ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 03 November 2012

Post Power Syndrome Gejala & Solusinya

Dalam sebuah ceramah agama,  seorang ustadz mengatakan bahwa orang yang paling patut dikasihani adalah seseorang yang pernah mengalami kejayaan dalam suatu masa hidupnya. Namun sekarang jatuh bangkrut dan bahkan menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Dia yang dahulu hidupnya serba berkecukupan, memperoleh banyak kemudahan dan serba dilayani oleh para pembantunya. Kini mesti menghadapi itu semua seorang diri. Dulu banyak teman yang datang dan mengaku saudara, sekarang tidak seorangpun yang mau mengakuinya. Orang seperti inilah yang sepatutnya mendapatkan dukungan dari kita, agar mereka dapat lebih tegar dan sabar dalam menghadapi ujian hidupnya.

Dari Ubadah Al-Barra bin Azib ra., Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan yaitu :
  1. menjenguk orang sakit, 
  2. mengiringkan jenazah, 
  3. mendoakan orang yang bersin, 
  4. menolong orang yang lemah, 
  5. membantu orang yang teraniaya,
  6. menyebarluaskan salam dan 
  7. menepati sumpah 
(HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak orang takut menghadapi masa pensiun. Takut kehilangan jabatan, kedudukan, kekuasaan, penghormatan, status, merasa tidak dihargai lagi, merasa tidak dibutuhkan, berkurangnya pendapatan, dan mungkin juga takut kehilangan rumah dinas yang sudah bertahun-tahun ditempati. Ketakutan ini akan menimbulkan berbagai penderitaan yang dialami setelah seseorang memasuki masa pensiun atau yang disebut post power syndrome

Kalau saja kita menyadari bahwa semua yang didapatkan sekarang adalah titipan dari Yang Maha Memiliki pastilah kita tidak akan ketakutan untuk melepasnya. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan, tempat kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal kebaikan untuk mendapat tiket ke surga. Orang yang pandai adalah orang yang menyadari akan datangnya kematian dan mempersiapkan bekalnya untuk menemui Yang Maha Hidup.

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jika mereka mengetahui (QS. Al-Ankabut:64).

Agar tidak mengalami post power syndrome maka kita perlu mempersiapkan diri mulai dari sekarang, sejak masih aktif bekerja, yaaa .. . . dari sekarang.

Alkisah.......
Lelaki paruh baya itu tampak terbaring lemah di atas pembaringannya. Matanya berkaca-kaca ketika bekas koleganya selama dia masih aktif bekerja dulu datang menjenguknya. Melihat yang dijenguk menangis, sang penjenguk yang rata-rata ibu-ibu pun ikut-ikutan menitikkan air mata. Tak pernah terbayang di benak mereka, bahawa kepala sekolah mereka yang dulu begitu garang dan berwibawa di depan anak buahnya, kini tengah terpuruk tertimpa stroke, tak lama setelah ia tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.

Sebutlah namanya Pak Joyo. Usianya masih 60 tahun lebih sedikit. Beberapa tahun lalu, dia menjabat sebagai kepala sekolah X. Ketika ada aturan pembatasan masa kerja kepala sekolah, beliau termasuk yang terkena aturan ini. Ia pun kembali menjadi guru biasa. Kejadian ini cukup membuatnya tertekan karena sebagai orang yang pernah berkuasa, ia tak dapat dengan mudah memposisikan dirinya sebagai anak buah. Tak lama kemudian, ia pun sakit-sakitan dan terakhir ini dia terkena stroke.

Berbeda dengan Pak Hasan, yang juga pensiunan. Setelah pensiun, beliau lebih sibuk mengurus tanamannya. Selain itu, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengantar-jemput cucunya yang masih TK di sekolah. Setelah pensiun, hidupnya menjadi terasa lebih hidup, lebih ceria, dan lebih berwarna.

Yups, inilah dua kondisi yang seringkali dialami oleh pensiunan. Satu dapat menerima dan menikmatinya dengan lapang dada, sedangkan yang satu lagi belum dapat menerima bahwa dirinya sudah tak lagi memiliki kekuasaan seeperti dulu. Hal yang kedua ini disebut sebagai post power syndrome, sindroma setelah kekuasaannya berakhir. Sebenarnya tak hanya pada bekas orang yang memiliki kekuasaan saja, tetapi sindroma ini juga bisa menimpa orang-orang yang pernah berjaya pada masa lalu, misalnya pada bintang cilik yang cemerlang pada zamannya tetapi ketika dewasa tidak lagi dikenal, atau pada artis yang pernah begitu laris pada ketika mudanya tetapi tak lagi dapat job saat usia telah beranjak tua. Semua orang bisa berpotensi terkena post power sindrome.

Banyak orang yang terkena post power syndrome ini setelah masa kejayaannya berakhir. Gejala paling sederhana, adalah ketika dia lebih suka bercerita mengenang masa lalunya yang penuh kejayaan daripada menghadapi hari-hari yang tengah dihadapinya. Atau, justru ia menjadi orang yang sedemikian menutup diri dari lingkungannya karena merasa ia tak lagi memiliki kekuasaan sehingga orang lain tak mau menghargai dirinya. Ia menjadi orang yang pemurung dan mudah tersinggung, juga selalu menganggap negatif semua hal yang terjadi di sekitarnya.

Memahami Post-Power Syndrome
Post-power syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrom yang menyerangnya akan semakin parah.

Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi. Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan dideritanya.

Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.

Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.

Gejala
Beberapa gejala dari post-power syndrome biasanya dapat dibagi ke dalam 3 kelompok:
  1. Gejala fisik ; misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah dan tampak kurang bergairah, sakit-sakitan. 
  2. Gejala emosi ; misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah.
  3. Gejala perilaku ; misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, atau menunjukkan kemarahan dan kekecewaan baik di rumah maupun di tempat umum.

Turner & Helms (dalam Supardi, 2002) menggambarkan penyebab terjadinya post power syndrome dalam kasus kehilangan pekerjaan yakni
  1. kehilangan harga diri- hilangnya jabatan menyebabkan hilangnya perasaan atas pengakuan diri); 
  2. kehilangan fungsi eksekutif- fungsi yang memberikan kebanggaan diri;
  3. kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki arti dalam kelompok tertentu; 
  4. kehilangan orientasi kerja; 
  5. kehilangan sumber penghasilan terkait dengan jabatan terdahulu. Semua ini bisa membuat individu pada frustrasi dan menggiring pada gangguan psikologis, fisik serta sosial. 

Ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome
Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome di antaranya adalah mereka yang senang dihargai dan minta dihormati orang lain, suka mengatur, 'gila jabatan', menuntut agar permintaannya selalu dituruti, suka merasa lebih unggul daripada yang lainnya, dan suka dilayani orang lain. Orang-orang yang menaruh arti hidupnya pada prestise jabatan tertentu juga rentan terhadap syndrome ini. Istilahnya orang yang menganggap jabatan, gelar, pangkat, atau kekuasaan itu adalah segala-galanya atau merupakan hal yang sangat berarti dalam hidupnya. Secara ringkas mereka ini disebut sebagai orang-orang dengan need of power yang tinggi. Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya sehingga sebenarnya selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, melalui jabatannya dia merasa ”aman”.

Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap apa makna dan tujuan ia mengabdi, bekerja, dan berkarya, pengalaman selama bekerja, pengaruh lingkungan keluarga, dan budaya. Syndrome ini mampu mempengaruhi konsep diri seseorang, membuat seseorang merasa kehilangan peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi berubah sehingga dapat menurunkan harga diri.

Penanganan
Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome.

Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.

Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya, atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya, meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.

Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.

Cerdas Menghadapi “Post Power Syndrome”
Post Power Syndrome tak akan menghinggapi kita jika kita menganggap kekuasaan yang sedang kita pegang ini hanyalah sementara. Jika hanya sementara, maka kita tak akan mengejar kekuasaan itu dan bahkan menyalahgunakan kekuasaan itu untuk kepentingan dirinya sendiri.

Selain itu, saat kita sedang berjaya, kita mestilah menyediakan rencana cadangan jika tak lagi memiliki jabatan. Paling tidak, kita memiliki rencana tentang apa yang akan kita lakukan jika masa kekuasaan itu berakhir. Untuk yang purnatugas bisa merencanakan kegiatan hariannya.

Tetap bergaul seperti biasa. Bergaul merupakan salah satu ciri kita sebagai makhluk sosial. Kalau kita mengasingkan diri, tentu kehidupan kita akan terasa suram. Beberapa orang mungkin akan berubah sikap ketika kita tak lagi punya kekuasaan. Tetapi yakinlah, akan banyak orang yang lebih menghargai kita ketika kita mampu untuk tetap bersosialisasi. Bahkan, akhirnya kita tahu mana orang yang tulus, mana orang yang tak tulus terhadap kita.

Melakukan kegiatan bermanfaat yang dulu tak bisa sering kita lakukan. Tanpa kekuasaan, mungkin kita akan memiliki pemasukan yang lebih sedikit. Namun, tanpa kekuasaan, kita jadi punya lebih banyak waktu luang. Jika dulu kita tak sempat untuk sekadar berhandai-handai dengan tetangga atau keluarga, sekarang waktu yang terluang lebih banyak sehingga kita bisa melakukan apa yang dulu tak kita lakukan.

Menghadapi semuanya dengan sudut pandang positif sangatlah penting. Dengan demikian, kita terhindar dari sikap berburuk sangka yang justru bisa merusak nood kita. Kita pun tetap bahagia dengan apa yang kita punya sekarang.

Kekuasaan bukanlah segalanya. Berakhirnya kekuasaan juga bukan akhir segalanya. Banyak orang yang tak bisa mengatasi post power syndrome, tetapi banyak pula yang cerdas menghadapinya sehingga hidupnya menjadi lebih baik meskipun tak lagi berjaya. Semuanya tergantung pada caranya menghadapi kenyataan.

Referensi :
  • Unit Psikologi Rehab Medik RSDS (http://www.suyotohospital.com) 
  • Dianingtyas KH.(http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/02/13/cerdas-menghadapi-post-power-syndrome/)