ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 03 Juli 2011

GRATIS BUKU BARU ''MENGUAK DUNIA JIN DAN KHODAM''

BUKU MENGUAK DUNIA JIN DAN KHODAM
DAFTAR ISI ;
  1. MENGAPA ORANG BERDZIKIR BISA KESURUPAN JIN
  2. MANTRA DAN RUQYAH
  3. Apakah Manusia Bisa Melihat Jin…..?
  4. PENAMPAKAN YANG MENGHANTUI HAYAL MANUSIA
  5. PENYAKIT AKIBAT GANGGUAN JIN
  6. Hikmah Aqiqoh dalam Prespektif Penyembuhan Penyakit
  7. Membentengi Diri dari Gangguan Jin
  8. Penanggulangan Orang Kesurupan dan Penyembuhan Penyakit Akibat Gangguan Jin
  9. Kekuatan Yang Mengalahkan
  10. Kekuatan Yang Dikalahkan
  11. Penanggulangan Orang Kesurupan Jin
  12. Penyembuhan Penyakit Akibat Gangguan Jin
  13. KHODAM
  14. KHODAM JIN DAN KHODAM MALAIKAT
  15. BERBURU KHODAM
  16. MENGENALI KHODAM
  17. RIWAYAT PENULIS [Kyai Muhammad Luthfi Ghozali]
Seseorang melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan dimensi alam jin, baik penanggulangan maupun penyembuhan, berarti berhadapan dengan kekuatan jin. Supaya pekerjaan tersebut tidak salah dan membuahkan hasil yang diinginkan, tahap pertama yang harus dilakukan adalah mengkondisikan diri untuk bisa mendapatkan kekuatan dari Allah Ta’ala yang disebut dengan Sulthonul ilahiyah. Dengan kekuatan pertolongan itu makhluk jin menjadi takut kepada manusia. Untuk mencapai hal tersebut, manusia harus mendapatkannya melalui latihan yang terbimbing, baik dengan mujahadah maupun riyadhoh di jalan Allah.

  • Yang dimaksud dengan penanggulangan adalah membebaskan manusia yang kesadarannya sedang dikuasai Jin
  • sedangkan yang dimaksud dengan penyembuhan adalah membantu kesembuhan bagi orang yang terkena penyakit akibat gangguan jin, seperti terkena santet atau sihir dan lain-lainnya.

Teori mengatakan bahwa jin takut kepada malaikat. Allah Ta’ala telah mengisyaratkan hal tersebut dengan firman-Nya:

Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri dari kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah”. Dan Allah sangat keras siksa-Nya. QS:8/48.

Disebutkan di dalam ayat diatas, “Sesungguhnya saya berlepas diri dari kamu; sesungguhnya saya melihat apa yang kalian tidak dapat melihat”. Yang dilihat oleh setan jin terhadap sesuatu yang tidak dilihat oleh manusia itu adalah tentara malaikat yang diturunkan Allah Ta’ala untuk membantu kaum muslimin yang sedang berperang. Dengan ayat ini jelas mununjukkan bahwa setan jin takut kepada para malaikat. Dan juga firman Allah SWT. :

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya Allah beserta kita. “Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS:9/40.

Firman Allah Ta’ala di atas: “Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad s.a.w) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya”. Maksudnya; penyebab tenangnya hati Rasulullah saw. padahal beliau sedang menghadapi ancaman musuh, karena Allah Ta’ala menurunkan tentara malaikat yang tidak dapat dilihat mata tapi dapat dikenali dengan perasaan. Artinya, sesuatu yang ghaib bagi mata lahir ternyata dapat dikenali melalui perasaan. Ayat ini menunjukkan, dengan izin Allah manusia berpotensi bisa mengenali sesuatu yang ghaib bagi mata lahirnya.

Secara garis besar makhluk hidup dibagi menjadi tiga, Malaikat, Manusia dan Jin. Masing-masing makhluk tersebut sesuai dimensinya mempunyai sunnah kehidupan yang berbeda, baik habitatnya maupun personal. Seperti dimensi manusia, habitat kehidupannya berada di muka bumi, sedangkan secara personal adalah jasmani dan ruhani serta masyarakat yang ada di lingkungan. Demikian pula makhluk jin dan malaikat.

Manusia yang menanggani urusan-urusan yang berkaitan dengan jin, baik aspek penanggulangan maupun penyembuhan, berarti dia sedang berhadapan dengan kekuatan (sulthon) jin, baik secara habitat maupun personal. Oleh karena itu manusia harus mempunyai kekuatan, baik secara habitat maupun personal yang disebut dengan “Sulthonul Ilahiyah”. Apabila manusia dengan ilmu dan amalnya berhasil mendapatkan sulthon yang lebih kuat dari sulthon jin, berarti manusia dapat mengalahkan jin. Apabila tidak, maka manusia yang akan dikalahkan oleh jin.

Secara sunnah jin dan malaikat berpotensi dijinakkan manusia. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya: Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin. (QS.Lukman/20). Dengan ibadah dan mujahadah yang dijalani serta wirid-wirid yang didawamkan, manusia bisa mendapatkan warid-warid, baik dari dimensi malaikat maupun dari dimensi jin. Yang dimaksud warid dari dimensi malaikat adalah khoddam malaikat sedangkan warid dimensi jin adalah khoddam jin.

Warid dimensi jin terkadang memang dapat dijadikan tenaga bantu guna penanggulangan gangguan jin, asal warid tersebut lebih kuat daripada kekuatan jin yang menguasai manusia, bila tidak, bisa jadi orang yang akan mengobati itu malah kesurupan jin. Disamping itu, orang tersebut berarti bekerjasama dengan jin. Sadar maupun tidak, orang itu telah bekerja sama (isyrok) dengan jin. Dalam kaitan ini Allah Ta’ala memberikan peringatan dengan firmannya; “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu akan menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. QS. Al-Jin 72/6. Perbuatan tersebut bahkan dapat menjebak manusia berbuat syirik. Yakni ketika mereka sudah tidak dapat melakukan pekerjaan sendiri kecuali dengan bantuan warid tersebut, saat itu berarti ia telah berbuat syirik, meski warid jin tersebut didapatkan sebagai buah ibadah.

Adapun untuk kaitan penyembuhan penyakit jin, warid dimensi jin tersebut sedikitpun tidak dapat membantu, bahkan bisa jadi menjadi penyebab penyakit yang diderita si pasien semakin parah. Hal itu disebabkan, semestinya penyakit jin tersebut minimal dapat dilemahkan, dengan menggunakan warid jin jadinya malah menguatkan. Dalam kaitan ini tidak banyak pelakunya menyadari. Dengan cara penyembuhan seperti itu seringkali penyakit tersebut tidak sembuh malah menjadi semakin parah. Adapun dengan warid dimensi malaikat, ketika orang yang ahli mampu menjadikannya sebagai sarana baik untuk penanggulangan maupun untuk menyembuhan, warid tersebut sangat membantu memudahkan pekerjaan. Bagaikan air dingin disiramkan di atas bara, seketika apinya mati dan panasnya menjadi dingin.

Ketika manusia berjalan di jalan Allah Ta’ala dengan dibimbing guru ahlinya. Mereka menempuh thoriqoh yang diyakini, baik dengan dzikir dan wirid maupun mujahadah dan riyadhoh, ketika orang tersebut berhasil mendapatkan anugerah azaliyah yang diturunkan ke dunia berupa “Sultonul ilahiyah” sebagai buah ibadah yang dijalani, itulah yang disebut warid dari dimensi malaikat. Rahasia pertolongan Allah Ta’ala itu nurnya akan memancar dari sinar wajah orang tersebut, dengan rahasia nur itulah makhluk jin menjadi takut kepada manusia. Keadaan itu ditegaskan oleh Rasulullah saw. Berkaitan prihal Sahabat Umar bin Khottob di dalam haditsberikut ini:

Diriwayatkan dari Saad r.a berkata: Umar meminta izin untuk menemui baginda saw. Pada saat itu beberapa orang wanita Quraisy sedang berbicara dengan Rasulullah saw dengan suara yang tinggi. Ketika mendengar suara Umar meminta izin wanita-wanita itu berlari menuju balik tabir. Rasulullah saw mengizinkan Umar masuk. Rasulullah saw tersenyum ketika melihat beliau. Umar berkata: Semoga Allah memanjangkan usiamu wahai Rasulullah! Rasulullah saw berkata: Aku heran dengan wanita-wanita yang berada di sampingku itu, ketika mendengar suaramu mereka berlari menuju balik tabir. Lalu Umar berkata: Wahai Rasulullah! Engkaulah orang yang paling berhak di takuti. Umar berkata kepada wanita-wanita yang bersembunyi itu: Wahai wanita-wanita yang menjadi musuh diri sendiri, adakah kamu merasa takut kepadaku tetapi tidak takut kepada Rasulullah. Mereka menjawab: Benar, karena tingkah laku dan tutur katamu lebih kasar dari Rasulullah.

Rasulullah saw bersabda: Demi Zat aku yang berada di dalam kekuasaan-Nya, tidak ada setan yang akan melalui jalan yang dilalui olehmu, melainkan mereka berusaha melalui jalan yang tidak dilalui olehmu.
• Riwayat Bukhari di dalam Kitab Pemulaan Kejadian hadits nomor 3051 – Sifat-sifat Terpuji hadits nomor 3407 – Etika hadits nomor 5621.
• Riwayat Muslim di dalam Kitab Kelebihan Sahabat hadits nomor 4410.

Rasulullah saw. bersumpah bahwa makhluk jin takut kepada sayyidina Umar bin Khothob ra. sehingga jin tidak berani berpapasan dalam satu jalan dengannya. Apabila Sahabat Umar r.a melewati satu jalan, jin tersebut melewati jalan lain. Hal itu karena jin melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh mata manusia. Itulah bentuk wujud rahasia warid-warid dimensi malaikat yang ada pada diri beliau sebagai anugerah yang diberikan Allah Ta’ala buah ibadah dan pengabdian yang dijalani. Jadi yang bisa mengalahkan kekuatan jin itu bukan kesaktian manusia secara pribadi, tetapi rahasia pertolongan Allah yang didatangkan kepadanya.

 DOWNLOAD BUKU  KLIK DI SINI.....