ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 05 Desember 2012

NGELMU MANUNGGALING KAWULO GUSTI 'ALA NLP

KUNCI NGELMU MANUNGGALING KAWULO GUSTI
Kuncinya adalah bukan melebur tetapi menyatu. Roro ning atunggil, Dua tetapi satu.

Untuk mengenal diri, kita harus menjadi pengamat diri. Ini artinya merasa terpisah dari diri. Disosiasi terhadap diri sendiri.

Demikian juga utk mengenal Allah, kita harus menjadi hamba Allah dan khalifatullah. Atau menjadi bayanganNya. Dan bukan menjadi Allah.
Dalam Suluk Kaderesan, Sunan Bonang menulis:
Jangan meninggikan diri
Berlindunglah kepada-Nya
Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh
Jangan bertanya
Jangan memuja para nabi dan wali-wali
Jangan kau mengaku Tuhan.

Dalam Suluk Ing Aewuh ia menyatakan:
Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal
Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia
Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan
Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul
Kau adalah pancaran kebenaran ilahi
Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.

ASOSIASI atau DISOSIASI. Apa itu?

Asosiasi bisa kita ibaratkan sedang bermain game dan melihat dari mata jagoannya (orang pertama), sementara dengan Disosiasi kita dapat melihat seluruh tubuh tokoh jagoannya (orang ketiga).

Pemahaman sederhananya:

ASOSIASI: kita terlibat langsung di dalam apapun yang kita bayangkan. Saat kita ter-Asosiasi, kita sepenuhnya terlibat dalam pengalaman tersebut. Karenanya emosi kita pun menjadi lebih terlibat dan lebih besar.

Anda SEKARANG berada di dalam bayangan Anda tersebut, artinya Anda sedang MENGALAMI-nya, melihat dari mata sendiri, dan bisa merasakan Anda bergerak di dalamnya.

Jadi, bila anda merasa Associated dg Allah, atau manunggal dalam pengertian melebur. Maka itu artinya saat itu anda menjadi Allah, merasa sebagai Allah, melihat sebagai Allah, mendengar sebagai Allah, dan bertindak sebagai Allah, Atau anda sedang berperan sebagai Tuhan dan menjadi Tuhan..

DISOSIASI : kita melihat diri kita dari sebuah jarak tertentu berada dalam sebuah situasi.

Saat anda menyadari keberadaan sesuatu, itu artinya anda sedang dissociated terhadap sesuatu tersebut.

Dan saat anda tidak menyadari kehadiran sesuatu, itu artinya anda sedang associated (lebur) terhadap sesuatu tersebut.

Saat anda menyadari diri anda........ anda sedang dissociated terhadap diri anda.
Saat anda tidak menyadari diri anda........ anda sedang Associated terhadap diri anda.

Saat anda menyadari adanya Allah........ anda sedang dissociated terhadap keberadaan Allah.
Saat anda tidak menyadari adanya Allah........ anda sedang Associated terhadap keberadaan Allah.

Nah, manakah yang benar dalam bersikap....??  Dissociated untuk kemudian Associated.
WALLAHU A'LAM..................
Footnote :

Ada sebuah hadits qudsi yang terkenal. Disebutkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda: Allah SWT telah berfirman, 

Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, dia berarti telah memaklumkan agar Aku memerangi dirinya. Tidaklah seseorang bertaqarrub kepada Diri-Ku yang lebih Aku sukai seperti saat dia menunaikan apa saja yang telah Aku wajibkan kepada dirinya. Seorang hamba senantiasa bertaqarrub kepada Diri-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintai dirinya. 

Jika Aku telah mencintai dirinya :
  1. Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu dia mendengar; 
  2. menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat; 
  3. menjadi tangannya yang dengan itu dia menyerang; 
  4. menjadi kakinya yang dengan itu dia melangkah. 
  5. Jika dia memohon kepada Diri-Ku, niscaya Aku mengabulkan doanya. 
  6. Jika dia memohon perlindungan kepada Diri-Ku, pasti Aku akan melindungi dirinya.” 
(HR al-Bukhari).

SULUK JEBENG

Betapa besar pun rindu kepada Allah
sesungguhnya mustahil, wahai anakku,
menyusunnya dalam puisi.
Sekedar ingin menjadi orang mulia
dengan baris-baris ini, wahai anakku,
ingin kukenali Allah
Si Maha Besar. Aku melihat-Nya, wahai anakku,
lihatlah aku
pasti aku pun melihatmu.

Apabila ingin mengenal Allah, wahai anakku,
pandanglah dirimu baik-baik

sebagai pengganti-Nya.
Namun janganlah salah paham
jasmanimu itu hanya makhluk
yang mirip dengan Allah.
Kalau dipandang, persis sama
namun dalam tauhid haruslah waspada
hal itu ibarat debu dengan tanah, wahai anakku,
atau seperti degung dengan suaranya.

Bagai sebutir telur
yang bergelindangan, wahai anakku,
tak ada tepinya
sungguh membingungkan,
akhirnya menjadi ayam
lengkap dengan bulunya.
Kalau diterangkan, wahai anakku,
hendaklah engkau berhati-hati
sebab hal itu rumit,
hendaklah diteliti
sebab hal itu sulit.

Yang membingungkan dari dunia ini
menurutku, wahai anakku,
adalah dalam memahami
rupa Tuhan.
Bagaimana sebenarnya rupa Tuhan?
dibandingkan dengan manusia, ibarat cempedak
dengan nangka kelihatannya.
Seperti dukun dan bayotan
tak berbeda, rupanya seimbang
seperti kembang kelak dan kembang kenanga.

Antara Nabi dengan dirimu tiada beda
wahai anakku, tapi kau harus waspada
antara perbedaan dan persamaannya
ibarat senyum dengan tertawa,
harus ditatap secara cermat.
Sukma di dalam dirimu
amat halus terlihat.
Bukan ruh dengan jasad, wahai anakku,
bunga itu rupamu
Tuhan bau harumnya, kamu jangan bingung!

Sungguh nyata diri kita, wahai anakku,
berasal dari tiada
untuk kembali tak ada.
Banyak orang berguru
memuliakan ajaran ini
dengan pemahaman yang setengah-setengah,
demikian juga yang menerimanya
bingung ada yang keluar dari tak ada
dan kembali ke tak ada,
kebingungan itu dipuja-puja!

Wahai anak! Jangan hanyut kiranya
ikut-ikutan mengatakan tak ada,
padahal tak tahu yang sebenarnya
hal demikian sudah biasa.
Bukan begitu kata ilmu sempurna
tak demikian yang dinyatakannya,
ilmu itu susah diterangkan.
Di matamu tumpang tindih kelihatannya,
maka pahami secara seksama, wahai anakku,
perbaiki sikapmu itu!

Laksanakan shalat sehakikinya, wahai anakku,
shalat itu tiga tingkatannya
dengan keutamaannya serta.
Jadi, yang dinamakan sembah puji itu
laksana air mengalir dari gunung
masuk ke dalam samudera.
Sembah seseorang
janganlah hanya berhenti di kolam sawah,
itu mandeg namanya
tak mencapai tujuannya.

Dalam shalat hendaklah khusyuk tuntas
seperti mengaduk air dalam belanga
wahai anakku, demikianlah.
Seperti pucuk daun adanya,
yang muncul dengan sendirinya
dari tiada menjadi ada,
laksana tanah dan air
laksana akar meneteskan air.
Dirimu pun adalah manusia
yang menyongsong ajalnya.

Puncak ilmu yang sempurna
ibarat api yang berkobar,
kenalilah bara dengan nyalanya
kenalilah cahayanya
pun asapnya
sebelum menyala!
Adapun setelah padam ia
diliputi segala rahasia,
jadi hendak bicara apa?

Kau jangan mempertuhan diri!
Berlindunglah kepada-Nya.
Di dalam ruh jasad yang sesungguhnya
janganlah ada yang dipersoalkan,
Nabi dan Wali tak usah diperhatikan,
jangan mengaku Tuhan
jangan mengira tak ada,
lebih baik diam saja.
Ingat, wahai anakku, jangan guncang
dalam kebingungan.

Yang sempurna ibarat orang tidur
bersama wanita sampai bersenggama
keduanya terlena
tenggelam dalam cinta.
Wahai anakku, terimalah dengan baik
dalam pemahamanmu,
ilmu itu memang sukar,
kebatinan dengan Islam,
sekalipun begitu ada lagi
paham itu kadang diikuti.

Adapun orang yang mengaku memilih,
tahukah apa yang di dalam hati?
Wahai anakku, ingatlah mati
melanggar larangan itu salah.
Jiwa tergenggam di tangan Tuhan
dan selamanya bersama Tuhan.
Itu ibaratnya
dalang yang sedang memainkan wayang,
senantiasa memulai dengan memainkan wayang,
lantaran sebenarnya ia belum menjadi dalang.

Ada ajaran yang lebih utama
ada besi ditanam dalam tanah
pikirkan tumbuhnya.
Wahai anakku, kalau minta dijelaskan gaib itu ibarat air hanyut
tak diketahui asal usulnya,
seperti menanam batu
seperti orang tidur.
Engkau ditanam oleh Tuhan
kalau tak tumbuh alangkah sayangnya!

Kalau tumbuh, tumbuhlah kukuh!
Engkau ini orang pinggiran
tinggal di dusun,
namun aku melihatmu.
tapi siapa pun engkau
hendaklah tahu yang dituju.
Karib di sisi Tuhan
ibarat hujan, ke tanah jua jatuhnya
ibarat ular, menetaskan telurnya.

Sukma manusia, Nabi, Wali,
ingat nak, pengetahuan itu!
Jangan oleh benda engkau terkesima,
kembalilah menyibukkan diri
menghadap Allah yang Welas Asih.
Bahkan jadikan Ia saudaramu
yang Maha Luhur,
berteman dengan Tuhan
sampai akhirnya menemukan
hikmah persahabatan!
Kalau kemari kupeluk erat engkau
wahai anakku, sebab Allah besertamu!
Ke mana pun engkau pergi
Allah maha mengetahui
hamba-Nya yang sanggup menguasai diri,
memegang badan
akhirnya menyatu dengan Tuhan.
Ketika itulah Ia berfirman,
jangan pegang Aku
peganglah dirimu!

O Nak, tataplah dirimu
maka tampak aku di penglihatan itu.
Demikianlah yang benar,
jangan pegang aku
pegang dirimu sendiri.
Maka kutegaskan lagi,
jangan cari aku
itu melanggar,
kalau diri sendiri tak kau genggam
engkau sungguh dalam kesesatan.

Diibaratkan lagi yang dalam kesesatan, anakku,
yakni seperti orang yang memuja wayang.
Mana kebenaran?
Hadirnya dalang,
sebab diundang memainkan wayang.
Demikian keadaannya
tak ada yang terlihat
Allah lebih mulia.
Mestinya diri sendiri yang dipandang
seperti berkaca di paesan.

Bayang-bayang diamati secara seksama
anakku, hal itu tiada beda,
di situ juga aku berada.
Badan akan jadi mulia
segala gerak menjadi puja
tertawa menjadi sembah
kalau berbicara ditaburi anugerah.
Semua tingkah laku jadi puji
puji memuji sendiri.

Wahai anakku, taati nasihat ini
Allah lah yang dibicarakan
yang kufur yang kafir, semuanya
dilihat oleh-Nya.
Anakku, seperti merampas uang,
itulah perampokan!
Banyaknya yang orang keliru
menandai banyaknya perampokan,
yang kaya akhirnya ditipu
oleh yang merampas.

Banyak orang kekal di neraka
anakku, hati-hatilah!
Perhatikan keberadaan badan ini,
badan tempat persemayaman Sang Raja
dan tempat menyimpan harta kekayaan,
periksalah olehmu
bahwa aku berada di situ!
Adakah kekurangan Sang Raja itu?
Orang pilihanlah yang tahu pengawalnya
di tempat penyimpananya.

Tak kentara ia yang telah sampai pada inti
tak meraba-raba ilmunya.
Anakku, meski begitu ada perumpamaan
laksana semut yang berjalan
bekas kakinya tak ada yang tahu
ada atau tidaknya
karena teramat halusnya.
Ibarat orang menumbuk air
sudah halus ditumbuk dikunyah lagi
sampai giginya patah.

Pun yang kelihatan, wahai anakku,
coba perhatikan
karya yang sekadar untuk didendangkan ini
ikut-ikut menyusun puisi
tanpa menginsyafi kecanggungannya
memaksa diri untuk berceritera
jadi bingung akhirnya
dalam mengerjakannya,
jadi, mohon maaf segala yang disajikan
mohon maaf sebesar-besar pemaafan.

- Diambil dari buku “Suluk Pesisiran”, Mizan 1989
- Dari naskah Suluk Cirebonan (Lor 7375)