ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 30 November 2011

Aktivasi Energi Khalifah


Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi wa barokatuh.......

Sahabat, Tahukah berapa nilai anda yang sebenarnya...???

Anda tentu tahu, bahwa ketika sebuah perusahaan mengeluarkan sebuah produk dengan jumlah terbatas atau Edisi Limited. Maka harganya akan menjadi melambung tinggi melebihi produk sejenis. Right...??

Dan anda tentu juga sudah tahu, mengapa barang antik yg jumlahnya terbatas atau Langka. Bahkan hanya ada satu di dunia akan mendapatkan penawaran Harga tertinggi hingga milyaran ataupun trilyunan dolar ...??

Dan tahukah anda, bahwa Setiap Diri Kita atau setiap individu manusia adalah Unik, Langka, dan tiada duanya. Diri kita adalah satu-satunya di dunia. Tidak ada manusia lain yg merupakan kembaran identik diri kita. Bahkan DNA & SIDIK JARI tiap orang tidaklah sama....

Bila sebuah Product Edisi Limited berharga mahal, Bila barang antik yg langka juga berharga mahal. Lalu berapakah harga kita...?? SUNGGUH TIDAK TERNILAI bukan...??

Sahabat, sesungguhnya perjalanan kita hidup di dunia ini hanyalah sekedar sebuah proses untuk menemukan JATI DIRI Kita yang MULIA & Tiada ternilai tersebut...

Secara Fitrah manusia terlahir Sempurna dan merupakan sebuah Product Ilahi yg spesial... Bagaikan baju putih bersih yg baru dikeluarkan dari pabriknya.... Namun semua itu baru merupakan potensi yg masih terpendam di dalam DNA seseorang. Hanya dengan Akal budi dan tuntunan agama, seorang manusia akan mampu menemukan potensi kemuliaan dirinya itu dan memantaskan dirinya sebagai Khalifatullah di atas muka bumi ini.

Manusia sebagai kholifah bumi, juga mengindikasikan bahwa manusia dengan segala kemampuan yang dimiliki dijadikan oleh Allah s.w.t sebagai penguasa di muka bumi, atau menjadi sumber daya dan pengendali seluruh potensi bumi. Itulah keutamaan dan anugerah terbesar yang diberikan Allah s.w.t hanya kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain.

“Man is not the creature of circumstances; circumstances are the creatures of men.” –Benjamin Disraeli–

Menurut sebuah pepatah Arab, kita tak akan pernah bisa memberikan apa yang kita tidak punya. Untuk berinfak kita harus mempunyai uang. Untuk mengajar kita harus berilmu. Untuk melindungi kita harus kuat. Lalu, untuk memimpin apa yang mesti kita punya?

Dalam proses evaluasi para calon pimpinan perusahaan, kebanyakan penilaian akhir dari team penilai para calon kandidat adalah pada beberapa faktor yakni:
  1. Leadership Skill => Keahlian memimpin
  2. Teamwork Skill => Keahlian bekerjasama
  3. Analytical Skill => Ketrampilan menganalisa permasalahan
  4. Tactical & Strategic Skill => Keahlian taktis dan strategis
  5. Maturity Level => Level Kedewasaan, mencakup di dalamnya Emotional Intelegence, Managing Psychological War, dlsb.
Dari semua aspek, tersebut, umumnya penilaian akhir paling berat adalah pada nomer lima, selain nomer satu. Artinya, level kedewasaan sikap seseorang yang menentukan berhak tidaknya yang bersangkutan memimpin suatu unit organisasi, bisnis ataupun lembaga tertentu (tentu saja di sini kita berbicara mengenai penilaian yang obyektif).

Namun tidak semua orang, mampu menguasai dirinya sendiri secara penuh waktu dan terus-menerus (mastering him/her self). Adakalanya seseorang jatuh ke dalam pencobaan, entah itu godaan duniawi, ataupun godaan emosional, atau lainnya.

Sebenarnya, seseorang pimpinan tidak boleh tidak marah, namun juga tidak boleh terus-menerus marah karena marah itu harus ada level dan kontrolnya secara tepat dan benar. Dan adalah wajib seseorang jika menyandang posisi strategis dan penting untuk tetap sadar diri, waras, dan terkontrol dalam meluapkan amarahnya.

Emosi itu sendiri sebenarnya bisa dikontrol, dan dilatih untuk terkontrol. Bahkan yang namanya godaan nafsu duniawi dan badaniah juga bisa dikontrol secara baik dan benar jika kita benar-benar mau berlatih untuk sadar diri 100%.

Latihan untuk mengontrol dan menguasai diri sendiri, bisa dengan berbagai cara dan juga bermacam metoda kombinasi. Namun dalam step-stepnya ada rumusan baku yang perlu dipahami, yakni:
  1. Kenali diri sendiri terlebih dahulu.
    Sebelum mencoba menguasai keadaan dan juga diri sendiri, cobalah untuk mengenali diri sendiri, batasan tempramentalnya, batasan godaannya, dan lain sebagainya. Karena setiap orang ada limitnya sendiri-sendiri, dan hanya dia sendiri yang tahu pada titik mana dia goyah.
  2. Belajar menerima segala kelemahan dan ketidakberdayaan itu.
    Hanya dengan mengakui dan menerima kekurangan kita dan segala kelemahan kita terhadap godaan dari luar dan dari dalam diri sendiri, kita bisa memahami diri kita dan menguasainya.
  3. Belajar mengontrol kehendak dan fokus pada titik yang ingin dicapai.
    Hal ini umumnya luar biasa sulit, dan memang bagian terberat dalam latihan penguasaan diri. Kebanyakan para ahli spiritual dan kebathinan belajar atau berlatih dengan bersemedi sambil menatap mata pada cermin berlama-lama tanpa berkedip atau melihat nyala lilin tanpa berkedip, atau berlatih meditasi dengan duduk bersimpuh atau duduk di atas kursi paku / tempat tidur paku. Namun sebenarnya tidak perlu hal ekstrim seperti yang dilakukan para fakir spritual, ada banyak cara lainnya, seperti belajar fokus pada bacaan di tengah keramaian juga cara yang baik. Atau belajar mengendalikan nafsu lapar mata untuk tidak menyemil, juga latihan yang bagus.
  4. Melatih ketrampilan penguasaan diri dalam medan sebenarnya.
    Ada pepatah, yang mengatakan, practice what you learn. Tanpa ujian diri sendiri atau mencoba menyeburkan diri dalam godaan yang lebih besar dan lebih nyata, semua teori tadi sia-sia belaka. Seorang pertapa tidak bisa disebut ahli spritual jika tidak bisa bertahan dari godaan nafsu duniawi sepanjang malam, atau seorang penegak hukum tidak bisa dikatakan mampu menguasai keadaan jika terpancing oleh kata-kata demonstran.
  5. Kesadaran & Kecintaan.
    Menyadari bahwa itu semua dilakukan bukan untuk uji tahan godaan dan cobaan, akan tetapi dilakukan dengan penuh rasa cinta akan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ini paling penting, karena semua keteguhan iman dan kontrol diri akan sia-sia jika tanpa rasa kecintaan akan tanggung jawab yang diamanatkan.
Citra diri sebagai manusia merdeka!
Sebelum mampu memimpin orang lain, kemampuan memimpin diri sendiri adalah keniscayaan. Ada yang menyebut kompetensi ini sebagai self-leadership, self-mastery, atau personal mastery. Intinya adalah kemampuan untuk menjadi tuan atas diri sendiri, berangkat dari keyakinan, conviction, bahwa bukanlah lingkungan yang menciptakan kita, melainkan kitalah yang menciptakan lingkungan, bahwa diri kita adalah subjek sedangkan lingkungan adalah objek, dan bukan sebaliknya. Sebuah kesadaran atas kemerdekaan hakiki, a free will, yang telah Allah karuniakan, yang membedakan kita dari beragam makhlukNya yang lain, sebagaimana firmanNya: “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy Syams: 8-10).

Citra diri sebagai manusia merdeka membuat kita menjadi manusia dengan internal locus of control, manusia yang meyakini bahwa dirinya adalah penyebab, sekaligus faktor yang bertanggungjawab, atas hasil yang diterimanya. Internal locus of control merupakan refleksi dari self-responsibility, kemampuan bertanggungjawab atas nasib diri sendiri, yang merupakan cikal-bakal tanggungjawab atas nasib orang banyak. Internal locus of control juga merupakan karakteristik utama dari pribadi yang matang dan dewasa secara emosional dan spiritual.

Citra diri sebagai manusia merdeka merupakan prasyarat menjadi manusia pembelajar, pemimpin pembelajar, satu-satunya spesies pemimpin yang mampu mentransformasikan dirinya menjadi pemimpin jenjang ke lima. Dalam konteks ini, citra diri sebagai manusia merdeka menyediakan fondasi yang kokoh bagi terbangunnya mental pembelajaran (learning mental). Meminjam model dari Taufik Bahaudin (2001), proses membangun mental pembelajaran dimulai dengan memiliki self-awareness, kesadaran rasional mengenai diri sendiri, pemahaman mengenai kekuatan (strengths), keterbatasan (non-strengths), dan kelemahan (weaknesses), di samping kemampuan membaca posisi diri dalam konteks berbagai faktor dan aktor eksternal. Allah SWT melengkapi kita dengan perangkat-perangkat yang membuat self-awareness menjadi keniscayaan: panca indera yang mmemungkinkan kita menangkap stimulus, dan otak rasional (neo-cortex) yang memberi kita kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi objek yang terekam oleh indera kita.

”Memiliki kepribadian yang matang dan dewasa, dilandasi oleh kemampuan untuk menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan, berkata dan bertindak jujur, serta memikul tanggungjawab, sehingga mampu menjadi agen-agen perubahan yang layak dipercaya.” Dimilikinya mental pembelajaran, yang membuat diri kita memiliki internal locus of control, merupakan karakteristik dari kepribadian yang matang dan dewasa.

Eksistensi mental pembelajaran yang mantap dan telah menjadi neural path-way (“software” atau ”pilot otomatis” di otak kita) yang muncul dalam bentuk respon spontan ”what’s wrong with me?” di identifikasi oleh Collins sebagai salah satu pilar penting dari fenomena pemimpin jenjang kelima: “looks in the mirror, not out the window, to apportion responsibility for poor results, never blaming other people, external factors, or bad luck,” dan sebaliknya, “looks out the window, not in the mirror, to apportions credit for the success of the company – to other people, external factors, and good luck.” Jelas bahwa mental pembelajaran merupakan fondasi dari terbangunnya karakter dasar yang seolah-olah paradoksal dari kriteria pemimpin jenjang kelima: professional will dan personal humility. Dampaknya? Dahsyat!

Salam hormatku untuk anda semua, sungguh anda adalah makhluk yang LUAR BIASA....

SALAM NAQS DNA....

referensi :
Kompasiana
Rahmat Malik