ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 16 Mei 2012

Kekuatan Penyembuhan Diri yang tak terbatas

KEMAMPUAN SELF HEALING
Ada sebuah buku menarik yang mengisahkan bagaimana tubuh mempunyai potensi tidak terbatas dalam proses penyembuhan, Miracle of Cell Healing, karya Joyce Whiteley Hawkes.

Joyce adalah seseorang dokter bidang biofisika di Universitas Pannsylvania tahun 1971. Ia banyak meneliti biologi sel. Joyce sangat disibukkan dengan berbagai penelitian yang menggunakan mikroskop electron untuk merekam pergerakan sel-sel yang dicemari polutan. Sebagai ilmuwan, Joyce berorientasi pada kebenaran dari sudut pandang keilmuan. Agama dan Tuhan bukanlah bagian dari kepercayaan yang ia anut.

Suatu saat, ia mendapat suatu musibah, kecelakaan yang menyebabkan kepalanya mengalami cedera berat akibat kejatuhan pecahan jendela. Ia mati suri. Dalam keadaan mati suri, Joyce mengalamai suatu peristiwa penting yang kelak mengubah hidupnya, Ia merasakan kebahagiaan dari momen itu yang mampu menghentikan dan melampaui keberadaan seluruh ruang dan waktu. Ia merasakan suatu kesadaran lain yang ternyata jauh lebih berharga ketimbang karir dan posisi. Setelah peristiwa mati surinya , akhirnya Joyce meninggalkan segala atribut yang pernah disandangnya dan beralih profesi menjadi penyembuh, guru, dan penulis spiritual. Joyce sangat yakin bahwa kesehatan fisik bermula dari sel-sel kita. Demikian pula penyembuhan harus melibatkan sel-sel ini, karena penyakit bermula dari sel. Joyce meyakini ada jembatan antara jiwa dan sel.

Dalam bukunya, Joyce menuliskan puisi meditasi dan penyembuhan sel.

Semoga siklus pembaharuan sel diimbangi kondisi terbaik tubuh.
Semoga produksi seluruh enzim, protein, dan hormone dapat menunjang kesehatan tubuh saya.
Semoga sel-sel mati dapat dipengaruhi segera setelah saya memanggil fagosit untuk menjalankan tugasnya dengan efisien.
Semoga sel-sel yang mengenali dan membersihkan bakteri, senyawa-senyawa racun, dan virus selalu ditopang sepenuhnya oleh system imun saya
Semoga seluruh system, didalam atas kesehatan tubuh optimal selalu mendapatkan suplai energy dan luar sel, yang bertanggung jawab atas kesehatan tubuh optimal selalu mendapatkan suplai energy untuk menjalankan fungsi terbaiknya

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, Hipocrates, Bapak ilmu kedokteran, mengatakan kepada muridnya di yunani bahwa Penyakit bukanlah hanya penderitaan tetapi juga perlawanan, yaitu perlawanan badan untuk menyembuhkan dirinya menjadi normal. Tubuh sudah dilengkapi dengan serangkaian system yang bekerja secara otomatis ketika tubuh diganggu oleh benda asing yang berasal dari luar. Sayangnya, kekuatan ini tidak selalu diSadari si pemilik Tubuh.

Para pasien sering mengabaikan dan tidak menyadari betapa tubuh mempunyai kemampuan untuk memperbaiki dan menyembuhkan dirinya sendiri atau self healing. Mari kita lihat contoh sederhana. Betapa sering kita sakit flu-yang ditandai demam, batuk, pilek dan nyeri sendi- namun tanpa pengobatan flu akan segera hilang dengan sendirinya. Mengapa? Karena system kekebalan tubuhlah yang menghalau virus penyebab flu. Ternyata betapa dahsyatnya kekuatan tubuh dalam mereparasi dirinya sendiri.. yang dilakukan oleh dokter dalam pengobatan adalah Membantu tubuh agar perlawanan terhadap stressor didalam stressor didalam tubuh menguat.

Robertson, dalam bukunya Misteri Pikiran Manusia, menceritakan kisah Sheila yang menderita penyakit Herpes sejak usia 10 tahun. Penyakit herpes ini bagi Sheila sungguh menggangu hidupnya. Obat antivirus kadang memang dapat menyembuhkan sementara, namun kemudian kambuh lagi. Jika konsumsi obat anti virus dihentiikan, penyakitnya kumat lagi. Jika ia stress, herpes itu juga menyerbu. Dokter-dokter yang ia datangi mengatakan bahwa hal itu terjadi karena antibody yang memerangi virus dalam darahnya, yaitu limfosit dan sel-sel pembunuh alami (natural killer cell), mengalami penurunan saat stress. Kemudian seseorang datang melatihnya menciptakan imajinasi dalam mata pikirannya untuk memerangi virus herpes tersebut. Sheila dilatih untuk relaks dibawah pengaruh HIPNOTIS yang ia ciptakan sendiri dan memvisualisasikan ikan paus dan lumba-lumba meluncur di sepanjang aliran darahnya memburu virus-virus herpes yang ia derita. Setelah beberapa minggu dokter mengukur system kekebalan tubuhnya, sel limfosit dan sel-sel pembunuh alami dalam aliran darahnya telah bereaksi kembali. Hasilnya herpes tersebut tiadk lagi sering muncul.

Hubungan antara stress dan system kekebalan tubuh sudah banyak diteliti. Sebagaimana sudah dijelaskan didepan stress kronis (herpes kumat-kumatan) akan erangsang hormone stress ( kortisol dan adrenalin) secara berkepanjangan. Stres berkepanjangan melalui hormone stress, akan menekan aktivitas system kekebalan tubuh yang diperankan oleh sel T, Sel B (produsen Antibodi), dan sel-sel pembunuh alami.

Penulis buku The Secret, Rhonda Byrne, menceritakan pengalaman Cathy Goodman, seorang penderita kanker payudara. Berikut testimony Cathy, “saya didagnosis mengidap kanker payudara. Dalam hati, dengan iman yang kuat, saya sungguh percaya bahwa saya sudah sembuh. Setiap hari saya berkata, “Terima kasih untuk penyembuhan saya.’ Saya mengucapkannya berulang-ulang. Saya memandang diri seakan-akan kanker tidak pernah ada dalam tubuh saya. Salah satu hal yang saya lakukan untuk penyembuhan diri adalah menonton semua film komedi. Dan kami akan tertawa dan tertawa. Kami tidak akan menambah stress kedalam hidup saya karena kami tau bahwa stress adalah salah satu hal terburuk yang dapat anda lakukan ketika anda sedang berusaha menyembuhkan diri. Dari saat diagnosis sampai saat saya sembuh, waktunya sekitar 3 bulan. Dan itu sama sekali tanpa radiasi atau kemoterapi.”

PLACEBO SEBAGAI BUKTI
Salah satu bukti bahwa tubuh mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, asalkan si pemilik tubuh meYAKINInya, dapat dilihat pada efek placebo.Placebo, yang berasal dari bahasa asing yang berarti “saya senang”, adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan obat sugesti-tablet,kapsul,suntikan atau prosedur medis yang diberikan dokter kepada pasien untuk mengurangi atau menyembuhkan gangguan kesehatan yan dialami pasien.

Placebo dapat diistilahkan sebagai obat yang ukan obat, obat palsu tetapi bekerja sebagai obat. Placebo dapat berupa gula, tepung atau tablet kapur yang diberi atau tidak diberi rasa dan warna. Jika didalam bentuk suntikan, placebo dapat berupa garam fifiologis atau glukosa. Dalam praktek medis Placebo umumnya diberikan pada dua keadaan. Keadaan pertama, misalnya kepada pasien yang merasa dirinyasakit, namun menurut dokter sebenarnya sehat-sehat saja. Jika dokter tidak memberikan obat, pasien akan kecewa, merasa tidak diobati dan menjadi tidak percaya terhadap dokter yang merawatnya. Keadaan kedua, Placebo digunakan pada penelitian kedokteran. Placebo akan dibandingkan dengan obat yang akan diteliti yang diasumsikan mempunyai efek terapeutik. Bentuk obat yang diteliti dan placebo sama persis. Sejumlah pasien yang mendapatkan obat yang diteliti dan kelompok pasien yang diberi Placebo. Kedua kelompok tersebut masing-masing tidak mengetahhui apakah mereka menerima obat yang diteliti atau placebo. Kemudia efek terapi kedua kelompok teresebut dinilai perbedaannya secara statistic.

Berdasarkan penelitian, 30 %-40% pasien dengan problem nyeri, tekanan darah tinggi, asma, dan bahkan penyakit jantung yang mendapatkan placebo mengalami perbaikan klinis. Dr. Louis Lasagna dan Dr. Henry K. Beecher yang banyak meneliti Placebo mengatakan, ” the placebo not only can made to look like powerfull medication but can actually act like a medicine.” yang artinya, Placebo bukan hanya dapat berfungsi layaknya sebuah obat. Masih menurut para ahli tersebut, bahwa mekanisme placebo didasarkan pada efek psikis, diduga placebodapat mengaktifkan cortex cerebral, yang selanjutknya dapat mempengaruhi system endokrin secara umum dan kelenjar adrenal secara khususnya.

Tentu tidak semua placebo memberikan efek yang menguntungkan bagi pasien, semuanya tergangtung pada factor hubungan dokter dengan pasien. Kekuatan sugesti mempunyai pengaruh kuat. Semakin baik hubungan dokter dan pasien, semakin optimal efek placebo.

Kebalikan dari placebo adalah nocebo. Apa reaksi anda ketika seorang dokter mengatakan, “ saat ini anda menderita kanker stadium terminal.” Hidup anda tinggal enam bulan lagi.” Jika anda mempercayai kata-kata tersebut, mungkin memang benaar demikian adanya. Ada sebuah contoh kasus yang ditulis oleh Bruce Lipton, Seorang doctor ilmu biologi dalam bukunya biology of belief. Seorang pasien bernama sam didagnosis menderita kanker kerongkongan. Saat itu, penyakit ini sangat sulit ditangani. Sam yakin dirinya tak tertolong. Beberapa minggu kemudia Sam meninggal dunia. Kejutan datang setelah kematian Sam, ketika hasil otopsi memperlihatkan kanker didalam tubuhnya hanya sedikit dan tidak cukup untuk membunuhnya. Sam meninggal dunia dengan kanker, tapi bukan karena kanker. Sam meninggal dunia karena sebab lain yang berhubungan dengan efek nocebo.

Menyembuhkan atau to heal berarti membuat utuh kembali disintegritas yang dialami individu. Banyak studi membuktikan bahwa lebih dari 90% pasien yang mencari pertolongan medis sebenarnya mengalami gangguan yang dapat sembuh sendiri dengan mengandalkan kemampuan dalam diri sendiri. Mengatasi penderitaan, rasa sakit, dan penyakit tidak selalu memerlukan obat. Obat hanya bersifat membantu dikala dibutuhkan. Tugas kita adalah menondisikan mind, body, dan spirit sedemikian rupa agar tubuh dapat bekerja untuk menyembuhkan dirinya secara otomatis.

Pil UNGU
Dalam bukunya Timeless Healing, Herbert Benson menceritakan pengalaman Dr. Vincent mengenai Placebo. Pada tahun 1939, Dr. Vincent bekerja selama tujuh tahun sebagai satu-satunya dokter bagi 1.500 orang yang tinggal di pedesaan, Utica, ohio. Ia mengambil alih praktek dan kantor dr. Kass, yang meninggal setelah melayani masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Dr. Vincent mulai membereskan ruang praktek dan membereskankamar obat-suatu ruang atau lemari yang umum bagi ruang praktek di pedesaan, yang sering memberikan obat sendiri. Di situ ia menemukan sebuah stoples yang berisi kapsul ungu yang diberi label “placebo” pada tutupnya. “setelah menjalani sekolah kedokteran dan satu tahun magang di bagian penyakit dalam, saya menganggap diri saya seorang ilmuwan sehingga saya ambil stopless itu, membuka pintu belakang dan membuang isinya kekotak sampah.” Kenang Dr. Vincent.

Tetapi prakteknya berjalan di Utica, Dr. Vincent terkejut karena sejumlah pasiennya-dengan berbagai kondisi medis- mengeluh bahwa obatnya tidak sebaik obat yang diberikan Dr. Kass. Salah satu ibu yang menderita radang sendi mengatakan, “ obat yang anda berikan tidak manjur seperti pil ungu yang Dr.kass berikan kepada saya,” pasien lain, seorang pria yang menderita hipertensi mengatakan, “ mungkin anda memiliki pil ungu yang Dr. Kass biasa berikan kepada saya untuk menurunkan tekanan darah?”

Akhirnya Dr. Vincent menelepon perusahaan obat yang membuat pil ungu dan memesan satu kantong besar. Dr. Vincent mengatakan bahwa ia belajarlebih banyak tentang kesehatan dalam waktu tujuh tahun sebagai dokter di pedesaan ketimbang hamper enam belas tahun berpraktek dan mengajar. Dan kebenaran yang ia peroleh dari pengalaman tersebut masih dapat diterapkan walaupun kemajuan ilmu kedokteran semakin pesat. Masih menurut Dr. Vincent, ia mengatakan, bahwa para pasiennya lebih menghargai kesungguhan dokter dalam mendengarkan keluhan pasien ketimbang penguasaan dokter terhadap tekhnologi mutakhir.

Nah, setelah anda memBACA secara seksama tulisan diatas, sebaiknya anda baik yang mengalami penderitaan (penyakit) atau rekan anda, mulai memahami terlebih dahulu keluhan anda apakah termasuk keluhan psikis, organ atau hanya fisiologis. Setelah memahaminya tentunya anda mengetahui langkah-langkah untuk tindakan selanjutnya. Menurut hemat saya, jika anda memang bangga sebagai makhluk yang sempurna diciptakan oleh Allah, sebaiknya lah anda menggunakan potensi yang anda miliki didalam diri yang telah diberikan Allah. Dan jangan lupa, setiap keluhan yang anda rasakan, apabila anda ikat dengan ketidak yakinan bakal sembuh akan membuat penyakit anda akan bertambah buruk.maka rubah believe sistem anda untuk dapat sembuh dengan self healing ini. Nah, mulailah anda mencari orang atau pengetahuan baik melalui internet ataupun buku-buku bagaimana cara menggali kekuatan penyembuhan yang ada didalam diri. Banyak tool yang saya rekomendasikan untuk anda pelajari dalam menggali kekuatan diri untuk penyembuhan. Seperti Self Hypnosis, NLP, terapi energy (Reiki, Quantum Touch, Lingchi, EFT dll), nah setelah anda merasa belum ada perbaikan baru anda kombinasikan dengan penyembuhan medis. Gunakanlah potensi yang diberikan Tuhan dalam menyembuhkan diri sendiri sebagai First Choice dalam mengangai keluhan-keluhan yang didapati. Semoga tulisan ini bermanfaat buat anda semua. You Know You Get.

NYERI
Rasa sakit atau nyeri secara fisik hanyalah salah satu bentuk penderitaan. Nyeri secara fisik sungguh sangat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Secara fisik, nyeri dapat diartikan sebagai pengalaman sensoris (rasa pedih,nyeri, panas dsb) dan emosional (kesakitan, menangis) yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik sementara maupun permanen. Pengertian nyeri dalam konteks penderitaan tidak terbatas hanya nyeri secara fisik saja.

Menurut Christoper’s Hospice London nyeri terbagi atas beberapa dimensi :
  1. Nyeri fisik dan gejala somatic, misalnya tidak mau makan, mual, muntah,batuk, sesak nafas dsb
  2. Nyeri psikologis, antara lain rasa takut, agresif, keputusasaan, dan depresi
  3. Nyeri sosiologis, antara lain rasa terisolasi dimasyarakat, berhenti dari pekerjaan,perpisahan, masalah financial.
  4. Nyeri spiritual, antara lain rasa takut yang berkaitan dengan eksistensi manusia dan hubungannya dengan Tuhan, hidup tanpa makna dan tujuan

Sebagai manusia yang utuh, jika satu dimensi terganggu (misalnya fisik), dimensi lain , yaitu mental dan spiritual juga menjadi sakit, integritas menjadi hancur. Contohnya penderita kanker. Penelitian menyodorkan bukti bahwa pasien penderita kanker tidak sekedar sakit secara fisik, tapi juga mengalami “nyeri” secara psikologis, eksistensi diri dan relasi sosial.

Penderitaan kurang mendapat perhatian dokter
Pasien berasal dari kata Patiens, yang akar katanya dari Patio yang berarti orang yang menderita. Pasien datang kerumah sakit karna membutuhkan bantuan tenaga medis untuk menyembuhkan dirinya.dalam bahasa inggris, rumah sakit diterjemahkan Hospital. Kata Hospital mempunyai asal-usul kata yang sama dengan hospitaly-keramah tamahan. Hospital sendiri apabila diterjemahkan kebahasa latin yaitu Hospitalis- yang berasal dari kata hospitis atau tamu. Dengan kata lain, seorang pasien yang datang kerumah sakit adalah seorang tamu yang datang dalam keadaan menderita. sebagai tamu ia layak dan sepantasnya disambut dengan keramahtamahan dan dihormati.

Profesi medis pada umumnya berprinsip bahwa kedokteran adalah suatu cabang ilmu alam dan proses penyakit harus dapat dijelaskan dalam istilah anatomis dan fisiologis, para dokter beranggapan bahwa penyakit adalah fenomena biologis. Namun, bagi pasien yang sedang sakit, penderitaan yang tengah ia alami adalah persoalan harga diri, keputus asaan, gambaran kehidupan yang suram terhadap eksistensi diri. Perawatan emosi dan jiwa menjadi terabaikan dan terpinggirkan. Para pasien, orang yang sedang menderita, membutuhkan bantuan untuk menjadikannya utuh kembali.

Permasalahan dalam hubungan dokter-pasien dalam proses transaksi terapeutik lebih banyak pada hal komunikasi daripada masalah tekhnik medis. Dalam bukunya Kecerdasan Emosi, Daniel Goleman memberikan komentar bahwa cara perawatan modern saat ini terlampau sering kehilangan kecerdasan emosional. Petugas medis, baik dokter, perawat, dan petugas lainnya sering mengabaikan reaksi emosional pasien-pasiennya, bahkan ketika mereka memeriksa kondisi fisik pasien. Tiadanya kepedulian pada realitas emosi pasien akan penyakitnya berarti tidak menghiraukan bukti-bukti yang menumpuk yang menunjukkan bahwa emosi dapat memainkan peran yang terkadang amat berarti dalam mengatasi kekhawatiran terhadap penyakit dan dalam arah menuju kesembuhan

Dr. Mimi Guarneri, penulis buku Hearts Speaks dan seorang kardiolog terkenal, memberikan komentar mengenai sikap dokter, “ Beberapa (tidak semua) Dokter modern memiliki mental montir dengan menganggap tugas mereka adalah menemukan masalah secepat mungkin dan segera memperbaikinya, dan bukannya membangun hubungan jangka panjang.”. Pendapat Mimi diperkut oleh pernyataan Rabow dan Mc Phee, “ para Dokter lebih Berfokus pada pengobatan terhadap keluhan Fisik dan kurang memperhatikan aspek emosi, terlebih masalah penderitaan

STRES DAN PENYAKIT

  1. Peraturan pertama : Jangan membesar-besarkan masalah kecil.
  2. Peraturan kedua : Semuanya adalah kecil. JIka anda tidak dapat melawan dan melepaskan diri darinya, mengalir sajalah.”
(Robert Elliot – Kardiolog)

Secara otomatis tubuh kita telah diatur sedemikian rupa agar selalu dalam keadaan seimbang atau Homeostasis. Homeostasis berasal dari kata latin yang artinya “sama” dan “stabil”. Jadi Homeostasis dapat diartikan sebagai mekanisme tubuh untuk berada dalam kondisi stabil demi menjaga kelangsungan hidupnya. Teori homeostasis pertama kali dicetuskan oleh Claude Bernade dan dikembangkan oleh Walter Cannnon, Seorang ahli fisiologi dan neurologi.

Beberapa contoh homeostasis yang terjadi dalam tubuh manusia :
  • Suhu tubuh dijaga dalam rentang tertentu
  • Aktivasi system kekebalan tubuh untuk menghadapi kuman
  • Aktivasi system pembekuan darah saat perdarahan
  • Proses perbaikan dan regenerasi pada jaringan yang mengalami kerusakan
  • Pengendalian kadar gula darah melalui pengeluaran hormone insulin
  • Dsb

Tubuh selalu menjaga dirinya dalam keadaan homeostasis atau seimbang baik secara fisik maupun mental. Saat kita merasa gembira dan senang, misalnya karna mendapatkan kenaikan gaji. Beberapa saat kemudian kegembiraan kita hilang dan gaji yang diterima sudah dianggap sebagai kewajaran. Demikian pula saat kita sakit, baik secara fisik maupun mental. Contohnya saat kita menderita infeksi. Pada saat system kekebalan tubuh tidak mampu mengatasi kuman yang masuk kedalam tubuh, maka seseorang jatuh sakit, yang ditandai demam, tidak selera makan, mual,dsb. Tubuh mengalami sakit. Setelah beberapa saat, mungkin dengan bantuan pengobatan, tubuh dapat beradaptasi kembali sehingga kuman dapat dibinasakan-si orang sakit sehat kembali. Demikianlah juga halnya dengan gangguan psikologis atau mental. Pada saat seseorang mendapatkan beban psikologis (misalnya perceraian) yang besarnya melebihi kemampuan daya tahan psikologisnya, iya jatuh kedalam keadaan sakit. Dengan berjalannya waktu, baik karena kemampuan adaptasi fisik atau psikologis, orang tersebut mampu mengatasi stress yang dialaminya.

Stres Kronis memberikan efek merugikan dan menyulut respon maladaptive. Stres kronis yang tidak teratasi, sebagai mana yang dikatakan Hans Selye, membuat seseorang masuk ke dalam Fase kelelahan. Berbagai gangguan seperti depresi, kecemasan,panic, dan penyakit tertentu (jantung koroner, hipertensi, tukak lambung, dsb) adalah penderitaan lain yang harus ditanggung mereka yang tidak dapat mengatasi stress.

STRES DAN GANGGUAN MENTAL

Stres merupkan konsep psikologis yang berkaitan dengan tidak terpenhinya kebutuhan (needs) dan merupakan kenyataan hidup bahwa tidak semua kebutuhan manusia dapat dipenuhi. Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa sesungguhnya stress selalu hadir dalam diri seseorang kapan dan dimana saja. Dalam derajat tertentu stress tidak tergolong patologis (penyakit) apabila seseorang dapat mengatasinya, terlebih jika stress tersebut justru mendorong perkembangan dan kematangan jiwa seseorang. Stress dikatakan patologis sehingga menggangu keseimbangan jika stress timbul dalam frekwensi, intensitas, dan dalam waktu yang lama. Dalan keadaan demikian, stress telah berada diluar kontrol kesadaran seseorang dan tidak dapat dihilangkan dengan cara mengalihkan perhatian, baik dengan upaya sendiri maupun bantuan orang lain. Stress yang tidak dapat dikelola dengan sehat akan membuat seseorang mengalami gangguan fisik dan kejiwaan. Stress yang telah berlangsung lama dan mengkristal serta menjelma menjadi keluhan fisik yang sangat mengganggu sering membingungkan dokter maupun si penderita. Ibarat telur dan ayam, mana yang ada terlebih dahulu- sakit fisik lantas stress atau stress yang menyebabkan gangguan fisik? Situasi yang sudah sulit dibedakan tersebut seringkali harus dibayar mahal oleh pasien seperti yang terjadi dalam kasus tersebut.

Stres yang bersifat akut dan berat, misalnya saja kematian anggota keluarga yang sangat dicintai, bencana, kecelakaan berat, atau perkosaan, akan membangkitkan reaksi emosi berupa kecemasan yang parah, kegelisahan, gangguan tidur, serangan panic dan reaksi fisik berupa jantung berdebar, berkeringat, gemetar dsb. Umumnya gangguan emosi dan kecemasan pada stress akut berlangsung dengan ukuran hari sampai minggu. Dengan berjalannya waktu, seseorang yang mengalami stress dapat menguasai diri dan kembali pada kehidupan yang normal. Namun, sebagian dari mereka yang mengalami psikososial berat tetap mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Jika reaksi kecemasan tidak hilang, bahkan semakin sering timbul dan mengganggu sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi normal. Orang tersebut akan mengalami gangguan kejiwaan yang disebut dengan gangguan cemas pasca trauma

Stres berkepanjangan menyebabkan produksi kortisol meningkat dalam waktu yang lama. Para peneliti menemukan bukti bahwa sifat kortisol berubah menjadi cortical poisoning, meracuni. Terbukti dari 50% pasien yang mengalami depresi berat, kadar kortisolnya meningkat

STRES DAN PENYAKIT DIABETTES MELLITUS (DM)
Ada hubungan yang kuat antara penyakit DM dan stress. DM merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah didalam tubuh karena jumlah hormone insulin tidak mencukupi untuk meregulasi gula darah. Kondisi stress menyebabkan peningkatan adrenalin dan kortisol yang notabene bekerja berlawanan dengan hormone insulin, artinya, pada keadaan stress, kadar gula darah juustru meningkat sementara didalam tubuh sendiri kekurangan hormone insulin. Stres mempersulit pengaturan kadar gula darah.

STRESS DAN KEKEBALAN TUBUH
Ada sebuah penelitian menarik yang membuktikan hubungan stress dan kanker. Dalam penelitian, para ilmuwan kanker, sering menggunakan sel-sel S180-singkatan dari sarcoma 180, sel ini disuntikkan kepada tikus percobaan dan kemudian para ahli mengamati kesehatan tikus tersebut. Setelah disuntikkan pada tikus, S180 segera menggandakan diri dengan cepat sehingga mampu membuat massa tumor bertambah dua kali lipat setiap sepuluh jam. Pada akhirnya setelah jaringan rusak tikus-tikus percobaan akan mati. Profesor Zheng Cui merasa aneh dan terkejut ketika satu tikus No.6 yang disuntik dengan 200 ribu sel S180 tidak mati, padahal secara umum tikus-tikus yang mendapatkan suntikan S180 akan mati dalam waktu tidak lebih dari satu bulan.

Saking penasarannya, Prof. Zheng akhirnya menyuntikkan S180 hingga 200 Juta sel (seribu kali dosis standard), namun tikus no 6 tetap tidak mati. Akhirnya teka teki terjawab, Miller, kolega Prof Zheng, menemukan bahwa tikus yang resisten terhadap S180 mampu mengembangkan pertahanan kuat, berkat system imun mereka,bahkan setelah kanker berkembang. Salah satu pemeran dalam system kekebalan tubuh melawan kanker adalah sel Natural Killer (NK). Sel NK adalah agen khusus dari system imun. Seperti semua sel darah putih, mereka berpatroli terus menerus dalam tubuh untuk mencari bakteri, virus, atau sel kanker baru. Pada dasarnya sel-sel kanker bersifat dorman (sudah ada dalam tubuh dalam waktu yang lama), karna kuatnya system imun sel-sel kanker tidak mampu berkutik. Dalam Penelitian terbukti bahwa system kekebalan menjadi aktif dan kuat ketika mereka dipenuhi oleh nutrisi yang menyehatkan (mengandung anti oksidan), kehidupan yang tenteram dan bahagia, dukungan social, dan aktivitas teratur

Tabel 1 faktor- factor yang menghambat dan mengaktifkan produksi system imun (David Servan, 2009)
Menghambat
Mengaktifkan
Makanan berlemak
Diet mediterania, hidangan india,dan asia
Kemarahan dan keputusasaan yang berkepanjangan
Tenteram Bahagia
Isolasi social
Dukungan keluarga
Penyangkalan jati diri
Kesediaan menerima diri sendiri
Gaya hidup yang cenderung santai
Aktivitas fisik teratur

STRESS DAN PENYAKIT JANTUNG
Mayor Friedman dan Ray Rosesmann, yang keduanya adalah ahli jantung, telah membedakan tipe kepribadian menajadi “tipe A” dan “Tipe B”. Orang yang kepribadian tipe B bersifat adaptif, relaks dan menjalani hidup lebih tenang. Mereka tidak bereaksi secara berlebihan terhadap stress, sebaliknya menghadapinya dengan berusaha mendekati tujuan mereka dalam tempo yang menyenangkan. Bisa dimengerti mengapa orang-orang tipe B lebih sedikit terkena penyakit jantung.

Sebaliknya, orang-orang bertipe A cenderung lebih agresif, bermusuhan, dan tampak selalu terburu-buru. Sebuah penelitian yang melibatkan 1.305 laki-laki berusia 60 tahun, bertipe pemarah ( Tipe A ) yang tidak memiliki penyakit jantung koroner, dievaluasi selama 7 tahun. Selama itu, peneliti menyimpulkan bahwa serangan jantung koroner meningkat 2-3 kali pada populasi tersebut. Para peneliti yang berasal dari Fakultas Kedokteran Stanford meneliti 1.012 pria dan wanita yang menderita serangan jantung pertama dan dipantau selama 8 tahun. Dari situ disimpulkan bahwa kaum pria yang paling agresif dan paling suka bermusuhan mempunyai resiko tertinggi terkena serangan jantung kedua. Kemarahan akan melipatgandakan resiko serangan jantung pada orang-orang yang mengidap penyakit jantung..

Kemarahan tanpa disadari akan menyulutkan aksis HPA dan korteks adrenal dengan memproduksi hormon stress (terutama adrenalin dan noradrenalin), yang menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Dalam keadaan jantung sudah menderita, tuntutan bekerja lebih keras membuat jantung kekurangan oksigen. Bagi mereka yang menderita penyakit jantung koroner, keadaan demikian akan mempercepat serangan jantung ulang. Dalam penelitian dilaporkan bahwa stress dapat mempercepat terbentuknya karat di pembuluh darah (plak) melalui jalur aktivasi sel peradangan dan pembekuan darah. Menurut Mayo Clinik, Stres psikologis adalah indicator terkuat untuk serangan jantung dimasa depan. Windsor Ting (ahli Bedah jantung) dan Gregory Fricchione (professor-psikiater) menuliskan dalam bukunya The Heart Mind Connection, bahwa ada konspirasi antara jantung dan jiwa. Maksudnya, emosi dan persepsi sangat berkaitan erat dengan kerusakan system kardiovaskular.

Mereka mengidentifikasi 8 hal yang turut terlibat dalam menciptakan konspirasi tersebut :

  1. Depresi
  2. Kecemasan
  3. Marah dan permusuhan
  4. Isolasi social
  5. Stress kronis yang berhubungan dengan masalah pekerjaan dan relasi interpersonal
  6. Stress akut yang mencakup kehilangan pekerjaan, kehilangan seseorang yang dicintai, dan perang
  7. Serangan panic
  8. Seasonal affective disorder (gangguan depresi yang berhubungan dengan perubahan cuaca/musim)

MEMAHAMI SAKIT DAN PENYAKIT
Sebelum memahami defenisi sakit dan penyakut dalam konteks medis, ada baiknya dimengerti dahulu arti kata sehat. Badan Kesehatan Dunia ata WHO memberikan defenisi sehat sebagai keadaan atau status sehat secara utuh, baik secara fisik, mental (rohani), dan social, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Seseorang yang sedang tidak sehat atau sakit berarti sedang mengalami gangguan kesehatan baik secara fisik, mental, spiritual, dan social.

Dalam istilah kedokteran ada kata illness dan disease yang sering membuat kita bingung. Illnes atau rasa sakit (tidak nyaman) secara sederhana dapat diartikan sebagai apa yang dikeluhkan oleh pasien, seperti nyeri, cemas, berdebar-debar,tidak bisa tidur, kaki bengkak, dsb. Sedangkan penyakit (disease) adalah suatu kondisi dimana tubuh mengalami perubahan secara organic, yang dapat disebabkan paparan bibit penyakit (mikroorganisme), trauma, kelainan metabolic (misalnya terkena Diabetes Mellitus), kekurang gizi, proses degenerasi(sakit tua), atau kelainan sejak lahir ( misalnya bibir sumbing).

Prof. Dr. dr. Daldiyono dalam bukunya bagaimana Dokter berpikir dan bekerja membagi gangguan kesehatan menjadi 4 kategori, yaitu
  1. Pasien mengeluh dalam batas fisiologis,
  2. Pasien mengeluh karna ada gangguan psikis),
  3. Pasien mengeluh terganggunya faal tubuh,
  4. Pasien mengeluh karna terganggunya faal dan organic

(1) Pasien mengeluh dalam batas fisiologis
Menurut Cannon, system tubuh kita selalu berusaha dipertahankan dalam keadaan seimbang atau homeostasis. Contohnya, kalau kita minum banyak, ginjal akan mengatur volume didalam tubuh sedemikian rupa sehingga air kemih kita juga menjadi banyak,Pada saat kita dikejutkan oleh sesuatu hal, jantung kita memberikan respond dengan peningkatan denyut nadi sehingga kita merasa berdebar-debar. Meningkatnya debaran jantung terjadi karena jantung dirangsang oleh hormone adrenalin, namun dalam waktu dekat beberapa menit debaran jantung kita menjadi normal karena system syaraf kita berusaha mengembalikan denyut nadi kefrekwensi normal seperti sedia kala. Inilah keseimbangan fisiologis. Seandainya pasien mengeluh dadanya berdebar, bukan berarti jantungnya sakit. Jantung hanya memberikan respond terhadap rangsangan dari luar. Bagi mereka yang mengalami ganguan kecemasan, debaran jantung yang meningkat disalahtafsirkan sebagai sakit jantung

(2) Pasien Mengeluh karena adanya gangguan psikis
Menurut psikiater Maramis, apabila penyesuaian diri fisik dan psikologis terhadap stress pada seorang individu berjalan relative lancer, sesuai, baik, dan efektif, maka perilaku ini dinamakan sehat dan normal. Jika penyesuaian tersebut tidak berhasil, individu itu dipaksa agar berusaha lebih keras mempertahankan keutuhannya. Dan jika stress tersebut menjadi lebih besar dan cara-cara penyesesuaian yang biasa dipakai tidak berhasil, maka penyesuaian ini menjadi berlebihan dan menjadi tidak cocok lagi sehingga perilaku ini menjadi abnormal dan individu dikatakan mengalami gangguan kejiwaan. Ada berbagai bentuk gangguan kejiwaan, seperti depresi, kecemasan, gangguan stress pasca trauma,panic, fobia, dan gangguan jiwa berat (psikosis). Seringkali pasien mengeluh secara fisik yang sebenarnya disebabkan oleh problem psikososial , yang dalam ilmu kedokteran disebut sebagai psikosomatik. Keadaan ini dapat disebut sebagai kondisi dimana pikiran menguasai tubuh.

(3) Pasien mengeluh karena terganggunya faal tubuh
Dalam keadaan tertentu, tubuh dapat mengalami gangguan faal sebagai bentuk adaptasi tubuh terhadap perubahan yang sedang terjadi. Misalnya, pada ibu hamil. Demi menjaga pertumbuhan dan perkembangan janin didalam rahim, maka secara faal, tubuh akan memproduksi hormone estrogen dan progesterone lebih banyak daripada dalam keadaan tidak hamil. Peningkatan kadar hormone ini salah satunya dapat menyebabkan munculnya keluhan mual dan muntah terutama pada masa kehamilan tiga bulan pertama. Dalam keadaan demikian, tentu upaya yang dilakukan oleh dokter bukan untuk menurunkan kedua hormone tersebut, melainkan menjaga dan menjamin terpenuhinya kebutuhan makan dan minum ibu hamil tersebut dengan mengurangi rasa mual dan muntah.

(4) Pasien mengeluh karena terganggunya faal dan organic
Untuk menjelaskan hal ini kita dapat mengambil contoh kasus terjadinya penyakit Diabetes mellitus. Dalam keadaan normal, setelah seseorang makan atau minuman yang mengandung gula (glukosa), tubuh akan segera mengeluarkan hormone insulin yang diproduksi pancreas untuk menjaga kadar gula darah selalu dalam keadaan normal (< 200mg/dl). Namun, apabila orang tersebut memiliki kebiasaan makan yang berlebihan dan kurang berolahraga, suatu saat pancreas akan mengalami kelelahan dalam memproduksi insulin. Saat pancreas tidak mampu lagi memproduksi insulin yang dibutuhkan tubuh itulah saat terjadi peningkatan kadar gula darah. Lalu terjadilah penyakit diabetes mellitus. Pada pasien dengan diabetes mellitus , dalam hal ini telah mengalami gangguan faal ( gula darah meningkat akibat menurunnya produksi insulin) yang disebabkan oleh gangguan organ pancreas sebagai penghasil insulin. Contoh lain gangguan organic yaitu penyakit jantung, ginjal, paru-paru, hipertensi.

( disadur dari buku Meraih Kekuatan Penyembuhan Diri yang tak terbatas, dr. J.B. Suharjo B.Cahyono, Sp.P.D) Source Milis : Indonesia NLP Society