ZONA KUANTUM NAQS DNA, MEDIA PERPUSTAKAAN DAN PEMBELAJARAN ONLINE

Rabu, 12 Maret 2014

Pengaruh ASI Terhadap Kesehatan Mental

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Ahmad Imam Al Hafitd (19 tahun) dan Assifa Ramadhani (18 tahun), menarik perhatian dokter anak, Utami Roesli. “Gila nih anak! Ya Allah, saya aja dokter selama 42 tahun, kalau mau masuk lift berbarengan sama jenazah, mendingan jenazah itu duluan yang masuk, atau saya cari lift lainnya. Nah ini, bagaimana anak 19-18 tahun bisa membawa mayat keliling-keliling selama 20 jam?” ucapnya saat ditemui seusai Workshop untuk Ustadz-Ustadzah ke-5 tentang “Keajaiban ASI dan Efek Samping Pemberian Formula pada Bayi, Ditinjau dari Sisi Medis dan Hukum Syariah”, Ahad (9/3/2014) di RS Kemang Medical Care, Jakarta.

Dokter anak sekaligus Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia itu mengaku ingin bertemu orangtua Hafidt dan Assifa. “Saya ingin sekali bertemu orangtuanya dan tanya, berapa lama, sih, mereka disusuin,” ulasnya. Kemudian Utami menjelaskan tentang pengaruh besar ASI terhadap tingkah laku seorang anak.

Wendi H. Oddy, peneliti asal Australia, melakukan penelitian terhadap 2900 ibu hamil. Ia terus mengikuti perkembangan anak mereka sampai usia 14 tahun. Secara terukur, peraih gelar Ph.D dalam bidang nutrisi itu menemukan perubahan tingkah laku saat usia bayi-bayi itu mencapai 2, 6, 8, 10, dan 14 tahun.

Kesimpulannya, semakin lama menyusui, semakin berkurang gangguan mental pada anak dan remaja. Hasil penelitian itu tertulis dalam Journal Pediatric, Oktober 2009. “Itu penelitian yang lama sekali dengan sample yang banyak. Jadi, bagaimana kita nggak mau percaya dengan penelitian itu?” ulas Utami.

Hasil penelitian itu juga menghasilkan kesimpulan, ada delapan gangguan mental yang bisa dikurangi bila anak disusui secara benar. Gangguan mental itu adalah menarik diri, gelisah, depresif, psychosomatic, autisme, gangguan cara berpikir, gangguan bersosialisasi, delinquent behaviour, serta tingkah laku agresif.

Menambahkan penelitian Wendi, Utami juga memaparkan penelitian Cohort pada 540 bayi tahun 2013. Penelitian itu dilakukan pada ibu-ibu yang memiliki bayi usia 9 dan 18 bulan. Mereka ditanya riwayat menyusui untuk kemudian dibandingkan dengan perkembangan kognitif, bahasa, dan motorik bayi-bayi tersebut dengan skala Bayley.

“Hal itu karena bayi-bayi yang mendapatkan ASI langsung dari ibunya, akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik sebab tumbuh dalam keadaan aman,” ulas pemegang sertifikat International Board Certified Lactation Consultant ( IBCLC).

Fakta membuktikan, semakin lama periode menyusui, makin tinggi nilai peningkatan perkembangan kognitif, bahasa, dan motoriknya. Hal inilah yang membedakan dengan anak-anak yang banyak diberi susu formula.

Utami juga membeberkan hasil meta analisa terhadap 1802 bayi. Penambahan zat-zat pada susu formula seperti LCPUFA-DHA dan AA pada formula, gagal memberikan efek peningkatan kemampuan kognitif dini pada bayi.

Berdasarkan penelitian itu, kakak kandung seniman Alm. Harry Roesli itu kembali menyatakan rasa prihatinnya. ”Kurang apa bagusnya nama Imam Hafidt, Assifa? Ibunya mengharapkan anaknya sholeh, sholehah. Tapi, mungkin orangtuanya kurang terinformasikan dengan baik,” tutur ibu dua anak itu.*

Source : www.hidayatullah.com