ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 08 Juni 2013

KESADARAN ILAHI, Al-Fana dan al-Baqa

PANDANGAN ILAHI
Nabi Musa as, gagal ketika hasratnya menggebu ingin melihat Allah, lalu Allah menjawab, "Kamu tidak bisa melihatKu.". Dengan kata lain "Kamumu" atau "Akumu" tidak bisa melihatKu. Karena itu Abu Bakr ash-Shiddiq ra berkata, "Aku melihat Tuhanku dengan Mata Tuhanku." yang berarti bahwa hanya dengan Mata Ilahi saja kita bisa MelihatNya.

”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)

إِنَّ اللّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَـذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ

"Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus". (QS. Ali Imran :51 )

KESADARAN ILAHI,  menurut definisi Mas Leonardo Rimba :
Allah adalah kesadaran yg ada di diri semua manusia, baik menggunakan istilah Allah ataupun tidak. Allah bahkan ada di orang yg tidak beragama dan mengaku sebagai komunis sejati. Allah bahkan ada di orang yg menjadi atheist fanatik. Allah bahkan ada di orang yg dilecehkan dengan sebutan kafir, musyrik dan syirik. Allah ada di dalam kesadaran semua manusia. Yg bisa sadar bahwa dirinya sadar adalah Allah yg berdiam di diri manusia. Diluar itu, semuanya adalah Allah buatan.

Allah buatan adalah pemikiran manusia. Pemikiran dan bukan kesadaran. Kesadaran yg saya sebut Allah di diri manusia adalah yg sadar thok itu. Sadar bahwa dirinya sadar, tanpa pernah tahu dirinya siapa, asalnya dari mana, dan akan ke mana. Dia cuma tahu bahwa dia sadar. Full stop.Titik.
Apa yg Joko maksud dengan kesadaran adalah kesadaran thok. Sadar bahwa anda sadar. Diluar itu ada yg namanya intuisi atau pengertian yg muncul begitu saja di dalam kesadaran anda. Tetapi pengertian-pengertian itu bukan merupakan bagian dari kesadaran, melainkan bonus. Intuition is bonus. Tambahan belaka. Kalau anda mengamati gereja Katolik, contohnya, anda kan bisa memperoleh intuisi langsung. Anda akan tahu bahwa Yesus yg dikhotbahkan itu hidup di dalam kesadaran anda. Yesus itu kesadaran tinggi di diri anda, your own higher self. Anda bahkan bisa bilang bahwa kesadaran anda adalah Yesus. Namanya kesadaran Kristus. Santo Paulus bilang: Semoga kesadaran yg ada di diri Kristus hidup di dalam kesadaran kamu. Artinya, semoga kita semua bisa tersadarkan bahwa kesadaran kita adalah kesadaran Kristus. Kristus selalu ada. Awal dan akhir. Tidak diciptakan dan tidak bisa mati. Kristus adalah Allah. Karena Kristus seperti itu, maka kita juga seperti itu. Kitalah Kristus. Kitalah bagian dari Allah. Setidaknya gereja Katolik secara implisit mengajarkan bahwa seluruh umat adalah tubuh Kristus, dan Kristus cuma ada satu. Kristus bagian dari Allah. Allah juga cuma satu. Kalau ditarik kesimpulannya, maka kita semua adalah Allah. Kekristenan dari aliran Protestan juga seperti itu pengajarannya. Cuma, tentu saja, bagian yg paling akhir hanya ada secara implisit. Tidak pernah dibuka untuk umum.

Hanya Joko Tingtong yg suka buka rahasia.

Joko juga pernah tulis bahwa alam semesta adalah jagad gede, dan kesadaran kita adalah jagad cilik. Jagad gede= jagad cilik. Cara mengakses alam semesta cuma melalui kesadaran kita saja. Masuk ke jagad gede lewat jagad cilik.

Kalau berbicara tentang alam semesta maka kita harus memiliki dasar yg cukup kokoh, yaitu kesadaran. Kita sadar bahwa kita sadar. Dan itulah yg selama ini Joko tekankan. Kalau kita masih terbelenggu, maka kita tidak akan bisa berbicara tentang alam semesta. Kita akan takut untuk masuk ke dalam kesadaran kita sendiri. Pedahal, cara mengakses energi alam semesta cuma melalui kesadaran kita saja.

Banyak sekali metodenya, dan hampir semuanya masuk dalam label New Age, yg banyak omong kosongnya juga. Tapi kalau bisa memahami essensinya, maka kita akan bisa mengembangkan metode sendiri yg paling cocok untuk kita. Pada umumnya Joko oke saja dengan berbagai aliran New Age, semuanya bertujuan baik untuk membawa penyembuhan bagi alam semesta raya dan alam semesta kecil. Jagad gede dan jagad cilik. Allah besar dan Allah kecil.

Alam semesta bisa dibilang sebagai Allah besar, dan kesadaran kita sebagai Allah kecil. Kita selalu menjadi bagian dari Allah besar.

KESADARAN ILAHI DALAM SUFISME
Kesadaran Ilahiah yang diungkapkan oleh mas Leo di atas, sebenarnya merupakan ajaran rahasia dari Kaum Sufi. Itu adalah pelajaran level Hakikat Makrifat. Yang tentu saja akan sulit difahami dan dimengerti oleh kalangan awam. Oleh, karena itulah saya kutipkan tulisan mas Leo saja... hehehehehe....

Namun ada perbedaan mendasar dari spiritualisme 'ala mas leo dengan kesufian. Dalam kesufian, walaupun kesadaran kita sudah memperoleh pencerahan dan mencapai kesadaran Ilahi. Kita tetap menjalankan syariat dengan baik. Ber-Islam secara Kaffah, Zahir dan batin... dan menjalankan syariat bukan lagi karena ingin surga ataupun takut neraka, tetapi melakukan ibadah karena sadar dan sepenuh kesadaran. Ibadah sebagai wujud ekspresi dari adanya Kesadaran Ilahiah yg ada di dalam diri dan bukan ibadah karena keterpaksaan ataupun ambisi.... beribadah dengan Ikhlas karena Allah semata....

Bagi seorang sufi sejati, penemuan Tuhan sebagai Jati Dirinya sendiri akan membuat hidupnya benar-benar bebas dari segala keterikatan apa pun, ia berada dalam “Kemiskinan Ilahiah”, kemiskinan yang membebaskannya dari segala kemelekatan pada kesementaraan benda-benda, pada ilusi dunia yang tercipta dari pikirannya sendiri. Ia bersiap sedia mengurbankan dirinya demi melayani Kehendak Ilahi. Ia tidak lagi tersekat-sekat dalam pandangan sempit kesukuan atau fanatisme agama, karena ia telah menyadari bahwa keberadaannya yang sementara selalu berada dalam Keberadaan Sang Maha Abadi. Ia sadar bahwa fungsinya di dalam dunia hanyalah menjadi perantara atau pembawa pesan dari Keabadian, dari Allah yang senantiasa bersemayam dalam hatinya. Itulah yang diungkapkan oleh Syeikh Hamzah Fansuri, yang saya kutip secara bebas, di dalam syair yang berjudul “Sidang Ahli Suluk” pada bagian 1 di bait 11:

“Hamzah miskin orang terbebaskan,
seperti Nabi Ismail menjadi qurban.
Fansuri bukannya Persia lagi Arabi,
selalu menjadi perantara dengan yang Baqi”.

Kesatuan Hamba dan Tuhan di dalam Kasih
Pandangan kesufian Hamzah Fansuri memang sangat universal. Bagi Hamzah Fansuri, ketika seorang manusia mencari hakekat Tuhan di dalam dirinya, maka ia pasti akan menemukan bahwa Tuhan dan hamba tiadalah berbeda. Simak salah satu bait dari “Syair Perahu” yang ditulis oleh Beliau:

“La Ilaha Il Allah itu kesudahan kata,
Tauhid ma’rifat semata-mata,
Hapuskan kehendak sekalian perkara,
Hamba dan Tuhan tiada berbeda.”

Saya pikir, ungkapan Syeikh Hamzah Fansuri ini sangat berani pada masanya. Beliau dengan berani mengungkapkan hijab atau tirai yang menutupi pandangan sempit atau ketidaksadaran umat Islam pada masa itu. “La Ilaha Il Allah itu kesudahan kata,” benar sekali pandangan Syeikh Hamzah Fansuri dalam syair ini. Kalimat tauhid yang menjadi inti ajaran Islam ini, La Ilaha Il Allah, Tiada Tuhan Selain Allah, adalah sesungguhnya akhir dari setiap perkataan, akhir dari pikiran, akhir dari segalah ilusi, untuk menuju keadaan: “Tauhid ma’rifat semata-mata,” suatu keadaan ketika seluruh pikiran dan pengalaman telah terlampaui, suatu Keadaan Murni yang dikenal dengan istilah “No-Mind”.

Namun, tentu saja, untuk mencapai Keadaan Murni ini, seorang sufi harus mampu untuk “hapuskan kehendak sekalian perkara,” untuk melampaui setiap kehendak yang masih terikat kepada berbagai perkara yang digerakkan oleh nafsu-nafsu rendah, oleh kepicikan pikiran yang egoistik, sehingga tercapailah suatu kondisi ketika “Hamba dan Tuhan tiada berbeda.” Inilah sesungguhnya makna dari tauhid, makna dari ungkapan La Ilaha Il Allah, Tiada Tuhan Selain Allah, yaitu suatu Keadaan Murni ketika seluruh kehendak telah terlampaui, maka hamba dan Tuhan tiada berbeda. Namun, dalam hal apa hamba dan Tuhan itu tiada berbeda?

Mari kita simak pandangan Syeikh Hamzah Fansuri yang lain dalam kutipan berikut ini dari buku Zinat Al Wahidin (Tentang Keesaan Allah) pada Bab Kelima:

“……..Alam ini seperti ombak. Keadaan Allah seperti Laut. Sungguh pun ombak lain daripada laut, pada hakikatnya tiada lain daripada laut.

“Nabi Muhammad pernah bersabda: Allah menjadikan Adam atas RupaNya………….

“Selain itu Rasullah juga pernah bersbada: Allah menjadikan Adam atas Rupa-Rahman. Karena Rahman disebutkan sebagai Laut, maka Adam disebutkan sebagai buih…………..”

Berdasarkan uraian dalam bukunya di atas, dapatlah disimpulkan pandangan Syeikh Hamzah Fansuri tentang ketauhidan universal punya dasar yang cukup kokoh dalam ajaran Islam berdasarkan sabda Rasul Muhammad SAW sendiri. Syeikh Hamzah Fansuri menggunakan satu permisalan yang sudah cukup dikenal di dalam ajaran sufi dan mistikisme di dunia, yaitu ombak dan laut. Bagi Syeikh Hamzah Fansuri, alam dan segala isinya ini merupakan “Gerak Ilahi” yang termanifestasi, dan ia ibaratkan sebagai ombak dari lautan. Sedangkan “Keadaan Allah”, suatu kondisi ketika manusia mengalami Kesadaran Ilahiah atau Kesadaran Murni, seperti lautan itu sendiri. Ombak hanyalah bentuk lain dari laut. Pada hakekatnya, ombak dan laut itu satu bentuk, yaitu air.

Syeikh Hamzah Fansuri dengan pengetahuannya yang luas dan mendalam juga menambahkan kutipan dari sabda Rasul yang mungkin tidak cukup populer di kalangan umat Islam saat ini. Di dalam hadis itu diungkapkan bahwa Allah juga menjadikan Adam menurut Rupa Rahman (Yang Maha Pengasih). Bagi Syeikh Hamzah Fansuri, wujud “Lautan Ilahiah” itu adalah sifat Yang Maha Pengasih, adalah “Kasih” itu sendiri. Maka, sesuai dengan sabda Rasul, jika Allah adalah Kasih itu sendiri, sudah tentu Manusia adalah buih dari Kasih itu sendiri. Inilah inti dari ajaran kesufian dari Syeikh Hamzah Fansuri, yaitu: Tauhid-Kasih, bahwa hakekat manusia dan seluruh alam ini adalah Kasih.

Dalam hal apa hamba dan Tuhan tiada berbeda? Menurut Syeikh Hamzah Fansuri, Tuhan dan Hamba tiada berbeda dalam perwujudannya sebagai Kasih. Kemudian Syeikh Hamzah Fansuri memperluas definisi Cinta Ilahi ini menjadi “pelayanan tanpa pamrih” kepada sesama manusia dan mahlukNya. Seperti kutipan berikut dalam kitab yang sama: “Barangsiapa cinta akan Allah, maka hendaknya ia melakukan kebaktian pula.”

Al-Fana dan al-Baqa
Syaikh Abu Yazid al-Busthami adalah tokoh sufi pertama yang memperkenalkan konsep al-fana dan al-baqa serta konsep ittihad. Fana adalah sirnanya segala sesuatu selain Allah dari pandangan seorang sufi. Di mana ia tidak lagi menyaksikan kecuali hakekat yang satu yaitu Allah. Dan Baqa adalah merupakan konsekuensi dari adanya fana, ketika seseorang bersatu dengan Tuhan (ittihad), dalam hal ini baqa mengandung pengertian kekal dalam kebaikan. Sehingga apa yang diupayakannya bisa tercapai yaitu bisa bersatu dengan Tuhan, yang dalam bahasa Abu Yazid disebut dengan istilah ittihad.

Dari segi bahasa al-fana berarti hilangnya wujud sesuatu, dan al-fana jauh lebih berbeda dengan al-fasad (rusak), fana artinya tidak kelihatannya sesuatu, sedang al-fasad adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Konsep ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibnu Sina di mana ketika membedakan antara benda-benda yang bersifat samawiyah dan bersifat alam, di mana ia mengambil konklusi bahwa keberadaan benda alam itu berdasarkan permulaannya, bukan perubahan bentuk yang satu kepada bentuk yang lain, dan hilangnya benda alam itu dengan cara fana bukan dengan fasad.

Adapun makna fana dalam pandangan kaum sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya dan dari makhluk lainnya. Sebenarnya dirinya tetap sadar dengan dirinya sendiri dan dengan alam sekitarnya. Dalam konteks lain, fana mengandung pengertian gugurnya sifat-sifat tercela, makna lainnya bergantung sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan

Menurut Abu Yazid, manusia yang pada hakikatnya se-esensi dengan Allah, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu meleburkan eksistensi sebagai suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari pribadinya (fana an-nafs). Fana an-nafs adalah hilangnya kesadaran kemanusiaannya dan menyatu ke dalam iradah Allah, bukan jasad tubuhnya yang menyatu dengan Dzat Allah.

Dengan fana, Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi kehadirat Tuhan bahwa ia telah berada dekat dengan Tuhan, hal ini dapat dilihat dari kalimat-kalimat bersayap yang belum dikenal sebelumnya (syathahat) yang dia ungkapkan, seperti : “Tidak ada Tuhan selain Aku. Maha Suci Aku, Maha Suci Aku, Maha Besar Aku”.
Mungkin beliau sedang mengkaji ayat ini “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha 20:14) - red.
Al-Busthami pernah mengatakan bahwa ketika ia naik haji untuk pertama kali, yang ia lihat adalah bangunan Ka’bah dan dirinya, kemudian ia naik haji lagi, maka selain melihat bangunan Ka’bah dan dirinya, ia merasakan Tuhan Ka’bah. Pada haji ketiga, ia tidak merasakan apa-apa lagi kecuali Tuhan Ka’bah.

Tentang kefanaan Syaikh Abu Yazid al-Busthami ini, pernah dikisahkan oleh sahabatnya, Dzun Nun al-Mishri yang mengutus seseorang untuk menemui Abu Yazid, ketika utusan itu sampai, diketuklah pintu rumah Abu Yazid, terjadilah percakapan antara utusan Dzun Nun dengan Abu Yazid :

Abu Yazid : “Siapa di luar?”
Utusan : “ Kami hendak berjumpa dengan Abu Yazid”
Abu Yazid : “Abu Yazid siapa? Dimana dia? Saya pun mencari Abu Yazid

Rombongan utusan itu pun pulang dan kemudian memberitahukan kepada Dzun Nun. Mendengar keterangan itu Dzun Nun berkata: “Sahabatku Abu Yazid telah pergi kepada Allah dan dia sedang fana."

Kejadian yang menimpa Abu Yazid ini disebabkan keinginannya untuk selalu dekat dengan Tuhan. Bahkan ia selalu berusaha untuk mencari jalan agar selalu berada di hadirat Tuhan. Ia pernah berkata: “Aku bermimpi melihat Tuhan”, Aku pun bertanya: “Tuhanku, apa jalannya untuk sampai kepada-Mu?”. Ia menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah.”

Menurut Abu Yazid ada empat situasi gradual dalam proses fana, yakni:
-Tingkatan fana yang paling rendah yaitu fana yang dicapai atau dihasilkan melalui mujahadah
-Tingkatan fana terhadap kenikmatan surga dan kepedihan siksa neraka
-Fana terhadap pemberian Allah
-Fana terhadap fana itu sendiri (fana al-fana)

Apabila seseorang telah mencapai fana pada tahap akhir, seseorang akan secara totalitas lupa terhadap segala sesuatu yang sedang terjadi padanya. Hatinya sudah tidak lagi terisi oleh kesan apapun yang ditangkap oleh panca indera.

Konsekuensi dari terjadinya fana itu, maka terjadi pulalah baqa. Secara harfiah baqa berarti kekal. Sedangkan dalam kaca mata sufi, baqa mengandung makna kekalnya sifat-sifat terpuji, dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Sedangkan menurut Abu Yazid, baqa adalah hilangnya sifat-sifat kemanusiaan yang dirasakan hanyalah sifat-sifat Tuhan yang kekal dalam dirinya dengan kata lain merasa hidupnya selaras dengan sifat-sifat Tuhan, sistem kerja fana-baqa ini selalu beriringan, sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli tasawuf.

“Apabila nampaklah Nur kebaqaan, maka fanalah yang tiada, dan baqalah yang kekal”

Kata al-Busthami, “Ia telah membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan aku pun hidup”, aku berkata: "Bila pada diriku adalah kehancuran (fana) sedang gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup (baqa)”. Al-Busthami juga berkata: “Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, sampai aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka aku hidup."

Untuk mencapai station al-baqa ini seseorang perlu melakukan perjuangan dan usaha-usaha yang keras dan kontinyu, seperti dzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak terpuji. Jika dilihat dari sisi lain, yang disebut fana dan baqa itu dapat pula disebut sebagai ittihad.

Situasi ittihad itu diperjelas dalam ungkapannya: “Tuhan berkata: semua mereka kecuali Engkau, adalah makhluk-Ku. Akupun berkata: Aku adalah engkau, Engkau adalah Aku”.

Ungkapan kata Abu Yazid ini telah mendapat tanggapan, bahkan kecaman dari para ulama di zamannya. Bagi para ulama yang toleran menilainya sebagai suatu penyelewengan, tetapi bagi ulama yang ekstrim menilainya sebagai suatu kekufuran. Namun ada pula yang menilainya merupakan kasus tertentu bagi seorang sufi dan kata-kata yang dilontarkan adalah kata-kata yang terlontar di kala kondisi kejiwaannya tidak stabil. Dalam kondisi seperti ini, seorang sufi tidak sepenuhnya bisa mengandalkan diri pribadinya, dan dia pada saat itu tidak mampu lagi mengendalikan dirinya.

Karena keinginan yang mendalam untuk selalu dekat dengan Tuhan, mengakibatkan seakan-akan Abu Yazid merasa bersatu dengan Tuhan. Dengan fana, Abu Yazid meninggalkan dirinya dan pergi kehadirat Tuhan, bahwa ia telah dekat dengan sang Khaliq, ini dapat dicermati dari syathahat yang diucapkannya, dan dalam hal ini ucapan tersebut tidak dapat dipegangi dan dikenakan hukum. Karena orang yang berkata pada waktu itu sedang mabuk. Mabuk oleh fananya, oleh tiada sadar diri lagi, sebab tenggelam dalam tafakkur. Ungkapan Abu Yazid tentang fana dan ittihad menurut al-Taftazani: “memang terlalu berlebih-lebihan”, antara lain seperti yang diucapkan Abu Yazid: “Aku ini Allah, tidak ada Tuhan kecuali aku, maka sembahlah Aku”.

Abu Yazid juga pernah mengatakan: Tuhan berfirman: “Semua mereka, kecuali Engkai adalah Aku, dan Aku adalah Engkau"

Secara harfiah ungkapan-ungkapan Abu Yazid itu adalah pengakuan dirinya sebagai Tuhan dan atau sama dengan Tuhan. Akan tetapi sebenarnya bukan demikian maksudnya. Dengan ucapannya Aku adalah Engkau bukan ia maksudkan akunya Abu Yazid pribadi. Dialog yang terjadi pada waktu itu pada hakekatnya adalah monolog. Kata-kata itu adalah sabda Tuhan yang disalurkan melalui lidah Abu Yazid yang sedang dalam keadaan fana an-nafs. Pada saat bersatunya Abu Yazid dengan Tuhan ia berbicara atas nama Tuhan karena yang ada pada ketika itu hanya satu wujud, yaitu Tuhan, sehingga ucapan-ucapannya itu pada hakikatnya adalah kata-kata Tuhan. Dalam hal ini Abu Yazid menjelaskan :

“Sebenarnya Dia berbicara melalui lidah saya, sedangkan saya sendiri dalam keadaan fana.”

Oleh karena itu sebenarnya Abu Yazid tidak mengaku dirinya sebagai Tuhan seperti apa yang dilakukan oleh Fir’aun. Proses ittihad ini menurut Abu Yazid adalah naiknya jiwa manusia kehadirat Ilahi, bukan melalui reinkarnasi. Sirnanya segala sesuatu dari kesadaran dan pandangannya, yang disadari dan dilihat hanya hakikat yang satu, yakni Allah. Bahkan dia tidak melihat dan tidak menyadari dirinya sendiri karena dirinya terlebur dalam Dia yang terlihat.

Sudah banyak usaha dilakukan untuk menjelaskan kepribadian dan ucapannya yang penuh teka-teki, yang terbaik kata Schimmel, adalah sebuah telaah pendek namun mendalam yang dilakukan oleh Helmut Ritter, R.C. Zaehner telah menekankan kemungkinan adanya pengaruh India pada Abu Yazid. Tampaknya R.A. Nicholson juga cenderung berpendapat bahwa Abu Yazid, khususnya faham fana dipengaruhi oleh ajaran India yang diterima dari Abu Ali al-Sindi. Annemarie Schimmel meragukan pendapat yang mengatakan bahwa Abu Yazid menerima ajaran dari Abu Ali al-Sindi.

Memang di kalangan para sufi sendiri terjadi perbedaan pendapat, namun demikian, kita tidak bisa begitu saja khususnya di kalangan mujtahid untuk terus berkiprah berusaha menggali tasawuf dari sumber aslinya untuk mencari kemurnian tasawuf itu hingga saat ini, seperti Muhammad Iqbal, Prof. Dr. H. Abdul Karim Amrullah (HAMKA) dan sebagainya. Dan hasil pengkajian mereka itulah, maka ajaran tasawuf seperti fana dan ittihad dan sejenisnya bisa dikaji ulang untuk dikembalikan pada bentuk aslinya pada masa Rasulullah Saw dan para sahabat.

Perlu juga diketahui bahwa paham ini jauh berbeda dengan faham hulul-nya Husain bin Manshur al-Hallaj. Di mana dalam faham hulul ini Tuhan lah yang mencari dan mengambil tempat tubuh manusia tertentu untuk ditempatinya, dengan kata lain Tuhan sendiri yang melebur dalam diri manusia, setelah manusia telah mampu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya melalui fana, sedangkan kalau ittihad, manusia yang berusaha sendiri untuk menarik diri Tuhan melalui metode al-fana.

Wallahu A'lam

Ref :
Apakah Mesti Meninggalkan Agama? by. Leonardo Rimba
Seorang Sufi dari Aceh pada Abad 17h by Subulussalam
Al-Fana dan al-Baqa by Pejalan Ruhani