ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 14 Oktober 2012

Mengenal Diri Lebih Dekat

Mungkin kamu merasa Tuhan telah menghianati dirimu...
Mungkin kau merasa orang yang sangat kau hormati, telah menyakiti hatimu..
Dan mungkin kau merasa orang yg paling kau sayangi juga telah tidak setia lagi padamu...
Dan mungkin juga sanak saudara serta handai taulanmu telah membuangmu....

Namun...
Yakinlah...
Masih ada seseorang yang setia mendampingimu...
Mau menerima dirimu apa adanya, dengann segala kelemahan diri yang kau punya...
Selalu siap sedia memberikan dukungannya padamu....

Dialah dirimu sendiri...
Sejatinya dirimu....
Daya Hidupmu.......
Yang senantiasa bersamamu....
Maka kenali, dekati, dan sayangi dia...
#Edisi Ngaji Fitroh#

"Mengenal Diri sendiri adalah awal dari semua kebajikan."Aristotle.

SELF TALK
Salah satu cara untuk lebih mengenal diri sendiri adalah dengan meyadari dialog diri. Mengutip Franklin P. Jones, penulis kutipan motivasi Amerika Serikat, “Satu keuntungan dari berbicara pada diri sendiri adalah Anda tahu setidaknya diri Anda sendiri yang mendengarkan.”

Fritz Simon, seorang psikiater Jerman pernah mengatakan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang tidak bisa berhenti berbicara untuk diri mereka sendiri. Namun, bukan berarti, berbicara sendirian menandakan orang itu gila.

Sebuah penelitian berbasis di Amerika Serikat pun mengungkap bahwa berbicara dengan diri sendiri ternyata memiliki manfaat tersembunyi, apa manfaatnya?

Seorang peneliti dan psikolog kognitif di University of Wisconsin-Madison, Gary Lupyan, pun menyatakan bahwa berbicara dengan diri sendiri bermanfaat bagi otak.

Sebuah studi baru awal tahun 2012, dipublikasikan oleh Quarterly Journal of Experimental Psychology, psikolog Gary Lupyan dari University of Wisconsin-Madison dan Daniel Swingley dari University of Pennsylvania melakukan serangkaian percobaan untuk mengetahui apakah berbicara dengan diri sendiri dapat membantu ketika seseorang ingin mencari sebuah objek.

Penelitian ini terinspirasi oleh pengamatan bahwa orang sering terdengar bergumam kepada diri mereka sendiri ketika mencoba untuk menemukan sesuatu.

Dalam percobaan pertama, peserta diperlihatkan 20 foto dari berbagai objek dan diminta untuk mencari satu di antaranya. Dalam beberapa percobaan, peserta melihat label teks berisikan perintah menemukan sebuah objek atau benda. Dalam uji coba lain, subyek yang sama diminta untuk mencari lagi dengan memperbolehkan mereka mengatakan kata pada diri mereka sendiri.

Penelitian ini menemukan bahwa seseorang yang berbicara pada diri mereka sendiri akan lebih cepat menemukan apa yang hendak mereka cari.

Para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengulang nama benda dengan lantang, mampu menemukan lebih cepat daripada yang tidak mengulang nama benda yang dicari. Tak jarang, saat kehilangan sebuah benda, seseorang cenderung mengingat kembali saat sebelum barang tersebut hilang, dengan berbicara kepada diri sendiri. Ternyata itu cukup membantu.

Dalam sebuah percobaan tindak lanjut, peserta melakukan tugas belanja virtual di mana mereka melihat foto-foto barang yang biasa ditemukan di berbagai supermarket dan diminta untuk menemukan sebuah barang secepat mungkin.

Peserta akan diminta untuk menemukan buah apel, atau sebuah botol kecap. Di sini juga, peserta berbicara pada diri mereka sendiri tentang nama objek yang dicari. Misalnya, mengatakan kecap saat mereka mencari kecap akan sangat membantu, sedangkan mengatakan kecap saat mencari deodoran akan benar-benar memperlambat pencarian. “Bila Anda kehilangan kunci Anda, Anda mungkin ingin bergumam ‘kunci kunci kunci’ kepada diri sendiri sambil mencari kunci dan Anda akan mendapatkannya,” kata Gary Lupyan.

"Secara umum, mengungkapkan suatu kata dalam sebuah bahasa bukan hanya suatu sistem komunikasi, tapi bahkan berdebat dengan diri sendiri bisa meningkatkan persepsi, membuat otak aktif berfikir," ujar Lupyan seperti dikutip laman Times of India, Sabtu, 5 Mei 2012.

Hasil penelitian Lupyan ternyata telah diterapkan di dunia bisnis, olahraga, kinerja, dan keberhasilan psikologi, kedokteran, hiburan dan untuk penelitian otak. Seperti dalam kasus seni bela diri, jelas Dr Dayal Mirchandani, seorang psikiater.

"Ketika seniman bela diri melakukan tendangan dan pukulan, sering disertai dengan teriakan keras. Itu semacam bicara dengan diri sendiri, bermanfaat membantu menjaga fokus dan meningkatkan energi".

Seorang petinju asal India juga merasakan manfaat berbicara pada diri sendiri saat dirinya menghadapi pertandingan, dan ternyata bisa memotivasi diri.

"Saya sering bicara pada diriku sendiri di ruang ganti sebelum pertandingan untuk menenangkan syaraf. Saya biasanya melakukan terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa 'Saya yang terbaik '. Hal ini bukan suatu kegilaan jika Anda berbicara pada diri sendiri," kata seorang petinju asal India bernama Vijender Singh.

Refleksi emosi
Sebenarnya selama otak masih aktif bekerja, kita selalu berbicara dengan diri sendiri, umumnya dalam batin, tidak disuarakan. Ketika kita menimbang pilihan, menenangkan diri waktu terkejut atau marah, atau berdoa, kita berbicara dengan diri sendiri.

Sesekali kita berbicara bersuara, ketika menghayati kondisi emosi intens, misalnya saat tiba-tiba menemukan solusi yang ditunggu-tunggu, saat marah. Saat teringat seseorang yang sangat dirindukan, mungkin kita ingin merealisasikan harapan akan kebersamaan dengan membayangkan ia ada dan mengajaknya berbicara. Saat intens berpikir kita kadang bicara bersuara, dan mungkin jadi lebih jelas mengenai alternatif penyelesaiannya.

Berbicara dengan suara keras ke diri sendiri jarang dilakukan. Mungkin lebih sering terjadi ketika kita tertekan, tegang, kacau, singkatnya berpikiran penuh, seperti ada pergolakan di batin yang menuntut untuk dikeluarkan. Bayangkan panci berisi air mendidih yang tutupnya bergerak-gerak kencang, bahkan mungkin dapat terlempar karena tekanan kuat dari bawah. Jelas di sini, bicara menjadi cara penyaluran emosi.

Jadi, berbicara kepada diri sendiri bisa merupakan hal sangat normal, dapat pula merefleksikan persoalan psikologis yang memerlukan perhatian serius. Kita sendiri yang dapat menetapkan, apakah yang terjadi pada kita merupakan hal wajar saja, atau sudah berlebihan sehingga mengindikasikan kekacauan batin yang memerlukan bantuan ahli untuk mengatasi?

Ketika dalam keadaan sangat tertekan dan tegang, percakapan batin mungkin keluar dalam bentuk bicara sendiri, yang bila berlebihan akan membuat takut diri sendiri dan orang lain. Bila itu halnya, kita perlu menenangkan diri, merenung (mungkin dengan bantuan orang lain juga) untuk lebih mengerti sumber ketegangan dan kekacauan pikiran kita. Menenangkan diri dapat dilakukan, misalnya, dengan cara olah napas, meditasi, dan mengembangkan visualisasi yang menenangkan batin.

Positif
Aktivitas itu akan menjadi gangguan psikologi bila manusia bicara sendiri sebagai respons terhadap halusinasi atau delusi. Halusinasi adalah gangguan persepsi dalam bentuk (merasa) melihat atau mendengar tanpa ada rangsang nyata, misalnya kita mendengar suara-suara berisik, orang menertawakan orang lain, atau melihat figur tertentu yang orang lain tidak mendengar atau melihatnya.

Delusi secara sederhana dapat diartikan sebagai adanya keyakinan kuat tentang suatu hal akibat penilaian realitas yang salah. Misalnya kita yakin sedang dikejar-kejar dan akan dibunuh, atau sebaliknya, ada seorang aktor sangat hebat (yang sebenarnya tidak mengenal kita) yang jatuh cinta kepada kita. Bila demikian halnya, kita harus meminta bantuan psikolog klinis dan psikiater untuk memfasilitasi penenangan batin dan pengobatan.

Bila kita menilai diri atau dunia secara negatif, kita akan bicara dalam bahasa atau kalimat negatif (”aku selalu gagal”, ”aku tidak dicintai” atau ”dunia ini buruk”, ”tidak ada yang diharapkan lagi”, ”yang jahat harus dibasmi”). Sementara itu, penilaian diri positif akan mengembangkan percakapan diri yang juga positif.

Karena sebenarnya manusia selalu bicara dengan dan kepada diri sendiri, kita perlu mengolah fenomena ini secara konstruktif demi kesejahteraan psikologis kita. Penanganan psikologi cukup sering menganjurkan kita mengembangkan self-talk yang positif untuk mengubah pikiran negatif, memotivasi diri, mengembangkan gambaran diri atau dunia yang lebih baik, mendorong gerak konstruktif melakukan sesuatu. Self-talk positif menjadi bentuk afirmasi, kalimat berulang yang kita sampaikan kepada diri sendiri untuk menguatkan diri.

Kita mengubah dari negatif menjadi positif, misalnya dari ”aku selalu gagal” menjadi ”aku sedang menyelesaikan tugasku secara bertahap”; dari ”aku tidak dicintai” menjadi ”aku menyayangi diriku sendiri dan sedang membuat diriku menjadi lebih baik”; dari ”dunia ini buruk” menjadi ”memang banyak sekali masalah sekarang ini tapi aku masih bisa melakukan hal-hal positif di lingkungan terdekatku sendiri”.

Ada hubungan saling memengaruhi antara pikiran, perasaan dan perilaku, dan kita dapat memulai dari mana saja untuk mengembangkan kondisi diri yang lebih positif. Bicara secara positif kepada diri sendiri menjadi salah satu cara untuk membuat diri menjadi lebih bahagia.