ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 27 Mei 2013

Trance Logic 2 : Bangunan Logika

Dalam NLP dikenal istilah “Intenal Map”, tetapi saya lebih senang menyebutnya dengan istilah “Bangunan Logika”, yang menggambarkan bahwa logika internal manusia memiliki struktur seperti halnya “bangunan piramida”, artinya kita hanya dapat meletakkan suatu benda dalam struktur piramida jika benar-benar terdapat benda di bawahnya yang berfungsi sebagai penyangga.

Demikian juga dengan “sugesti” ! Sugesti dapat dianalogikan sebagai benda yang akan kita letakkan di benda lain, dalam hal ini adalah “bangunan logika” yang telah ada sebelumnya di pikiran bawah sadar. Jika tidak terdapat benda yang dapat berfungsi sebagai penyangga yang cukup kuat, maka benda baru atau “sugesti” baru tersebut akan jatuh dan hancur berantakan !

Fractional Hypnotherapy by Yan Nurindra.
Dalam dunia Hypnotherapy, modifikasi dari satu metode ke metode lain merupakan hal yang biasa, karena sekali lagi bahwa kita tengah berhadapan dengan superkomputer tercanggih di jagad semesta, yaitu “otak manusia” !

Berikut ini saya akan “sharing” suatu metode Hypnotherapy, yang saya sendiri tidak yakin apakah metode ini pernah dibahas atau belum pernah sama sekali di bahas di buku-buku atau jurnal-jurnal Hypnotherapy ?. Karena metode ini merupakan hasil penalaran dari pengalaman empiris saya dalam menangani Client di TranzCare, dimana secara rata-rata saya melakukan treatment sebanyak 4-5 session per-hari (durasi 1.5 jam per-session). Sekaligus saya mohon comment dari para pakar NLP dan Ericksonian di Portal ini, mungkin ada teori resmi yang mendukung hal-hal yang saya dapatkan melalui pengalaman empiris tersebut ! Thanks !

***

Latar belakang
Dari pengamatan saya, terdapat suatu perbedaan yang “sangat jelas” antara “sugesti” dalam kondisi hipnosa, dengan “peristiwa yang terjadi sebenarnya”, walaupun dalam teori dasar dikatakan bahwa sub-conscious “tidak membedakan” antara “fakta” dan “bukan fakta” misal “sugesti” !

Sebagai ilustrasi, misalkan seseorang melihat langsung suatu peristiwa kecelakaan (walaupun hanya selintas), maka kesan yang memasuki “pikiran bawah sadar” akan sangat kuat sekali, bahkan dapat merubah “neuro-path”. Sebaliknya jika kita melakukan hypnosis, misalkan terhadap seseorang dengan potensi somnabulism (sangat sugestif), lalu kita skenariokan yang bersangkutan “melihat” kecelakaan yang sangat mengerikan dan lengkap dengan segenap detailnya, dan dilakukan sugesti dalam waktu yang cukup lama (misal 1 jam), maka tetap saja kesan yang memasuki “pikiran bawah sadar” tetap tidak “sekuat” peristiwa langsung, bahkan seringkali kesan ini akan “terhapus” atau mengalami “desensitization” hanya dalam beberapa jam saja !

Apa yang terjadi sesungguhnya ? Apakah teori mengenai “pikiran bawah sadar” itu salah ? Tentu saja tidak ! Mungkin yang salah adalah proses sugesti yang tidak “sejalan” dengan “logika” dari “pikiran bawah sadar” yang bersangkutan, atau tidak ikut-serta-nya emosi yang merupakan salah satu “perekat” antara sugesti dan pikiran bawah sadar.

Dalam NLP dikenal istilah “Intenal Map”, tetapi saya lebih senang menyebutnya dengan istilah “Bangunan Logika”, yang menggambarkan bahwa logika internal manusia memiliki struktur seperti halnya “bangunan piramida”, artinya kita hanya dapat meletakkan suatu benda dalam struktur piramida jika benar-benar terdapat benda di bawahnya yang berfungsi sebagai penyangga.

Demikian juga dengan “sugesti” ! Sugesti dapat dianalogikan sebagai benda yang akan kita letakkan di benda lain, dalam hal ini adalah “bangunan logika” yang telah ada sebelumnya di pikiran bawah sadar. Jika tidak terdapat benda yang dapat berfungsi sebagai penyangga yang cukup kuat, maka benda baru atau “sugesti” baru tersebut akan jatuh dan hancur berantakan !

Nah, inilah yang merupakan “pembeda” antara “peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi”, dengan “peristiwa yang direkayasa melalui sugesti Hypnosis” ! “Peristiwa yang sungguh-sunguh terjadi” akan “selalu” menemukan penyangga yang dapat membuatnya menjadi “kesan permanen”, sedangkan dalam “peristiwa yang direkayasa melalui sugesti Hypnosis” terkadang Sang Hypnotherapist tidak mampu meletakkan “benda baru” tersebut ke penyangga yang tepat, atau lebih persisnya Sang Hypnotherapist tidak dapat menemukan penyangga yang tepat !

***

Dari penjelasan singkat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu “informasi” masuk melalui “kesadaran” atau setidaknya ada proses “kesadaran” yang lebih dominan, maka akan lebih “permanen” dibandingkan dengan “informasi” yang langsung “dimasukkan ke pikiran bawah sadar” melalui proses Hypnosis. Dengan kata lain pengaruh “kesadaran” sangat penting untuk “mencari” penyangga yang tepat yang terdapat di bangunan “bangunan logika”.

Di sisi lain, kesulitan untuk memasukkan “informasi” melalui “kesadaran biasa” adalah adanya proses filtering dari “critical area” yang cenderung menganalisa, sehingga dengan dasar inilah proses Hypnosis diperlukan.

Oleh karena itu timbul permasalahan yang dilematis, yaitu : melalui “kesadaran” menjadi sulit diterima, sedangkan melalui “pikiran bawah sadar” cenderung untuk kehilangan “penyangga” di “bangunan logika”.

Dalam teknik Hypnotherapy moderen maupun NLP muncul berbagai metode yang antara lain untuk mencari “penyangga” dimaksud, sehingga sugesti akan masuk “secara manis” menjadi bagian terintegrasi dari “bangunan logika” yang sudah ada sebelumnya. Dan pada tulisan ini saya mencoba untuk sharing melalui pendekatan yang berbeda !

*** Berikut ini saya akan memberikan tips berdasarkan pengalaman menangani Client, yaitu melalui suatu teknik yang sementara saya istilahkan dengan nama “Fractional Hypnotherapy”, yaitu suatu sesi Hypnotherapy konvensional (Trance Hypnosis) yang berlangsung secara marathon tetapi dilakukan secara terputus-putus, yaitu misalkan setiap sesi berlangsung dalam waktu 15 menit, tetapi berlangsung misalkan sebanyak 5 sesi dengan jeda sekitar 10 menit yang dimanfaatkan sebagai feedback-interview.

Filosofi dari “Fractional Hypnotherapy” ini adalah membawa Client pada suatu diskusi mengenai permasalahannya setelah yang bersangkutan menjalani suatu sesi. Diskusi ini harus dibuat sedemikian rupa, sehingga akan membuat Client “secara sadar” memasukkan informasi baru tersebut, sehingga dapat menemukan “penyangga”-nya sendiri !

Contoh sederhana, Client yang mengalami “Anxiety Disorders”.

Pra-Induksi
Penjelasan mengenai hubungan Anxiety dengan kemampuan pengelolaan emosi. Mungkin pada tahap ini Client hanya sekedar “menerima”, tetapi belum meyakini bahwa pengelolaan emosi adalah kunci dari penanganan Anxiety.

Treatment Sesi-1
Buatlah Client mengalami emosi positif, dan juga memiliki kesadaran bahwa setiap orang dapat memilih untuk setiap saat selalu berada di emosi positif.

Diskusi Setelah-Treatment Sesi-1
Lakukan diskusi dengan Client mengenai pentingnya kemampuan mengelola emosi. Nah pada saat ini mungkin Client akan berbicara “seakan-akan” bahwa ia “sangat, memahami” pentingnya kemampuan mengelola emosi.

Treatment Sesi-2
Buatlah Client benar-benar selalu dalam emosi positif, dan selalu menghindari emosi negatif.

Diskusi Setelah-Treatment Sesi-2
Diskusi dengan tema bahwa ternyata setiap orang dapat memilih untuk selalu dalam kondisi emosional positif. Tanyakan pada Client apakah kemampuan mengelola emosi yang selalu positif ini apakah ada pengaruhnya terhadap Anxiety ? Pada saat ini mungkin Client sudah memiliki pendapat yang benar-benar berbeda (reframing) mengenai Anxiety.

Treatment Sesi-3
Buatlah sekali lagi Client benar-benar selalu berada dalam emosi positif, dan tanyakan apakah Anxiety tersebut masih ada ? Dan bila masih ada, yakinkan bahwa ia dapat menanganinya.

Diskusi Setelah-Treatment Sesi-3
Diskusi dengan tema apakah Client yakin bahwa dengan meningkatkan kemampuannya untuk mengelola emosi positif maka Anxiety-nya akan hilang ?

Dan seterusnya ….!

***

Dalam proses diskusi (setelah treatment) anda disarankan menggunakan teknik interview dengan jurus-jurus NLP (meta-model, meta-program, PTS, dll), yang sekaligus dapat meng-eksplor sambil juga “memasukkan” !

Nah, tentu untuk jurus-jurus NLP ini, lebih relevan ditanyakan ke para pakar yang lebih kompeten di bidang ini, misalnya mas Ronny FR, pak Syaiful Bachri, mbak Mariani, dsb. Soalnya kalau saya yang membahas, nanti malahan jadi NLP “Rock ‘n Roll” lagi … alias “ngarang-ngarang” istilah sendiri …!

***

Intinya dari proses “Fractional Hypnotherapy” ini adalah membuat Client dapat menemukan sendiri “penyangga” di “bangunan-logika”-nya, sehingga seluruh sugesti yang diberikan benar-benar dapat menjadi bagian (atau setidaknya lebih mendekati) dari “bangunan logika” dari Client.

Ok, selamat mencoba ! Dan sekali lagi mohon comment dari para pakar untuk dapat memberikan padanan berdasarkan sistematika di keilmuan NLP ataupun Ericksonian Hypnotherapy.

Maap, jika ada salah-salah kata ! Tabik !

DISKUSI KOMENT :

Ronny FR

Mas Yan,
Saya mengacungkan jempol atas eksplorasi dan temuan Anda yang luar biasa. Fractional Hypnosis (keren !) merupakan suatu karya yang cantik, dan merupakan proses temuan yang memiliki nilai strategis bagi pengembangan metode terapi hipnotis.

Well saya betul-betul tidak heran, jika 10 tahun kedepan akan ada Nurindranian Hypnosis. Hehehe bener nich! Ohya, terima kasih juga kemarin sudah ditraktir Wedang Ronde dan mendapatkan diskusi yang amat inspiratif…

BTW, menangapi undangan diskusi dari Mas Yan…, semoga seperti yang Mas Yan harapkan, amien :

Salah satu penyebab bangunan logika / internal map hasil sugesti tidak sekuat jika pengalaman itu berasal dari indra adalah karena faktor inputnya tidak bersifat sensory base / indrawi.

Sugesti hypnosis yang dilakukan pada saat klien “tertidur hypnotic” pada umumnya menggunakan kata-kata (bukan rangsang visual dari mata, dan dari indra lain), maka secara indrawi inputnya hanya menggunakan channel dari telinga (A).

Sementara kemampuan seseorang untuk mengalami synesthesia tidak sama, tidak semua orang ketika kita mengatakan “buah apel” maka lantas ia akan melihat apel atau merasakannya. Beberapa ya hanya mendengar suara/ kata apel itu saja.

Inilah sebabnya kenapa dalam NLP, internal map (atau istilah Mas sebagai bangunan logika) disebut sebagai representational system. Yaitu suatu system yang bekerja di dalam otak, dimana circuit neurologis akan merepresentasikan ulang apa yang dialami oleh indra (stimulus) sehingga menjadi suatu internal map.

Dalam training level master practitioner, seorang akan dilatih untuk membangun dan meningkatkan “sensory acuity” secara serius, agar kualitas asupan informasi yang masuk melalui indra akan meningkat secara dramatis dan pada gilirannya akan menghasilkan suatu kulitas representasi yang semakin bagus. (RED : sensory acuity = secara sederhana bisa diartikan sebagai kemampuan indra menerima, membedakan, dan melakukan koding-koding informasi untuk di salurkan ke otak).

Jadi sebuah pengalaman riil (melalui indra), akan memiliki suatu kekayaan rangsang yang jauh berbeda dibandingkan dari hasil sugesti yang hanya melalui telinga klien saja. Dengan demikian, suatu pengalaman riil akan memiliki representasi yang jauh jauh jauh lebih kaya, karena melibatkan 4 tuples (V, A, K, O/G).

SOLUSI
Dalam perspektif NLP, seorang terapis perlu memiliki kemampuan untuk :
  1. Melakukan Eliciting Preferred System dan Lead System dari si klien, sehingga bisa dilakukan pacing/matching VAK-nya.
  2. Kemampuan untuk melakukan sugesti, yang meskipun dilakukan secara auditorial, namun akan mampu menstimulasi otak untuk menggenerate gambaran, perasaan (KOG) yang paling mendekati aslinya. Umumnya saat seseorang mengambil kelas practitioner belajar melakukan reformulasi kata-kata yang semula menggunakan predikat V, kemudian di ubah menjadi K ataupun A sebaliknya.
  3. Yang ini bukan persoalan VAK, namun persoalan jenis sugesti. Dalam tradisi Ericksonian atau NLP Milton Model, dikenal suatu istilah gaya bahasa yang permisive, yaitu suatu cara berkomunikasi sugestis dimana selalu dilakukan proses chunk up (masuk ke wilayah ambigu).

Misal, suatu contoh sederhana :

Direct Sugesti ‘ala hypnosis non ericksonian :
“Pikiran bawah sadar Anda mulai sekarang melihat rokok seperti melihat suatu makanan yang rasanya kunyit yang tidak Anda sukai.” (Cat : terapis tadi sudah menggali bahwa klien tidak suka rasa kunyit)

Ericksonian (permisive – chunk up) :
“Saya tidak tahu bagaimana caranya, pikiran bawah sadar Anda dengan mudah dan alami akan mengetahui sendiri bahwa rokok sudah menjadi suatu yang tidak lagi Anda sukai…, sekarang…., ya betul…. , seperti itu….. bagus!”.

Dalam istilah NLP, cara pertama merupakan suatu “pemaksaan MAP” dari si hipnotherapis. Sungguh terasa di sini bahwa cara pertama terapis ber-asumsi MENGETAHUI hal terbaik dan cara terbaik bagi kliennya.

Cara kedua secara kontras berbeda sekali, cara ini jelas-jelas MEMBERIKAN RESPEK pada map klien dalam proses pembentukan MAP si klien (re-mapping). Hypnotherapist hanya memberikan arah (direction), yang akan membuat alam bawah sadar bergerak dengan caranya sendiri, yang terbaik yang paling cocok dengan isi dan konstruksi dari bangunan logika dalam map si Klien. Dengan demikian, hasil sugesti akan memiliki landasan atau batu pijakan yang kuat, karena diletakkan oleh si klien sendiri, bukan “dipaksakan” diletakkan oleh si terapis… (yang mungkin letaknya tidak pas dan kurang ekologis …

Cara kedua dipenuhi dengan bahasa ambigu, yang berisi deletion, distortion dan generalization…, sehingga alam bawah sadar akan mencari sendiri makna yang paling pas dengan dirinya….

Yaaaah,
Tentunya masih banyak hal dalam NLP, yang bisa membantu seorang terapis dalam memfasilitasi suatu perubahan.

Catatan:
Bagi beberapa orang, pendapat di atas ini bisa memberikan kesan bahwa NLP dan Hypnosis adalah domain yang terpisah dan harus diperbandingkan kelebihan dan kekurangannya…..

Anehnya, kesan ini akan menjadi hilang dengan sendirinya secara alami, saat kita berhenti sebentar dan mulai menyadari bahwa NLP adalah ilmu modelling. Ilmu yang memodel semua ilmu lain (termasuk hypnosis) yang memiliki keunggulan agar bisa di duplikasi dengan mudah oleh orang lain. Berbicara dengan para pembaca sebagai seorang manusia, maka dengan caranya sendiri, pikiran kita akan mengerti bahwa NLP bukanlah teknik, NLP bukan pula terapi. Demikianlah, sebelumnya orang biasanya tidak menyadari bahwa NLP adalah suatu sikap, NLP adalah suatu metodologi, yang membuat dirinya jauh lebih mudah dalam memahami sesuatu, melakukan sesuatu dan bersikap terhadap segala sesuatu…..

“NLP is an attitude and a methodology which leaves behind a trail of techniques.”
- Definition by Richard Bandler

Salam hormat untuk semua kawan SESAMA pembelajar NLP…

Ronny FR
Pembelajar NLP

Yan Nurindra

Wah ini baru siip ! Ada gayung bersambut versi NLP ! Artinya misal melalui teknk sugesti yang sudah diolah dengan ilmu NLP, sehingga akan semakin “dekat”, plus dengan teknik Fractional, maka “kebenaran”-nya akan semakin mendekati ! Jadi bukan sekedar “implant” biasa, tetapi mirip dengan “implant gigi” yang harus ditanam fondasinya sampai menyatu dulu dengan gusi (tanpa penolakan tubuh), baru bisa dipasang gigi palsu-nya ?! Kayaknya makin jelas bahwa “salah satu” manfaat NLP adalah men-support Hypnosis ! Hypnosis akrab dengan kegiatan ber-trance ria, dan NLP dapat mensupport proses diagnosa dan “obat”, agar lebih “tajam” …. ?? Semoga nggak salah ! Thanks Mas Ronny !

Ref : Yan Nurindra [http://portalnlp.com/artikel-teknis-fractional-hypnotherapy/]