan akan layu karena tertutup oleh cahaya-Nya. Maka bukalah pintu hatimu agar tidak tertutup oleh sifat kesombongan, rasa kagum diri dan penyakit merasa cukup. Sebab ini adalah penyakit umat-umat yang telah Allah binasakan. Dekatkan hatimu dengan sumber segala cahaya (Alquran) niscaya ia akan menyadarkan hati yang terlena, mengajarkan hati yang bodoh, menyembuhkan hati yang sedang sakit dan mengalirkan energi hati yang sedang letih dan kelelahan. Hanya dengan cahaya, kegelapan akan tersibak dan kepekatan akan memudar hingga tanpak jelas kebenaran dari kesalahan, keikhlasan dari nafsu, nasehat dari menelanjangi, memahamkan dari mendikte, objektivitas dari subjektivitas, ilmu dari kebodohan dan petunjuk dari kesesatan. Sekali lagi hanya dengan sinar cahaya-Nya, jendela hati ini akan terbuka. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al Quran ataukah hati mereka telah terkunci”. (QS. 47:24)

3. Bersihkan dengan sikap lapang dada

Minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar ( mementingkan orang lain dari diri sendiri) demikian tegas Hasan Al Banna. Kelapangan dada adalah modal kita dalam menyuburkan taman ini, sebab kita akan berhadapan dengan beragam tipe dan karakter orang, dan “siapapun yang mencari saudara tanpa salah dan cela maka ia tidak akan menemukan saudara” inilah pengalaman hidup para ulama kita yang terungkap dalam bahasa kata untuk menjadi pedoman dalam kehidupan. Kelapang dada akan melahirkan sikap selalu memahami dan bukan minta dipahami, selalu mendengar dan bukan minta didengar, selalu memperhatikan dan bukan minta perhatian, dan belumlah kita memiliki sikap kelapangan dada yang benar bila kita masih selalu memposisikan orang lain seperti posisi kita, meraba perasaan orang lain dengan radar perasaan kita, menyelami logika orang lain dengan logika kita, maka kelapangan dada menuntut kita untuk lebih banyak mendengar dari berbicara, dan lebih banyak berbuat dari sekedar berkata-kata. “Tidak sempurna keimanan seorang mukmin hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. ( HR. Bukhari Muslim)

4. Hidupkan dengan Ma’rifat

Hidupkan bunga-bunga di taman ini dengan berma’rifat kepada Allah dengan sebenar-benar ma’rifat, ma’rifat bukanlah sekedar mengenal atau mengetahui secara teori, namun ia adalah pemahaman yang telah mengakar dalam hati karena terasah oleh banyaknya renungan dan tadabbur, tajam oleh banyaknya dzikir dan fikir, sibuk oleh aib dan kelemahan diri hingga tak ada sedikitpun waktu tersisa untuk menanggapi ucapan orang-orang yang jahil terlebih menguliti kesalahan dan aib saudaranya sendiri, tak ada satupun masa untuk menyebarkan informasi dan berita yang tidak akan menambah amal atau menyelesaikan masalah terlebih menfitnah atau menggosip orang. Hanya hati-hati yang disibukkan dengan Allah yang tidak akan dilenakan oleh Qiila Wa Qaala (banyak bercerita lagi berbicara) dan inilah ciri kedunguan seorang hamba sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah apabila ia lebih banyak berbicara dari berbuat, lebih banyak bercerita dari beramal, lebih banyak berangan-angan dan bermimpi dari beraksi dan berkontribusi. “Diantara ciri kebaikan Keislaman seseorang adalah meninggalkan yang sia-sia”. ( HR. At Tirmidzi).

5. Tajamkan dengan cita-cita Kesyahidan

“Pasukan yang tidak punya tugas, sangat potensial membuat kegaduhan” inilah pengalaman medan para pendahulu kita untuk menjadi sendi-sendi dalam kehidupan berjamaah ini. Kerinduan akan syahid akan lebih banyak menyedot energi kita untuk beramal dari berpangku tangan, lebih berkompetisi dari menyerah diri, menyibukkan untuk banyak memberi dari mengoreksi, untuk banyak berfikir hal-hal yang pokok dari hal-hal yang cabang. “Dan barang siapa yang meminta kesyahidan dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikanya walaun ia meninggal diatas tempat tidurnya”. ( HR. Muslim)

MASYARAKAT DZIKRULLAH

Salah satu tujuan sosial Thariqatullah adalah mengembangkan sebuah masyarakat madani (civil society) yang warga-warganya sangat rukun dan kuat silaturahminya, mantap keimanannya, hidupnya taat syari’at, kreatif dan produktif, tegas dalam prinsip tetapi luwes penerapannya, pencinta ilmu dan mau belajar, senang beribadah dan beramal saleh serta senantiasa menggalakkan dzikrullah dan amalan-amalan nawafil lainnya. Masyarakat madani ini kita namakan Masyarakat Dzikrullah yang karakteristiknya digambarkan dalam Al-Qur’an antara lain sebagai berikut:

Orang Muslim cinta sekali kepada Allah (S.2: 165),
mereka senantiasa bersama Allah dan tak pernah bercerai-cerai dari padaNya (S.2: 194),
dan mereka beriman kepada semua nabi (S.2: 136).
Mereka adalah orang-orang yang setia pada janji (S.2: 177; S.5: 1),
bantu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam kejahatan (S.5: 2),
bersikap adil walaupun harus merugikan diri sendiri dan golongannya (S.4: 135),
saling menghormati dengan sesama muslim (S.49: 11-12),
bersikap jujur sekalipun terhadap lawan (S.5: 2),
bersatu (3: 102),
mendapat rizki yang baik (S.2: 172),
dan hidup secara wajar (S.2: 62; S.3: 112),
terhadap kafir sikapnya tegas dan keras, sebaliknya dengan sesama muslim saling mengasihi (S.48: 29).

Masyarakat madani ini dengan ringkas digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai masyarakat yang kokoh solidaritasnya.

Kaum muslimin seperti satu tubuh dalam kasih sayang dan perasaan satu sama lain, sehingga jika ada bagian tubuh tertentu tidak enak, maka bagian-bagian lain turut merasakannya dengan demam dan tidak dapat tidur”.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Masyarakat Dzikrullah adalah masyarakat yang satu sama lain dan sarat kasih sayang, memiliki loyalitas kuat, derajat keakraban mendalam, terhormat, bersikap lugas dan berprestasi tinggi. Hal ini hanya mungkin terjadi karena warga masyarakatnya diikat dan dipersatukan hatinya oleh keimanan yang mantap, sehingga kokohnya hubungan antara sesama (hablun minannas) benar-benar dilandasi oleh mantapnya hubungan dengan Tuhan (hablun minallah), dan sebaliknya pelaksanaan hablun minallah hanya mungkin berlangsung sempurna dalam kondisi hablun minannas yang tenteram dan kondusif. Layak sekali bila masyarakat yang berpredikat Baldatun tayibbatun warabbun ghafur itu menjadi idaman dan tujuan sosial para pengamal dzikrullah. Mudahkah itu?

Menyatukan Hati

Allah SWT sendiri menunjukkan betapa sulitnya memadukan (hati) kaum mukminin satu sama lain seperti terungkap dalam S. al-Anfaal (8): 63.

(Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Ayat itu memberikan isyarat bahwa keberhasilan mengembangkan masyarakat dzikrullah tidak cukup dengan semata-mata mengandalkan ilmu dan teknologi tinggi, dukungan finansial yang besar, kemahiran berdakwah yang memukau dan upaya-upaya manusia lainnya. Hal-hal itu tentu saja perlu, tetapi ternyata tidak cukup. Dalam hal ini campur-tangan Tuhan mutlak diperlukan dalam mengembangkan masyarakat muslim yang pada hakikatnya adalah menyatukan hati kaum muslimin sendiri. Tanpa rahmat Tuhan ini upaya pengembangan masyarakat dzikrullah hanya sampai pada taraf kata-kata belaka, dan tidak pernah menjadi realita.

Sehubungan dengan itu tampaknya sudah saatnya para pengamal dzikrullah dengan penuh kesadaran melakukan upaya intensifying ibadah, seperti memantapkan niat, berdoa memohon petunjukNya dan mendoakan masyarakat sekitarnya, meningkatkan kekhusyu’an shalat wajib dan sunnah (istikharah, tahajud), bersedekah dan ibadah-ibadah lainnya sebelum, sewaktu dan sesudah melaksanakan tugas kemasyarakatan.

Pembinaan Kerukunan Masyarakat Muslim

Sekalipun membina kerukunan masyarakat muslim/madani itu tidak mudah, tetapi Rasulullah SAW secara rinci dan praktis telah mengungkapkan hal-hal benar-benar dapat dilakukan dalam membina kerukunan masyarakat madani:

Seorang muslim harus menolong saudara seagamanya dari kekeliruan-kekeliruannya, mengasihinya dalam kesulitan-kesulitannya, menjaga rahasianya, mengabaikan kesalahan-kesalahannya, menerima maafnya, membelanya dari orang-orang jahat dan pencari-pencari kesalahan, bertindak sebagai penasihat baginya, dan memelihara hubungan persahabatan dengannya,. Jika saudara seagamanya itu sakit, ia harus menjenguknya. Ia harus menerima pemberiannya, dan membalas pemberiannya itu secara timbal balik, mengucapkan terima kasih untuk kebaikan-kebaikannya, bicara baik dengannya dan bersikap ramah terhadap teman-temannya, tidak meninggalkannya dalam kesulitan, mengharapkan baginya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri, dan tidak memperlakukannya seperti yang ia tidak suka orang lain perlakukan terhadap dirinya sendiri”.

Membiasakan diri melakukan hal-hal nyata dan penerapannya pun tak terlalu sulit seperti diungkapkan hadits tersebut merupakan langkah-langkah praktis menuju Masyarakat Dzikrullah yang dicita-citakan. Insya Allah.

STRATEGI PEMBINAAN KERUKUNAN MASYARAKAT DZIKRULLAH

Secara keseluruhan Strategi Pembinaan Kerukunan Masyarakat Dzikrullah meliputi: Landasan, Sikap Dasar, Tujuan, Langkah-langkah, dan Semboyan.

Landasan: 
Ikatan ruhani yang kuat bersumber dari kesamaan pembimbing (Mursyid), metode (Thariqatullah), washilah (Nuurun alan nuurin), amalan (Dzikrullah) dan motivasi (Ilahi anta maqsyudi wa ridhaka mathlubi).

Tujuan :
  1. Mengembangkan dan meneladankan ahlak terpuji (akhlaqul karimah) berdasarkan pemahaman Islam secara keseluruhan (kaffah);
  2. Menjaga persaudaran muslim (Ukhuwah Islamiyah) atas dasar Hablun minallah dan Hablun minannas dengan tidak melanggar adat istiadat, etika sosial, hukum negara, dan hukum syara’;
  3. Mewujudkan masyarakat dzikrullah yang berpredikat Baldatun thayibbatun wa rabbun ghafur;
  4. Menjaga kemuliaan Guru (Al Mursyid) dan keluarganya.

Sikap dasar:
  1. Hadap dan setia;
  2. Pengabdian yang tulus;
  3. Berlomba-lomba dalam kebajikan;
  4. Tabah dan gigih;
  5. Berkarya dan Berdoa.

Langkah-langkah:
  1. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, dan masyarakat sekitar;
  2. Menyadari potensi pribadi dan lingkungan, kemudian merealisasikannya;
  3. Menghargai prestasi dan menjaga kehormatan diri dan orang lain;
  4. Menjalin silaturahmi dengan saling kunjung dalam saat kegembiraan dan kedukaan;
  5. Memberi bantuan sejauh kemampuan;
  6. Menampilkan budi pekerti terpuji;
  7. Mengajak masyarakat mengamalkan dzikrullah sebagai inti ibadah.

Semboyan:
  1. Berprinsip sebagai pengabdi;
  2. Berabdi sebagai pejuang;
  3. Berjuang sebagai prajurit;
  4. Berkarya sebagai pemilik;
  5. Beribadah sebagai Nabi beribadah.

SALAMAN RUHANI
Semoga salaman rohani dan sambungan rohani ini tidak akan pernah terlepas selama-lamanya. Kalau bersalaman jasad hanya sebentar saja kemudian lepas, tetapi tidak dengan salaman rohani, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

اَلْأَرْوَاحُ جُنُوْدٌ مُجَنَّدَةٌ مَا تَعَرَّفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اِخْتَلَفَ

"Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang berkelompok-kelompok, yang saling mengenal akan saling mendekat, dan yang saling bertengkar akan saling menjauh.”

Maka kelompok ruh yang di dunia itulah kelompok ruh yang di akhirat kelak, jika kita telah berkelompok disini maka ruh kita telah bersatu meskipun tidak saling bersalaman satu sama lain, kelak di akhirah kita akan bersama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, amin allahumma amin.

Ya Rahman Ya Rahiim, kami bermunajat memohon kehadirat-Mu kemuliaan, keluhuran dan segala kenikmatan, limpahkan untuk kami cahaya kebahagiaan, limpahkan kepada kami cahaya keluhuran, terangi kami dengan cahaya di depan kami, di belakang kami, diatas dan dibawah kami, di kanan dan kiri kami dengan cahaya keindahan, dengan cahaya kebahagiaan, dengan cahaya keluhuran, dengan cahaya kesucian, dengan cahaya khusyu', dengan cahaya sujud, dengan cahaya doa dan munajat, dengan cahaya dzikir dan shalawat, dengan cahaya istighfar, dengan cahaya taubat, dengan cahaya ibadah, dengan cahaya cinta kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dengan cahaya rindu kepada-Mu, dan jadikan kami semua makmur di dunia dan akhirah, limpahkan kekayaan kepada kami di dunia dan akhirah, pastikan seluruh wajah ini dalam 5 atau 10 tahun lagi dilimpahi kekayaan yang berlimpah sehingga semakin luas dakwah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram…