ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 04 Desember 2013

Cara Islami Mendidik Anak

Cara Islami Mendidik Anak itu dimulai dari diri kita sendiri sebagai orang tua. Dalam konseling dengan beberapa orang tua yang mengeluhkan kenakalan anaknya. Sering saya katakan bahwa anak-anak kita adalah apa kata kita. Anak-anak kita adalah cermin dari diri kita. Bagimana kita berharap perilaku anak kita menjadi baik dan soleh, bila kita sendiri tidaklah demikian..?

Sering kepada para orang tua tersebut, saya berikan sebuah perumpamaan mengenai Cara Islami Mendidik Anak dengan perumpamaan berikut ini. Anak-anak saya ibaratkan sebagai sebuah televisi yang sedang menayangkan siaran dari sebuah Channel Stasiun TV. Apapun siaran yang ditayangkan oleh televisi tersebut, ditentukan oleh pilihan kita dalam memilihnya melalui alat remote control TV. Bila kita memilih siaran dari Channel A, maka siaran dari Channel A yang akan ditayangkan oleh layar televisi.

Demikian juga dengan anak-anak kita, apapun sikap dan perilaku mereka. Kitalah yang pegang remotenya. Jadi jangan serta merta menyalahkan anak-anak ketika perilaku mereka tidak sesuai harapan. Mari introspeksi diri. Jangan-jangan cara kita dalam mendidik anaklah yang masih kurang tepat. Atau mungkin, kita memang belum siap untuk mempunyai anak. Bila punya anak saja tidak siap, apalagi merencakan dan merumuskan sebuah Cara Islami Mendidik Anak.

Padahal, anak adalah amanah. Tentang perkara ini, Allah azza wa jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (At-Tahrim: 6)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda;

كُلُّ مَوْ لُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَة فَأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan diatas fithrah (bertauhid). Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR.Bukhori, no.1384 dan Muslim, no.2658, Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Pengertian fithrah adalah tauhid, Seperti diungkapkan Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, bahwa penetapan kerububiyahan Allah adalah bersifat fithrah. Pendidikan yang salah akan menyebabkan perubahan arah pada anak. (lihat Aqidah At-Tauhid, hal:28).

Maka, menjaga agar fithrah itu tetap ada merupakan kewajiban orang tua muslim. Inilah amanah terbesar yang harus ditunaikan para orang tua. Mengawal tauhid anak agar selamat, untuk hal ini para orang tua dituntut berusaha membekali anak dengan pendidikan islam yang baik dan benar. Ditengah pertarungan budaya yang teramat tajam, mendidik anak kearah yang dicitakan tentu tak mudah, memohon kepada Allah Ta’ala, berdo’a dengan kesungguhan seraya terus berusaha tentu sebuah langkah bijak.

Menyadari anak sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya adalah langkah awal menuju pendidikan yang baik dan benar. Tanpa kesadaran ini orang tua akan semaunya dalam mendidik anak dan tidak mempunyai sebuah rumus Cara Islami Mendidik Anak. Tentunya, di iringi dengan kejahilannya, anak akan diantarkan pada taraf pendidikan yang sekedar bertujuan pragmatis, Cuma sekedar untuk duniawinya. Adapun akhirat, terlalaikan, tidak tersentuh sama sekali.

Sedikitnya ada tiga tahap Cara Islami Mendidik Anak.
  1. Pertama tahap bermain, dimulai dari usia 0 sampai kira-kira 7 tahun. 
  2. Kedua tahap penanaman adab atau disiplin, dari 7 - 14 tahun. 
  3. Ketiga tahap persahabatan, yakni saat anak berusia 14 tahun ke atas. Tahap yang terakhir ini dapat digolongkan sebagai remaja. Di usia seperti ini, mereka perlu didekati dengan pendekatan dan menjadikan anak sebagai sahabat.
Secara garis besar, ada 5 macam metode Cara Islami Mendidik Anak. Yakni, melalui :
  1. Keteladanan, 
  2. Pembiasaan, 
  3. Pemberian nasihat atau pengarahan, 
  4. Melalui mekanisme kontrol, 
  5. dan melalui Hukuman sebagai pengamanan terhadap hasil-hasil proses pendidikan tersebut. 
Dari kelima metode tersebut, yang paling penting adalah keteladanan meskipun tidak boleh meninggalkan satu pun dari lima metode tersebut.

Di era zaman sekarang ini, kebaikan bertaburan di mana-mana, sebagaimana juga kejahatan bertaburan di mana-mana. Karena itu, anak harus diarahkan. Kita harus mendidik anak-anak dengan kemandirian. Dengan menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah sejak dini secara bijaksana, maka akan tumbuh kesadaran di dalam diri anak-anak kita. Dimensi Ikhsan akan tumbuh di dalam kesadaran anak-anak kita, sehingga walaupun anak-anak jauh dari pengawasan orang tua. Mereka akan tetap dapat menjaga dirinya dengan baik. Karena mereka tahu dan menyadari bahwa Allah swt selalu beserta mereka, dan juga selalu mengawasi apapun yang mereka lakukan.

Demikianlah sedikit ulasan saya mengenai Cara Islami Mendidik Anak, semoga bermanfaat untuk kita semua. Wassalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh..