ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Jumat, 29 November 2013

Ilmu Allah Kok Dijual..

Ilmu Allah Kok Dijual..
Demikian komentar yang sering saya dengar dari berbagai sahabat di dunia maya ini. Nah simak ulasan saya berikut ini, yang saya kutipkan dari Status Facebook Mas Tortor salah seorang Tokoh Mentalist Yang tampil di Acara The Next Mentalist di TV Trans7.

ILMU ITU MAHAL
Ilmu memang mahal, tapi mahal tidak selalu identik dengan uang. Guru silat jaman dahulu tidak pernah menarik iuran dari murid-muridnya, tapi jangan tanya betapa berat pengorbanan yang harus dilakukan hanya demi mendapatkan satu jurus darinya. Bukan karena pelit, namun karena besarnya tanggung jawab (terutama di hadapan Yang Maha Kuasa) atas ilmu yang dimiliki seseorang. Jika sang Guru mengajarkan ilmu hebat kepada orang yang salah, maka mau tidak mau ia harus ikut bertanggung jawab. Setidaknya, ia akan menyesal seumur hidup.

Mereka yang orang tuanya memiliki cukup uang untuk membayar uang sekolah, memiliki kendaraan plus sopir untuk antar-jemput, atau harta yang menjamin kuliah sampai setinggi apa pun barangkali tidak mengerti mengapa ilmu itu begitu berharga. Itulah sebabnya anak-anak sekolah jaman sekarang banyak yang menghargai internet sebatas friendster, e-mail, chatting, dan pornografi. Orang-orang yang sempat memperhatikan (atau bahkan terlibat langsung) dalam proses pertumbuhan teknologi internet bisa mendapatkan jauh lebih banyak manfaat daripada sekedar memperluas pergaulan.

Ilmu memang mahal, dan tidak seharusnya gratisan (karena ‘mahal’ tidak selalu identik dengan uang, maka hendaknya istilah ‘gratisan’ pun tidak dianggap identik dengan uang). Karena itu, sungguh mengherankan mengapa masih ada saja orang yang mempersoalkan proses pembelajaran yang tidak gratis. Ya, tentu saja kita mendukung adanya sekolah gratis, namun bukan berarti para guru tidak perlu dibayar. Masalahnya, para guru itu telah mengorbankan waktunya yang berharga demi mendidik murid-muridnya.

Saya pernah dan mungkin sering sekali mendengar beberapa sahabat mengatakan bahwa :

Ilmu itu dari Tuhan, jadi kita nggak boleh jual ke orang lain. Wong kita dikasih juga gratis kok...!!”.

Biasanya saya akan tersenyum saja. Kecuali kalau memang ada di forum diskusi. Tapi kalau cuma di bagian komentar biasanya saya acuhkan. Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dan diberi cacatan kaki dari ungkapan sahabat kita ini:
  1. Benar sekali bahwa Ilmu itu datangnya dari Tuhan. Ilmu adalah milik Tuhan dan diberikan secara gratis kepada kita.
  2. Namun harus diingat juga bahwa ilmu gratis itu butuh ongkos kirim supaya sampai ke otak kita.
  3. Ilmu juga butuh ongkos packing agar mudah dibawa, disampaikan dan mudah dipelajari oleh orang lain.
  4. Ilmu juga butuh ongkos jaminan keaslian agar Ilmu yang sudah diberikan Tuhan itu sama persis bentuknya saat mendarat di otak kita.
Tanpa adanya ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian, bisa dipastikan Ilmu itu akan tetap di sisi Tuhan. Kecuali Tuhan menghendaki ilmu-Nya mendarat ke otak anda sabagaimana para Nabi dan Rasul.

Sama seperti anda beli air PDAM atau air mineral kemasan. Lha siapa coba yang menciptakan air. Pernahkan kita membayar agar turun hujan. Lalu kenapa kita harus beli air ke PDAM atau beli air ke perusahan pengemasan air ? Benar air dari Tuhan, namun air PDAM atau air mineral kemasan butuh ongkos produksi, ongkos kirim, ongkos packing dan jaminan keaslian. Mau tidak anda mengambil sendiri di sungai, lalu menyaringnya sendiri dan baru meminumnya ? Saya yakin walau anda tahu cara menyaring air anda akan jijik waktu meminumnya.

Itulah sebabnya kenapa guru-guru di sekolah, para dosen dan para penulis buku meminta kita membayar biaya tertentu. Dengan anda memberikan kontribusi sejumlah dana kepada mereka, anda sudah menyelamatkan jalur distribusi ilmu ini. Bayangkan jika seorang guru atau dosen ilmunya anda bajak atau seorang penulis buku anda bajak bukunya lalu hasil bajakan itu anda sebar luaskan ke forum-forum. Maka sang guru atau dosen atau penulis buku bisa aja kan menyetop distribusi ilmunya dan memakainya untuk dirinya sendiri dan hanya orang-orang tertentu yang dia kenal ? Lalu siapa yang rugi coba ?
Source : Status Tortor

GURU MENDATANGI MURID

"Guru Yang Baik itu didatangi murid dan bukan mendatangi murid.."

Demikian statement yang Sering saya lihat di status yang memperolokkan adanya seseorang yang dianggap guru kemudian mengadakan pembelajaran di daerah sang murid, dan guru demikian di anggapnya sebagai guru cari murid. Menurutnya itu menandakan rendahnya kualitas guru. Karena katanya lagi, di zaman dahulu itu Murid yang cari guru dan bukan sebaliknya....

Benarkah statement demikian....??

Menurut saya kok ndak sepenuhnya benar... Kalau saja para walisongo itu tidak mendatangi muridnya yg ada di jawa, dan memilih untuk tetap bermukim di Arab sono. Mungkin sampai sekarang kita belum mengenal Islam. betul..?

Jadi, mendatangi murid atau didatangi murid. Itu semua tergantung situasi dan kondisi. Para Wali selain mendirikan pesantren di daerahnya sendiri. Beliau juga sering berkelana untuk berdakwah ke daerah lain....

Sebagaimana juga saya,
Sering ada siswa dari mancanegara ataupun luar daerah yang datang ke rumah saya, dan saya juga sering mengadakan kelas pembelajaran di daerah siswa...

Kalau murid mendatangi guru tentu motivasi utamanya adalah karena dia merasa ilmu itu sangat penting dan menunjukan keseriusanya belajar... Dan kalau guru yang mendatangi muridnya,  itu karena sang guru merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu yang di kuasainya krn sang guru merasa bahwa ilmu yg di kuasainya adalah amanah untuk umat supaya bermanfaat dan barokah.. Semua adalah perjuangan dalam mejalankan amanah masing2...

Yang terpenting itu bukan siapa yang datang dan mendatangi...
Tetapi... Bagaimana kita menyambung serta mempererat tali silaturahmi... demi meraih ridloNya..

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”
(Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)