ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Selasa, 07 Agustus 2012

Neo Ericksonian Corner

by Yan Nurindra :
  1. Seorang "Neo Ericksonianer" adalah mereka yang memiliki passion untuk selalu melatih kemampuan transfer "belief" kepada orang lain, tanpa memusingkan rumusan kondisi trance dan tanpa memusingkan wilayah conscious/unconscious yg menjadi target, dan dapat melakukan "crack" atas struktur sukses yang terjadi dalam setiap kasus "aikido kata" yang dilakukannya.
  2. Seorang "Neo Ericksonianer" memiliki passion untuk mengembangkan kemampuan sensori indrawi (sensory acuity) untuk "merasakan" 1001 wajah dari Trance, jauh melampaui perumusan Conventional Trance Signals yang lebih berorientasi kepada fisiologis.
  3. Seorang "Neo Ericksonianer" memiliki passion untuk melatih kemampuan "connectedness", jauh melampaui rumusan normatif yang ada (verbal/non-verbal pacing), bahkan dapat "merasakan" dengan baik ketika "connectedness" tersebut belum/akan/telah terjadi. Kemampuan ini ter-install dalam tataran "trusting mindset", bak seorang penari "bedhoyo ketawang" yang bergerak halus tapi penuh dengan makna.
  4. Setiap orang selalu melakukan suatu tindakan atau pemikiran berdasarkan keputusan yang bersifat "rasional", yang membedakan adalah kualitas "rasionalitas" yang dipengaruhi oleh "state" dan "map" (database informasi). Neo Ericksonian "bermain" di wilayah pergeseran "state" dan diiringi dengan suplai informasi yang diperlukan.
  5. Analogical Marking memegang peranan penting untuk suatu penyampaian pesan di tingkat Unconscious. Sebagai contoh : suatu content tertentu dapat disikapi oleh sisi Unconscious sebagai suatu : perintah, ajakan berdiskusi, atau suatu ajakan pengingkaran, dengan hanya merubah Tonality. Fisiologis dapat menghasilkan 1001 macam Analogical Marking yang bahkan tidak "terdeteksi" oleh sisi Conscious.
  6. Milton-Model dan berbagai Pattern di dalamnya harus disikapi sebagai salah satu "senjata" dalam suatu kerangka besar komunikasi yang sangat tergantung dari konteks dan perlu upaya adaptasi terhadap berbagai aspek (intelektual, sosial, budaya, dll). Kesalahan aplikasi Milton-Model berpotensi menghasilkan efek yang berseberangan dengan tujuan.
  7. Milton-Model mungkin dapat disikapi secara sederhana sebagai pola bahasa "anti tolak". Dengan pengertian sederhana ini kiranya dapat dilakukan adaptasi budaya lokal dengan mudah. Misal dengan penambahan kata-kata : "mungkin", "ada beberapa", "biarlah", "terkadang", "tidak selalu", bahkan juga kata-kata gaul setempat seperti "doang", "mumpung", dan "kayaknya" ! Dan yang menarik, dengan cara sederhana ini barangkali Milton-Model dapat diaplikasikan secara mudah dan kreatif.