ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 22 Mei 2013

MITOS VS ANTI MITOS | Programmer Vs Hacker | Metafora Hypnosis

MITOS VS ANTI MITOS | Programmer Vs Hacker | Metafora Hipnotis

Bila anda memperhatikan dunia metafisika Tradisional. anda pasti akan sering berhadapan dengan suatu mitos yang kemudian mempunyai lawan berupa mitos yg lainnya pula. Sebuah mitos ditentang dengan sebuah mitos yg lain...heheehehe...

Cth. Mitos mengenai Pring Pethuk (Bambu temu ruas), bila anda perhatikan. yang menjadi inti dari mitos ini adalah sebuah bambu yg tumbuh secara anomali sehingga ada dua mata tunas yg tumbuh secara berhadapan padahal secara normalnya semua mata tunas haruslah menghadap ke atas....

Nah, karena benda ini sulit dicari. Maka munculah banyak pemalsu. dan akhirnya muncul pula metode utk mengetest ke asliannya.... dan semua inipun hanya mitos juga. Karena, seandainya anda mempunyai benda yg asli hasil temuan anda sendiri secara langsung di alam. Belum tentu bambu anda juga akan lolos dari metode test ini.... walaupun bambu anda jelas-jelas asli.... hehehehehe...

Mitos selalu punya anti mitos, Ini bagaikan Programmer Vs Hacker... hehehehe...

MITOS VS ANTI MITOS SEPUTAR MANI GAJAH

Cerita Legenda Asal Mani Gajah (MG) :
Dikisahkan bahwa Mani Gajah ini berasal dari wilayah Sumatra dimana disanalah tinggal Suku Anak Dalam (Suku Kubu) yang tinggal masih dalam satu wilayah dengan habitat hidup gajah. Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi. [http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Kubu]

Legenda ini berawal dari konon ceritanya ada seekor gajah sebagai raja di habitat gajah tersebut .Suku anak dalam (Kubu) menyebutnya dengan nama GAJAH TUNGGAL, karena gajah tersebut lebih suka menyendiri.

Masa perkawinan gajah tersebut datang saat bulan purnama tiba. Saat Bulan Purnama berkumpulah para betina, dan terjadilah perkawinan antara Raja Gajah tersebut dengan para betina tersebut. Rupanya kebiasaan masa kawin raja gajah ini selalu diamati oleh Suku Anak Dalam. Ada kebiasaan si Raja Gajah adalah, setelah perkawinan terjadi biasanya dia akan memeriksa sisa-sisa sperma yang berceceran dan jatuh ke tanah. Bila kedapatan dia segera menguburnya dengan teliti dan setelah yakin bersih dia akan pergi bersama rombongannya. Saat rombongan Gajah itu pergi segeralah organg-orang yang mengintip tadi berlari dan memberi tanda pada tempat dimana sang gajah mengubur mani/sperma nya itu. Mereka yg berhasil menggali kembali kuburan mani gajah itu biasanya akan mendapatkan Mani Gajah yg Sudah Mengkristal lembut, dan semakin lama, semakin mengeras menjadi batu. Yang mengeras dan akhirnya membatu karena bersenyawa dengan lingkungan inilah yang akhirnya disebut Mani Gajah (MG).

Sejak dahulu mani gajah dipercaya sebagai sarana alami untuk pelet Tingkat Tinggi dan sudah teruji keampuhannya. Dan jika Ditambah dengan tekhnik khusus maka efeknya akan semakin khusus dan Tajam...!!! atau bisa juga digunakan untuk pengasihan umum, siapapun yang melihat dan berbicara bersama anda akan merasa nyaman dan adem.

Selain fungsi pelet/pengasihan seperti yang disebutkan di atas, kristal mani gajah ini juga bisa digunakan untuk menarik pelanggan, menarik perhatian dari atasan/ rekan kerja, membuat klien setia membeli produk kita dan untuk entertainer membuat setiap yang melihat anda akan takjub karena aura yang terpancar. Dan bahkan dapat digunakan sebagai media kejantanan untuk mendongkrak kemampuan Sex, baik bagi pria ataupun kaum wanita yang menderita penyakit frigiditas atau dingin dalam hal sexualitas.

MASIH DUNIA MANI GAJAH & SIMBOL SEX DALAM PENJUALAN
Dalam mitos yg beredar di suku Kubu Sumatera, walaupun Kristal Mani Gajah secara alami sudah mempunyai Getaran Aura Alami Yang khusus terkait dengan Daya Pengasih & Daya Pengaruh terhadap orang lain.... Tetapi untuk mengaktifkannya, haruslah melalui ritual tertentu.... Salah satu contohnya adalah memasukkan kristal mani gajah ke mulut ayam, kemudian ditunggu hingga kristal itu keluar bersama kotoran ayam. barulah kekuatan kristal tersebut aktif..... Hiiii... kayak proses bikin kopi luwak... hehehehehe.....

Namun dengan tekhnik yg saya kembangkan, menurut salah seorang pakar batu mustika. Ternyata hal itu sudah cukup powerfull untuk mengaktifkan potensi Kristal Mani Gajah, Ini katanya lho... entah kata anda... hahahaha....

SIMBOL SEX DALAM PENJUALAN
“Does sex sell?” itulah pertanyaan utama yang dilontarkan Tom Reichart dalam bukunya “The Erotic History of Advertising” (2003).

Reichert menulis seks dan periklanan merupakan kombinasi yang mumpuni. Kenapa mumpuni? Pertama, seks merupakan kekuatan instingtif dalam diri manusia yang luar biasa. Bahkan, pada taraf tertentu, seks menjadi daya dorong akan kebutuhan dasar manusia, seperti kebutuhan akan rasa aman, tempat tinggal, makanan, dan sebagainya. Kekuatan ini bertambah mumpuni ketika dikombinasikan dengan periklanan, baik melalui media cetak, elektronik, maupun online seperti sekarang ini.

BUKAN MANI GAJAH

Ini menurut mas Arya Putra : https://www.facebook.com/haryopanuntun/posts/443787525713255
"mani gajah",suatu fenomena yg sungguh menarik di bahas,,dari sudut pandang gemology "mani gajah" adalah batu jenis agate (akik) biasa, karena sperma gajah merupakan zat cair yg mengandung protein yg tidak mungkin mengalami kristalisasi hngga membentuk batu,,karena tidak ada ikatan karbon di dalamnya,,jadi "mani gajah" hanyalah sebuah legenda nenek moyang yg turun temurun menjadi sebuah cerita yg hbat akan manfaat mani gajah tersebut,karena bentuk warnanya menyerupai sperma,maka disebutlah "mustika mani gajah/batu mani gajah",tidak dipungkiri bberapa batu alam tertentu secara ilmiah memiliki medan energi yg unik,berbeda dari batu lainya,karena memiliki ikatan karbon yg unik juga,yg pada masyarakat disebutnya "batu mulia",dan memiliki nilai juall yg tinggi,jadi masyarakat diharap tidak terkecoh akan legenda yg menempel pada batu yg di sebut "mani gajah" yg di jual harga mulai jutaaan hingga puluhan juta,belilah karena nilainya,jangan karena legendanya,,:)

Pendapat saya :

Saya setuju dengan opini serta pendapat mas Arya. Kristal Mani Gajah menurut saya memang sejenis batuan yg mempunyai corak dan warna tertentu dan yg diperoleh dari daerah tertentu dan mempunyai Nama "Mustika Mani Gajah..."

Mengenai segala legenda & Mitosnya yaitu sebagai Media Mahabbah atau Pengasihan serta Pelarisan yang Dahsyat, dll..., hakikatnya itu ada di ranah kepercayaan atau belief, dan mengenai belief, maka kalimat yg pas adalah "Believe it or Not..."

Ya...
Kita tidak bisa menyalahkan ataupun mempersoalkan belief orang lain yang berbeda dengan kita. Soal belief adalah soal hak azazi...

Sedangkan soal harga, saya juga setuju. Belilah Mani Gajah sesuai harga pasarannya. Dan ini adalah soal jual beli alias dagang, bila anda tidak suka dan tidak cocok, maka anda boleh memilih sumber lainnya. Atau memilih membeli dari penjual yg lain. Jual beli adalah atas dasar suka rela, tidak ada paksaan dalam jual beli....

Kristal Mani Gajah product NAQS DNA saya lepas dengan harga sekitar Rp. 1jt. Jika anda berminat, silahkan hub saya di 081 231 649 477. Dan bila anda tidak berminat dengan product saya. Anda bebas membeli dari sumber yg lain.... Nah, adil toh...???

Legenda Kristal Mani Gajah Selengkapnya : http://www.naqsdna.com/2013/05/legenda-kristal-mani-gajah.html

Anti Mitos Cerita Mani Gajah
mani gajah yang sebenarnya itu bukanlah sperma dari gajah yang selama ini terukir dalam pikiran banyak orang, oleh sebab inilah banyak sekali mani gajah yg di rawat oleh orang2 sekarang tidak lagi ada khasiat apapun karna memang sperma gajah tidak memiliki daya ghaib apapun selain hanya untuk obat kencing manis dan stroke.

mani gajah yang di wariskan oleh nenek moyang tadi adalah batu sebesar biji beras yang ada di kening gajah jantan tunggal(gajah jantan yg belum kawin) kalau orang pedalaman menyebutnya dengan GELIGA GAJAH/MUSTIKA MANI GAJAH.nah dengan mengambil mustika gajah tersebut (caranya sprti ilmu memasang/menanggalkan susuk) lalu benda tersebut di imbauan/di ritualkan dulu selama 33 hari kalau yg mantap jika yang standar cukup 3 mlm saja. [http://wongalus.wordpress.com/2011/01/16/menelusuri-keaslian-mani-gajah/]

NAH LHO.....?

Mitos sebagai Suatu Bakat Manusiawi
ref : http://filsafat.kompasiana.com/2013/02/05/mitos-sebagai-suatu-bakat-manusiawi-531063.html

Dunia mitis yang meliputi alam kebudayaan primitif ternyata masih tetap menarik. Yang ditampilkan dalam kebudayaan primitif adalah manusia-manusia yang langsung berhubungan dengan daya-daya alam yang serba rahasia-suatu alam yang belum dikacaukan oleh tekhnik, lalu lintas dan turisme, sungguh semcam taman Firdaus bagi kita manusia modern. Walaupun demikian, dunia penuh cerita-cerita mitis dan upacara-upacara magis itu terasa dekat dengan kita; kita masing-masing menemukan sesuatu dalam dunia yang tidak asing bagi kita, yang kita namakan pola kemanusiaan umum. Manusia primitif merupakan manusia yang dekat dengan alam yang masih murni. Seperti kanak-kanak yang belum mengenal masalah-masalah yang memusingkan. Bagi manusia primitif, barang-barang (misalnya batu) hanya tetap sebuah batu bukan sebuah batu yang penuh macam-macam khasiat. Upacara-upacaara yang sering dilakukan tidak hanya untuk menangkal mara bahaya tetapi sering juga untuk menabahkan hati.

Mitos ialah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat dituturkan tetapi juga dapat diungkapkan lewat tari-tarian atau pemenatasan wayang. Melalui mitos, manusia turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitar, dapat menanggapi daya-daya kekuatan alam. Tindakan ini disebut partisipasi.

Subjek yaitu manusia dikelilingi oleh objek (dunia). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Subjek itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (Objek). Partisipasi tersebut berarti manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat; subjek masih terbuka belum merupakan subjek yang berdikari sehingga dunia disekitarnya belum disebut “objek” yang sempurna dan utuh.

Fungsi pertama mitos adalah menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib; mitos tidak memberikan bahan informasi mengenai kekuatan-kekuatan itu, tetapi membantu manusia agar dapat menghayati daya-daya itu sebagai suatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupan sukunya. Dengan perkataan lain, dalam dongeng-dongeng atau upacara-upacara mitis, alam itu bersatu padu dengan alam atas, dengan dunia gaib.Ini tidak berarti bahwa kehidupan manusia primitif seluruhnya berlangsung dalam alam atas sebab alam atas penuh dengan daya-daya kekuatan ajaib.

Fungsi kedua mitos adalah mitos bertalian erat dengan fungsinya yang pertama. Alam gaib meresapi alam biasa, dunia sehari-hari. Lalu mitos berfungsi sebagai pengantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam.

Fungsi ketiga mitos adalah sebagai pengantara antaraa manusia dengan daya-daya kekuatan alam. Mitos memberikan “pengetahuan tentang dunia”. Lewat mitos manusia primitif memperoleh keterangan-keterangan. Tidak menurut arti kata modern, tetapi mitos memberikan keterangan tentang terjadinya dunia, hubungan antara dewa-dewa dan asal mula kejahatan. Para ahli memakai kata “kosmogami”, yaitu cerita-cerita mengenai terjadinya langit dan bumi, dan “theogoni”, yaitu dongeng-dongeng mengenai terjadinya dewa-dewa.

Dari sini kita dapat melihat bahwa mitos menampakkan kekuatan-kekuatan, menjamin hari ini, memberi pengetahuan tentang dunia. Di sini pun kita dapat melihat bahwa alam pikiran mitis berbeda dengan alam pikiran ontologi. Alam pikiran mitis tidak mengambil jarak (distansi) terhadap dunia. Misalnya ketika gunung meletus, maka alam pikiran mitis terpukau bahwa ada sesuatu. Sedangkan alam pikiran ontologi mengambil jarak sehingga bertanya apa yang menyebabkan gunung itu meletus. Ini merupakan ciri khas dari mitis.

Manusia mitis mencari akan eksistensinya peristiwa kehidupan. Misalnya penghormatan terhadap para leluhur, lambang-lambang seperti pohon kehidupan dan air tirta. Nah, ini menunjukkan rasa hormat dan kagum terhadap dasar eksistensinya sendiri, atau rasa takut terhadap “itu”. Semua lambang merupakan jendela-jendela yang membuka pandangan-pandangan terhadap dunia transenden. Lambang-lambang tersebut menunjuk ke arah kekuasaan-kekuasaan yang ada di atas dan di luar manusia (transendden). Selamat, semoga menggapai yang ditunjukan melalui lambang

Mitos ditinjau dari ilmu Ericksonian Hypnotherapy.
Mitos dalam sudut pandang kami, tidak lebih merupakan sebuah tekhnik Mind Reprogramming yang menggunakan media sugesti berupa Metafora atau cerita dan dongeng....

Mengapa menggunakan dongeng...?
Karena yg mau di instalkan juga bukan sekedar Program yg main-main atau program biasa, tetapi terkait dengan suatu kekuatan adi kodrati atau supranatural. Yang tentu saja diluar nalar serta akal umum. Oleh karena itu, dongeng adalah sebuah cara dan media termudah untuk menjembatani pemahaman mengenai suatu dunia yg di luar nalar sehingga menjadi suatu fenomena yg dapat diterima.

Metafora Terapetik, Inovasi Erickson dalam Hipnoterapi
http://tranceformasi.blogspot.com/2011/03/metafora-terapetik-inovasi-erickson.html

Orang bisa menolak sugesti, perintah, instruksi, petuah, atau nasihat, tetapi orang tidak bisa menolak cerita. Dengan pandangan seperti itulah Milton Erickson memelopori pemanfaatan cerita sebagai salah satu perangkat terapi. Dan itu merupakan salah satu inovasi penting yang dibawa oleh sang hipnotis ke dunia psikoterapi.

Sebelum lebih jauh membicarakan cerita atau metafora terapetik ini, saya ingin bercerita sedikit tentang seorang anak muda dalam mitologi Yunani. Pemuda itu bernama Talus. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk menjumpai orang-orang yang menderita akibat perang dan penyakit. Ia menuturkan cerita kepada mereka dan menjadikan mereka bisa mengatasi penderitaan. (Saya menjumpai kembali tokoh ini muncul dalam salah satu episode film Xena yang berkisah tentang upaya Raja Sisifus untuk menculik Dewi Kematian sehingga kehidupan manusia bisa abadi.)

Talus terdorong untuk mengembara dan menuturkan cerita, dan meyakini bahwa cerita memiliki daya untuk meringankan penderitaan, karena ia memiliki pengalaman pribadi dengan kekuatan cerita. “Cerita-cerita yang baik telah membantuku mengatasi kesulitan-kesulitanku,” katanya.

Karena itulah ia memutuskan untuk mengembara dan menuturkan cerita-cerita demi membantu orang lain mengatasi kesulitan mereka. Dan karena ia meyakini kekuatan cerita, setiap kali menemui orang yang membutuhkan pertolongan, ia hanya duduk menemani orang itu dan mendongengkan cerita. Hanya bercerita, tanpa menyampaikan apa kandungan moral yang terdapat dalam cerita itu.

Dalam khazanah negeri kita, kita mengenal teknik serupa, yakni pemanfaatan cerita untuk tujuan tertentu. Di masa lalu, dalang menggunakan cerita wayang untuk menyampaikan pembelajaran kepada masyarakat luas. Demikian pula Sunan Kalijaga memodifikasi cerita wayang untuk berdakwah.

Milton Erickson sang Pencerita
Kendati sudah lama cerita menjadi bagian dari pengalaman manusia untuk menyampaikan pengetahuan atau mengatasi simptom, namun baru pada paruh awal abad ke-20 ada pendekatan yang lebih sistematis untuk menjadikan cerita sebagai perangkat terapetik, dengan Erickson sebagai pelopornya.

Apa yang dilakukan Erickson persis dengan apa yang dilakukan oleh Talus. Melalui cerita-cerita yang ia tuturkan, Erickson memberikan pembelajaran kepada seseorang tentang bagaimana menangani situasi. Tanpa disadari oleh pasien-pasiennya, ia menyampaikan cerita yang sejajar dengan situasi yang mereka hadapi. Dalam cara demikian, pasien mendapatkan sebuah sesi terapetik yang nyaman, dan ia tidak merasa sedang didikte untuk melakukan sesuatu. Ia hanya mendengar, mengalami situasi yang terjadi pada orang lain, dan di sana ia bisa memetik pelajaran atau manfaat yang bisa ia gunakan untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Pada masa-masa awal menggunakan pendekatan ini, Erickson banyak menggunakan cerita rekaan untuk memberikan pelatihan kepada pasiennya, katakanlah semacam simulasi. Dengan cerita-cerita rekaannya, ia akan menempatkan pasien pada situasi sulit, yang menghadapkan pasien tersebut pada masalah (rekaan) tertentu yang harus diselesaikan, dan secara tersirat ia akan memberikan pelajaran tentang bagaimana cara menghadapi situasi semacam itu. Atau secara pintar ia akan mengoreksi situasi tersebut dan melemahkan efeknya pada pasien.

Kenapa cerita bisa menjadi perangkat terapi yang efektif?
“Orang bisa menolak sugesti langsung karena sugesti langsung memiliki karakter menantang reaksi pikiran sadar, tetapi orang tidak bisa menolak cerita. Orang hanya bisa menerima cerita yang disampaikan kepadanya, dan pada saat yang sama ia menerima semua pesan tersirat yang menyentuh bawah sadarnya,” kata Erickson.

Karena cerita menyampaikan pelajaran secara tidak langsung, maka ia tidak memancing reaksi pikiran sadar. Cerita tidak mengundang pikiran sadar untuk campur tangan, tidak memancing penolakan sadar, tidak memancing respons kritis pikiran sadar. Dengan demikian setiap sugesti akan diterima dalam cara yang nyaman oleh pasien tanpa ia merasa terdikte untuk menjalankan sugesti apa pun yang disampaikan. Cerita adalah sugesti yang sangat licin. Ia tidak bisa dijangkau oleh pikiran sadar dan hanya bisa diterima oleh bawah sadar.

Bagi Erickson, cerita juga menjadi salah satu alat untuk berkomunikasi dengan pasiennya di dua level kesadaran. Di level pikiran sadar, cerita adalah sesuatu yang menarik untuk didengar. Di level bawah sadar, cerita itu adalah sugesti agar orang memberi respons tertentu demi mendapatkan manfaat terapetik darinya.

Dalam cara yang piawai, ia sering menggunakan cerita untuk membuat pendengarnya mau bekerja sama, ia menggunakan cerita untuk membuat pasiennya lebih rileks, ia menggunakan cerita untuk menumbuhkan motivasi atau harapan akan kesembuhan kepada pasien-pasiennya.

Bahkan sebelum sesi hipnosis dimulai ia sudah akan menceritakan banyak hal. Dengan cara demikian ia menggunakan cerita secara optimum untuk memancing respons, untuk membuat kaitan asosiatif, untuk merangsang pasiennya melakukan pencarian bawah sadar, dan dengan cara itulah cerita berfungsi sebagai sarana intervensi untuk menyingkirkan simptom tertentu atau untuk mengoreksi perilaku negatif atau cara pandang terbatas dan sebagainya.