ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 29 Juli 2011

Menuju Hidup Yang Lebih Baik

SKALA PRIORITAS
Suatu hari, di sebuah university di sebuah kota San Fransisco, seorang ahli 'Management Waktu' berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya.

Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia mengeluarkan toples berukuran galon yang bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya,

dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!"

Kemudian dia berkata, " Benarkah?"
Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi:" Apakah toples ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun. "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab.

" Bagus!" jawabnya. Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan.

Sekali lagi dia bertanya, "Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab
Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air itu ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.

Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"

"Bukan!", jawab si Ahli Manajemen Waktu tersebut, "Bukan itu maksudnya."

Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa:
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.

Sahabatku,
"Apakah batu-batu besar dalam hidup Anda? Mungkin anak-anak Anda , suami/istri Anda, orang-orang yg Anda sayangi, persahabatan Anda, kesehatan Anda atau mimpi-mimpi Anda?

Batu-batu besar ialah Hal-hal yg Anda anggap paling berharga dalam hidup Anda. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yang pertama, atau Anda tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika Anda mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktu Anda, maka Anda hanya memenuhi hidup ini dengan hal-hal yang kecil, Anda tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidup Anda".

Sahabatku, Hidup ini hanya satu kali saja, isilah hidup ini dengan lakukan hal-hal yang terpenting, prioritaskan hal-hal besar dalam hidup Anda dan jadilah yang terbaik.

Satu hal yang tidak akan pernah bisa kembali adalah WAKTU.

Sahabat,
Sejatinya di dunia ini "prestasi spektakuler" di bidang apapun, tercipta dari orang-orang yang merasa bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik lagi, dan mereka berani menjalankannya dengan komitmen 100 persen!

Saat ini...kesempatan sukses masih terbentang luas di hadapan kita.
Harapan dan prestasi menunggu kita untuk segera bertindak!
Hanya dengan berani bertindak, semua mimpi bisa menjadi nyata!

If you can do better, please do it!
~Andrie Wongso~

Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW, bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT. (Imam Turmudzi)

Gambaran Umum Hadits
Hadits diatas menggambarkan mengenai urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah SAW mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan ( الكيس ), sedangkan kegagalan ( العاجز ) dikaitkan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan
Hadits di atas dibuka Rasulullah SAW dengan sabdanya, ( الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت ) ‘oarng yang pandai (sukses) adalah orang yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’

Ungkapan sederhana di atas sungguh menggambarkan tentang sebuah visioner yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus batas dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga pada kehidupan setalah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi & planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi.

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai kunci pertama dari kesuksesan ( الكيس ). Karena sekali lagi, orang yang sukses akan selalu mengevaluasi dari kinerja pribadi yang telah dilakukannya.

Selain itu, Rasulullah SAW juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ( وعمل لما بعد الموت )’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah SAW langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah SAW mengenai kesuksesan. Tersirat dari hadits di atas, orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.

Sementara banyak sekali pribadi-pribadi maupun institusi yang mengevaluasi kinerja atau aktivitasnya lantaran orang lain, atau agar dinilai ‘baik’ oleh pihak lain. Di sinilah perbedaan mendasar evaluasi Islami dengan evaluasi non Islami. Evaluasi Islam adalah mengevaluasi demi perbaikan diri dan agar mendapatkan cinta Allah SWT. Maka konsekewnsinya adalah, beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sementara evaluasi non Islami, evaluasinya dilakukan agar dinilai pihak lain baik, profesional dan kompetebel.

Sementara kebalikan dari hal tersebut yaitu kegagalan, yang disebut oleh Rasulullah SAW dengan ( العاجز ) ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu yang pertama adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya ( من اتبع نفسها هواها ). Membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Dan orang yang seperti ini sudah akan terukur kegagalannya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ( وتمنى على الله )’berangan-angan terhadap Allah.’

Maksud berangan-angan terhadap Allah SWT adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut : Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Sahabat, ingatkah anda dengan Rumah Masa Depan Kita yg bertype 21.
Asesoris apa yg bisa kita rencanakan untuk mendekorasi Rumah kita tsb.?
Bukankah Ternyata tak ada toko yang menjual ornamen dekorasi rumah masa depan kita tersebut. Karena hanya energi positif yg bersifat spiritual (Pahala), yg bisa memperindahnya. Nah, bagaimana merubah energi duniawi menjadi energi spiritual..?

Saat kita mati dan berada di alam kubur, maka diri jasmani kita sudah hancur lebur menyatu dengan tanah. kita kembali ke wujud asli kita yaitu energi. Dan energi hanya akan memperoleh daya hidup dari energi pula... Bila tabungan energi positif kita kecil, maka itu artinya masa depan kita di alam energi akan seperti orang yg bangkrut dan miskin, bagaikan pengemis terlantar yg terlantar di pinggir jalan....

Kunci untuk merubah energi duniawi atau energi materi menjadi energi positif spiritual adalah dengan memBangun dan meng-instal sebuah sistem software IKHLAS ke dalam CPU kita. Installah software ikhlas tersebut ke dalam hati dan otak kita.... Maka seketika itu juga semua output yg keluar dari sistem diri kita yg berupa segala amal dan perbuatan akan berubah nilainya menjadi ibadah sehingg berbuah energi positif yg bersifat spiritual (pahala). motif perbuatan dan amal kita hanya akan terjadi karena Allah semata. Allah menjadi tujuan dan motif utama perbuatan/amal kita. dan hanya Tuntunan Allah yg kita jadikan pedoman dalam kehidupan kita............

Kesuksesan bukanlah milik seorang pemimpi (dreamer)…
Tetapi kesuksesan adalah milik seseorang yang berani memulai untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, walaupun mimpinya tersebut adalah mimpi yang di luar jangkauan imajinasi orang banyak alias ~ORA UMUM~. he..he..he..
So, Stop Dreaming Start Action…

Wallahu a'lam bisshowab