ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Senin, 23 Desember 2013

Waspada, Tarif Jebakan Betmen dari Dukun berkedok Ustadz

Beberapa praktisi tradisional banyak yang mencibir dan mengejek praktisi Profesional Hipnoterapist karena dianggapnya money oriented, matre, mata duitan, dll... Yang mana untuk mendapatkan layanan terapi dari seorang hipnoterapist, kudu mbayar dan mengeluarkan uang...

Dan biasanya mereka akan membanding-bandingkan dengan terapi Tradisional yg katanya lebih tulus ikhlas, dan gratis....

Maka ketahuilah....
Tarif Profesional Hipnoterapist itu jelas, transparan, dan di muka sudah dijelaskan dengan gamblang mengenai ruang lingkupnya... tidak ada tarif jebakan...

Sedangkan di ranah tradisional...
Saya ini sudah malang melintang sowan ke berbagai Praktisi Tradisional, mulai yg ustad sampai yg kejawen... Dan semuanya ndak ada yg gratis.. Ada Tarif jebakan di dalam sesi layanan terapinya...

Memang awalnya gratis...
Tetapi kita kemudian akan disodorkan dengan berbagai syarat, benda mistik, shodakoh wajib, Sajadah Malaikat, Tasbih Sakti, Ayam putih, ayam hitam, dll... Yang intinya akhirnya keluar duit juga... dan bahkan bisa lebih gede dan senantiasa tidak terduga..

Memang..
Ada beberapa praktisi tradisional yang murni tetulung...
Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari...

Beberapa Kisah.
Ada siswa saya ketika mengikuti training saya di Jakarta, juga cerita pernah mengalami terjebak dalam jebakan betmen dari praktisi tradisional (Dukun yang berkedok ustadz). Bahkan saat dia mengikuti terapi di situ, harga paketnya sudah naik ke angka 25 juta untuk 5 kali terapi... Sedangkan pengalaman yang diceritakan mas Toto di bawah ini, tarifnya masihlah sekitar belasan juta saja.

Kisah Toto Kartarahardja & Terapi Qolbu :
[ Source : Kompasiana ]

Suatu waktu ketika menyaksikan tayangan tentang terapi alternatif saya tertarik untuk mendalami terapi kolbu yang dipimpin oleh Sonny Sutisna SE. Dalam pemikiran saya terapi ini berupa metode pembersihan hati melalui teknik sholat/zikir yg membawa kita ke phase khusu, karena dr pemaparannya disebutkan tdk melibatkan obat, jampi2 dan jin.

Setelah melakukan surfing di internet untuk mengetahui tariff konsultasi, diperoleh informasi harga Rp. 200.000,- hari Jumat tiga minggu yg lalu, saya menghubungi

sekretariat di Jl Utan Kayu, untuk menanyakan biaya terapi, diperoleh jawaban:

1. Untuk terapi Rp. 550.000 dan
2. Untuk obat Rp. 550.000,-

Cukup fair saya fikir, berarti akan ada lima kali pertemuan

Pagi-pagi saya mendatangi sekretariat dan saya mengira orang-orang sudah berkumpul diaula untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yg akan membawa kita kesuasana khusuk dan penuh suasana spiritual.

Ternyata keadaan jauh dr perkiraan, sebab yg terjadi adalah kita diterapi oleh para asisten dalam bentuk terapi reiki selama satu jam, yg selama ini dapat kita peroleh dengan gratis, dipadepokan-padepokan reiki.

Ba’da sholat Jumat diminta kembali untuk diterapi langsung oleh sang guru besar dan ya sama saja, diberi enerji selama 10 menit, selesai, dengan pesan dilanjutkan terapi selama 5 sesi.

Dari Rp. 1.100.000,- saya memperoleh yaitu tadi terapi plus sebotol minyak oles (50 ml) yg baunya seperti bau bumbu dendeng, ditambah 1 botol besar aqua unuk 5 kali mandi plus buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”. Judulnya cukup provokatif.

Buku tersebut berisi tulisan yg sederhana dan bolak balik tentang bagaimana caranya sholat agar khusu. Tapi menurut pendapat saya berbau ajaran Hindu, ini dapat dilihat dari cara menerangkan tentang Iman kepada Taqdir, jelas sekali berbau reinkarnasi. Ini tdk aneh, karena Sonny Sutisna ini berayah Bali dan beribu Tionghoa.

Perlu saya jelaskan bahwa kalimat itu saya penggal dari tulisan SS sendiri dalam Bagian Riwayat Hidup Penulis dr Buku: “Sholah untuk memperbesar Periuk Rejeki”.

Kalau saya memakai kalimat itu sebagai logika yang menghubungkan antara Reinkarnasi dengan Percaya Kepada Taqdir yang dibahas dlm buku itu, maka sebenarnya SS memakai kalimat itu sebagai “Strategy Marketing”.

Saya harus mengakui kehebatan SS dalam mengelola emosi dan meng”kadal”i, khususnya umat Islam. Kalimat itu digunakan untuk meraih simpati dr umat Islam. Kita dapat membayangkan betapa tersentuhnya umat Islam terhadap pernyataan tersebut. “Alhamdulillah seorang yg berayah Bali dan beragama Hindu dan beribu Tionghoa yang beragama Khong Hu Cu, menjadi mualaf” dan tentunya kan membangkitkan kepenasaran untuk mendengarkan tauziah sang ustadz yang ujung2nya promosi terapi qolbunya.

Untuk terapi tindak lanjut saya dikenakan biaya sbb:

Biaya konsultasi Rp. 10.500.000, (Tdk salah, benar sepuluh juta lima ratus ribu) ditambah Rp. 400.000,- untuk setiap kali terapi, ya = Rp. 2000.000,-

Jadi jumlah keseluruhan; Rp.13.600.000,- lebih dari dua kali berobat ke klinik Tong Fang.

Ya akhirnya saya DO, yang Rp. 1.100.000, saya fikir ya apa boleh buat, hitung-hitung kecopetan di bis kota.

Saya sempat mempertanyakan soal biaya ini, sebab kesannya ketika kita meminta informasi kita hanya dikenakan Rp. 1.100.000,- (Silakan coba)

Dari cara menjawab, nampak sekali memang ini dipasang sebagai jebakan.

Akhirnya saya menyadari bahwa memang bila kita mau melakoni hidup sebagai terapis, cara yg paling gampang dan menguntungkan ya melalui jalur agama, khususnya Islam, ditambah penampilan ustadz dan ceramah hasil copy paste.