ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Kamis, 28 Februari 2013

Bahaya Trawangan (Mind Reading) Dalam Therapy

CLIENT CENTERED THERAPHY & PANTANGAN THERAPIST PROFESSIONAL

Yang membedakan seorang Therapist Professional (Mempunyai background pendidikan Resmi) dan yang bukan, adalah dalam hal ini. Yaitu Menerawang atau Mind Reading.... Ini adalah hal yang pantang dilakukan oleh seorang therapist professional.

Seorang therapist tidak boleh melakukan Mind Reading terhadap kondisi Kliennya. Karena hal ini akan mengurangi keakuratan dalam sesi pengumpulan Informasi di awal sesi terapi.

Therapist juga dilarang berprasangka yang dapat menjadikan sesi therapinya menjadi bias. atau mengarahkan pasien sesuai prasangka terapist....

Dalam sesi awal terapi, terapist harus dapat menggali informasi yang cukup berdasarkan keterangan klien. Sehingga diperoleh data yang akurat dan luas.

Setelah diperoleh cukup informasi, Barulah strategy terapy yg tepat dapat diberikan sesuai dengan kondisi klien...

Oleh karena itulah seorang terapist harus juga mempunyai Tools terapi yg cukup bervariasi. Sehingga dapat menghadapi kondisi klien yg beragam....

Karena kita baru dapat menentukan strategi terapi yg tepat sesuai dengan keunikan klien, setelah kita berjumpa dengannya....

BAHAYA MENERAWANG/TRAWANGAN (MIND READING)
Tema ini sebenarnya sudah sering saya tulis, namun sekedar untuk menyegarkan ingatan kita kembali. Maka akan saya ulas kembali....

Bahaya dari trawangan adalah :
  1. Sesi Therapy berubah menjadi Therapist centered, dan bukan Client Centered. Yang mana hal ini akan melemahkan posisi klien dalam sesi terapi tersebut.
  2. Klien jadi menuhankan terapist, dan Therapist menjadi sombong. Kegiatan trawang menerawang biasanya juga akan menyebabkan terapist menjadi suka membual dan suka berbohong... apapun akan dilakukan yang penting dapet duit....
  3. Menerawang biasanya berlanjut dengan MeRamal. Sedangkan kegiatan ramal meramal dalam Islam merupakan larangan.
  4. Mengarahkan klien sesuai prasangka terapist, dan inilah termasuk bahaya terbesar dari menerawang dan meramal. Padahal apa yg dilihat dalam trawangan, belum tentu benar 100%, itu mungkin baru satu kemungkinan dari sejuta kemungkinan yg bakal terjadi.
Dalam Hukum Fikiran, tersebutlah suatu hukum yg disebut Fullfilling Prophecy, atau ramalan yang menjadi kenyataan karena prasangka kita yg kuat terhadapnya.

Juga ada yang disebut Efect Placebo & Nocebo, Dimana  sesuatu yang dipercayai kebenarannya oleh pikiran akan mempunyai pengaruh serta efek terhadap dunia fisik.

Dalam fisika Quantum juga dikenal dengan fenomena Participating Observer, dimana seorang pengamat sangat menentukan kejadian di dimensi energy.

Yang artinya, contohnya, bila anda meramalkan bahwa seseorang sakit jantung. Padahal diagnosa dokter tidak menyatakan demikian. dan bila hal ini dipercayai oleh klien anda. Maka, Fokus dari pikiran klien adalah tertuju pada sugesti anda. Dan ini mengarahkan energy klien untuk menciptakan peristiwa yg sesuai dengan fokus pikirannya tersebut, sehingga tidak lama kemudian klien akan mengalami sakit jantung sesuai yg anda ramalkan. Padahal hal itu terjadi belumlah tentu karena ramalan anda tepat. Tetapi hal itu justru terjadi sebagai akibat dari adanya ramalan anda..... Demikian juga bila anda meramalkan masa depan seorang klien, dll....

Oleh karena itu, berhati-hatilah....

Ingat...!!!
Rejeki itu sumbernya dari Tuhan, dan yakinlah Tuhan akan memberikan yg terbaik untuk kita bila kita selaras dengannya.... Dan, rejeki yang baik itu, bila dimakan nikmat, di hatipun tenang.... Hidup kitapun menjadi tentram....

Contoh sesi Therapy Jarak Jauh by Phone yang menggunakan pendekatan Client Centered.

REFRAMING Mental Block "HUTANG" Menjadi BerDamai dengan Hutang.
Baru saja ada sdr. Ian dari Padang yg curhat via telfon. Intinya, kehidupannya sekarang kacau balau, habis kena tipu anggota DPR gadungan di jakarta hingga ratusan juta rupiah, dan dia minta ilmu pukulan jarak jauh yg mau digunakan utk menghantam orang yg telah menipunya itu.

Menjawab persoalan yg demikian, maka langkah pertama yg saya lakukan adalah meReframe persepsi pikirannya agar mempunyai pola fikir yg baik serta benar...

Baru kemudian saya adakan penggalian informasi untuk mendalami permasalahannya... Dan akhirnya ketemulah dg salah satu mental blocknya...

Dalam keyakinannya, dia telah diramalkan bahwa hidupnya tidak akan pernah lepas dari hutang. Yang artinya menurut dia. Apapun usaha yg dia lakukan akan berakhir dg kegagalan dan meninggalkan hutang yg banyak. jadi, punya hutang identik dg kebangkrutan dan kemiskinan...

Nah...
Dalam sesi singkat jarak jauh seperti ini tentu saya tidak dapat melakukan intervensi klinis yg lebih dalam... Jadi saya gunakan tekhnik Reframing & Utilisasi Believe, sebagai langkah darurat utk membantunya...

Pertama saya bilang bilang begini, "Siapa bilang yg punya hutang itu pasti orang miskin. Bukankah semua pengusaha dan bisnisman itu duitnya berasal dari hutang di Bank...? Jadi punya hutang itu tidak identik dg kemiskinan dan kebangkrutan, bukan...?'

Kemudian saya bilang lagi,"kalau memang dalam keyakinan anda menyatakan bhw hidup anda tidak bisa lepas dari hutang. Yo...sekalian aja jadikan itu kekuatan anda. Silahkan anda hutang ke Bank. Tapi lakukan dg manajemen yg baik. Langkah itu punya dua arti. Pertama sekedar melengkapi persyaratan yg ada dalam ramalan. Jd anda hutang sekedar sebagai syarat saja, dan untuk itu khan hutangnya ndak perlu besar. 100rb juga sdh cukup, untuk menggugurkan efek negatif dari ramalan tadi.... Kedua, seandainya anda memang punya bisnis. Maka duit itu bisa dijadikan modal..."

Nah..
Mendengar dua saran saya di atas. Nampaknya dia memperoleh cukup pencerahan.....

Ya...
Semua keruwetan hidup itu memang bermula dari hati dan pikiran yg ruwet... Maka jernihkan pikiran dan beningkan hati.. Agar kehidupan kita Juga semakin cerah...

Nb.
Dialog ini terjadi pada hari Rabu, 27 February 2013. Pukul 21.43 WIB. Durasi percakapan : 27 menit 28 detik.

CLIENT CENTERED THERAPHY
Seorang wanita paruh baya datang dengan ke ruang praktik psikolog karena memiliki masalah dengan kehidupan rumah tangganya. Ketika sang wanita akhirnya menemui psikolog tersebut, ia mencurahkan segala keluh kesahnya kepada psikolog tersebut. Kemudian, wanita itu pun bertanya, “Apa yang seharusnya saya lakukan?”

Psikolog itu tersenyun, hangat. Kemudian, dengan sebuah suara yang membesarkan hati, ia pun berkata, “Begitu…sepertinya saya paham mengenai apa yang Anda alami. Kalau dalam pandangan Anda sendiri, apa yang akan Anda lakukan?”

Apa yang psikolog itu lakukan pada dasarnya merujuk pada prinsip client-centered theraphy. Client-centered theraphy (CCT), dikenal juga dengan Person Centered theraphy, adalah terapi yang dipelopori oleh psikolog humanistis Carl Cogers.

Prinsip dasar dari terapi ini adalah penekanan pada penggunaan prinisp nondirective. Dengan kata lain, terapis mencoba meminimalisasi memberikan arahan dan tuntunan kepada klien, karena dalam CCT, klien dipandang sebagai individu yang memiliki kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri (actualizing tendency) dan potensi berkembang yang kreatif.

Terapis harus berasumsi bahwa terapi umumnya berlaku untuk siapa pun, terlepas dari label diagnostik, bertumpu pada keyakinan bahwa orang itu mempunyai ekspresi diri antara diri dan gangguan, diri dan lingkungan (Mearns, 2003)

Oleh karena itu, terapis perlu bertindak sebagai cermin bagi klien, agar klien dapat lebih mengenal dirinya, menerima diri sendiri, dan kemudian dapat mempersepsikan keadaannya yang sekarang (atau disebut juga dengan reflection of feelings) (Sundberg et al., 2002).

Menurut Raskin (dalam Corsini & Wedding 2001), tujuan dari sebuah terapi nondirective “dicapai oleh klien bukan dari penjelasan mengenai masa lalu, yang akan ditolak klien untuk diinterpretasi,dan kalaupun diterima akan mengurangi penerimaan terhadap penyesuaian pada masa kini, tapi alih-alih, melalui pengalaman yang dialami pada masa sekarang”.

CCT tidak memiliki metode atau teknik yang spesifik; sikap-sikap terapis dan kepercayaan antara terapis dan klienlah yang berperan penting dalam proses terapi. Dalam CCT, terapis membangun hubungan yang membantu, di mana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Terapis memandang klien sebagai narator aktif yang membangun terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. Dalam menjalankan CCT, terapis perlu memiliki sejumlah kemampuan dasar, seperti mendengarkan klien secara aktif, merefleksikan perasaan klien, dan kemudian menjelaskannya (Corsini & Wedding, 2011).

Dalam rangka mencapai keberhasilan CCT, Rogers berpendapat bahwa ada dua kondisi inti yang harus dipenuhi: Congruence dan Unconditional Positive Regard (Corsini & Wedding, 2011).

Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman tersebut. Sementara itu, Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan, tanpa menghakimi dan menerima klien baik maupun buruk (Sundberg et al., 2002; Corsini & Wedding, 2011)

Terapis juga perlu mengembangkan persepsi akurat tentang perasaan klien atau empati terhadap internal frame of reference klien (Sundberg et al., 2002; Corsini & Wedding, 2011).

Lebih lanjut, terapis memiliki peran sebagai fasilitator pasif yang mendorong klien untuk bertanggung jawab dalam menentukan arah atau tindakannya sendiri dengan menciptakan iklim terapeutik, terapis menggunakan perasaannya dalam menghadapi klien (Corsini & Wedding, 2011), terapis menjadi observer menggunakan seluruh inderanya (Capuzzi & Gross, 1991).

Mekanisme terapeutik senditri berlandaskan atas Pribadi-ke-Pribadi dalam keamanan dan penerimaan, yang mendorong klien menanggalkan pertahanan-pertahanannya serta menerima dan mengintegrasikan aspek-aspek sistem dirinya yang sebelumnya diingkari atau didistorsi. (Zimring, 2000). Diharapkan setelah mengikuti terapi yang sukses, klien dapat memandang, memikirkan, dan menghargai diri sendiri dengan lebih baik (memiliki self concept positif), dapat menilai diri mereka sendiri tanpa terlalu terpaku pada pandangan orang lain (memiliki locus of evaluation internal), dan mengubah pola pandangnya dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka (mengalami proses experiencing) (Corsini & Wedding, 2011)

Berikut adalah proses dari sebuah psikoterapi client-centered.
  • Wawancara awal digunakan untuk menjelaskan apa yang akan dilakukan terapi dan apa yang diharapkan dari klien, sekaligus mengetahuai apa yang menjadi masalah klien,
  • kemudian penegakkan diagnosis,
  • selanjutnya menentukan apakah klien dapat diobati apa tidak (Natiello, 1994).
Terapis bersama klien mendiskusikan apa yang telah dipelajari klien selama terapi berlangsung, dan aplikasi pada kehidupan sehari-hari.

Terapi dapat berakhir jika :
  1. tujuan telah tercapai, 
  2. klien tidak melanjutkan lagi, 
  3. atau terapis tidak dapat lagi menolong kliennya (merujuk ke ahli lain). 
Adapun proses psikoterapi sendiri perlu mempertimbangkan tiga karakteristik dari sebuah terapi menurut Corey (2009), yakni:
  1. Proses, yang melibatkan interaksi dua pihak formal, profesional, legal, dan etis; 
  2. Tujuan terapi, yakni perubahan kondisi psikologis individu menjadi pribadi yang positif; dan 
  3. Tindakan terapi, yang berdasakan ilmu (teori), teknik, dan kemampuan yang formal.
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client-centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.

Ciri-Ciri Pendekatan Client Centered

Berikut ini uraian ciri-ciri pendektan Client Centered dari Rogers :
  1. Client dapat bertanggung jawab, memiliki kesanggupan dalam memecahkan masalah dan memilih perliku yang dianggap pantas bagi dirinya.
  2. Menekankan dunia fenomenal client. Dengan empati dan pemahaman terhadap client, terapis memfokuskan pada persepsi diri client dan persepsi client terhadap dunia.
  3. Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkana bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterapi itu bersifat konstrukstif dimana dampak psikoteraputik terjadi karena hubungan konselor dan client. Karena hal ini tidak dapat dilakukan sendirian (client).
  4. Efektifitas teraputik didasarkan pada sifat-sifat ketulusan, kehangatan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat.
  5. Pendekatan ini bukanlah suatu sekumpulan teknik ataupun dogma. Tetapi berakar pada sekumpulan sikap dan kepercayaan dimana dalam proses terapi, terapis dan client memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbunhan.
Demikianlah tips kali ini, semoga bermanfaat...

SALAM SEHAT...
DAFTAR PUSTAKA
Capuzzi, D., Gross, D.R. (1991). Introduction To Counseling: Perspektives for The 1990s. Boston: Allyn and Bacon.
Corey, Gerald. (2009). Konseling dan Psikoterapi. PT Refika Aditama.
Corsini, R.J. &Wedding, D. (2011). Current Psychotherapies. Ed. 9. Belmont: Brooks/Cole.
Mearns, D. (2003). Problem-centered is not person-centered. Person-Centered and Experiential Psychotherapies, 3(2), 88–101.
Natiello, P. (1994). The collaborative relationship in psychotherapy. The Person-Centered Journal, 1(2), 11–17.
Passer, M., Smith, R. E. (2007). Psychology. New York. McGraw-Hill.
Sundberg, N.D., Winebarger, A.A., Taplin, J.R., (2002). Clinical Psychology. Evolving Theory, Practice and Research. New Jersey: Prentice Hall.
Zimring, F. M. (2000). Empathic understanding grows the person. Person-Centered Journal, 7(2), 101–113.