ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 09 April 2012

Samurai Tanpa Pedang


"Aku tidak pernah mahir dalam seni berpedang. Bahkan ronin kelas tiga sanggup mengalahkanku dalam perkelahian jalanan! Aku sadar aku harus lebih menggunakan otak daripada tubuh, khususnya jika aku ingin kepalaku masih menempel di leher” [hal 8]

KUASAI JURUS PEDANG TANPA PEDANG
KLIK DI SINI..

Lahir dari orang tua petani dan lingkungan yang miskin tidak membuat Hideyoshi berhenti bermimpi. Pria yang bernama asli Kinoshita Tōkichirō ini memiliki impian dan tekad menjadi seorang Samurai. Akan tetapi mengingat tidak adanya darah samurai mengalir dalam dirinya, maka hal tersebut bukan lah sesuatu yang mudah. Apalagi dengan kondisi fisiknya kecil yang tidak memungkinkannya untuk bergerak di dunia militer, sehingga membuatnya tidak memiliki kemampuan berkelahi. Menyerah, kata yang sama sekali tidak pernah mendekam dalam kamus kehidupan pria yang berjulukan si Monyet atau Tikus Botak. Berbekal tekad, keberanian dan kecerdikannya menciptakan peluang, Hideyoshi menunjukkan bahwa orang biasa dapat menjadi luar biasa.

Toyotomi Hideyoshi. Sebuah nama yang sangat terkenal di zaman peperangan antar klan, Zaman Sengoku. Pria ini memiliki perawakan mirip kurcaci botak dengan badan tak karuan, yang oleh beberapa orang diberi predikat sebagai pemimpin berwajah paling jelek dalam sejarah Jepang. Akan tetapi kondisi fisiknya tidak terlalu berpengaruh, mengingat perannya yang hingga saat ini menjadikan sosok menyejarah di mata generasi muda.

Setelah diusir dari keluarga Matsuhito, karena fitnah. Dia tidak menyerah dan terus berupaya untuk mewujudkan keinginannya. Keberaniannya menciptakan peluang di saat krisis lah yang menjadi awal perjalanan hidupnya. Sebuah langkah berani diambilnya saat Hideyoshi dengan berani menghadang Lord Nobunaga ketika akan memasuki gerbang seorang bangsawan, dengan resiko dibunuh di tempat dia menyampaikan tekadnya untuk mengabdi pada Klan Oda.

“Kau pasti terkejut saat mendapati bahwa keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas.” [hal 6]

Bergabung dengan Klan Oda menjadi titik balik kehidupan Hideyoshi untuk meraih kepemimpinan. Bermula menjadi kacung rendahan Lord Nobunaga, dia menunjukkan banyak loyalitas dan dedikasi tertinggi, bahkan ketika membawakan sandal sang Lord, Hideyoshi mendekapnya demi menjaga kehangatan walaupun saat itu dirinya sendiri dalam kondisi kedinginan. Pengabdiannya yang luar biasa membuat Nobunaga tidak segan menaikkan pangkat Hideyoshi dengan signifikan. Hingga akhirnya Hideyoshi menjadi salah satu orang kepercayaan Lord Nobunaga.

Kematian Lord Nobunaga karena adanya pengkhianatan, menimbulkan perebutan kekuasaan dan bibit perpecahan. Keadaan ini mengharuskan Hideyoshi mengambil tindakan tepat dan cepat untuk mengatasi kondisi yang semakin memanas. Tidak sekadar kecerdikan dan ketangkasan yang akhirnya mampu membungkam sengketa, tetapi kepercayaan diri Hideyoshi membuat kondisi krisis ini menjadikannya seorang pemimpin. Setelah membalas dendam atas kematian Lord Nobunaga, Hideyoshi berusaha melanjutkan perjuangan Lord Nobunaga, yaitu mempersatukan wilayah Jepang.

Kitami Masao, si penulis buku ini, mengurai sejarah kehidupan Hideyoshi menjadi poin-poin motivasi. Tidak salah memang memilih Hideyoshi sebagai sosok pemimpin yang menginspirasi, bukan hanya karena sifat-sifatnya, tetapi juga aksi yang digunakannya terbilang unik, untuk zaman sengoku. Di saat sebagian penguasa menggunakan pedang untuk memperluas daerah jajahannya, Hideyoshi lebih memilih jalan diplomasi. Ketika sebuah wilayah berhasil didapatkan, Hideyoshi tidak menyingkirkan para penguasanya, tetapi mengendalikan. Dan taktik yang tidak biasa ini ternyata malah sangat menguntungkannya.

“Untuk menggenggam musuh dalam tangan dan tidak meremasnya sampai hancur, untuk menahan pasukan yang mabuk kemenangan tidak kelepasan, ini adalah ciri kepemimpinan yang sebenarnya” [h.108]

Dengan menggunakan aku sebagai subyek pencerita, buku biografi ini menuturkan totalitas Hideyoshi sebagai pemimpin. Sesuai dengan arti Samurai, yaitu orang yang melayani, Hideyoshi benar-benar menerapkan bahwa tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani. Kerendahan-hatinya terlihat dari bagaimana dia memaknai kedudukannya dengan baik, yang selalu mencamkan pada diri sendiri bahwa untuk tetap menjadi seorang pemimpin, bukan atasan.

“Setiap orang memiliki kelebihan, maka tugas seorang pemimpin adalah membantu bawahan menemukan bidang keahlian masing-masing yang paling mungkin untuk dimanfaatkan secara efektif” [h.145]

“Rendah hati, melakukan penghargaan dengan hal yang mungkin dianggap sepele. “Salah satu cara untuk mengenali kinerja—dan mendemonstrasikan empatimu---adalah menulis surat sendiri dengan tulisan tangan” [h.168]

Tidak salah jika buku ini menginspirasi banyak pihak, termasuk Redline Publishing untuk terus berkembang di dunia penerbitan, karena perjalanan hidup Hideyoshi tidak hanya memuat kesuksesan, tetapi juga kesuraman masa pemerintahannya. Tidak ada yang sempurna. Dan ketidak-sempurnaan inilah yang menjadi semacam peringatan untuk lebih mengekang obsesi dan memperhatikan langkah-langkah yang diambil. Sekali lagi, tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani.

source : AKTIVASI ENERGY