ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 14 April 2011

DAHSYATNYA QUANTUM POWER - 5

Belajar meraih ”belief” dari Ibrahim dan Siti Hajar.
Ketika Nabi Ismail masih bayi, Allah memerintahkan agar Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan bayinya Ismail ke Mekkah. Baru saja sampai di Mekkah, Allah segera memerintahkan agar Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, untuk meneruskan misi dakwahnya di negeri Kanaan. Betapa berat Nabi Ibrahim mendengar perintah itu, bagaimana mungkin bayi yang sekian lama didambakannya kini harus ditinggalkannya. Apalagi tempat itu adalah padang pasir yang tandus, tak ada sumber air dan tanaman, tak ada buah-buahan, sehingga tak ada penghuni seorangpun di sana. Nabi Ibrahim khawatir dan ragu, tak tega rasanya meninggalkan Siti Hajar dan bayinya di tempat seperti ini.

Nabi Ibrahim adalah seorang hamba Allah yang sangat taat, tunduk dan patuh terhadap segala perintah Allah. Apapun resikonya, Nabi Ibrahim tidak pernah menentang perintah Allah. Akhirnya beliau mengambil keputusan yang bulat untuk tetap mentaati perintah Allah, meskipun harus meninggalkan istri dan bayi yang hampir seratus tahun didambakannya. Kenapa? Karena dia yakin akan jaminan pertolongan Tuhannya. Ketika Nabi Ibrahim berjalan akan meninggalkan tempat itu, istrinya Hajar mengikutinya dan bertanya :”Wahai Ibrahim, kamu akan pergi kemana? Apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat seperti ini, yang tidak ada manusia dan tidak ada apa-apa?” Ibrahim hanya diam tak mampu menjawab, kepalanya tertunduk. Hajar bertanya lagi berulang-ulang dengan pertanyaan yang sama, namun Ibrahim tetap tak menjawab. Akhirnya Hajar bertanya :”Apakah ini perintah Allah?”. Akhirnya Nabi Ibrahim menjawab :”Ya, ini perintah Allah”. Dengan sabar dan penuh tawakkal Hajar berkata :”Kalau begitu pergilah, aku yakin Allah tidak akan menterlantarkan kami”

Nabi Ibrahim berjalan meninggalkan Hajar dan Ismail tanpa menoleh, karena khawatir jika menoleh hingga melihat bayinya, akan dapat menggoyahkan kebulatan tekadnya. Setelah melewati bukit sehingga jika menoleh tak lagi melihat Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim berhenti, lalu menghadap ke arah Baitullah sambil mengangkat kedua tangannya dan berdo’a, dengan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkannya:

“Ya Tuhan kami, aku meninggalkan sebagian keturunanku di lembah tak bertanaman di dekat RumahMu yang suci. Ya Allah tolonglah agar mereka mendirikan sholat. Maka jadikanlah hati manusia suka kepada mereka dan berikanlah buah-buahan kapada mereka agar mereka bersyukur” (QS. Ibrahim : 37)

Tinggalah Siti Hajar bersama bayinya di tempat yang gersang itu. Ketika perbekalan telah habis, Ismail yang masih bayi menangis kehausan dan kelaparan, karena air susu Hajar telah kering. Padahal Siti Hajar tak bisa menyusui anaknya tanpa air minum dan makanan. Siti Hajar mencari air berjalan bolak balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Di tengah pencariannya itu dilihatnya seperti genangan air yang menghampar di kejauhan. Maka dengan penuh semangat dia berlari-lari ke arah yang disangkanya genangan air itu. Lalu ketika ternyata yang dilihatnya hanyalah fatamorgana, tak ada setetespun air di sana, Siti Hajar tidak pernah berhenti. Dia terus berlari bolak balik mencari air demi bayinya yang kehausan. Apalagi didengarnya bayi mungilnya itu menangis, Siti Hajar semakin keras berjuang untuk mendapatkan air. Setiap sampai di puncak bukit Shafa maupun di puncak bukit Marwah, ia memandang ke segala arah sambil memanggil “Tolong, apakah disana ada orang?”. Namun tak pernah ada jawaban. Tempat itu begitu panas, gersang dan tandus hingga tak ada orang yang mau tinggal di sana. Namun Hajar tetap berusaha, setiap kali gagal ia tak pernah putus asa, terus berjuang dan berjuang lagi, berlari-lari dengan tegar tanpa henti, tanpa kenal lelah, dengan satu harapan kepada Allah Ar Rahman Ar Rahim agar menyelamatkan anaknya.

Itulah Siti Hajar sang ibu teladan, dengan optimis dan tawakkal ia tetap berbaik sangka kepada Allah, yakin akan pertolongan TuhanNya. Setelah 7 kali berlari bolak-balik sambil berdoa, akhirnya ia menemukan air yang sekarang dikenal dengan sumur Zam-Zam, atas pertolongan Allah Yang Maha Pemberi (Al Barr). Itulah bukti kasih sayang Allah terhadap hambaNya yang takwa, sabar, yakin akan pertolongan Tuhannya, pantang putus asa, dan bertawakkal (pasrah kepada Allah). Sumur zam-zam yang tak pernah kering itu, meskipun berjuta-juta orang mengambilnya setiap tahun, merupakan tanda kekuasaan Allah Al Malik di Baitullah. Keberkahan air zam-zam dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan obat segala penyakit” (HR. Ath Thabarani)

Ritual sa’i juga mengandung pesan bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan, apabila kegagalan itu dijadikan cambuk untuk meneruskan perjuangan dengan lebih keras lagi. Kegagalan juga dapat menghancurkan kesombongan, dan dengan hancurnya kesombongan itu akan tumbuh rasa rendah hati dan lebih cerdas mengendalikan emosi. Nilai ridha Allah dalam Sa’i adalah ketika berjalan dan berlari, saat berusaha dan berjuang sebagai wujud ibadah kepada Allah. Orang yang tawakkal adalah orang yang berserah diri kepada Allah setelah berjuang dan berdo’a. Tawakkal bukan berarti hanya pasrah tanpa perjuangan. Siti Hajar tidak duduk termangu, tidak berdiam diri sambil berputus asa. Ketika merasa usahanya sia-sia, Siti Hajar tetap berbaik sangka kepada Allah, dengan keyakinan akan pertolongan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan ia bersyukur ketika Allah memberikan air zam-zam sebagai simbol berkah rejeki dan keselamatan.

Siti Hajar adalah teladan untuk tetap teguh dalam berjuang berlandaskan ketakwaan, kesabaran, keyakinan (bilief), optimisme dan tawakkal. Teladan inilah yang dabadikan oleh Allah dalam ritual Sa’i, sebagai pelatihan manusia untuk istiqomah, yaitu perjuangan yang gigih dengan mengharap Ridha Allah. Perjuangan yang gigih dengan landasan seperti yang dilakukan Siti Hajar, insyaAllah akan memberikan hasil, meskipun kadang-kadang Allah memberikan hasilnya dari arah yang tidak disangka-sangka. Lihatlah Siti Hajar yang mendapatkan air bukannya di daerah anatara bukit Shafa dan Marwah, di mana dia berjalan dan berlari mondar-mandir, melainkan di sebuah tempat antara Ka’bah dan bukit Shafa yaitu di sumur zam-zam.

Jiwa sa’i sesungguhnya tidak hanya dilakukan di antara bukit Shafa dan Marwah, tapi dapat dilakukan di mana saja, termasuk di tanah air. Di mana saja, setiap perjuangan adalah sa’i. Setiap usaha dan kerja keras yang dilakukan dengan mengharap rahmat dan ridha Allah adalah sa’i. Keluarnya air zam-zam sebagai hasil perjuangan Siti Hajar justru bukan di tempat sa’i antara bukit Shafa dan Marwah. Demikian pula kadang-kadang hasil perjuangan datang bukan dari arah yang kita perjuangkan, melainkan dari arah yang tak disangka dan tak terduga. Intinya, kewajiban manusia adalah berjuang, berusaha dan bekerja dengan cara-cara yang halal, berlandaskan pada ketakwaan, kesabaran, keyakinan (bilief), optimisme dan tawakkal, sedangkan hasilnya seberapa dan dari mana adalah urusan Allah Yang Maha Kaya, Maha Memberi Karunia.

Itulah keyakinan (belief) yang harus kita teladani dalam menempuh perjuangan, di antaranya adalah dalam proses pembelajaran. Belajar tanpa keyakinan (belief) dapat terjerumus ke dalam perasaan putus asa. Sedangkan putus asa adalah hal yang dilarang, karena putus asa berarti tidak percaya akan rahmat Allah. Sebaliknya, belajar dengan keyakinan (belief) akan menimbulkan semangat dan optimis. Dalam proses pembelajaran, jika seorang individu telah mengetahui bagaimana cara belajar yang benar, cara belajar yang effektif dan menyenangkan, tidak membosankan, maka keyakinan akan tumbuh dan melejitkan suksesnya belajar. Seringkali seseorang yang berpotensi sangat cerdas justru mengalami kegagalan dalam studinya karena tidak tahu cara belajar yang benar, dan dia belajar tanpa keyakinan. Otak dan hatinya selalu diliputi pikiran dan perasaan negatip dan buruk sangka, hal ini akan menguras energi tubuhnya.

by. Bambang-Sulies