ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Minggu, 09 Juni 2013

God Particle, Bukanlah Tuhan

TUHAN SUGESTI

Kita tidak akan menjumpai Tuhan yang sejati selama kita masih menuhankan persepsi kita.....

Segala prasangka dan persepsi kita mengenai Tuhan, itu hanyalah sekedar persepsi pikiran kita belaka. Sekedar alat bantu untuk memahami dan mengenal Tuhan. Tetapi itu bukanlah Tuhan. Itu hanya Tuhan Sugesti. Tuhan hasil rekaan pikiran kita berdasarkan kabar yang kita terima dari kitab suci ataupun referensi dari sumber-sumber yang lain semacam Fisika Quantum, dll..

Mekanisme pikiran manusia adalah tidak mampu memikirkan serta menggambarkan sesuatu yang bersifat abstract atau gaib, Oleh karena itu. Pikiran akan senantiasa mengasosikan sesuatu yang abstract dengan segala hal yg dapat di indra.

The Map is not the Territory.
Apapun gambaran kita, itu hanyalah sekedar simbol untuk mewakili suatu kenyataan. dan bukan kenyataan itu sendiri.

Kita baru mulai mengenal Tuhan dengan sejati ketika Tuhan telah memperkenalkan diriNya dengan kita, dan menarik kita untuk semakin mengenalNya dengan sebenar-benarnya pengenalan.... Saat itulah segala bayangan kita akan musnah, dan tergantikan oleh pengenalan yg sejati.

Dan apapun bayangan kita mengenai Tuhan, maka itu bukanlah Tuhan. karena Allah berfirman:

ليس كمثله شيء”
Artinya: ” Allah tidak menyerupai apapun” (Al-Sħuuraa, 11)

Janganlah kamu sembah di samping Allah, tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu bakal binasa, kecuali Allah saja. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
[QS Al Qashash: 88]

TUHAN TAK MENYERUPAI APAPUN SEPERTI YANG KITA BAYANGKAN

Seorang kawan saya tiba-tiba nyeletuk, “Jangan-jangan Tuhan itu adalah energi.”

Saya yang tak tahu asal-muasal munculnya kalimat itu bertanya kepadanya, “Kenapa kok tiba-tiba punya pikiran seperti itu?”

Ia pun lantas menjelaskan pencarian spiritualnya tentang Tuhan. Menurutnya, antara energi dan Tuhan memiliki beberapa kemiripan sifat. Di antaranya, Tuhan dan energi sama-sama tidak kasat mata. Selain itu, Tuhan dan energi sama-sama memiliki sifat kekal, yang di dalam Fisika dikenal sebagai Hukum Kekekalan Energi. (kayaknya dia ini Korban Film The Secret nih.... hehehehehehe... /red)

Setelah tahu latar belakangnya, saya pun mengajaknya berdiskusi seputar energi dan Tuhan. Yang pertama, tentang sifatnya yang tidak kasat mata. Saya katakan, bukan hanya energi yang tidak kasat mata. Sangat banyak “sesuatu” yang tidak kasat mata, tetapi tidak bisa serta-merta disejajarkan dengan Tuhan.

Misalnya “waktu”, itu juga tidak kasat mata. Meskipun besarnya bisa diukur dengan menggunakan mesin pewaktu --seperti jam digital-- tetapi dimensi waktu adalah besaran yang tak kasat mata. Cuma bisa dirasakan kehadirannya. Demikian pula dimensi ruang, juga tidak kasat mata. Walaupun batas-batasnya berupa dinding atau materi pembatas bisa dilihat, tetapi ruang itu sendiri tak kasat mata. Tapi, tidak serta-merta kita menyamakan dimensi ruang dan waktu setara dengan Tuhan.

Belum lagi bicara soal “kesadaran” dan “perasaan” yang sangat abstrak. Dan tentu, juga tidak bisa dilihat secara kasat mata. Pada intinya, sifat “tak kasat mata” tidak serta-merta menjadikan sesuatu itu layak untuk disebut Tuhan. Termasuk energi. Sampai di sini, kawan saya bisa memahami dan menerima pendapat saya. Meskipun, ia lantas bertanya, “Tapi bagaimana dengan kekekalan energi? Bukankah energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan? Sehingga ia pantas disebut sebagai Tuhan? Atau, setidak-tidaknya setara dengan Tuhan?”

Maka, saya pun mengajaknya untuk melihat sejarah alam semesta. Bahwa jagat raya ini menurut Fisika Modern adalah eksistensi yang memiliki permulaan dan memiliki akhir. Jika di-breakdown, alam semesta ini tersusun dari lima variable, yakni: ruang, waktu, materi, energi, dan informasi. Dengan kata lain, energi bukanlah segala-galanya. Ia hanya salah satu dari variabel penyusun alam semesta.

Ruang adalah wadah alam semesta. Waktu adalah ukuran dinamikanya. Sedangkan materi dan energi menjadi isi. Sedangkan informasi adalah hukum-hukum yang menggerakkan seluruh peristiwa di dalamnya. Energi tidak bisa berdiri sendiri. Ia bergantung kepada keberadaan materi. Jika di alam semesta ini tidak ada materi, maka energi juga tiada. Dan itu, sudah pernah terjadi saat alam semesta ini berusia nol tahun. Di mana “waktu” belum ada, dan “ruang” alam semesta pun belum terbentuk.

Maka, materi tidak memiliki tempat untuk memunculkan energi.
Jadi, sebenarnya hukum kekekalan energi itu hanya berlaku ketika waktu sudah bergerak, ruangan sudah terbentuk, dan materi-energi sudah eksis. Ketika semua itu masih nol, energi pun tidak ada. Dengan kata lain, energi bukanlah sesuatu yang tidak punya awal dan tidak punya akhir. Dalam pemahaman kosmologi modern, energi memiliki awal yaitu di saat terjadinya dentuman besar: Big Bang. Dan, akan berakhir saat runtuhnya alam semesta yang dikenal sebagai: Big Crunch.

Segala sesuatu bakal musnah, sebagaimana dulu tiada, semua itu bakal kembali tiada. Hanya Allah-lah Zat yang kekal dalam arti sebenar-benarnya. Dia tidak punya awal dan tidak punya akhir, karena eksistensi-Nya bukan berada di dalam dimensi ruang dan waktu. Melainkan, justru sebaliknya, ruang dan waktu itulah yang berada di dalam Allah. Karena itulah, Alquran menyebut-Nya sebagai Zat yang meliputi seluruh dimensi waktu: awal waktu sekaligus akhir waktu. Bahkan juga meliputi segala yang tampak maupun yang tidak tampak, alias yang material maupun yang energial.

“Dialah Yang Awal (meliputi waktu ke nol) dan Yang Akhir (meliputi waktu tak terhingga), Yang Zhahir (meliputi seluruh yang material) dan Yang Batin (meliputi seluruh yang energial); dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
”[QS Al Hadiid: 3]

Karena itu, adalah sebuah kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa jika kita menyamakan energi dengan Tuhan, ataupun menyetarakan Tuhan dengan energi. Terlalu naif. Apalagi, ada yang menyalah-tafsir berita ditemukannya partikel Tuhan alias God Particle sebagai zat penyusun eksistensi ketuhanan: sebuah kekeliruan yang sangatabsurd.

Karena, yang disebut sebagai god particle itu sebenarnya tak lebih hanyalah sebutir partikel yang berfungsi memunculkan gaya gravitasi. Ini hanya salah satu dari empat gaya fundamental pembentuk alam semesta: gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, gaya elektromagnetik, dan gaya gravitasi. Yang jika salah satu dari keempat gaya ini tidak eksis, alam semesta ini pun bakal runtuh kembali ke pusatnya.

Maka tidak bisa tidak, seluruh eksistensi alam semesta ini sebenarnya berada di dalam kendali “Kekuatan” yang lebih besar lagi. Dialah yang mengendalikan seluruh dinamika jagat raya sebagai orkestra maharaksasa, dengan akurasi yang sangat “nggegirisi”. Kekuasaan-Nya tiada terbatas. Kehendak-Nya tak ada yang bisa menghalangi. Dan Kecerdasan serta ilmu-Nya tidak ada yang bisa menandingi. Dialah Allah azza wajalla, Sang Penguasa jagat semesta raya.

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.
” [QS An Nisaa”: 126]

“Janganlah kamu sembah di samping Allah, tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu bakal binasa, kecuali Allah saja. Bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
[QS Al Qashash: 88]

Wallahu a’lam bishshawab.

Ref. Agus Musthofa