ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 24 Oktober 2012

JEMPOL Pujian adalah Senjata Mematikan

Di facebook, Terkadang saya lebih suka Virtual Debat daripada Virtual Jempol... Virtual debat dapat membuat hati dan fikiran semakin tajam terasah, sedangkan Virtual Jempol hanya membuat diri kita terlena dalam ketidak benaran pendapat kita....

Tulisan ini tidak berarti saya tidak SUKA dengan JEMPOL anda di Facebook... Tapi mbok ya jangan njempol saja, sekali-kali koment gt knapa sih............ kalau perlu bantah saya dengan sekeras-kerasnya. Semakin keras anda membantah, maka semakin nyaman diri anda......hahahahahaha..........

Acungan jempol dari seseorang, adalah simbol penghormatan, pujian,  kekaguman,  rasa suka, simpati, dan dukungan yang membuat kita semakin percaya diri akan sebuah karya atau keberadaan kita sendiri.

Acungan jempol bisa memotivasi diri kita untuk berbuat lebih baik lagi, memperkuat tali silaturahmi, menambah ikatan emosional hubungan pertemanan. Namun di balik itu acungan jempol bisa menjadi senjata pembunuh yang efektif mematikan kekuatan seseorang, kreativitas dalam berkarya, menghentikan proses meraih prestasi terbaik dalam banyak hal.

Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu. Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.” (Lihat Iqozhul Himam Syarh Matn Al Hikam, Ibnu ‘Ajibah, hal. 159, Mawqi’ Al Qaroq, Asy Syamilah)

 Dalam hal ini Rasulullah Muhammad saw telah memperingatkan dalam hadisnya :
"Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli." (HR. Ad-Dailami).
"Bila kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka." (HR. Ahmad)
Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda,

 ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك - وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً "

Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”'Saya kira si fulan demikian kondisinya." -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (Shahih): [Bukhari: 52-Kitab Asy Syahadat, 16-Bab Idza Dzakaro Rojulun Rojulan]

Pada mulanya jari tak berarti apa-apa sebelum tangan mengangkatnya di depan kita,lalu mengacungkan sebuah jempol. Namun, ketika sang ibu mengacung ke atas, tanpa disadari keempat anak jari justeru menggenggam sesuatu yang disembunyikan, bahkan membentuk kepalan !!!

Satu pujian yang kita dapatkan, empat rahasia yang disembunyikan. Anak jari pertama memberi petunjuk agar kita menepuk dada penuh rasa bangga, lalu tiba-tiba muncullah keangkuhan, kesombongan, kepuasan atas sebuah karya, besar kepala.

Telunjuk telah mengarahkan kita untuk merasa bahwa sesuatu telah berlangsung secara sempuna, sebuah indikasi nyata untuk kemandekan kreativitas. Ketika seseorang merasa sesuatu telah selesai maka ia akan berhenti pada titik itu. Dan rasa telah sempurna adalah petaka besar bagi kesempurnaan itu sendiri. Proses terhenti. Ide– ide tersumbat. Kerja keras, spirit, gairah mereda. Perjuangan berakhir. Lalu tiba- tiba kita akan mendapati diri kita tertinggal jauh di belakang. Kematian dini di saat kehidupan menawarkan ribuan kesempatan.

Lalu tiba-tiba anak jari kedua menempatkan kita ke tengah istana kemapanan. Asyik berleha- leha menikmati hasil kemenangan yeng mungkin belum seberapa. Jari tengah, dengan keunggulan ukurannya sebagai yang terpanjang semakin mengantarkan kita untuk tidur panjang di tengah hari, di saat orang- orang masih sibuk berkarya mengejar cita-cita dengan keringat,darah dan air mata mengucur,sementara kita mendengkur di atas kasur. Lalu jari manis semakin membuat kita terhipnotis.

Sanjungan ibu jari memang lezat untuk dinikmati jiwa. Terlena oleh decak kagum, penghormatan dan puji puja. Tantangan besar di depan mata jadi terlupa. Duduk manis dengan senyum manis tak menyadari bahaya yang bisa saja datang tiba-tiba. Lalailah jiwa, hilanglah waspada.

Betapa banyak pujian membuat seseorang kehilangan inspirasi dan intuisi, motivasi dan prestasi, terbunuh oleh musuh-musuh yang senantiasa siaga menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balasan atas kekalahan mereka pada awal pertempuran. Dan waktu yang tepat untuk menghancurkan adalah ketika lawan sedang berhenti, beristirahat, tidur atau terlena dalam pesta pora sebelum waktunya.

Jari kelingking semakin melengkapi senjata tersembunyi yang mematikan di balik pujian sang jempol. Acungan jempol hampir selalu sukses ‘membesarkan kepala’ kita dan disaat yang sama akan mengecilkan lawan. Kesombongan membuat sesuatu yang besar, penting dan berbahaya menjadi kecil, remeh dan jinak untuk dikecilkan dan diabaikan. Berapa banyak kekalahan, kejatuhan dan kebinasaan bermula dari keangkuhan, rasa telah sempurna, kelalaian dalam kenikmatan dan menganggap kecil permasalahan, urusan, dan kekuatan musuh.

Orang-orang besar yang tercatat dalam sejarah adalah mereka yang mencapai kejayaan dan masa keemasan sebelum akhirnya tumbang, jatuh dalam kekalahan, hancur dalam kebinasaan ketika gagal dalam ujian oleh sang ibu jari, acungan jempol. Pujian, sanjungan, decak kagum, respek, penghormatan, kultus, ekspresi rasa suka yang diwakili oleh sang jempol, dibaliknya tersimpan bahaya tersmbunyi dalam genggaman tangan dan kepalan yang setiap saat bisa menjadi pukulan menyakitkan dan mematikan.

Bagi orang yang memiliki spirit perjuangan dan kesunguhan untuk meraih kesempurnaan dan prestasi puncak akan lebih menyukai bila acungan itu terbalik ke bawah, rasa tidak suka, penghinaan dan peremehan. Meski sekilas terasa menyakitkan, dengan penyikapan bijak hal itu akan lebih membakar jiwa untuk membuktikan eksistensi diri, motivasi untuk lebih keras dalam bekerja, lebih baik dalam berkarya, dan lebih sempurna dalam melakukan segalanya. Tabiat jiwa cenderung menyukai pujian, penghargaan dan penghormatan, namun akal yang cerdas lebih membutuhkan kritikan, saran, sentilan, jeweran bahkan caci maki karena itu sangat membantu untuk meraih kesempurnaan dan kesuksesan sebuah tujuan.

Sebagaimana orang bijak berkata,” Bersyukurlah untuk sebuah tamparan yang panas menyengat, sebab itu suatu pertanda bahwa kita masih punya indera perasa, dan membuat jiwa yang tidur menjadi terjaga. Dan waspadalah dengan belaian penuh kelembutan, sebab itu membuat jiwa tertidur dan terlena,lalai terhadap bahaya yang bisa datang secara tiba- tiba…! “ Pada akhirnya semua tergantung pada niat si pengacung jempol, apakah dia penuh ketulusan mengekspresikan penghargaan dan rasa suka, memperkuat konfidensi, memotivasi semangat berprestasi atau menjerumuskan lawan dengan menyembunyikan sesuatu di balik kepalan tangan. Dan juga tergantung pada penyikapan si penerima jempol apakah dia tertipu dengannya, ataukah justeru mampu menjadikannya sebagai bentuk dukungan yang memperkuat semangat untuk meraih hasil lebih sempurna…!!!

Oleh : Al Jufri (http://celotehkaumremeh.wordpress.com)

Ada 'Ranjau' di 'Jempol' Facebook, Berhati-hatilah!

Jika Anda adalah orang yang sering memberikan jempol dan komentar di FB, mulai sekarang berhati-hatilah melakukan itu sebab banyak ranjau disana. Seperti apa?

Seorang sheriff di Virginia, Amerika Serikat, mengaku telah dipecat akibat aksinya dalam pemberian jempol pada laman Facebook kompetitor politik bos sheriff tersebut.

Celakanya pengadilan setempat memutuskan jika pemberian jempol ini tidak termasuk dalam salah satu kebebasan mengemukakan pendapat yang termaktub dalam undang-undang.

Lain pula dengan Peter TerVeer, eks staf Library Congress. Ia menjadi korban kekerasan, diskriminasi, pelecehan seksual di lingkungan kerja setelah kedapatan men-like, kelompok pendukung gay di Facebook.

Beberapa perusahaan di Amerika Serikat sangat ketat dalam kontrol media sosial. Mereka bahkan memantau aktivitas karyawannya khususnya di jejaring sosial Facebook.

Philip Denver, seorang pengacara tenaga kerja di Denver berbagi salah satu pengalaman naas serupa yang telah menimpa kliennya.

Kliennya, mengambil foto rekan kantor yang tanpa sengaja memerlihatkan pakain dalamnya. Merasa tak nyaman tatkala melihatnya di Facebook, ia kemudian melaporkan ke bagian SDM perusahaan.

“Banyak perusahaan yang tengah mempertimbangkan perubahan buku panduan karyawan dan peraturan kantor, karena kian banyak karyawan yang memakai Facebook di jam makan siang,” terang Gerald Maatman Jr, pengacara tenaga kerja Chicago, seperti dikutip dari The Wall Street Journal.

Lain pula dengan Eric Jackson, seorang pengacara tenaga kerja di Virginia. Salah satu kliennya yang bekerja di perusahaan kesehatan dilarang memosting informasi yang menampilkan data-data pasien.

“Media sosial kini tersebar sangat luas dan orang-orang menggunakannya dengan santai setiap hari. Orang sering lupa bahwa masalah privasi juga merupakan bagian dari pekerjaan mereka,” terang Eric Jackson. (Source : RIMANEWS-http://www.rimanews.com

Doa yang Diucapkan Ketika Dipuji Orang Lain

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Bakr Ash Shidiq tatkala beliau dipuji oleh orang lain. Beliau–radhiyallahu ‘anhu- pun berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25/145, Asy Syamilah