ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 03 Juni 2011

Magnetisme, Gendam, Dan Hipnotisme

Gendam & Magnetis
Hipnotis tradisional atau bisa disebut hipnotis timur yang berkembang pada masyarakat awam adalah hipnotis yang lahir dari “rahim mistik”. Walau identik dengan metafisis, hipnotis tradisional pada bagian tertentu memiliki kesamaan dengan hipnotis modern, khususnya untuk “mempengaruhi”.

Mistik, apapun alirannya percaya dibalik fisik manusia tersimpan energi misterius. Otak manusia terdiri dari bermilyar sel syaraf yang menghasilkan arus listrik lemah memancarkan gelombang elektromagnetik sangat halus. Karena itu, otak yang terlatih memiliki kekuatan gelombang yang sangat kuat yang dapat mempengaruhi sekitarnya.

Proses kekuatan gendam masih ada bagian yang belum terjangkau oleh logika. Namun jika diamati, prosesnya identik dengan hipnotis modern. Yaitu, diawali dengan menciptakan “pra induksi” yang harus disesuaikan dengan kondisi dan pola pikir subjek (sasaran yang dituju), kemudian melakukan “induksi” dilanjutkan dengan trance level test dengan melihat respon subjek terhadap induksi yang dilancarkan, baru kemudian memberikan sugesti atau saran-saran sesuai kehendak.

ENERGI TIMBUL DARI DISILIN DIRI
Sebuah ritual diyakini menimbulkan kekuatan mistis. Proses penggalian energi batin itu dilakukan dengan menanamkan “hipnotis diri” (autosugesti) secara rutin. Melalui bacaan-bacaan tertentu, wirid, mantra, doa dan sebagainya hingga mampu menimbulkan sugesti yang sangat kuat.

Proses sebuah ritual magis menghasilkan tenaga magnetis,
yaitu dasar dari kekuatan supranatural
yang nantinya dapat diaktualisasikan untuk berbagai aktivitas,
tergantung program yang mengolahnya.

Dengan demikian, proses dari wirid, doa atau mantra itu ditinjau dari sisi yang lebih ilmiah adalah konsep penanaman induksi dan motivasi ke alam bawah sadar hingga dalam kondisi tertentu, seseorang dapat melakukan aktivitas yang sering tidak disadarinya, semacam gerak reflek yang oleh sebagian orang disebut non aktifnya sang aku pribadi. Kondisi itu juga disebut proses kalenggahan karena hadirnya energi non pribadi yang mengendalikan jiwa raga.

Maka, orang-orang yang tekun mengolah jiwanya sering tidak menyadari “prestasi-prestasi” yang dilakukannya bahkan menurut pengalaman penulis, saat energi itu bekerja, terasa kesadaran berkurang baik pada pelaku atau orang lain yang kita pengaruhi. Intinya, sama-sama “mengantuk” dan tahu-tahu … beres.
Hipnotis pada sebagian masyarakat awam dikonotasikan negatif. Asumsi orang akan tertuju pada seseorang dengan mata melotot sedang mempengaruhi orang lain yang kemudian menyerahkan perhiasan dan isi dompetnya.

Dalam hal mempengaruhi atau “menundukkan” orang lain, antara hipnotis modern dengan yang tradisional memiliki perbedaan. Hipnotis modern lebih positif karena hanya mampu mempengaruhi orang yang ingin dipengaruhi (kepentingan terapi) sedangkan hipnotis tradisional diprogram untuk mampu mempengaruhi orang yang ingin menolak sekalipun.

SISI POSITIF HIPNOTIS TRADISIONAL
Tapi tidak selamanya hipnotis tradisional itu negatif. Dilihat dari sisi positifnya, eksistensinya adalah sebuah konsep pemanfaatan energi metafisis sebagai alternatif bagaimana menundukkan hati yang keras. Maka hipnotis tradisional pun efektif untuk menanangani kasus-kasus :
  • Memberikan nasihat agar lebih mudah masuk ke hati.
  • Proteksi/perisai dari niat jahat.
  • Meluluhkan orang yang keras, kalap, pelit (dalam kasus menagih) dll.
  • Memberikan keyakinan dan sugesti pada orang yang sedang secara psikis maupun fisik hingga bangkit rasa percaya dirinya.
Sebagai penunjang induksi hipnotis ilmiah. Penulis sering menggunakan hipnotis tradisional untuk mempengaruhi pasien/subjek yang sulit menerima induksi hipnotis modern.

Pemanfaatan hipnotis tradisional untuk tindak kejahatan walau sering kita dengar, tapi yang terjadi dijalanan itu sesungguhnya adalah bentuk dari penyalahgunaan ilmu, dan bukan tujuan dari ilmu itu diciptakan.
Ilmu bagai sebilah pisau yang dapat digunakan untuk menolong maupun menodong. Tergantung siapa yang memegangnya.

MANTRA, DOA SEBAGAI AUTOSUGESTI
Posisi mantra atau jenis bacaan tertentu oleh seseorang yang menggali olah batinnya, menempatkan mantra sebagai “alat bantu”. Dengan kesimpulan itu berarti bukan mantra atau bacaan-bacaan yang menimbulkan kekuatan, melainkan program atau niat ketika bacaan itu dilakukan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “kata-katamu adalah doamu”. Artinya, ucapan lisan yang terprogram adalah kekuatan insaniah yang dapat menghasilkan kekuatan Ilahiyah. Kaidah ini dalam hipnotis modern disebut autosugesti.

Jika hipnotis modern lebih tertumpu pada teknik “sapa” atau verbal, Hipnotis tradisional mempengaruhi subyek (sasaran) lebih tertumpu pada energi batinnya melalui tatapan mata, gelombang suara dan energi lembut yang memancar dari badan halusnya. Para ahli hipnotis tradisional pada umumnya mempelajari ilmu metafisika yang “berkarakter meluluhkan”. Ilmu semacam itu dapat digali dari berbagai unsur, tergantung selera pribadi dan harus disesuaikan dengan latar belakang budayanya.

Kunci sukses dari mengolah sisi supranatural harus disesuaikan tahap spiritual seseorang. Orang yang nuraninya lebih dekat pada animisme – dinamisme dalam mengolah sisi batinnya harus melakukan ritual yang “aneh-aneh”, orang modern dengan metode yang lebih bisa diterima akal sehatnya, (tekhnik pernapasan, konsentrasi), sedangkan orang religius mengolah sisi batin itu melalui wirid atau doa.

Mistik yang berkembang pada masyarakat pada umumnya memiliki tahapan :
  • Japa Mantra (pemujaan pada alam, tokoh sakti & menguatkan ego / keakuan).
  • Riyadhah sebagai bentuk disiplin diri, mengurangi kenikmatan duniawi melalui puasa, melek malam, doa, wirid dsb.
  • Mantra Religius (kombinasi antara mantra konvensional dengan religi) Aurad (berupa rangkuman doa ciptaan orang-orang suci, jaljalut, hizb, asmak atau rangkuman ayat-ayat suci) Doa, Religi Murni (bersumber dari hadis dan alquran)

PROSES KERJA ENERGI
Beberapa kali penulis diundang dalam sebuah pelatihan hipnotis sebagai instruktur tamu yang membahas hipnotis tradisional. Informasi tentang “hipnotis magis” itu ternyata banyak mengusik kalangan ilmuwan.
Kepada yang meragukan adanya unsur supranatural itu, dan meyakini bahwa gendam yang terjadi dijalanan itu karena faktor kelihaian komunikasi dan memanfaatkan kebodohan korban saja, saya memberikan argumentasi, ketika ada anak yang sudah seharusnya tidak menyusu tetapi masih tetap menyusu, orang tuanya lalu memanfaatkan jasa “orang pintar”.

Dalam tradisi Jawa, memisah jalinan hati itu disebut sapeh. Metodenya cukup memberikan makan atau minuman yang sudah diberi energi. Maka yang terjadi kemudian, anak itu tiba-tiba mogok menyusu karena takut saat melihat puting susu Ibunya.

Pertanyaannya adalah? Kenapa balita itu tiba-tiba menjadi tidak lagi mau menyusu? Padahal ia tidak dibujuk-bujuk, tidak di induksi (dalam istilah hipnotis modern). Nah, jika hanya dengan “tiupan” saja dapat mempengaruhi prilaku anak-anak (juga orang dewasa), itu menunjukkan bahwa energi supranatural itu benar-benar ada dan dapat mempengaruhi kepribadian manusia.

LEBIH JAUH TENTANG GENDAM
Walau istilah gendam konotasinya negatif, hakikatnya gendam itu sebuah ilmu yang netral dan bebas nilai. Gendam tidak termasuk ilmu hitam. Posisinya seperti sirep, ilmu untuk menidurkan yang semula diciptakan untuk menidurkan bayi rewel agar segera tertidur, namun ketika sirep itu dipegang orang jahat lalu digunakan menidurkan calon korban. Dalam kasus ini, sirepnya tidak salah. Yang salah adalah orang yang memegang ilmu itu.

Ilmu sejenis gendam, khususnya untuk menggagalkan niat jahat, di Jawa Tengah disebut Aji Prembanyu / Pembayun. Sedangkan gendam itu sendiri lebih fokus pada ilmu meluluhkan untuk tujuan komunikasi.

Ilmu gendam terbagi dalam 3 jenis. Yaitu :
  1. Gendam fisik (murni teknik komunikasi, tapi pada umumnya mengekploitasi mistis. Aktivitas ini termasuk “keajaiban jasmani”)
  2. Gendam Kombinasi (perpaduan teknik komunikasi dengan “andalan” batin).
  3. Gendam Magis (100% magis. Termasuk keajaiban ruhani). Rumusnya “belum ketemu” tapi fenomenanya tidak dapat dipungkiri.

BAGAIMANA MENGUASAI GENDAM?
Mempelajari gendam tidaklah rumit. Kuncinya harus yakin dan tekun mengasah dan sebagai penunjang, wawasan harus diperluas. Tentang berat ringannya proses latihan tergantung jenis yang diinginkan. Dan bagi yang nuraninya tidak bisa menerima konsep olah batin yang berbau budaya, karena khawatir bid’ah dan sebagainya, dapat melalui aktivitas religius. Yaitu, melalui jalur aurad, doa, hizb, jaljalud dsb.

Konsep penggalian energi peluluh itu beragam. Ada yang dengan melakukan kungkum dengan membaca mantra-mantra tertentu, ada yang dengan puasa dan membaca bacaan yang diyakini mengandung kekuatan gaib.

Konsep mistik yang religius bersandar pada doa dengan kaidah : Dengan menyebut asma Tuhan (asma al-husna) engkau dapat “menyerap” sifat-sifat Tuhan. Dan pasti, Tuhan Maha Lembut, Maha Menundukkan, Maha Perkasa. Maka, bermohonlah kelembutan, daya penunduk dan keperkasaan kepada-Nya.

Hipnotis versus gendam dan penjelasannya
  1. Kalo hipnotis biasanya dengan kekuatan sugesti sehingga otak memberikan sinyal agar ikut dalam perintah si pelaku hipnotis
  2. Gendam melakukan penyusupan perintah dengan menangkap sinyal dan nalar manusia sehingga menjadi tidak sadar dan mengikuti perintah pelaku gendam

Biasanya hipnotis, harus melakukan dengan sepengetahuan si pelaku, sedangkan si pemilik gendam harus melakukan secara diam diam…

Contoh …
Seseorang yg turun dari bis atau menunggu bis di sebuah halte kadang otaknya berpikir, ingin segara berangkat dari halte tersebut atau berkonsentrasi melihat angkutannya tiba. Peristiwa ini di sebut single focus mind (tertuju pada satu pusat pemikiran). Saat si penunggu angkutan berpikir dengan SFM (single focus mind) yg bekerja adalah otak sebelah kiri, yang berhubungan dengan indra penglihatan dengan indra pendengaran. Keadaan ini lah yg di gunakan si pelaku gendam untuk menyusupkan perintah dengan cara masuk ke dalam pikiran orang tersebut untuk mematuhi perintah.

Namun otak pada saat itu belum tersadar. Saat di tepuk dari belakang, perintah otak yg masuk tadi berhadapan dengan pemikiran logika bertanya”siapakah orang ini”, tapi pelaku gendam biasa langsung memberikan sinyal bahwa dia mengenal si korban dengan jawaban “apa kabar”.

Hasilnya? Ya tau sendiri, si pikiran yang secara tidak sengaja terjawab nalar yg telah di susupi mulai ikut terkendali oleh si pelaku gendam. Biasa pelaku gendam paling suka memilih korban wanita. karena si korban di anggap lebih mudah di susupi pemikirannya dari pada pria. Makanya pas di halte atau di mana pun tetep bergerak. Jangan diam-diam aja. Soalnya otak kiri sama kanan harus balance klo ga mau di gendam.
Joki atau biasanya pelaku gendam beroperasi 5 orang. Mereka itu adalah; 1 orang sebagai penyapa, 1 orang sebagai pensusup pikiran, 1 orang pelindung, 1 orang nunggu di atm, 1 orang memantau dari jauh.

PUSTAKA : BLOG SURUWANGI [holistic1610.wordpress.com]