ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 02 Februari 2012

Rumongso Biso Lan Biso Rumongso

RUMONGSO BISO LAN BISO RUMONGSO.
MERASA BISA DAN BISA MERASA.

Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman.
Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan...

~MACAN PUTIH-
Status Facebook saya hari ini, Kamis 02 February 2012.

Selama ini pepatah jawa di atas biasanya berbunyi,"Ojo Rumongso Biso, ananging Biso'o Rumongso" terjemahan bebasnya berarti, "Jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa." yang tentu maksudnya adalah kita perlu lebih mengedepankan rasa empati dan menghargai orang lain daripada menonjolkan kemampuan diri kita sendiri. Yang akhirnya hanya akan mengesankan kita sebagai pribadi yang arogan dan sombong.

Namun dalam konteks peningkatan kompetensi dan pembelajaran. Maka pepatah di atas akan terasa kurang pas dan tidak bersifat memberdayakan diri. Karena ketika kita sedang mempelajari sebuah kompetensi, Feel & spirit bahwa kita "BISA" atau "AKU BISA" itu sangat penting untuk memberikan kekuatan motivasi pada mental sang pembelajar.

Kita harus tahu & sadar, bahwa ternyata kita mempunyai kemampuan dan kompetensi (Conscious Competence). Sehingga dengan demikian kita dapat melakukan dengan baik setiap pekerjaan dan tindakan yang memerlukan kompetensi tersebut serta melakukan perbaikan-perbaikan dan peningkatan terhadap kompetensi itu sehingga menjadi sebuah kemampuan yang mendarah daging dan berjalan secara otomatis (Unconscious Competence).

Dalam proses belajar untuk memperoleh sebuah kemampuan, kompetensi ataupun sebuah pengetahuan. Setiap manusia pada umumnya melalui empat tahap belajar yang biasa di lalui yaitu:
  1. Unconscious Incompetence : Tidak menyadari bahwa tidak mampu
  2. Conscious Incompetence : Menyadari bahwa tidak mampu
  3. Conscious Competence : Menyadari bahwa mampu
  4. Unconscious Competence : Tidak menyadari bahwa mampu
Unconscious incompetence, Kita tidak tahu kalau kita tidak tahu. Misalnya, sewaktu kita masih kecil, kita tidak tahu bahwa kita, saat itu, belum bisa jalan. Melalui interaksi dengan orang dewasa atau lingkungan kita, yang masih kecil, akhirnya tahu (Conscious Incompetence) bahwa kita belum bisa jalan. Mengapa? Karena kita melihat orang di sekeliling kita berjalan tegak.

(Conscious Competence). Sekarang, kita bahkan tidak sadar lagi bahwa kita bisa jalan dengan sempurna (Unconscious Competence). Kemampuan berjalan, yang dulunya kita pelajari dengan begitu susah payah, mengalami jatuh bangun, bahkan ada yang sampai kepalanya benjol karena jatuh, kini telah menjadi kecakapan yang bekerja secara otomatis.

Nah, saat suatu skill telah masuk ke tahap Unconscious Competence maka sejak saat itu, bila tidak dilakukan intervensi secara sadar, skill ini akan bekerja dengan prinsip automatic pilot.

Hal yang sama berlaku juga dengan kecakapan berpikir, yang note bene adalah keahlian pikiran itu sendiri.

Automatic pilot berfungsi untuk memudahkan hidup kita. Yang akan dijalankan oleh sistem automatic pilot adalah program/kebiasaan yang paling kuat.

Contoh lain :
Pertama, unconscious incompetence. Kita tahu sepeda, tetapi belum pernah naik sepeda karena kita tidak mengetahui apakah untuk naik sepeda diperlukan sebuah ketrampilan yang harus dipelajari.

Kedua, conscious incompetence. Kita naik sepeda dan mulai mengayuh, tetapi segera jatuh, hal itu membuat kita sadar bahwa ada hal – hal yang tidak kita ketahui.

Ketiga, conscious competence. Kita naik sepeda dengan trial and error. Kita mengoreksi dan mengobservasi kesalahan – kesalahan. Biasanya pada level unconscious, semua yang telah kita lakukan yang membuat kita jatuh, mendorong kita mencoba gerakan – gerakan yang berbeda, yang akhirnya menjadikan kita seorang pengendara handal.

Keempat, unconscious competence. Kita tidak berpikir lebih lama lagi terhadap semua yang kita lakukan. Kita telah memegang pengetahuan yang kita butuhkan. Secara otomatis, kita mempunyai pengetahuan tersebut pada saat kita berkendaraan.

Sama halnya ketika anda belajar mengendarai mobil,mungkin anda tahu bagaimana seharusnya menyetir mobil, namun begitu anda berada di belakang setir mobil, anda akan merasakan kejanggalan-kejanggalan,dan kaku waktu memulai menyetir. Itu artinya anda masih dalam tahap Conscious Competence,yaitu tahu apa yang seharusnya dilakukan,namun belum secara otomatis melekat pada saraf-saraf tubuh anda.

Untuk benar-benar mampu dalam mengendarai mobil,anda perlu berlatih terus-menerus agar semua saraf-saraf anda bisa bekerja secara otomatis. Unconscious Competence,yaitu suatu keadaan dimana seluruh saraf-saraf tubuh anda sudah terbiasa,dan terlatih untuk melakukan sesuatu dan menjadi otomatis, dan pada tingkatan inilah anda akan menjadi ahli / mahir dalam menyetir mobil.

Ketika kita telah mencapai tingkatan “Unconscious Competence” untuk hal apapun juga, maka kita telah mencapai tingkatan “Master”, yaitu dapat melakukan hal dimaksud dengan “tanpa sadar”, atau berlangsung begitu saja, nyaris tanpa usaha yang berarti.

Ketika kita dapat menyetir mobil, tanpa perlu berpikir kapan harus menginjak kopling, gas, rem, atau mengoper gigi, bermakna bahwa kita sudah mencapai tingkatan Unconscious Competence, atau kita sudah menjadi seorang “Master” dalam hal menyetir mobil.

Demikian halnya dengan menjadi sukses untuk meraih impian-impian anda, di butuhkan latihan-latihan yang terus menerus,agar semuanya menjadi otomatis.Sekarang pikirkanlah apa yang menjadi impian-impian anda,dan tuliskanlah menjadi sebuah tujuan anda,maksudnya agar anda jelas mengenai keinginan-keinginan anda.Setelah anda merasa jelas dan yakin bahwa anda mampu untuk meraih keinginan tersebut,lalu bentuklah saraf-saraf sukses anda. Ini sangat penting,karena sukses itu sendiri sebetulnya sebuah kebiasaan.

Bagaimana agar saraf-saraf kita bisa bekerja sesuai untuk mencapai keinginan-keinginan kita? , mudah saja !

Anda memiliki sebuah alat yang sangat powerful,yaitu Imajinasi yang ada di dalam diri anda. Manfaatkan ini. Visualisasikan apa yang menjadi keinginan anda, lakukan visualisasi ini setiap hari. Gambarkan apa yang menjadi tujuan akhir anda dan juga simulasikan segala sesuatu yang ingin anda lakukan di dalam pikiran anda,sebelum anda benar-benar melakukannya.

Mengapa harus di visualisasikan ? , dengan melakukan visualisasi berarti anda memberikan sasaran yang harus dikerjakan oleh pikiran bawah sadar anda,dan selanjutnya pikiran bawah sadar akan menggerakkan seluruh otot-otot dan saraf-saraf anda untuk bekerja sesuai dengan sasaran tersebut.

Perlu anda ketahui bahwa Pikiran Bawah Sadar tidak dapat membedakan apakah sebuah pengalaman itu nyata atau hanya sebuah khayalan,dan setiap sasaran baik positif maupun negatif akan selalu di kerjakan dengan baik oleh pikiran bawah sadar anda. Bila anda selalu memvisualisasikan tujuan anda terus-menerus,maka saraf-saraf anda akan terbentuk dan semakin lama semakin mengguat dan menjadi otomatis pada diri anda.Ketika anda memvisualisasikan tujuan anda terus menerus,maka semangat , percaya diri dan keberanian anda untuk bentindak semakin mengguat. Dan anda akan merasa yakin benar-benar bahwa tujuan anda sudah pasti bisa anda capai.

Jadi sangatlah penting untuk membangun jaringan saraf-saraf pada diri kita,bila sukses itu menjadi keingian kita. Bersabar,terus berlatih memperkuat saraf-saraf suksestersebut adalah tindakan yang bijaksana. Anda pasti Sukses.

Sesungguhnya dalam kehidupan ini, kita semua adalah para “Master” di berbagai hal di kehidupan, mari kita amati sejenak diri kita dan sekeliling kita :

Jika kita adalah pribadi emosional dan sangat mudah marah dalam kesempatan apapun juga, maka sesungguhnya “kemampuan marah” kita sudah mencapai tahap “Unconscious Competence”, atau dengan kata lain kita adalah seorang “Master” di bidang ini.

Jika kita menemui seseorang yang sangat sabar, maka sesungguhnya ia telah mencapai tingkatan “Unconscious Competence”, sehingga untuk menjadi sabar ia nyaris tidak membutuhkan usaha apapun juga.

Jika anda adalah sosok yang mudah memperoleh rejeki, maka anda pastilah seorang “Master Kemakmuran”, anda telah mencapai kompetensi tertinggi, sehingga anda dengan mudah memperoleh rejeki, dengan usaha yang sangat minimal.

Jika anda cenderung mudah untuk mendapatkan musuh, bahkan dimana saja dan kapanpun juga dengan cepat anda memasuki situasi yang membuat anda selalu punya alasan untuk bermusuhan, maka andapun sudah menjadi seorang Master.

Mari kita sejenak mengingat kembali perjalanan hidup kita. Kondisi apakah yang sangat mudah bagi kita untuk mendapatkannya ? Bahkan tanpa usahapun kita dengan mudah mencapainya ? Bahkan banyak peristiwa “kebetulan” yang mengantarkan kita ke kondisi tersebut ? Ini adalah kemampuan kita yang telah mencapai tingkatan “Unconscious Competence”, entah sesungguhnya kita menginginkannya atau tidak !

Jika kita sering mengalami hal-hal negatif yang tidak kita inginkan dalam kehidupan kita, dimana hal ini selalu berlangsung dengan mudahnya, maka waspadalah, mungkin kita telah menjadi seorang Master untuk hal-hal semacam ini !

Berita baiknya, kini kitapun dapat mencapai apapun juga yang kita inginkan dalam kehidupan ini, karena sesungguhnya ini adalah persoalan kompetensi, dan kompetensi adalah sesuatu yang dapat diperjuangkan dan diraih, seperti halnya “menyetir mobil”.

REFERENSI :
YAN NURINDRA
ADI W GUNAWAN
Soegianto Hartono