Jalan Menuju ke-Sakti-an Diri

Sungguh beruntung bagi siapapun yang dikaruniai Allah kepekaan untuk mengamalkan aneka pernik peluang kebaikan yang diperlihatkan Allah kepadanya. Beruntung pula orang yang dititipi Allah aneka potensi kelebihan oleh-Nya, dan dikaruniakan pula kesanggupan memanfaatkannya untuk sebanyak-banyaknya umat manusia.

Karena ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauhmana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, ” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Khairun naasi anfa’uhum linnaas. "Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak manfaat pada orang lain."

Khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia yang lainnya). Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan perkara yang sangat dianjurkan oleh agama. Hal ini menjadi indikator berfungsinya nilai kemanusiaan yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang lainnya. Permisalan umum yang sering diungkapkan adalah “hiduplah bagai seekor lebah, jangan seperti lalat.”

Seekor lebah dia hidup selalu dari yang indah/bersih, dia hinggap di tangkai bunga tanpa mematahkannya, dia mengeluarkan sesuatu dzat yang sangat berguna atau menyehatkan yaitu madu. Sedangkan lalat, dia hidup selalu di lingkungan yang kotor, memberikan atau menyebarkan penyakit ke mana-mana.

Kalau kita coba menginstrospeksi diri kita, maka lihatlah keluarga kita, tetangga kita, saudara, kerabat, dan umat secara keseluruhan. Apakah mereka semua merasa senang ketika kita ada atau malah sebaliknya ? Secara filosofis keberadaan kita itu harus berimbas kemaslahatan buat yang lain bukan hanya sekedar diri kita saja.

Sahabat, Untuk mengetahui Jalan Pengembangan Diri untuk menjadi manusia yang Mahir, bermanfaat, serta shakti. Marilah kita renungkan nasehat orang-orang tua Jawa tempo Dulu yang di senandungkan di dalam sebuah tembang Mijil berikut ini.

Dedalane Guna lawan Sekti
Kudu Andhap Asor
Wani Ngalah Dhuwur (Luhur) Wekasane
Tumungkul yen dipun dukani.
Bapang den simpangi.
Ono catur mungkur.

Saya yakin setiap orang yang memiliki akal sehat pasti berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi hari demi hari menjalani hidupnya. Tinggal mungkin masalahnya, persepsi dan definisi ‘baik’ bagi setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang menganggap keadaan baik adalah ketika kita mencari kebenaran, upaya lebih baik hari demi hari bisa diartikan sebagai semakin luas mendapatkan penglihatan akan kebenaran. Sementara sebagian lain menganggap baik adalah mendapat keuntungan, bila esok hari aset yang dimilikinya lebih banyak maka berarti hari esok lebih baik daripada hari ini. Ada juga yang melihat pada tolok ukur kemenangan akan sebuah persaingan. Karir meningkat, semakin dikenal banyak orang, bagi kelompok orang ini akan dianggap sebagai sebuah perjalanan menjadi baik.

Peta kehidupan di kepala kita yang kebetulan ditakdirkan hidup di jaman yang serba gemerlap bin instan ini memang bisa jadi membuat segalanya menjadi membingungkan. Pun bila tidak dilandasi oleh perenungan tujuan hidup yang secara tajam bisa selalu kita bawa, pemahaman yang ada di kepala kita justru bisa membawa kepada sebuah penglihatan akan ilusi. Sepertinya nyata tapi palsu. Tampak menyenangkan tapi membosankan.

Sehingga terkadang kita pun bisa ikut hanyut di dalam pusaran arus kehidupan yang justru membuat kita semakin jauh dari keinginan kita untuk menjadi lebih baik. Suatu ketika ada seseorang meneriakkan ide sehingga bisa menjadi pengusaha sukses dalam waktu singkat, maka orang pun berbondong-bondong mendengarkannya. Di tempat lain ada orang yang punya tips sukses karir dalam waktu singkat, maka ganti orang mengerubuti orang ini. Lalu apa sih sebenarnya definisi menjadi baik?

Dan beruntung kita memiliki pujangga sekaligus filsuf kehidupan jaman dahulu, yang bila kita secara jernih belajar dari apa yang mereka hasilkan, tersurat maupun tersirat, kita akan belajar untuk memahami diri kita sendiri. Seperti apa yang tergubah dalam tembang “Mijil”, yang konon dikomposisikan pertama kali oleh para Wali Songo. Yang berisi sebuah inspirasi tentang ‘bagaimana’ untuk menjadi lebih baik,.. yang baik!

Sebelum masuk kepada makna lirik tembang itu, saya perlu ceritakan disini tentang tembang Macapat. Terdiri dari sebelas tembang (salah satunya adalah “Mijil”), yang menurut para ahli tafsir sastra Jawa, tembang Macapat itu merupakan urutan sebuah perjalanan seseorang dari lahir sampai mati. “Mijil” adalah yang pertama. Secara harfiah berarti muncul atau tampil, ditafsirkan sebagai sebuah kelahiran. Ada yang menjelaskan bahwa itu merupakan kelahiran fisik bayi lahir dari kandungan ibunya, ada juga yang menafsirkan sebuah kelahiran ketika orang mulai muncul keinginan untuk menjadi baik, dikatakan sebagai kelahiran kembali.

Kemudian secara urutan, tembang Macapat berikutnya bernama “Maskumambang”, sebagai gambaran seorang bocah yang senang bermain. “Sinom” yang berarti muda, gambaran hidup seseorang disaat ‘muda’. “Asmaradana” sebagai simbol seseorang yang mulai menyukai lawan jenisnya. “Kinanthi” ketika orang tersebut mulai mengarungi bahtera rumah tangga. “Dandanggula” adalah gambaran saat indahnya kehidupan rumah tangga. Kemudian “Gambuh”, adalah sebuah sindiran saat kita mulai berkata ‘embuh’ kepada pasangan kita, dalam bahasa Jawa, ‘embuh’ berarti ‘tidak tahu’ atau ‘tidak peduli’. “Durma” adalah gambaran perselisihan dalam rumah tangga yang terkadang ada, kecil maupun besar. “Pangkur”, berarti gambaran masa-masa sulit kehidupan. “Megatruh”, berarti ‘megat-roh’, berpisah dengan roh, saat dimana roh berpisah dengan raga. Yang terakhir adalah “Pocung”, gambaran dimana raga yang ditinggal roh, dipocong dan dimakamkan.

Setiap tembang tersebut bisa digubah berisi syair yang berbeda-beda. Tapi setiap penggubah harus tunduk pada aturan yang disebut ‘ guru lagu’ (jatuhnya vokal di akhir tiap bait) dan ‘guru wilangan’ (jumlah suku kata tiap baitnya). Yang ternyata saya juga melihat setiap aturan guru lagu dan guru wilangan itu memiliki arti sendiri-sendiri yang bisa ditafsirkan menjadi sebuah nasihat kehidupan.

Kembali kepada “Mijil”, syair yang dinasihatkan ke saya, adalah syair yang pertama kali digubah, yang berbunyi :

Dedalane guno lawan sekti.
Dibuka dengan sebuah kalimat yang mengabarkan tentang jalan agar seseorang bisa menjadi bermanfaat dan sakti. Semacam prolog yang mengajak siapa pun yang mendengar, untuk menyimak apa yang akan diperdengarkan berikutnya. Juga saya bisa tafsirkan menjadi sebuah pengingat kita manusia, bahwa tujuan hidup bisa dilihat dari dua perpektif yaitu mempersiapkan bekal setelah mati (karena manusia pasti mati), dan melakukan sesuatu agar kesempatan kita hidup di dunia ini, menjadi sebuah kehidupan yang bermakna dan memberi manfaat bagi kehidupan. Sakti bisa ditafsirkan tentang gambaran sebuah pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Bait ini bisa diterjemahkan secara bebas sebagai ‘jalan agar kita bermanfaat di dunia ini (sebagai salah satu tujuan hidup kita) dengan bekal pengetahuan dan ketrampilan yang kita miliki’.

Secara harfiah makna kata itu adalah sebuah persuasi akan jalan untuk menjadi manusia yang BERGUNA dan memiliki KOMPETENSI TINGGI. Hal ini juga luar biasa. Mengapa point-nya memilih menjadi manusia ‘berguna’ dan ‘berkompetensi tinggi’. Dua hal yang saling melengkapi. Niat untuk berguna tanpa kompetensi, mungkin tidak begitu banyak memberi manfaat bagi komunitas. Dan memiliki kompetensi tapi tidak mau untuk memberi manfaat kepada orang sekitarnya, juga justru akan memberi beban orang lain.

Kudu andhap asor.
Dalam terminologi Jawa, istilah andhap asor dimaknai dengan sikap rendah diri, tidak sombong, selalu membuka hati dan pikiran kepada sesuatu yang baru, boleh saja menganggap apa yang dipegang adalah sesuatu yang benar, tapi ‘andhap asor’ memberi pengertian kepada kita bahwa tidak seharusnya manusia menganggap dirinya yang paling benar, sehingga selalu melihat pendapat yang berbeda dengannya adalah sesuatu yang salah. Saya merasakan semangat ini sama seperti konsep abundance mentality yang dikemukakan stephen Covey. Bahwa masih banyak kemungkinan di luar sana, dibanding apa saja yang saat ini dikepala kita.

Yang berarti harus bisa menempatkan diri sehingga kita bisa selalu menghargai orang lain, siapa pun orang itu! Andhap asor artinya ‘dibawah’. Bukan dilihat sebagai kita berada dibawah, tapi dilihat sebagai kita menempatkan orang lain selalu lebih tinggi dari kita, selalu kita hargai, selalu kita hormati, tak peduli apakah dia pejabat atau gembel, orang pandai atau tidak, kita tetap harus menghargainya sebagai sesama manusia. Dan menariknya, kalimat ini menjadi bait kedua setelah kalimat pembuka. Seolah memberi penekanan mengenai awal pertama kali seseorang harus mampu untuk ‘tahu diri’, sehingga bisa ‘menempatkan diri’. Untuk kemudian mampu ‘membawa diri’.

Wani ngalah luhur wekasane.
Berani mengalah memberikan hasil akhir terbaik. Kata-kata ini sungguh menarik, bahwa untuk mengalah justru butuh keberanian. Ini adalah bait yang paling saya suka di tembang ini, entah mengapa. Masih ada lorong-lorong pemahaman akan bait ini yang belum saya mengerti benar. Karena cukup menggelitik. Bukankah hal ini sebuah paradoks, ketika kita diminta untuk mengalah justru membutuhkan keberanian. Biasanya orang berbicara agar seseorang harus berani agar menang. Tapi ini tidak, justru kita harus berani mengalah. Saya ingat salah satu nasihat dalam Islam tentang siapakah sebenarnya musuh paling besar seorang manusia? Tak lain adalah dirinya sendiri, egonya sendiri. ‘Mengalah’ bukan berarti kita kalah terhadap orang lain, ‘mengalah’ adalah ketika kita bisa menang atas diri kita sendiri. Sehingga benar juga kata orang-orang itu, bahwa untuk menang harus berani. Tapi kini yang dimaksud adalah menang terhadap diri kita sendiri, kita memiliki kendali terhadap diri kita sendiri. Kita mampu memimpin diri kita sendiri. Itulah arti ‘mengalah’, dan itu butuh keberanian.

Kita selama ini sepertinya sepakat bahwa untuk menjadi pemenang, artinya haruslah mengalahkan orang lain. Tapi seolah bait tembang ini justru membalikkan paradigma, bahwa untuk menang tidak harus dengan cara mengalahkan orang lain. Kemenangan justru bisa dicapai dengan cara memberi kemenangan kepada orang lain. Sesuatu hal yang butuh keberanian. Itulah mungkin kenapa ungkapannya ‘berani mengalah’. Seperti semangat win/win solution. Menang dengan cara tidak dengan mengalahkan, tapi berupaya agar orang lain juga menang!

Tumungkul yen dipun dukani.
Secara harfiah bait ini berarti ‘jangan membantah bila kita dimarahi’. Tapi perenungan saya tidak terbatas sampai disitu. Kita melihat ‘dimarahi’ bisa berarti oleh orang lain, tapi juga bisa oleh ‘kehidupan’, oleh ‘alam’, dan diujung perenungan itu bisa ‘oleh’ Sang Pencipta. Sebuah bencana, kecil atau besar, menimpa diri pribadi atau suatu umat, adalah juga saat kita ‘dimarahi’. Kita menemui kegagalan, karir mandeg, bisnis rugi, adalah juga saat-saat ketika kita ‘dimarahi’. Dan ‘tumungkul’ berarti ‘jangan membantah’. Yang bisa diartikan bahwa saat ‘dimarahi’ sebaiknya ‘tidak membantah’, tidak melawan, tidak putus asa, tidak saling menyalahkan. ‘Tidak membantah’ juga diartikan sebagai diam, mau untuk merenung, mau untuk belajar.

Bapang den simpangi.
Bapang adalah nama sebuah gubahan tarian yang bisa dikonotasikan sebagai bentuk ‘hura-hura’. Bait ini bisa diartikan agar orang sebaiknya menghindari hal-hal yang berifat ‘hura-hura’. Lebih jauh lagi dimaknai sebagai hal-hal yang hanya ada dipermukaan. Karena konotasi ‘bapang’ bisa diperluas kepada hal-hal yang hanya tampak indah dipermukaan tapi dalamnya rapuh. Mungkin ini bisa dijabarkan kepada sikap-sikap yang terlalu menyukai pubilisitas, sifat suka dipuji, senang kalau orang lain mengagung-agungkan kita. Hal itulah yang sebaiknya dihindari.

Ono catur mungkur.
Arti harfiahnya adalah, hindarilah pergunjingan. Pergunjingan biasanya selalu berawal dari prasangka buruk. Kalimat ini adalah sebuah inspirasi, alih-alih kita terlalu menanggapi prasangka buruk terhadap kita, sebaiknya justru kita lebih fokus pada apa yang baik kita kerjakan, dalam rangka memberi manfaat tadi. Saya terkadang sedih ketika kita melihat di sekitar kita saat ini masih jauh dari semangat seperti ini. Setiap kejadian, entah itu politik, hukum bahkan dunia hiburan sekalipun, selalu diikuti kegaduhan pergunjingan. Dan orang yang menjadi pokok pembicaraan juga ikut gaduh menanggapi. Sesuatu yang sebaiknya dihindari.

Untuk menjadi lebih baik, selalu berawal dari paradigma masing-masing kita tentang apa tujuan kita di sini, tujuan kita bekerja, tujuan kita membangun rumah tangga, sampai yang paling ujung adalah tujuan hidup kita. Dan saya pikir tidak terlalu berlebihan jika ‘menebar manfaat’ bisa menjadi inspirasi tujuan hidup kita. Dan itu bisa kita mulai dengan mari kita bersama-sama belajar makna “Mijil’…

Tak henti-hentinya saya harus kagum pada pembuat tembang Mijil ini. Semakin kagum ketika mencoba menggagas mengapa tembang ini diberi judul Mijil. Yang berarti muncul, dari tak ada menjadi ada. Seperti sebuah harapan ketika kita meresapi tembang ini, agar kita mampu untuk berubah menjadi orang yang baru,.. yang berguna dan berkompeten..

Semoga Bermanfaat.

Referensi :
Pitoyo Amrih
Menuju Insan Terbaik


INFO PELATIHAN :
Surabaya, 20 Juli 2014 : Pelatihan Grand Master Neo Hipnotis
Surabaya, 21 Juli 2014 :Clinical Hypnotherapy Workshop [ http://goo.gl/R0wV5I ]
Jakarta, 17 Agustus 2014 : Pelatihan Grand Master Neo Hipnotis, KLIK  http://x2t.com/TranceLogic
Jalan Menuju ke-Sakti-an Diri Jalan Menuju ke-Sakti-an Diri Reviewed by Edi Sugianto on 06.31 Rating: 5

Tidak ada komentar:


kelas Gendam Online
Diberdayakan oleh Blogger.