ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 10 Mei 2011

Korban Cuci Otak NII Bisa Gila.!

Pelaku cuci otak mampu membuat korbannya menderita. Bila tidak segera dipulihkan, korban cuci otak mengalami depresi berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit jiwanya terganggu.

"Kalau kelompok NII gadungan, rata-rata korbannya depresi usai berhasil keluar dari kelompok. Bisa gila!" ujar Adnan Fahrullah (40), mantan pencuci otak yang pernah gabung NII KW 9 sejak 1989 hingga 2004. Adnan ditemui wartawan di sebuah tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011).

"Yang menyebabkan korban depresi itu karena di bawah ancaman. Lalu ditargetkan pimpinannya mencari uang serta wajib menyetor. Ancamannya memang dibunuh, tapi semua itu gertakan saja. Soalnya tidak ada yang pernah dibunuh karena keluar dari NII. Kalau hanya didatangi ke rumah sih memang benar," ujarnya.

Setelah berhasil keluar dari kelompok NII dan menyatakan tobat, penderitaan mereka masih membekas. Apalagi, kata Adnan, mantan-mantan NII yang keluar itu bingung karena tidak punya penghasilan tetap. Sebab, dahulunya saat masuk NII, para korban itu meninggalkan pekerjaannya.

"Butuh dua hingga tiga tahun untuk memulihkan para cuci otak ala NII gadungan itu. Ada dengan pendekatan keislaman dengan benar dan cara lainnya," papar Adnan.

Berbeda cuci otak yang dilakukan NII sempalan. Menurut dia, para pelakunya memang mantan NII KW 9 yang membentuk kelompok lain. Cara cuci otak NII sempalan ini ada menggunakan gaya saat dahulu jadi anggota. Intinya pola kerjanya sama dengan gaya NII KW 9 merekrut korban.

"Tapi perkembangannya kini, NII sempalan menggunakan cara hipnotis," ungkap Adnan.

Meski begitu, sambung pris berkumis ini, cuci otak yang selama ini dilakukan NII sempalan tidak berbahaya. Sebab, NII sempalan hanya bersifat sementara. Motifnya kriminal dengan alasan impitan ekonomi.

"Korban cuci otak dari NII sempalan ini tidak terlalu berbahaya. Para korbanya paling hanya lupa ingatan dalam waktu yang tidak panjang. Ya, paling seminggu dan langsung pulih," jelasnya.

Pelaku Cuci Otak NII Mengintai Kampus dan Mal
Pelaku cuci otak dari kelompok Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW 9) diyakini masih berkeliaran mencari korban. Pola ini digunakan NII gadungan dan sempalan. Mereka mengintai kampus hingga menelusuri mal untuk mencari korban.

Hal tersebut diungkapkan mantan aktivis NII KW 9, Adnan Fahrullah (40) saat berbincang dengan wartawan di salah satu tempat di Kota Bandung, Kamis (21/4/2011). Adnan sejak 1989 hingga 2004 menjadi pelaku cuci otak ribuan korban di wilayah Jawa Barat.

“Para kelompok NII gadungan dan sempalan ini dibekali ilmu tentang Islam. Mereka sudah siap merekrut orang atau sekadar menipu korbannya. Yang saya tahu karena pernah melakukan cuci otak, mereka mendatangi kampus dan mal,” ujar Adnan yang terakhir menjabat sebagai Kepala Bagian Pembinaan NII KW 9 Provinsi Jawa Barat.

Cara seperti itu, kata Adnan, masih dianggap jitu oleh para pelaku cuci otak. NII gadungan lebih mencari korban yang siap hijrah dan nantinya dibina. Sementara NII sempalan hanya sebatas mengelabui korban dengan niat hanya menipu, memeras dan menguras uang. Tetapi NII sempalan tidak berlarut-larut menjadikan korbannya ‘mesin ATM’.

“Yang paling ideal itu, pelaku mencari calon korban di lingkungan masjid kampus, perpustakaan kampus atau masjid umum. Perkembangan saat ini, pelaku memburu targetnya dengan datang ke mal-mal,” ujar Adnan.

Adnan menuturkan, para pelaku cuci otak ini tanpa canggung mendekati orang yang sedang seorang diri. Bila terlihat labil dan memenuhi kategori, mereka bakal mengajak korban untuk berjumpa kembali esok harinya.

“Target calon korban itu yang usianya 30 tahun ke bawah. Ada mahasiswa dan pekerja. Intinya, pelaku membidik korban yang berduit. Mereka berpedoman pada Alquran dan ‘menjual’ hadist agar calon korban terberdaya serta percaya,” paparnya.

Jika sudah terlihat korban mulai terpengaruh, para korban dibawa ke suatu tempat. Lokasinya itu bisa kos atau kontrakan korban, atau sebaliknya. Bisa juga tempat sepi yang tidak diketahui korban.

“Kalau NII gadungan itu tidak melakukan cuci otak dengan cara hipnotis. Tapi cara mereka mampu membuat kosong pikiran korban. NII sempalan yang lebih bermotif kriminal, ada yang pakai hipnotis dan tidak untuk cuci otak korban,” jelas Adnan.

Dia menuturkan, NII gadungan kebanyakannya dari pengikut ajaran Panji Gumilang. Menurut Adnan, kelompok binaan Panji Gumilang tetap eksis hingga detik ini. Sementara NII sempalan ialah bekas anak buah Panji Gumilang yang sakit hati lalu membentuk berbagai kelompok tersendiri yang pola kerjanya dilatari faktor ekonomi pribadi.

Lima belas tahun bergabung dengan NII KW 9, Adnan Fahrullah (40), mengaku telah mencuci otak 5 ribu orang, sehingga akhirnya mereka bergabung. Ribuan orang yang dia rekrut pun kini sudah keluar. Sayangnya banyak yang luntang lantung tak punya pekerjaan. Demi menyambung hidup, lima mantan anggota NII yang ia kenal, kini memilih menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK).

Menurutnya hanya 15 persen saja dari 5 ribu yang telah sadar itu kini memiliki pekerjaan. Ada yang jadi sopir, guru dan profesi lainnya. Menurut Adnan kenapa hal itu terjadi, sebab pada saat mereka bergabung dengan NII, mereka meninggalkan pekerjaan dan juga keluarga mereka.

“Tapi ada juga yang bekerja terpaksa demi kehidupan anak-anaknya. Contohnya saat ini ada wanita mantan NII yang menjadi PSK. Ya, jumlahnya tidak lebih dari lima dan berdomisili di Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Untuk domisili yang sama, tercatat ada sekitar 50 orang depresi, dua di antaranya menjadi gila dan berkeliaran di jalan,” ungkap Adnan saat berbincang di sebuah tempat di kawasan Bandung Selatan, Kamis (21/4/2011).

Setelah memutuskan keluar dari kelompok NII KW 9 pimpinan Panji Gumilang, lanjut Adnan, ia bertobat dan sering menangani para korban NII. Sebagai orang yang pernah malang melintang di NII KW 9, ia mengaku sedih dengan kondisi para korban.

“Saya memang merasa dosa saat merekrut ribuaan korban kala itu. Saya cuci otaknya. Tapi ada racun, pasti ada penawarnya juga. Maka itu, ada cara dan trik untuk memulihkan korban NII,” ujaranya yang keberatan membeberkan penawar yang dimaksud.

“Mereka yang dulu pernah saya cuci otaknya, sudah kembali ke jalan Islam sebenarnya. Dari 5 ribu orang atau kepala keluarganya itu, di anataranya berasal dari Rancaekek, Cicalengka, Lembang hingga Subang,” tambah dia.

Adnan menyatakan apa yang dilakukan NII gadungan dan sempalan itu tak dibenarkan dalam ajaran Islam. Maka itu, ia meminta aparat terkait serta pemerintah untuk membantu keberlangsungan hidup mereka.

Yang dibutuhkan saat ini, jelas Adnan, perlunya diberikan pekerjaan bagi mantan korban NII. Selain itu, polisi harus bertindak tegas terhadap NII gadungan dan sempalan yang hingga kini masih berkeliaran mencari calon korban.

Waspada Gerakan NII KW 9 Masuki Sekolah di Jabar
Gerakan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 bergerak masuk lingkungan sekolah di Jawa Barat. Salah satu contoh, sebanyak 11 siswa SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, nyaris dibaiat NII KW 9.

Kasus tersebut membuktikan kalau aktivitas NII KW 9 bergerilya membidik kalangan pelajar untuk direkrut. Mantan anggota NII KW 9, Ahmad (38) mengatakan, perekrutan pada kalangan pelajar merupakan pola lama. Namun, kata Ahmad, kasus seperti di SMAN 1 Cikalong Wetan, mesti diwaspadai oleh pihak sekolah.

"Jelas hal seperti itu mesti diantisipasi. Pelajar diincar karena mudah dipengaruhi. Selai itu, pelajar ini disiapkan untuk menjadi bibit baru di kemudian hari," jelas Ahmad saat berbincang dengan detikbandung via telepon, Kamis (5/5/2011).

Pria yang pernah gabung NII KW 9 ini menambahkan, perekrut atau pelaku cuci otak melancarkan modusnya tetap sama. Perekrut mengajak hijrah kepada calon anggotanya.

"Yang berbeda hanyalah cara mengajak dan membina. Kalau ke pelajar, para perekrut lebih memperkenalkan pengetahuan Islam yang lebih ringan dan mudah dimengerti, contohnya soal fungsi diri serta pengertian ibadah," kata Ahmad yang terakhir di NII KW 9 menjabat Kepala Desa di salah satu wilayah Jakarta Timur.

Menurut mantan perekrut ini, gerak gerik perekrut perlu dikenali oleh pihak sekolah. Biasanya, kata Ahmad, perekrut awalnya menawarkan diri menjadi mentor untuk kegiatan kajian Islam di lingkungan sekolah. Perekrut itu bisa dari kalangan alumni sekolah ataupun tidak.

Selain itu, sambung Ahmad, para perekrut jumlahnya antara satu hingga tiga orang. Yang masuk ke sekolah pada umumnya hanya satu atau dua orang.

"Maka itu, guru agama di sekolah mesti mengawasi atau ikut saat ada pihak dari luar yang mengajarkan pengetahuan Islam kepada para siswa. Jangan sembarangan pula menerima mentor dari luar sekolah. Diimbau juga para pelajar segera sadar kalau ternyata ada ajaran yang tidak sesuai dengan kaidah Islam," papar Ahmad yang gabung di NII KW 9 sejak 1997 dan keluar pada 2001.

"Nah, cara terbaiknya, para siswa harus sering berkonsultasi dengan guru agama atau ulama setelah mendapat ilmu dari mentornya. Ini untuk memastikan benar atau tidak ajaran yang disampaikan dari mentor itu," tambahnya.

Ahmad juga berpesan kepada pelajar untuk tidak masuk ke organisasi terkesan tertutup di lingkungan dalam dan luar sekolah. Sebab, aktivis NII KW 9 lebih senang mengincar calon korban di organisasi seperti itu.

"Kalau aktivitas organisasinya terbuka dan tiadak eklusif, perekrut itu menjadi takut. Enggak bakal berani masuk," ungkapnya.

Pada Rabu (4/5/2011), Ahmad menjadi narasumber acara dialog 'Bahaya NII Alzyatun' yang dilaksanakan di SMAN 1 Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Dalam kegiatan tersebut terungkap adanya 11 siswa di SMAN 1 Cikalong Wetan yang nyaris dibaiat NII KW 9. (Bandung.detik.com).*