ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 01 Oktober 2012

Mengenal Memetika, Mewaspadai Virus Pikiran

Memetika adalah ilmu yang mendedah ‘mem’ sebagai bahan baku dasar pembentuk mental, sebagaimana genetika mendedah gen sebagai bahan baku dasar pembentuk kehidupan fisik. Replikasi mental merupakan kemampuan yang memisahkan manusia dengan primata lain. Bahasa, budaya, agama, merupakan produk-produk yang dimungkinkan karena adanya replikasi mem, seperti halnya gen bereplikasi membentuk gugusan sel hingga menjadi tubuh yang mampu bereproduksi dan mempertahankan diri.

Dunia sudah mengenal Gene atau gen sebagai sebuah abstraksi yang bertanggung jawab pada kondisi biologis manusia. Gene adalah cetak biru kehidupan, Dia yang bertanggung jawab membuat organ dan apa yang Nampak dari tubuh kita. Ilmu biologi sudah mengakui eksisnya Gene ini sejak dahulu.

Kemudian muncul pemahaman baru dari para ilmuwan biologi seperti Richard Dawkins, Richard Brodie, Dennet, serta Susan Blackmore, yang meyakini bahwa disamping Gene yang mengatur kondisi biologis manusia, ada sebuah abstraksi lain yang bahkan amat penting menyetir kondisi manusia. Tak lain adalah meme (baca: mim) atau mem. Meme adalah apa yang ada didalam otak manusia, sesuatu yang mengatur lahirnya ide. Meme adalah pelengkap, gene mengatur biologis, meme mengatur pemikiran.Meme melahirkan ide dan pemikiran. Memetika adalah disiplin ilmu baru yang mempelajari mengenai meme atau pembentukan ide manusia.

Meme, yang biasa dilafaldkan mim, oleh Ricard Brodie disebut sebagai "batu-sendi kebudayaan sebagaimana gen adalah batu-sendi kehidupan yang mampu membentuk bangsa, bahasa, agama. Lebih dari itu meme dalam ruang lingkup kecil juga menjadi batu-sendi akalbudi, pemograman “komputer” mental Anda.”

Sebelum diberi pengertian itu, kata meme ini dicetuskan oleh seorang ahli ilmu biologi (Biolog) dari Oxford University, Ricard Dawkins, dalam bukunya, The Selfish Gene (1976). Dawkins mendefinisikan meme sebagai unsur dasar penyebaran atau peniruan budaya. Sedangkan pengetahuan tentang cara-cara ilmu kerja meme yang memiliki pola berinteraksi, berlipatganda dan berevolusinya itu namanya memetika.

Susan Blackmore menjabarkan “Memes are ultimately responsible for us having our homes and possessions, our position in society, and our stocks, shares and money.” (Blackmore, 1999). Hal ini menjelaskan betapa penting meme bagi manusia, sebab sifat dasar meme adalah replikator, meme selalu berusaha menularkan ide dari pemikiran seseorang kepada orang lain. Karena sifat dasar meme inilah Susan Blackmore menyimpulkan lahirnya kebudayaan, serta bahasa adalah perintah meme yang menginginkan proses replikasi atau penggandaan ide. Inilah alasan kenapa kita berbicara, menciptakan bahasa, membuat alat tulis, alat komunikasi, menemukan telepon, internet, berkesenian. Semuanya adalah upaya mempermudah proses penyebaran ide meme tersebut.

Melalui pendekatan memetika inilah kita dapat memahami bahwa globalisasi sesungguhnya adalah bagian dari upaya penyebaran meme atau ide. Ini sesuai dengan sifat dasar meme untuk menyebarkan dirinya. Maka Korean Pop yang tengah digandrungi segenap kalangan masyarakat Indonesia (bahkan dunia) sebelumnya hanya berawal dari meme atau ide seorang penggagas. Lama-kelamaan meme tersebut mereplikasi diri dan menyebar ke seluruh dunia. Mencoba menggandakan diri, terus menerus. Hingga akhirnya meme tersebut menjadi tidak efektif dan tergantikan meme baru yang lebih segar dan bagus.

Sebagai spesies yang bertarung melawan alam selama jutaan tahun, agenda genetika selalu menggiring kita untuk bereaksi kuat terhadap isu seks, makanan, dan bahaya. Seiring dengan itu, tombol primordial memetika tak pelak adalah:  
  1. kemarahan, 
  2. ketakutan, 
  3. kelaparan, dan 
  4. nafsu birahi
Menarik untuk direnungkan bahwa yang membuat sebuah informasi berkembang sesungguhnya bukan persoalan ‘penting’ dan ‘tidak penting’, ‘berguna’ dan ‘tidak berguna’, melainkan seberapa banyak tombol primordial kita yang ditembaknya sekaligus.

Para pengiklan tahu bahwa siluet tubuh perempuan bisa membantu penjualan sebuah mesin pompa air, yang sesungguhnya tidak punya hubungan langsung dengan lekuk pinggul dan belahan dada. Mereka juga bisa menyembunyikan bahaya rokok dalam sosok laki-laki gagah yang berarung jeram di alam nan indah. Begitu juga dengan liputan berita yang kerap menciptakan suasana kritis agar pemirsa merasa terdesak dan tercekam. Reporter berwajah santai dan mengatakan ‘semua baik-baik saja’ tidak akan menularkan mem kuat yang menjadikan berita itu punya nilai penting (atau tepatnya nilai jual).

Seberapapun hebat urgensi yang ditawarkan, apa yang kita konsumsi seringkali bukanlah apa yang kita butuhkan. Ini mengingatkan saya pada penelitian Masaru Emoto; bagaimana molekul air rusak ketika didekatkan pada teve yang memutar adegan kekerasan, dan sebaliknya, molekul air membentuk gugus heksagonal saat diputarkan dokumenter alam. Tampilan dunia yang baik-baik saja ternyata memperbaiki tubuh kita sampai level molekular, sementara dunia yang keras dan bahaya—walau rating-nya lebih tinggi—ternyata merusak kita sama besarnya.

Virus pikiran juga bekerja melalui asosiasi dan repetisi. Ketika artis-artis yang bercerai habis-habisan diekspos, orang mulai percaya bahwa artislah jenis manusia yang paling rentan kawin cerai, bahkan menjadi motor penggerak bagi rakyat untuk ikut tren sama. Padahal jumlah artis yang bercerai hanyalah noktah tak berarti dibandingkan kasus perceraian yang terjadi di masyarakat umum.

Patriotisme sebagai nilai tidak muncul spontan sejak kita lahir. Kita diprogram melalui repetisi upacara setiap Senin pagi dan penataran Pancasila setiap naik jenjang sekolah. Keinginan beragama tidak muncul begitu saja, seorang anak diprogram mulai dari nol melalui repetisi dan asosiasi tentang adanya hadiah bernama surga, hukuman bernama neraka, dan bos besar yang lebih berkuasa daripada orang tuanya bernama Tuhan.

Memetika sebagai ilmu yang relatif masih muda mampu memberi perspektif segar untuk memilih, memilah, bahkan berhenti sejenak dari bombardir informasi yang menginvasi pikiran kita. Tidak heran jika dalam hampir semua buku memetika yang ada, meditasi selalu jadi bahasan penutup, semacam antiviral yang dianjurkan. Bukan karena meditasi adalah bagian dari mem religi tertentu, tapi itulah satu-satunya metode yang membalikkan proses invasi mem : hening, diam, mengamati, tanpa bereaksi. Dan untuk itu, anda perlu membekali diri anda dengan tool ini : Klik Di Sini

Referensi : berbagai sumber