Hukum Perubahan Energi

The Law of Perpetual Transmutation of Energy (Hukum perubahan energi tanpa henti):
Hukum alam ini menyebutkan bahwa energi tidak pernah berhenti berubah bentuk. Hal ini memberikan kesempatan kepada semua orang untuk bisa mengubah kondisi kehidupannya setiap saat mereka merasa ada yang perlu diubah atau diperbaiki.

Semua orang memiliki kekuatan ini karena semua orang memiliki energi (mereka terbentuk oleh energi).

Energi yang berfrekuensi tinggi bisa "menelan" atau mengkonsumsi energi berfrekuensi rendah dan lalu mengubahnya menjadi energi berfrekuensi tinggi.

Contohnya, bila Anda sedang merasa sedih, lalu Anda memutuskan untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan, maka energi kegembiraan tersebut akan "memakan" energi kesedihan, dan kemudian mengubahnya menjadi kegembiraan.

Jadi siapapun orangnya, meski sekarang ini mereka memancarkan energi berfrekuensi negatif, kalau mau, bisa dengan mudah mengubahnya menjadi energi berfrekuensi positif dengan mengikuti dan menerapkan semua prinsip hukum universal sukses yang satu ini.

Kekuatan untuk melakukan segala sesuatu tidak datang dari luar diri seorang manusia, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Oleh karena itulah Allah swt telah meletakkan energi berfrekwensi Tinggi atau berfrekwensi Ilahiah di dalam diri manusia yang disebut Kesadaran Ruh Ilahi. Yang dengannya manusia akan keluar dari segala kegelapan kehidupan menuju Kehidupan yang penuh dengan Cahaya [Minadzdzulumati ilannur].

Allah swt berfirman :

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. al-Baqarah: 257)

Berjalan di tengah siraman cahaya hidayah merupakan nikmat yang sangat agung. Sebaliknya, tenggelam dalam kegelapan kesesatan merupakan bencana yang sangat mengerikan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, “Orang itu -yaitu yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah orang banyak.” (al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35)

Orang-orang yang beriman, mendapat anugerah bimbingan dari Allah untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya. Adapun orang-orang kafir (Manusia yang hatinya terkunci mati) yang jelas-jelas menentang ayat-ayat-Nya dan berpaling dari petunjuk Rabbnya, maka ‘pembimbing’ mereka adalah thoghut (Jin, syetan, Iblis, & kuasa kegelapan lainnya) , yang justru mengeluarkan mereka dari cahaya menuju gelap gulita.

Begitu pula orang-orang munafik, yang sengaja meninggalkan kebenaran dan mencampakkannya, maka Allah ta’ala membiarkan mereka berjalan di atas kegelapan yang mereka pilih atas kehendak hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Perumpamaan mereka -orang munafik- seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.” (QS. al-Baqarah: 17-18)

al-Hafizh Ibnu Katsir menukil riwayat dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengenai tafsiran dari ayat ini. Beliau berkata, “Ini adalah sifat orang-orang munafik. Dahulu mereka beriman sehingga iman itu menyinari hati mereka sebagaimana api yang menyinari orang-orang yang menyalakan api. Kemudian mereka justru kufur maka Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka dan mencabutnya sebagaimana lenyapnya cahaya dari api tersebut sehingga Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” (Tafsir al-Qur’an al-Azhim [1/67])

Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman. Yang keduanya telah dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.”(al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan antara kemuliaan dan kejayaan suatu kaum dengan komitmen mereka terhadap ajaran al-Qur’an. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian kaum dengan sebab Kitab ini, dan akan menghinakan sebagian yang lain dengan sebab Kitab ini pula.” (HR. Muslim)

Sebagaimana Allah ta’ala menjadikan iman dan ilmu sebagai sebab pengangkatan derajat sebagian dari hamba-hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah akan mengangkat kedudukan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat.” (QS. al-Mujadilah: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengaitkan antara kebaikan seseorang dengan kepahamannya terhadap al-Qur’an dan komitmennya untuk mendakwahkannya. Beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dengan bahasa lain, kepahaman terhadap agama itulah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka niscaya akan dipahamkan dalam urusan agama.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Di sisi lain, Allah ta’ala juga mengaitkan antara kekuatan iman yang ada dalam hati seseorang dengan perhatiannya yang serius terhadap kandungan ayat-ayat al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka…” (QS. al-Anfaal: 2)

Sementara, kaum Khawarij -meskipun mereka pandai membaca al-Qur’an- namun dicela oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -bahkan disebut sebagai Syarrul khalqi wal khaliqah/sejelek-jelek manusia- akibat bacaan mereka tidak diiringi dengan kepahaman hati dan tidak bisa memetik pelajaran yang semestinya dari apa yang mereka baca -sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat/salafus shalih-. Beliau bersabda, “Mereka itu -yaitu Khawarij- pandai membaca al-Qur’an namun tidak melampaui pangkal tenggorokan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). an-Nawawi rahimahullahmengutip salah satu penafsiran hadits ini bahwa maksudnya adalah, “…Maknanya hati mereka tidak memahaminya dan mereka tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka baca…” (Syarh Muslim [4/349])

Dari sinilah, kita dapat menarik pelajaran bahwa untuk membebaskan diri dari kegelapan seorang hamba harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, karena hanya Allah yang mampu untuk menghidupkan hati yang telah mati dan gersang menjadi hati yang hidup dan subur dengan keimanan. Sementara harapan itu tidak akan terwujud kecuali dengan cara mentadabburi al-Qur’an dan memahaminya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Betapa indah ucapan al-Imam Nashir as-Sunnah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisirahimahullah dalam Lum’at al-I’tiqad-nya, “Aku beriman kepada Allah dan segala yang datang dari Allah sesuai dengan keinginan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang datang dari Rasulullah sesuai dengan keinginan Rasulullah.”

Dan hal itu tidak akan terwujud dengan sempurna kecuali jika dilandaskan pada kepasrahan total terhadap ayat-ayat Tuhan yang berada di dalam Kitab Al-Quran sebagai ayat Kauliyah dan juga ayat-ayat Tuhan yang berada di alam semesta sebagai ayat Kauniyah yang kita kenal sebagai Hukum Alam atau Sunnatullah. Sehingga tidak ada jalan keluar dari kegelapan yang meliputi langit kehidupan kita kecuali dengan kembali kepada tuntunan dan bimbingan Tuhan semesta alam..

Allah swt. tidak menampilkan wujud Dzatnya Yang Maha Hebat di hadapan makhluk-makhluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama makhluk. Maka, segala sesuatu yang tampak dan dapat dilihat dengan mata kepala kita, pasti itu bukan tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti Nabi saw. supaya berpikir tentang makhluk-makhluk Allah. Jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah. Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat Al-Qur’an agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah.

Ayat Qauliyah
Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk tentang cara mengenal Allah.

QS. At-Tin (95): 1-8
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman; sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?

Ayat Kauniyah
Ayat kauniah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling kita (Alam Semesta) yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam semesta ini. Oleh karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturanNya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Penciptanya.

QS. Nuh (41): 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Kuantum Husada NAQS DNA
NAQS DNA, menggunakan Energi Cahaya Wasilah Nuurun 'ala nuurin (Frekwensi "M") sebagai jembatan penghubung di antara 7 level lapisan tubuh energi manusia. Sehingga cahaya Ilahi dapat menerobos hijab dan menerangi lapisan tubuh energi manusia hingga lapis yang terbawah yaitu tubuh fisik. Dan itu secara otomatis memberikan kemampuan pada manusia untuk memaksimalkan potensi 7 lapis tubuh energinya. Tanpa frekwensi yang berasal dari Allah SWT, Tidaklah mungkin manusia dapat terhubung dengan Sistem Energi Cahaya Ilahi dan mengoptimalkan Kesadaran Ruh Ilahiahnya untuk menerangi Hidup dan kehidupannya. Serta melakukan perubahan positif bagi hidup dan kehidupannya.

Melalui Attunement NAQS DNA, Kami akan menyetel frekwensi diri anda agar dapat selaras dengan Energy kesadaran, Energi Alam Semesta yang diridloi Allah swt, Serta Sistem Energi Alam Maha Kosmos (Alam Ketuhanan) yang sebenarnya adalah sesuatu yang alami dan merupakan potensi fitrah umat manusia. Dalam hal ini Kita tidak akan bertentangan dengan alam & Tuhan, akan tetapi kita akan selaras dengan kehendak alam & Tuhan. Metode NAQS DNA berlandaskan Ayat Kauniyah yaitu Sunnatullah (Hukum Alam) yang universal sifatnya sehingga bisa digunakan oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Serta berlandaskan ayat Kauliyah yang termaktub di dalam Kitabullah sehingga selaras dengan tuntunan Allah swt, sehingga bagi umat Islam juga akan sangat aman menggunakannya tanpa takut terjebak pada kesyirikan serta aman bagi iman tauhid kaum muslimin wal muslimat semuanya.

Dengan selaras dengan Tuhan maka kita tidak akan terlalu lelah dan terlalu banyak mengeluarkan energy dalam mengahadapi segala problematika kehidupan. Hidup menjadi ringan dan Kesuksesan menjadi sedemikian mudah di raih sehingga seolah-olah tanpa upaya sama sekali (Effortless success). Menguras tenaga dan energi sebenarnya tidak terlalu perlu untuk dikeluarkan, apabila kita selaras dengan kehendak Tuhan. Dengan terhubung dengan Energi Cahaya Ilahi maka kita akan selalu tersuplai dengan energy yang berlimpah dan tiada batas.

Quantum Husada adalah Pelatihan dalam bidang terapi energi & Perwujudan Daya Cipta (Rahasia Praktek dari The Secret) untuk mewujudkan segala cita-cita dan hajat anda, dalam pelatihan ini anda akan di didik menjadi seorang Terapis yang handal. Sekelas dengan seorang Master Energi Reiki. Dan Anda Akan diberikan pelatihan tekhnik-tekhnik pengembangan diri serta tekhnik-tekhnik penyembuhan dengan energi spiritual. Seketika itu juga anda akan mampu menyalurkan energi kesembuhan untuk diri sendiri dan orang lain, baik untuk pasien yang ada di hadapan anda ataupun pasien yang berada dimanapun jua (Jarak Jauh). Serta tekhnik-tekhnik penyembuhan massal, sekaligus mengirim energi kesembuhan untuk ribuan orang secara sekaligus. Melakukan Programming energi, yaitu menyalurkan energi kesembuhan dengan kekuatan fikiran anda. Anda juga akan di ajarkan tekhnik-tekhnik Materialisasi, sebuah tekhnik untuk mewujudkan segala hajat, impian, dan cita-cita. dll.
Hukum Perubahan Energi Hukum Perubahan Energi Reviewed by Edi Sugianto on 07.58 Rating: 5

Tidak ada komentar:


kelas Gendam Online
Diberdayakan oleh Blogger.