ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 30 November 2012

Ngelmu Ha Na Ca Ra Ka

NGAJI HANACARAKA
Pancadane ‘Ngelmu Urip’ iku ‘eling’, yaiku eling marang ‘sejatining urip’ utawa ‘hakekating urip’ tumraping manungsa. Manungsa iku titah pinunjul katimbang titah liyane. Pinunjule amarga kaparingan ‘perangkat urip’ kang ana ing khasanah Jawa disebut ‘cipta-rasa-karsa’. Tinengeran ana ing aksara Jawa: “ha-na-ca-ra-ka” kang tegese ‘utusan’ (hananira hananing Hyang) kang diparingi cipta (ca), rasa (ra), lan karsa (ka). Ya peparing ‘cipta-rasa-karsa’ iki kang mbedakake titah manungsa karo titah liyane.

Landasan Ngelmu Kehidupan itu "Ingat", yaitu ingat dengan Kehidupan Sejati atau hakikatnya kehidupan manusia, Manusia itu makhluk yang Unggul diantara makhluk lainnya. Keunggulannya karena dianugerahi Perangkat Hidup yang dlm khasanah jawa di sebut CIPTA RASA KARSA, ditandai dalam huruf jawa HA NA CA RA KA maknanya Utusan (KeberAdaanmu adalah perwujudan dari keberAdaan-Nya) yang diberi Cipta (Ca), Rasa (Ra), dan Karsa (Ka). Ya, anugrah Cipta Rasa Karsa inilah yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya.

Nb.
  • utusan’ (hananira hananing Hyang) bahasa arabnya adalah KHALIFATULLAH..........
  • "Eling" bisa juga dimaknakan sebagai hadirnya kesadaran, bahasa arabnya adalah DZIKRULLAH
Tingkatan dzikir menurut Ibnu Athaillah As Sakandary pengarang kitab Al Hikam, ada empat macam yaitu:
  1. Pertama, dzikir dengan lupa (dzikir dengan lisan).
    dalam kategori ini biasanya orang yang berdzikir hanya sebatas di mulut, contohnya ketika ada petir menyambar seseorang akan bilang astagfirullah, subhanallah, maupun innalillah tapi bukan karena benar-benar ingat Allah melainkan karena kaget (reflek) karena lupa.
  2. Kedua, dzikir yahdoh (dzikir sadar)
    dalam kesempatan ini seseorang bisa dzikir dengan keadaan sadar.  Meskipun demikian orang yang berdzikir belum sepenuhnya ikhlas berdzikir karena Allah. Masih sebatas menggunakan kekuatan fikiran sadarnya, belum sampai tembus ke dalam hati (Bawah sadar). Dalam keadaan ini orang yang berdzikir senantiasa ingat kepada Allah, namun belum sepenuhnya menyadari apa yang harus dilakukan.
  3. Ketiga, dzikir khudurul qolbi (hadirnya hati)
    dalam tahap inilah seseorang bisa berdzikir dengan menggunakan hatinya. dimana hatinya senantiasa ingat kepada Allah dalam setiap saat dan setiap waktu. orang yang bisa berdzikir dengan menggunakan hatinya, akan bisa tenang dalam hidupnya karena akan selalu ingat kepada Allah.
  4. Keempat, dzikir ruh
    dimana dzikir ini merupakan puncaknya dzikir. Karena seseorang yang berada dalam tahap ini sudah tidak mengingat apapun kecuali ingat Allah. semua yang ada di dunia tidak ada artinya, yang ada hanyalah Allah semata. dzikir pada tahap ini merupakan dzikir yang biasanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar dekat dengan Allah (waliyullah).
Nasehat Ibnu Athaillah As Sakandary : AL HIKAM : HIKMAH 47, Jangan Tinggalkan Dzikir

لا تترك الذكر لعدم حضورك مع الله فيه لان غفلتك عن وجود ذكره أشد من غفلتك في وجود ذكره فعسى ان يرفعك من ذكر مع وجود غفلة الى ذكر مع وجود يقظة ومن ذكر مع وجود يقظة الى ذكر مع وجود حضور ومن ذكر مع وجود حضور الى ذكر مع وجود غيبة عما سوى المذكور وما ذلك علي الله بعزيز

"Janganlah kamu meninggalkan dzikir karena tidak adanya kehadiranmu kepada Allah, kelalaianmu dari dzikir kepada Allah itu lebih berat dari kelalaianmu dalam atau ketika berdzikir kepada Allah, Mungkin saja Allah akan mengangkatmu dari dzikir (disertai adanya lupa) menuju dzikir yang disertai ingat kepada Allah dan dari dzikir yang disertai ingat kepada Allah menuju dzikir yang disertai hadirnya hati dan dari dzikir yang disertai hadirnya hati menuju dzikir yang disertai hilangnya sesuatu selain Allah SWT. Dan semua itu bukanlah hal yang sulit bagi Allah SWT."

Dari hikmah di atas Ibnu Athaillah menjelaskan bahwa dzikir itu ada 4 tahap :
  1. Lisan :  لسان 
  2. Ingat dalam hati :  يقظة
  3. Hadirnya Hati : حضور
  4. Hilangnya sesuatu selain Allah :  (غيبة عما سوى المذكور )
Kita dzikir kepada Allah tapi akal kita lupa lalu kita meninggalkannya, maka hal ini adalah suatu kesalahan yang sangat fatal. Lebih baik kita berdzikir walaupun hati kita lupa, karena suatu ketika Allah akan menjadikan kita dalam derajat يقظة lalu menuju derajat حضور dan sampai pada derajat غيبة عما سوى المذكور.

Ada juga yang memberi makna HANACARAKA demikian :

HA = Hana hurip wening suci
(Adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci)

NA = Nur candra, gaib candra, warsitaning candara
(harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi)

CA = Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi
(satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal)

RA = Rasaingsun handulusih
(rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani)

KA = Karsaningsun memayuhayuning bawana
(hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam)

DA = Dumadining dzat kang tanpa winangenan
(menerima hidup apa adanya)

TA = Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa
(mendasar ,totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup)

SA = Sifat ingsun handulu sifatullah
(membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan)

WA = Wujud hana tan kena kinira
(ilmu manusia hanya terbatas namun bisa juga tanpa batas)

LA = Lir handaya paseban jati
(mengalirkan hidup semata pada tuntunan Ilahi)

PA = Papan kang tanpa kiblat
(Zona Dimensi Quantum, tidak ada arah kiblat utara selatan barat dan timur ataupun atas dan bawah)

DhA = Dhuwur wekasane endek wiwitane
(Untuk bisa di atas tentu dimulai dari dasar)

JA = Jumbuhing kawula lan Gusti
(selalu berusaha menyatu -memahami dan selaras dengan kehendakNya)

YA = Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi
(yakin atas titah /kodrat Ilahi)

NYA = Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki
(memahami kodrat kehidupan)

MA = Madep mantep manembah mring Ilahi
(yakin - mantap dalam menyembah Ilahi)

GA = Guru sejati sing muruki
(belajar pada guru sejati)

BA =  Bayu sejati kang andalani
(menyelaraskan diri pada gerak alam)

THA = Tukul saka niat
(sesuatu harus tumbuh dari niat)

NGA = Ngracut busananing manungso
(melepaskan egoisme pribadi-manusia)

INTERNALISASI & OPTIMALISASI HANACARAKA
Surabaya, 1 & 2 Desember 2012
Jakarta, 8 & 9 Desember 2012

Dalam tradisi budaya Nusantara, resep sukses itu terangkum dalam istilah cipta, rasa dan karsa. Tiga komponen kata tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan (tritunggal). Pada masa lalu, kemampuan manusia dalam mengolah cipta, rasa, karsa telah menghasilkan peradaban menakjubkan.

Cipta, rasa dan karsa merupakan kekuatan manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Inilah yang melahirkan peradaban besar di masa lalu, sebagaimana ditunjukkan orang-orang yang hidup pada masa Majapahit, Mataram, Singasari, Demak, Sriwijaya,

dll. Begitupula dengan tokoh-tokoh besarnya, seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sultan Agung, Prabu Siliwangi, Wali Songo, Sukarno, Arupalaka, Diponegoro, dll.

Itulah sebabnya, umumnya orang-orang tua dahulu sering mengatakan bahwa apabila kita bisa menyelaraskan 3 komponen kata di atas, maka kita akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan (kemakmuran dan kebahagiaan).

Ketiga komponen (cipta, rasa dan karsa) tersebut merupakan bagian dari sistem kebudayaan Nusantara yang tak terpisahkan dari bingkai utamanya, yaitu spiritualitas.

Dengan metode yang Benar, Sederhana, Praktis, & ilmiah Tridaya Sukses (Cipta, Rasa, & Karsa) anda ini akan diolah dan ditingkatkan dengan maksimal. Sehingga dapat digunakan dengan efektif untuk memudahkan kehidupan anda.

Dalam event Workshop 2 hari di Jakarta tgl. 8 & 9 Desember 2012 nanti. Anda akan mengalami sebuah Moment Penting yang menjadi titik balik bagi anda dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup yang selama ini anda idam-idamkan. Dengan bimbingan dari Grand Master NAQS DNA, yaitu Edi Sugianto, CHt CI MNLP, yang sudah berpengalaman membimbing orang dari berbagai negara untuk merasakan keajaiban Quantum & Alam Bawah sadarnya, yang sebenarnya merupakan Potensi terpendam dari manusia itu sendiri. Potensi-potensi anda yang selama ini masih padam di dalam DNA Anda akan diaktifkan dan ditingkatkan hingga tingkat yang maksimal & optimal.

INFO MATERI WORKSHOP, silahkan klik di sini...

MENU DOWNLOAD :