ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 04 Maret 2011

Super Human DNA - CITRA MANUSIA

Citra manusia adalah sebuah implikasi psikologis, karena manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yang cenderung menganut agama yang lurus.

Mereka memiliki kecenderungan untuk mengenal Tuhan, berpihak pada kebenaran, berbuat kebajika, Fitrah diungkap dalam Al-qur’an sebanyak 20 kali yang tergelar di dalam 17 surat, antara lain yang terdapat dalam surat Ar-rum ayat 30 yang artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetapkan atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.

Firman tersebut menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT menurut fitrahnya. Fitrah ini merupakan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan, sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang. Namun secara aktual, citra itu dapat berubah sesuai dengan kehendak dan pilihan manusia sendiri.

Dengan adanya fitrah, maka manusia dapat memilih dan memilah antara kebenaran dan kesalahan serta antara kebaikan dan keburukan. Adapun yang dimaksud citra di sini adalah gambaran tentang diri manusia yang berhubungan dengan kualitas-kualitas asli manusiawi yang merupakan sunnatullah yang dibawa sejak ia dilahirkan.

Adapun potensinya antara lain adalah :
  1. Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi.
  2. Manusia mempunyai kapasitas intelegensi yang paling tinggi dibandingkan dengan semua makhluk yang lain.
  3. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan.
  4. Manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat.
  5. Manusia tidaklah semata-mata tersentuh oleh motivasi duniawi saja.

Adapun citra manusia dalam psikologi Islam dapat disederhanakan sbb :
  1. Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, ber-Islam, bertauhid dan menjadi khalifah di muka bumi.
  2. Manusia memiliki ruh yang berasal dari Tuhan yang mana menjadi esensi kehidupan manusia.
  3. Bahwa pusat tingkah laku manusia adalah Qalbu, bukan otak atau jasad manusia; manusia memperoleh pengetahuan tanpa diusahakan, seperti pengetahuan intuitif dalam bentuk wahyu dan ilham; serta tingkat kepribadian manusia tidak hanya sampai pada humanitas atau sosialitas, tetapi sampai pada berketuhanan

Pandangan tentang Manusia dan Pembinaan Suara Hati

Islam menegaskan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Pelihara saja dasar itu, tidak usah ditambahi dan dikurangi. Meminjam istilah Dante Alegieri dalam bukunya Divina Comedia, menurut Islam manusia itu dilahirkan dalam fitrah yang suci. Sehingga seorang bayi, hidup dalam alam paradiso (kalau mati dalam Islam dianggap langsung masuk ke surga). Dalam perkembangan selanjutnya—dalam istilah keagamaan—karena kelemahannya sendiri, sang bayi yang tumbuh pelan-pelan menjadi dewasa ini lalu tergoda, karena tarikan kehidupan dunia, sehingga sedikit demi sedikit ia masuk ke alam inferno: “neraka dunia” (metafor untuk mereka yang menjauhi diri dari suara hatinya yang suci). Karena dosanya hatinya pun menjadi kotor. Kemudian dalam suatu keadaan yang disebut penyucian, seorang manusia dilatih kembali untuk lepas dari inferno-nya, dari neraka dirinya. Inilah proses ke alam purgatorio, alam pembersihan diri, dimana dari sini akan terbuka kembali alam kefitrahannya, yang pada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam kefitrahan ini: keadaan hati yang ada dalam kecemerlangannya. Sebenarnya fitrah ini bukanlah sesuatu yang didapatkan atau diusahakan, tetapi sesuatu yang “ditemukan kembali.” Itu sebabnya istilah yang dipakai (seperti misalnya dalam Idul Fitri kita minggu depan) adalah “kembali ke fitrah” yang secara simbolik artinya adalah merayakan kembalinya diri kita kembali ke alam paradiso—surga diri, alam kefitrahan manusia, “kembali kepada kecemerlangan suara hati”; asal dari penciptaannya. “Maka hadapkanlah wajahmu benar-benar kepada agama; menurut fitrah Allah yang atas pola itu Ia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah, itulah agama yang baku; tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.” (Q. s. al-Rûm/30:30).

Lawan dari fitrah ini, adalah dosa. Apa itu dosa? Al-Qur’an menyebut orang yang berdosa itu sebagai zhâlim –yang sudah menjadi bahasa Indonesia, zalim, lalim— dan sering diterjemahkan dengan arti aniaya. Secara harafiah, zhâlim artinya orang yang menjadi gelap. Dosa dalam bahasa Arab, zhulmun, kegelapan, artinya membuat hati yang gelap (suara hati yang tertutup). Kalau seseorang banyak berdosa, maka hati (suara hati)-nya tidak lagi bersifat nûrânîy (bersifat cahaya [bandingkan istilah bahasa Indonesia suara-hati [kata-hati] dengan hati-nurani ini, yang sama-sama sering dipakai sebagai terjemahan dari conscience]).

Dahsyatnya Metodologi Islam
Satu demi satu manusia yang ada di sekitar Rasulullah SAW berubah. Mereka mengalami proses rekonstruksi (pembangunan ulang) visi dan pandangan hidup mereka tentang diri mereka sendiri sebagai manusia, tentang alam raya yang mengitari mereka, tentang misis kehidupan mereka di dunia. Dan itu menjadi awal perubahan besar yang terjadi dalam skala kepribadian mereka. Dan tiba-tiba gurun jazirah Arab dipenuhi oleh orang-orang besar yang siap memimpin dunia. Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Mungkinkah proses spektakuler itu berulang kembali saat itu, pada kondisi peradaban manusia yang tidak berarah ini?

Ternyata Islam memiliki konsep tentang pengembangan diri seorang muslim. Seorang muslim yang memiliki karakter kuat sehingga ia muncul menjadi ‘manusia baru’, dan menjadi model manusia muslim yang mempesona. Dan model manusia seperti inilah yang akan mampu mengemban misi peradaban Islam yang mulia.

Islam tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana masuk syurga, namun sebenarnya Islam lebih dari itu. Ada sebuah proses pengembangan diri yang diperhatikan dalam Islam, proses rekonstruksi dari manusia setelah masa Rasulullah di medan revolusi peran manusia di dunia. Konsep-konsep pengembangan diri dalam Islam berorientasi pada pembentukan pribadi muslim yang berkarakter kuar, lahir sebagai manusia baru yang membawa pencerahan pada peradaban Islam.

Untuk menjadi manusia yang bisa diandalkan pada abad ke -21 harus memenuhi ketiga kualifikasi yaitu afiliasi, partisipasi dan kontribusi. Afiliasi adalah manusia diharapkan mempunyai kecenderungan terhadap sesuatu yaitu wilayah nilai Islam sehingga menjadi pribadi shaleh. Saleh secara pribadi dapat dibentuk oleh akidah, metodologi, sikap dan akhlak. Setelah mendapatkan saleh secara pribadi, memberikan partisipasinya. Manusia dapat mensalehkan orang lain karena telah mampu mensalehkan dirinya. Kemudian memberikan kontribusi yakni mempunyai spesialisasi dalam keprofesian maupun bidang ilmu tertentu. Yakni spesialisasi dalam bidang keprofesionalan, kepemimpinan, pemikiran dan keuangan.

Selain itu, untuk menjadi manusia yang bisa diandalkan pada abad ke 21 perlu memiliki konsep diri. Sehingga mempunyai orientasi dalam pengembangan konsep diri. Ungkapan Ibnu Qayyim bahwa untuk memahami diri diperlukan ma’rifatullah dan ma’rifatunnas. Dengan pengetahuan ini manusia mempunyai orientasi / tujuan hidup dan mengetahui cara menggapainya.

Untuk menjadi manusia muslim abad 21 perlu merencanakan pengembangan diri. Sehingga tantangan dakwah sekeras dan seberat apapun dapat diatasi. Berbekal pada pemahaman diri dengan berlandaskan pada pemahaman syariat akan melahirkan kemampuan untuk mengembangkan diri secara optimal. Dalam Q.S.Al Hasyr : 1 didefinisikan sebagai perintah untuk merencanakan hari esok yang diiringi dengan ketakwaan, sebagai landasan syar’I untuk pengembangan diri.

Analisis SWOT untuk diri sendiri menjadi sesuatu hal yang penting untuk setiap manusia agar memahami titik kekuatan dan kelemahan sekaligus peluang unruk diambil dan ancaman yang harus diantispasi. Hal yang cukup berpengaruh dalam proses pengembangan diri adalah motivasi dan kemauan untuk menujunya. Kemauan sebagai tenaga jiwa sehingga untuk membangun kemauan hanya butuh kemauan tenaga. Bagaimana mengumpulkan tenaga, menggunakan dan mengembalikan tenaga yang telah digunakan.

Proses pengembangan diri berlanjut pada mengembangkan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir merupakan salah satu dari nilai-nilai dasar untuk menjadi orang multidimensi disamping mentalitas yang luar biasa, karakter seimbang dan kondisi fisik yang luar biasa. Dengan mengembangkan kemampuan berpikir, manusia dapat hidup dimana-mana.

6 MODEL MANUSIA

PERTAMA:
model manusia yang hidup di dunia tapi tidak mengerti keinginan dan tujuan hidupnya. tujuan hidupnya hanya memenuhi kebutuhan makan dan minum secukupnya. walau demikian ia selalu mengeluhkan kesulitan hidup yang ia alami

KEDUA:
model manusia yang mengerti keinginannya, tapi ia tidak tahu cara menggapai keinginannya itu. ia hanya menunggu orang yang datang dan menolongnya. model manusia seperti ini lebih menderita daripada model manusia yang pertama.

KETIGA:
model manusia yang tahu tujuan hidupnya dan tahu cara mewujudkan tujuan hidupnya. hanya saja, ia tidak memiliki rasa percaya diri. ia memulai langkah untuk mewujudkan tujuan hidupnya tapi tidak menyempurnakan langkahnya. ia membeli buku, tapi tidak membacanya. begitu seterusnya. ia tidak pernah memulai langkah di jalan kesuksesan. jika melangkah, ia tidak pernah menyempurnakan model manuisa seperti ini lebih menderita daripada 2 model manusia sebelumnya.

KEEMPAT:
model manusia yang mengerti akan keinginannya,tahu cara menggapai keinginan, dan memiliki rasa percaya diri hanya saja ia sering terpengaruh oleh orang lain. setiap kali ia menyelesaikan 1 pekerjaan, ia akan mendengar orang lain kepadanya, "caramu tidak berguna". anda harus menyelesaikan urusan ini dengan cara yang lain. demikianlah jadinya, ia akan selalu menghancurkan sesuatu yang ia sudah bangun hanya karena pendapat yang berbeda dari orang lain. berbagai pendapat yang ia dengar membuatnya tidak pernah merasa mantap dalam satu kondisi. manusia seperti ini tidak pernah merasa puas dengan pikirannya sendiri. ia akan selalu ketika ia berhadapan dengan berbagai pendapat yang berbeda. dengan demikian ia menjadi model manusia yang lebih sengsara di banding model-model manusia sebelumnya.

KELIMA:
model manusia yang mengerti keinginannya, tahu cara menggapai keinginan, memiliki rasa percaya diri, dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain kecuali yang positif. ia berhasil menggapai kesuksesan kerja dan kesiksesan materi. tetapi setelah menggapai kesuksesan, ia mengalami masa kelesuan hingga tidak mampu berpikir kreatif dan tidak mampu meningkatkan kesuksesannya.
Kesuksesan yang ia telah ia capai bisa jadi merupakan kunci untuk menggapai kesuksesan yang lain. Seorang atlet yang bertujuan mempertahankan prestasi puncaknya lebih baik daripada atlet yang hanya bertujuan menggapai prestasi puncak. Setelah menggapai prestasi puncaknya, ia enggan berlatih serius hinnga prestasinya menurun.

Bisa jadi kita telah mendapatkan kesuksesan material. Tapi,ia kehilangan kesuksesan immaterial dan penghormatan moral. Akhirnya, ia akan kehilangan kesuksesan material yang pernah ia gapai. Akibatnya ia akan di tikam oleh berbagai asumsi dan tekanan jiwa.ia mengalami penderitaan yang membuatnya kehilangan keseimbangan jiwa. Contoh:seseorang yang selalu beruntung dan selalu mendapatkan harta yang banyak.tetapi,walau demikian ia selalu gundah dan tidak mendapatkan ketenangan. Ia kehilangan nikmat kesuksesan materi karena kehidupan pribadi dan keluarganya terguncang

KEENAM:
model manusia yang mengerti keinginan, mengerti cara menggapai keinginan, percaya bahwa telah memberikan berbagai kekuatan dan potensi kepadanya, mendengarkan berbagai pendapat orang lain kemudian menimbangnya untuk mendapatkan yang terbaik, dan tidak gentar menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Setelah mengarahkan segala kemampuan dan usaha, yang mengarahkan segalanya (tawakkal) kepada allah ia berhasil menggapai kesuksesan demi kesuksesan obsesinya tidak hanya berhenti pada batas tertentu dengan menggunakan kekuatan mental, berbagai potensi fisik serta otak, dan umur adalah sarana yang membuat manusia dapat melakukan berbagai keajaiban yang terpentingnya adalah memulai langkah dan selalu bersikap tawakkal kepada tuhan universal bagi yang meyakininya.