ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Sabtu, 22 Februari 2014

Quantum Tarot

QUANTUM TAROT
Seni Berkomunikasi Dengan Pikiran Bawah Sadar.

Quantum Tarot tidak mengajarkan kepada anda Cara Meramal dengan Kartu Tarot. Tetapi mengajarkan bagaimana kita terhubung dengan dimensi pikiran bawah sadar kolektif kita.

Quantum Tarot, menafikkan tarot yang digunakan untuk meramal, yaitu dengan pemberian sugesti : “setelah ini kamu akan…” atau sebuah ramalan masa depan yang pasti terjadi dan klien hanya menunggu masa itu terjadi... TIDAK ADA RAMAL MERAMAL DALAM QUANTUM TAROT...

Masih banyak orang yang menganggap tarot sebagai hal yang mistik atau berkaitan dengan supranatural. Seringkali orang mengkaitkan tarot dengan meramal masa depan. Dan tidak sedikit orang yang menganggap tarot sebagai hal yang tidak ilmiah, hanya permainan, tidak bisa dipercaya dan cuma kebetulan saja. Betulkah demikian ???

Tarot sebenarnya hal yang alamiah serta ilmiah, khususnya dikaji dalam bidang keilmuan psikologi. QUANTUM TAROT adalah tarot yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar. Sehingga tarot dapat digunakan sebagai sarana konsultasi, terapi atau membantu untuk mendapatkan pencerahan diri dari pikiran bawah sadar.

Beberapa konselor & psikolog yang menggunakan kartu tarot sebagai tools dalam proses konseling dan terapi yaitu Dr. Arthur Rosengarten, Dr. Beth Hedva, Gerald Schuler, Ph.D, Ellinor Greenberg, Ph.D & Robert Wang....

WORKSHOP QUANTUM TAROT
Seni Berkomunikasi Dengan Pikiran Bawah Sadar.


Master Trainer : 
Caroline Soewito (Master International Tarot Reader)
Supported by. NAQS DNA Institute

Nantikan, eventnya di Jakarta.
Kayaknya seru nih... Hehehehehe..........

Mau...???

Tarot biasanya dianggap sebagai media mistik untuk mengetahui masa depan. Namun sebenarnya Tarot juga dapat dipakai sebagai alat psikologis yaitu media konseling, bahkan menjadi sarana refleksi diri untuk mengenali perasaan, pikiran, kekuatan, kelemahan dan menjadi manusia yang lebih baik.

Tarot hanyalah sebuah tools, berupa sistem simbol untuk menyingkap isi alam bawah sadar manusia. Tarot bukan terjadi atas dasar kebetulan belaka atau digerakkan oleh kekuatan magic, sehingga tebaran kartu tarot dapat senantiasa sejalan dengan ‘program pikiran bawah sadar’ klien. Namun ‘kebetulan yang bukan kebetulan’ tersebut berjalan secara alamiah atas dasar prinsip ‘sinkronitas’ dengan ketidaksadaran kolektif, seperti yang diungkapkan oleh Carl Gustav Jung.

Carl Jung adalah psikolog pertama yang menyadari simbolisme dalam Tarot. Ia melihat 22 kartu Tarot arkarna mayor menggambarkan archetype – tema-tema yang melekat pada alam bawah sadar manusia manusia. Teori mengenai archetype ini digunakan oleh beberapa psikolog sebagai media konseling. Konselor meminta klien untuk memilih beberapa kartu dan mengidentifikasi diri mereka dalam gambar-gambar yang tertera pada kartu tersebut. Apa yang mereka lihat? Apa yang sedang terjadi dalam gambar tersebut? Apa perasaan yang kira-kira dirasakan ketika melihat kartu tersebut?

Sekilas mungkin kita membayangkan TAT (alat psikologis yang juga meminta klien untuk mengidentifikasi gambar). Kemudian apakah TAT dan Tarot itu bisa dikatakan memiliki fungsi yang tidak jauh berbeda?

Jung juga berbicara mengenai konsep synchronicity – tidak ada kejadian apapun yang tidak berarti, bahkan yang paling ‘tidak sengaja’ sekalipun. Dalam membaca Tarot, seseorang harus memilih kartu-kartu yang akan ia interpretasikan sesuai dengan kebutuhan dan spread (formasi membaca kartu) yang ia inginkan. Ketika seseorang memilih kartu, bagaimana pun juga alam bawah sadarnya bermain, ada synchronicity! Sehingga kartu-kartu yang terpilih merupakan kartu-kartu yang paling menggambarkan dirinya, masa lalunya, atau bahkan masa depannya. Berbeda dengan TAT dimana klien tidak memperoleh kesempatan untuk memilih.

Jadi Tarot bukanlah sekedar kartu mistis untuk mengetahui yang akan datang, tapi juga dapat dipakai untuk alat psikologis dalam melakukan konseling. Lebih jauh lagi bahkan Tarot dapat digunakan sebagai sarana efektif harian untuk mengenal diri sendiri.

Manusia sebenarnya saling terhubung, itulah yang mendasari konsep kerja tarot. Seorang filsuf Islam abad pertengahan bernama Averroes (1128-1198) menulis bahwa meskipun kita memiliki raga yang terpisah, pikiran kita tidaklah terpisah. Ia meyakini bahwa kita ini “menyerupai sebuah tumbuhan air yang batang-batangnya menyembul ke permukaan, namun menyatu pada akar tunggal utama di bawah air.” Bahkan ilmu pengetahuan sekarangpun dalam fisika kuantum mulai menyingkap bahwa sebenarnya kita dan alam semesta merupakan satu – kesatuan, yang saling terhubung. Sehingga mulai diungkap bahwa sebenarnya tiap benda saling bervibrasi dan beresonansi, dan semua diatur dalam hukum saling tarik menarik (Law of Attraction).

Begitu pula oleh pakar psikologi Carl Gustav Jung (1875 – 1959) menyatakan bahwa setiap manusia memiliki ketidaksadaran kolektif, dimana melalui hal itulah manusia saling terhubung satu sama lain. Ketidaksadaran kolektif memuat nilai, gagasan atau kebijaksanaan yang bersifat universal, yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan melalui inilah budaya – budaya jaman dahulu serta seseorang mengakses alam semesta terhadap kebijaksanaan universal. Sehingga ketika kartu tarot yang terbuka sesuai dengan keadaan klien, hal itu merupakan ‘kebetulan yang bukan kebetulan’ yang oleh Jung diungkapkan sebagai synchronity atau sinkronitas bahwa segala sesuatu saling berhubungan dengan sesuatu yang lain, yang terkoneksi dengan ketidaksadaran kolektif.

Didalam ketidaksadaran kolektif memuat archetype yang memuat tentang tema, karakter atau kecenderungan seseorang dalam mempersepsi pengalaman, menggambarkan kebutuhan serta bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Pada archetype memuat persona, anima – animus, self dan shadow, yang kesemuanya mewakili dari ketidaksadaran manusia. Dan kartu tarot merupakan sistem simbol yang merepresentasikan dari archetype yang mewakili isi ketidaksadaran manusia. Seperti misalnya figur Ibu digambarkan sebagai ratu, figure ayah digambarkan sebagai raja, kebijaksanaan digambarkan sebagai ahli tafsir agama, pengorbanan digambarkan sebagai laki-laki tergantung, keseimbangan digambarkan di kartu Kesederhanaan dan seterusnya. Semuanya merupakan bagian dari archetype manusia, yang bersifat universal.

Sehingga tidak heran bila kartu tarot dapat digunakan untuk mengungkap dari isi ketidaksadaran manusia. Terapis atau konselor dapat melihat tingkat kesadaran klien, dari self, higher self menuju ke spiritual self dalam rangka menuju keutuhan diri. Disamping itu, terapis atau konselor juga dapat melihat bagaimana dinamika yang terjadi dalam pikiran bawah sadar, yang selanjutnya dapat melihat pola sebab akibat dalam pikiran bawah sadar klien. Terapis atau konselor dapat melihat pola – pola dalam pikiran bawah sadarnya dalam mempersepsi dan merespon sesuatu yang dapat menghasilkan akibat tertentu. Banyak orang yang mengartikan akibat tersebut merupakan ramalan yang mesti terjadi, padahal tidak, dengan kartu tarot kita dapat melihat program apa yang salah dalam pikiran bawah sadarnya, sehingga terapis / konselor dapat memberi kesadaran baru dalam Pikiran Bawah sadarnya (Subconscious Mind Reprogramming & Restructuring), sehingga menghasilkan out put atau akibat atau kehidupan yang lebih baik bagi klien.