ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 18 September 2013

Birokrasi Menjadi Corporate Trainer

Dua dekade belakangan ini industri training dan konsultasi berkembang secara pesat. Kebutuhan akan training di perusahaan-perusahaan sangat tinggi, sejalan dengan semakin tingginya tuntutan akan kinerja karyawannya untuk mengimbangi persaingan pasar.

Namun seringkali tingginya tuntutan training ini tidak bisa dipenuhi oleh perusahaan sendiri karena beberapa hal. Salah satunya adalah kapasitas trainer perusahaan yang tidak mencukupi. Oleh karena itu, untuk menutup kekurangan ini perusahaan memanfaatkan trainer dari luar yang disediakan oleh perusahaan training dan konsultasi.

Persoalannya lagi, tidak selalu training yang diberikan oleh perusahaan training sesuai dengan harapan perusahaan. Terhadap training yang diselenggarakan, keluhan yang sering dikemukakan lebih banyak soal cara penyampaian dan bukan mengenai materinya. Artinya, kompetensi, gaya, cara dan sikap trainer dalam memberikan training dinilai tidak bagus. Kekurangpahaman trainer mengenai seluk beluk training adalah penyebab seorang trainer tampak tidak kompeten. Penguasaan bukan hanya mencakup materi, tetapi juga mencakup proses belajar, jenis peserta, metode training, perilaku di depan peserta dan berbagai interaksi dengan peserta.

Dan menurut saya, itu adalah salah satu kesalahan perusahaan itu sendiri, karena kebijakan perusahaan dalam mengambil Trainer dari luar ini seringkali birokrasinya disamakan dengan birokrasi rekrutmen karyawan.

Selama ini saya sering menolak undangan menjadi fasilitator Training di beberapa perusahaan dan instansi. Hal ini bukan berarti saya sombong....

Tetapi rata-rata Fihak Manajemen yang meminta saya berbicara di Eventnya ini meminta syarat yang tidak dapat saya penuhi..... atau males bagi saya untuk memenuhinya. Apa itu....??

Curiculum Vitae alias Riwayat Hidup sebagai Trainer.... Lha wong saya ini sudah ninggalin dunia karyawan kok masih diminta surat lamaran kerjaan... ada-ada saja... hahahahahaha.........

Ya, itu memang Prosedur standart yang di buat suatu instansi/corporate yang ingin mengadakan training sumber daya, karena mereka ingin mengetahui sejauh mana kapabilitas seorang instruktur/trainer yang akan dipakai, selain curiculum vitae mereka meminta syarat formal lainnya seperti proposal,lisensi, bahkan ada yg meminta studi kasus yang pernah di handle, itu menandakan bahwa mereka begitu hati-hati dalam memilih "pelatih manusia" untuk para karyawan-karyawan yang notabene adalah asset berharga mereka, yang pasti mereka tidak ingin salah langkah ketika memilih seorang instruktur bagi sumber daya mereka, oleh karena itu sederet prosedur formal mereka buat, dan justru hal inilah yang terkadang menjebak mereka untuk salah dalam memilih instruktur/Trainer. Karena mereka hanya mengandalkan data-data di atas kertas yang belum tentu sesuai dengan realita di lapangan....

Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa di negara kita ini, membuat segala macam data dan informasi di atas kertas itu adalah hal yang sangat mudah. Bahkan ijazah palsupun banyak beredar di negara kita...

So..
Apa langkah terbaik dalam memilih instruktur ataupun Trainer bagi pengembangan karyawan di perusahaan anda....???

Menurut saya...
Melihat langsung bagaimana trainer tersebut beraksi di event Public Training mereka adalah cara terbaik untuk menilai kompetensi seorang trainer. Dan bukan mendasarkan keputusan hanya sekedar pada beberapa lembar surat keterangan di atas kertas...

Bagaimana menurut anda...???