ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 16 Mei 2011

Hipnotisme Dalam Dunia Pendidikan (Hypnosis In Teaching)

Informasi dan Critical Area Seseorang
Sebenarnya, mengajar mata pelajaran tertentu memberikan informasi ke pikiran bawah sadar seseorang untuk memahami sebuah nilai dan pemahaman baru. Hal itu akan menambah pemahaman yang telah ada atau mengganti pemahaman yang belum sempurna.

Terkadang, sebuah informasi sulit dipahami oleh pikiran seseorang disebabkan adanya pikiran-pikiran lain yang mengganggu pada saat proses penyerapan sebuah informasi ke pikiran bawah sadar seseorang. Dalam hal ini, pikiran bawah sadar menyimpan berbagai macam memori jangka panjang manusia, baik seluruh informasi yang berasal dari pengalaman empiris (pengalaman yang dirasakan secara langsung) maupun informasi yang berasal dari pengalaman induktif (pengalaman yang diperoleh dari ucapan, tulisan, maupun tayangan yang diperoleh dari sumber-sumber di luar diri).

Informasi yang masuk melalui pancaindra tidak langsung diserap oleh pikiran bawah sadar seseorang. Proses ini membutuhkan daya analisis dari pikiran sadar yang telah membentuk crirical area atau wilayah kritis yang bertujuan menyaring seluruh informasi yang masuk dari berbagai sumber.

Hal itu terjadi karena pikiran bawah sadar seseorang bersifat netral dan sugestif. Oleh karena itu, sangatlah logis jika untuk menuju ke pikiran bawah sadar yang menyimpan memori jangka panjang manusia, informasi harus disekat oleh sebuah dinding penyekat yang biasa disebut dengan Critical Area (CA) atau Reticular Activating System (RAS). CA atau RAS merupakan tempat penampungan sementara sebelum informasi benar-benar terkirim ke pikiran bawah sadar seseorang.

Critical area diperlukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai filter informasi untuk menyeleksi hal-hal yang membahayakan dan bertentangan dengan diri kita. Critical area sering dibutuhkan sebagai benteng/pelindung, misalnya untuk mengantisipasi seseorang terhadap penipuan dan semacamnya. Namun, terkadang, critical area juga menyeleksi seluruh hal yang tidak diinginkan oleh diri seseorang. Hal itu termasuk memberi anggapan bahwa matematika itu susah, matematika itu membosankan, saya benci matematika, dan sebagainya.

Untuk mengatasi critical area yang terlalu aktif pada diri seseorang, hypnosis merupakan cara untuk menonaktifkan dan mengistirahatkan critical area seseorang. Dengan demikian, informasi yang dibutuhkan pada pikiran seseorang bisa terserap dengan mudah dan tersimpan di pikiran bawah sadar seseorang.

Rahasia Menembus CA (Critical Area) dengan Teknik Hypnosis dalam Proses Belajar Mengajar
Teknik terbaik dan tercepat menembus CA adalah dengan menggunakan hypnosis. Untuk memudahkahkan Anda memahami rahasia menembus CA, Anda perlu memahami kinerja dari konsep hypnosis terlebih dahulu.

Sebenarnya, menimum, ada empat “kata kunci” dalam hypnosis. Setelah Anda memahami keempat kata kunci tersebut, Anda akan memahami dengan mudah bagaimana mengajar setiap mata pelajaran kepada murid sehingga dapat langsung menembus pikiran bawah sadar murid.

Namun, ingat, teknik ini bukanlah bersifat magis, mistis, atau menggunakan unsur-unsur roh tertentu. Namun, teknik hyonosis merupakan teknik komunikasi persuasif dan menekankan pada pemilihan pola bahasa, baik si pemberi informasi maupun penerima informasi.

A. RELAXATION
Setiap proses belajar mengajar sebaiknya dimulai dengan kesan pertama yang menyenangkan. Suasana yang relaks, menyenangkan, dan menyegarkan membuat CA juga beristirahat. Dengan demikian, informasi bisa masuk dengan mudah ke pikiran bawah sadar seseorang.

Untuk menuju ke kondisi relaksasi murid, berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Suasana Kelas
Kondisi lingkungan sekitar hendaknya mendukung suasana belajar-mengajar Anda dan siswa, sekaligus membuat siswa menjadi relaks. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  • Apakah ruangan kelas dalam keadaan bersih atau kotor?
  • Bagaimana suasana bangku dan tempat duduk, apakah sudah tertata rapi atau berantakan?
  • Apakah ruangan kelas kering atau lembab?
  • Apakah ada plafon yang bocor atau meneteskan air?
  • Apakah ruangan terlalu panas atau terlalu dingin?
  • Bagaimana penerangan di dalam kelas, apakah cukup terang atau gelap?
  • Bagaimana kondisi di dalam kelas, apakah terlalu sunyi atau gaduh karena terlalu dekat dengan sumber keramaian, dsb.

2. Penampilan Pengajar
Penampilan pengajar mewakili sikap, kepercayaan diri, nilai, karakter, dan kepribadiannya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga penampilan mengajar seseorang guru. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  • Apakah warna pakaian yang Anda kenakan terlalu mencolok ataukah sudah kusam?
  • Apakah ada kancing yang terlepas? Risleting yang belum ditutup? Apakah kemeja yang Anda masukkan sudah rapi atau belum?
  • Apakah bau badan Anda terlalu menyengat? Apakah bau perfum yang Anda kenakan terlalu menyengat?
  • Apakah wajah Anda terlalu berminyak?
  • Apakah bagian mata Anda tampak kuyu atau mengantuk?
  • Apakah rambut Anda sudah tidak rapi lagi?
  • Bagaimana dengan kondisi kumis, jenggot, brewok Anda?
Ingat penampilan seorang guru memegang peranan dalam proses belajar-mengajar. Dengan demikian, sesaat sebelum mengajar, sebaiknya persiapkan diri Anda. Anda bisa bercermin terlebih dahulu, pastikan semuanya dalam keadaan baik.

3. Kalimat Pembuka
Gunakan dan memilih sebuah kalimat pembuka yang bisa menenangkan murid, bukan memberikan sebuah ketegangan kepada murid.

B. MIND FOCUS & ALPHA STATE
Sebenarnya, pikiran fokus bukan sekedar memperhatikan dan mendengar apa yang sedang murid pelajari. Dalam hal ini, diperlukan juga strategi jitu memindahkan gelombang pikiran seseorang dari level pikiran beta menuju ke level pikiran alpha.

1. Pikiran Beta
Gelombang pikiran beta berada pada frekuensi 14-30 Hz. Pada kondisi ini, seorang mampu melakukan aktivitas dan penggunaan pikiran lebih dari satu fokus. Bagaimana jika dalam proses belajar-mengajar gelombang pikiran masih berada dalam level beta? Hal yang terjadi adalah saat belajar, seorang murid masih terbayang bagaimana asyiknya bermain bersama teman-temannya, perasaan mencekam karena masih ada pekerjaan rumah (PR) pelajaran lain yang belum selesai dikerjakan,d an sebagainya.

2. Pikiran Alpha
Gelombang pikiran alpha berada pada frekuensi 8-13,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang benar-benar dalam kondisi relaks dan fokus. Kondisi inilah yang dimaksud dengan kondisi hipnosis, yaitu saat seseorang mudah menyerap informasi secara maksimal tanpa adanya pikiran-pikiran lain yang mengganggu.

3. Pikiran Theta
Gelombang pikiran Theta berada pada frekuensi 4-7,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang telah berada dalam kondisi setengah tidur atau sering disebut kondisi meditatif. Dalam kondisi ini ide-ide kreatif muncul dan jika kita tidak mengendalikan diri, kita bisa langsung memasuki kondisi tidur pulas. Pikiran theta bukan merupakan kondisi hipnosis yang diperuntukkan dalam proses belajar-mengajar di kelas.

4. Pikiran Delta
Gelombang pikiran delta berada pada frekuensi 0,1 -3,9 Hz. Pada kondisi ini, seseorang dikatakan dalam keadaan tidur pulas atau dengan kata lain, kita memasuki area tidak sadarkan diri.

Hypnosis in teaching bekerja pada level pikiran alpha. Dalam level ini, kita mengkondisikan seseorang agar masuk dalam hypnosis state (kondisi hipnosis). Dengan demikian, diharapkan setiap informasi bisa dengan mudah masuk ke dalam memori jangka panjang murid tanpa adanya distorsi dari pikiran-pikiran lain yang membebaninya.

Seorang guru sangat berperan dalam membuat murid-murid bisa memasuki gelombang pikir alpha. Berikut ini beberapa hal penting yang perlu dilakukan.

1. Mendapatkan Perhatian
Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, seorang guru bisa memulainya dengan berdoa, bernyanyi bersama-sama, atau kegiatan lain yang dapat menyenangkan siswa. Tujuannya adalah agar pikiran bawah sadar murid tertarik dengan mata pelajaran yang akan disampaikan.

2. Membangun Tema
Tentukan sebauh tema yang menarik dalam setiap proses pembelajaran. Sebagai contoh, dalam pelajaran biologi pada submateri anatomi tubuh, tema bisa memancing pikiran bawah sadar adalah “serangan jantung mengakibatkan kematian”. Tema ini merupakan pancinngan kepada pikiran bawah sadar murid untuk memasuki gelombang pikir alpha-nya masing-masing.

3. Menampilkan Struktur dan Peraturan
Saat murid mempelajari sesuatu, berikan peta pembelajaran secara general, kemudian secara detail. Namun, hindari kalimat-kalimat yang bisa memberatkan pembelajaran murid. Peraturan perlu diterapkan agar pikiran bawah sadar murid mampu melingkupi apa yang seharusnya menjadi pusat perhatiannya. Peraturan seperti tidak adanya telepon seluler yang berdering dan semacamnya membuat pikiran bawah sadar seseorang menjadi lebih konsisten dalam berfokus. Namun, ingat, bahwa setiap peraturan dibuat disertakan dengan punishmen/hukuman yang setimpal ketika ponsel seorang guru berbunyi disaat proses belajar mengajar.

4. Membangun Hubungan (Building Rapport)
Seorang guru yang terlalu keras dan “over dicipline” sering membuat kondisi murid tidak relaks. Itulah salah satu hal yang membuat gelombang pikiran murid sulit memasuki kondisi alpha. Teknik-teknik seperti breathing (menarik napas bersama-sama); mirroring (menyamakan gerak tubuh dengan muridnya). Dan penggunaan bahasa-bahasa persuasif yang bersifat mengajak membuat informasi yang diberikan langsung ditangkap oleh pikiran bawah sadar seseorang. Teknik membangun hubungan dijelaskan lebih lanjut pada materi tentang building rapport.

C. KOMUNIKASI BAWAH SADAR
Komunikasi terkadang kurang efektif dan efisien. Hal itu disebabkan tidak adanya komunikasi bawah sadar yang mendukung tejadinya “two way communication, heart-to-heart” atau “komunikasi dua arah dari hati ke hati”. Berikut ini beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam berkomunikasi agar terjalin sebuah komunikasi bawah sadar antara Anda dan penerima informasi.

1. Informasikan Hal yang Ingin Anda Sampaikan
Sering kali, disebabkan sebuah rutinitas, seorang guru sudah tidak lagi menjelaskan tujuan secara umum dan secara khusus dalam setiap proses pembelajarannya. Itulah yang membuat CA menjadi aktif untuk siap melakukan analisis dan kebingungan tentang informasi apa yang akan ia terima dan apa manfaat yang akan dirasakan. Oleh karena itu, setiap kali proses belajar mengajar dimulai, setiap guru perlu menginformasikan sebuah outline tentang apa yang akan ia ajarkan kepada murid.

2. Cara Penyampaian dan Cara Mengatakan Informas Tersebut
Kesalahan dalam berkomunikasi, seperti ketidaksesuaian pola bahasa yang digunakan antara pemberi informasi dan penerima informasi,merupakan hal yang perlu menjadi perhatian. Ingat, pikiran bawah sadar seseorang hanya tertarik terhadap sebuah kesamaan.

3. Kondisi atau Situasi
Kondisi dan situasi yang kondusif serta keberlangsungan merupakan kunci dari kesuksesan komunikasi pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, hindarilah hal-hal yang bisa menutup jalinan komunikasi bawah sadar antara guru dan murid. Berikut ini contoh hal yang perlu dihindari.
  • Berbicara terlalu cepat/lambat.
  • Berbicara monoton dan tidak menarik.
  • Berbicara, tetapi tidak terdengar hingga ke bangku paling belakang.
  • Menjelek-jelekkan murid.
  • Merendahkan murid.
  • Merasa guru lebih tahu segalanya.
  • Kurang melakukan kontak mata.
  • Kurang tegas dan bertele-tele.
  • Mencatat apa yang telah ada di buku.
  • Penggunaan tata bahasa yang tidak dimengerti/buruk.
  • Humor dengan isi yang tidak sepantasnya (bernuansa porno).
Dikutip dari Buku “Hypnosis in Teaching”, Andri Hakim [iwaza.wordpress.com]